Mag-log inBriony menelan ludah. Tubuhnya kini terasa tegang. "L-lalu, siapa nama ayahmu?" tanyanya ragu.
Belum sempat Andrew menjawab, radiografer tadi sudah kembali menghampiri mereka. "Selesai. Kita sudah mendapatkan hasil foto lenganmu."
Mata Andrew membulat. Ia sudah lupa dengan pertanyaan Briony. "Benarkah? Secepat itu? Mana hasilnya? Aku mau melihat tulangku."
"Kamu bisa melihatnya di ruang dokter. Sekarang, biar aku pindahkan kamu ke kursi roda. Tolong jangan banyak bergerak supaya kamu tidak merasa sakit," ujar sang radiografer seraya melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, Briony masih memikirkan pertanyaannya tadi. Mungkinkah Andrew adalah putra Alex? Namun, dunia tidak selebar daun kelor. Mana mungkin takdirnya sekonyol itu?
"Ya, ini pasti hanya kebetulan. Yang bernama Andrew bukan cuma anak Alex. Itu nama yang pasaran," pikirnya, meyakinkan diri sendiri.
Namun, saat pintu ruang pemeriksaan dibuka, keyakinannya goyah. Sang nanny memanggil Andrew dengan nama yang familiar. "Tuan Muda White ...."
Mata Briony terbelalak sempurna. Ia tidak tahu apa yang sang nanny katakan selanjutnya. Telinganya terlalu berisik dengan suaranya sendiri.
"Tuan Muda White? Nama belakangnya adalah White? Mungkinkah ... Andrew betul-betul anak Alex?"
Setibanya di ruangan dokter, Andrew tidak mengizinkan Nyonya Powell masuk. Ia hanya mau ditemani oleh Briony.
Mau tidak mau, Briony menurut. Ia dampingi Andrew menemui dokter. Selama pemeriksaan dan penanganan, ia tidak bisa fokus. Ia sibuk memperhatikan wajah Andrew. Otaknya terus menilai kemiripan bocah itu dengan Alexander.
"Apa yang harus kulakukan kalau Andrew benar-benar anak Alex? Dia pasti akan membunuhku kalau dia tahu aku mematahkan lengan anaknya. Haruskah aku kabur saja? Tapi bagaimana kalau bukan? Haruskah aku menyelidiki siapa orang tua Andrew lebih dulu sebelum mengambil keputusan?" pikir Briony, berulang kali. Hingga tangan Andrew selesai digips, ia masih bertanya-tanya. Ia sampai tidak sadar saat Andrew mengajaknya bicara.
"Briony, lihatlah tanganku! Bukankah ini sangat keren? Aku jadi terlihat seperti robot. Dokter bilang, aku boleh menempel stiker-stiker favoritku di sini nanti," tutur Andrew sambil meraba gips dengan tangannya yang lain. Tak mendapat jawaban, ia mendongak lagi. "Briony?"
Briony mengerjap. "Ya?"
Andrew mengerucutkan bibir. "Kamu tidak mendengarku? Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu keberatan menemaniku berobat? Tapi itu tugasmu. Kamu harus bertanggung jawab karena telah membuat tanganku begini. Kau yang menabrakku dengan mobilmu."
Briony meringis. Ia melirik ke arah dokter dan perawat. Tatapan mereka terhadapnya seperti menghakimi. Apakah itu teguran dari semesta karena ia sempat berpikir untuk kabur? Sepertinya, ia memang harus bertanggung jawab penuh atas apa yang menimpa Andrew.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya terlalu fokus memikirkan hadiah apa yang cocok untukmu," ujarnya kepada Andrew.
"Hadiah?" Bocah laki-laki itu mengangkat alis, antusias.
Briony mengangguk. "Kau sudah membiarkan dokter mengobati tanganmu. Kau layak mendapat hadiah. Tidak banyak anak pemberani sepertimu."
"Kalau begitu, aku mau bola. Aku sudah lama menginginkannya, tapi tidak pernah dibelikan. Papa bilang rumah bisa hancur kalau sampai aku punya bola. Padahal, itu hanya sebuah bola, bukan roket atau TNT yang bisa meledak."
"Sebagai dokter yang baik, perlu kuingatkan kalau kondisimu belum memungkinkan untuk bermain bola. Kamu tidak boleh banyak bergerak kalau mau tanganmu cepat sembuh," timpal sang dokter seraya mengacak rambut Andrew.
"Aku juga tahu itu, Dokter. Aku berencana untuk memainkannya setelah tanganku sembuh. Tidak masalah kalau aku meminta bola lebih dulu, kan? Aku bisa menyimpannya untuk nanti," Andrew mengedikkan sebelah bahu sebelum beralih ke Briony. "Jadi, kapan kamu akan memberiku bola?"
Briony menimbang-nimbang sejenak. "Bagaimana kalau aku membelinya setelah gipsmu dilepas?"
"Kau takut aku tidak bisa memegang omongan?" tuduh Andrew.
Briony terkekeh. "Ya, kau kelihatannya suka membangkang. Buktinya, kau sempat menolak untuk diperiksa dengan mesin rontgen. Kau juga sempat melawan saat dokter mau memasangkan gips. Dan tadi pagi, kau tiba-tiba berlari menyeberangi jalan. Mobilku bisa menabrakmu karena kau tidak mau mendengar Nyonya Powell, kan?"
Bibir Andrew mengerucut. "Itu justru terjadi karena Nyonya Powell tidak mau mendengarkan aku. Padahal, aku sudah bilang kalau aku melihat Mama. Tapi dia tidak percaya. Dia bilang Mama masih di luar negeri, tidak mungkin ada di sini. Saat aku mengajaknya pergi memeriksa, dia menolak. Aku terpaksa menyeberang jalan sendirian untuk