共有

bab 235 "Mommy"

作者: kim sujin
last update 公開日: 2026-02-25 15:18:16

Pada saat itulah, Zoey akhirnya memahami—bagaimana manusia bisa melakukan hal-hal bodoh ketika mereka tidak berada dalam kondisi waras.

Rasa malu yang menyelimuti tubuhnya begitu kuat hingga ia berharap bisa lenyap dari muka bumi.

Fitch memasukkan ponselnya ke saku, lalu menariknya kembali ke pelukan.

“Mulai menyesal?”

Pipi Zoey semakin memerah, rona panas itu merambat sampai ke lehernya.

Mereka terdiam cukup lama, detak jantungnya bergema di dalam dada.

Bulu matanya turun perlahan. “Bukan… c
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
kim sujin
ya aku cuba ya. cuma tinggal beberapa episod lagi sblm tamat kisah zoey dan fitch. di novel asli pun sdh jarang di up kisah mereka. author asli lbh fokus ke kisah cinta watak lain
goodnovel comment avatar
abelvaldyo
up tiap hari dong,Thor
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 265 berakhirnya sebuah epilog

    Zoey mengerucutkan bibirnya, keningnya berkerut kesal.“Berdirilah, ya?”Tapi Fitch tetap berlutut, terus memijat kakinya.“Belum. Aku bakal berdiri setelah kamu benar-benar tenang.”Zoey membuka mulut hendak membalas, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang.“Ya sudah… aku tenang sekarang. Berdiri.”Senyum tipis muncul di sudut bibir Fitch saat dia bangkit dan duduk di sampingnya di ranjang, lalu dengan semangat melanjutkan pijatannya.Zoey terdiam, memperhatikannya bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia tak bisa menahan pikirannya dari kenangan—saat Fitch jatuh sakit dan menjadi begitu patuh, begitu mirip dengan kepolosan Nolan saat masih di prasekolah. Sekali lagi, hatinya melunak.Fitch terus memijat selama hampir setengah jam sebelum akhirnya bertanya dengan nada lembut, “Masih pegal nggak?”Zoey memejamkan mata, menyerah pada kenyataan.“Enggak, aku cuma mau istirahat hari ini. Nggak mau bangun dari tempat tidur.”“Baiklah, bilang aja kalau kamu lapar nanti.”Tak lama kemudian,

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 264 - Kesempatan terakhir..

    Fitch telah melahap setiap inci tubuh Zoey, bukan sekali, tapi tiga kali—tak ada bagian darinya yang luput.Saat mereka masih bermalas-malasan hingga ke tengah hari, Fitch tampak bersemangat untuk satu ronde lagi. Namun Zoey, dengan pipi yang memerah dan kulit yang penuh bekas, menamparnya tanpa ragu. “Lihat jam! Kamu nggak peduli sama Nolan, ya?” gerutunya sambil mengatupkan gigi, kesal.Orang tua macam apa tidur sampai ke petang?Fitch yang kuyup oleh keringat memohon padanya, pura-pura polos demi menggoda lebih jauh.“Satu kali lagi aja, sayang. Aku janji.”Zoey berharap dia bisa menendang Fitch dari tempat tidur. Tapi karena kelelahan, akhirnya dia tertidur kembali.Saat terbangun, kamar telah diselimuti kegelapan.Dia melihat Fitch dan Nolan duduk di meja samping ranjang—Nolan tenggelam dalam bacaannya, sementara Fitch fokus dengan laptopnya. Kekacauan siang tadi telah dibereskan, tak ada sedikit pun jejak kenakalan mereka sebelumnya. Keduanya kini mengenakan piyama bersih, d

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 263 - Lelah untuk menolak

    Zoey sudah kelelahan dengan kepasrahan dan rengekan lelaki itu. Butuh setengah jam lagi sebelum akhirnya Fitch benar-benar tenang. Setelah memastikan dia tidur, Zoey bangun, merapikan sedikit keadaan, dan mengelap keringat yang membasahi tubuhnya sebelum kembali berbaring di sisinya.Kali ini, dia jauh lebih tenang. Napasnya stabil dan teratur.Zoey mengangkat tangannya, menyentuh dahi Fitch. Demamnya mulai menurun—tidak lagi setinggi dan semenakutkan tadi. Lega, Zoey hendak menarik kembali tangannya, tapi Fitch sempat menangkapnya lebih dulu."Sayang, aku minta maaf.""Aku... minta maaf..."Dia mulai bergumam tak jelas lagi. Zoey menatap wajahnya lekat-lekat, dan baru menyadari—sudah lama sekali sejak dia benar-benar menatap lelaki itu. Hubungan mereka belakangan ini terlalu renggang, dan dia sendiri selalu menghindari tatapannya."Zoey... aku salah. Maaf...""Salah..."Bibirnya masih kering dan pecah-pecah. Zoey pun menunduk, menyentuhkan bibirnya dengan lembut ke bibirnya, memb

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 262 - kehilangan kata-kata

    Begitu Zoey selesai menyelimutinya dan bersiap untuk meninggalkan kamar, dia menyadari Fitch masih menatapnya dengan mata setengah terbuka.“Fitch, murid?” tanyanya sambil memiringkan kepala.“Hadir!” jawabnya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.“Kenapa belum tidur?”“Kepala aku masih pusing,” jawabnya dengan jujur, matanya mengerjap lemah.“Itu akan berhenti kalau kamu pejamkan mata,” balas Zoey, hampir tertawa sendiri mendengar dirinya bicara seperti guru taman kanak-kanak. Melihat wajah Fitch yang merah karena demam, dia hanya bisa menghela napas.“Kamu kan ketua kelas. Tunjukkan contoh yang baik. Tidur sekarang.”Fitch diam beberapa saat, lalu memandang wajahnya dalam-dalam. Tiba-tiba dia mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya sendiri.“Cium dulu, baru aku tidur.”Zoey memejamkan mata sesaat. Lelaki ini… meski dalam keadaan separuh sadar, tetap saja tahu bagaimana membuat hatinya bergetar dalam cara paling tidak terduga.Dengan pelan, ia condongkan wajah dan menekan cium

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 261 - "kenapa cium saya?"

    Zoey menggenggam pil itu di antara jari-jarinya, nadanya tegas namun penuh kesabaran.“Buka mulut, minum obatmu.”Fitch bersandar lemah di sandaran ranjang, matanya terpejam. Adam's apple-nya naik turun pelan, sementara keringat menetes deras dari dahinya, membasahi pelipis dan lehernya.“Fitch?” panggil Zoey lagi, kali ini lebih lembut namun mulai cemas.Tak ada respons.Zoey mulai gelisah. Dia mengambil handuk kecil dan dengan hati-hati mengusap keringat dari wajahnya, berharap bisa sedikit menenangkannya.“Kamu merasa separah itu, ya?” bisiknya.Fitch membuka mata perlahan. Sorot matanya berkabut, tak sepenuhnya sadar. Tangannya bergerak lemah, menunjuk ke arah tenggorokannya. “Di sini…” katanya pelan.Caranya merintih—cara tubuhnya lemah begitu alami, seperti anak kecil—membuat hati Zoey langsung mengerut. Ia mengingat Nolan. Cara mereka mengeluh… begitu mirip. Dan itu membuat Zoey tak bisa lagi bersikap keras.Dia lanjut mengelap keringat di lehernya, tangannya bekerja perlahan, p

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 260 - perhatian yang dirindukan

    “Di mana yang sakit?” tanya Zoey pelan.“Aku nggak tahu…” jawab Fitch dengan suara serak.Andai saja Zoey tidak merasakan langsung panas tinggi di dahinya, dia mungkin sudah mengira Fitch hanya berpura-pura demi menarik simpatinya.Tanpa membuang waktu, Zoey segera menghubungi dokter keluarga mereka dan mendesaknya untuk datang secepat mungkin. Sementara menunggu, dia menggandeng Nolan kembali ke kamarnya agar anak itu bisa beristirahat.Namun Nolan terlalu cemas. Wajah kecilnya dipenuhi kekhawatiran, tubuhnya gelisah di bawah selimut.Zoey membetulkan selimutnya dengan lembut. “Nggak apa-apa, Mommy yang urus Daddy, ya. Sebentar lagi dokter datang, dan setelah kamu minum obat, kamu juga bakal cepat sembuh. Ayo, tidur dulu. Nggak boleh begadang.”Nolan mengangguk patuh, menyelipkan tangannya di bawah selimut, meski matanya masih menatap ibunya penuh rasa ingin tahu dan khawatir.Zoey sempat meminta dokter memeriksa Nolan sebelumnya. Kondisinya memang jauh membaik sejak dia kembali bert

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 204 Hanya menunggu

    Setelah meletakkan makanan penutup di hadapan Zoey, Fitch duduk kembali tanpa banyak bicara.Zoey menunduk, dadanya terasa nyeri karena rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.“Kamu mau balik ke Zion City habis ini?” tanya Fitch, nada suaranya lembut, seperti menawari sesuatu yang tak mengikat. “K

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 190 memilih untuk melepaskanmu

    Jantung Zoey berdegup kencang, telapak tangannya terasa kesemutan.Barulah setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Zoey melangkah mundur. Fitch menurunkan pandangannya, ujung jarinya menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya."Apa yang perlu ditakutkan? Aku tidak akan menyakitimu.""Tu

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 188 Nolan demam

    Fitch langsung menyadari ada yang tidak beres dengan Zoey dan bertanya dengan suara lembut, “Kamu nggak enak badan?”Zoey tidak menjawab, hanya secara refleks meraih gelas air di depannya. Tapi air itu sudah terlalu lama dibiarkan, dan kini terasa dingin. Tepat saat ia hendak berbicara, Fitch tamp

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 167 menolak sentuhan asing.

    Fitch duduk diam di kursi belakang SUV-nya, menatap laporan di tangannya sementara pemandangan kota melesat di luar jendela. Suasana dalam mobil sunyi, hanya suara samar dering ponsel yang memecah keheningan. Sekilas ia melirik layar—dan alisnya mengerut tipis penuh ketidaksenangan. Nama yang terte

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status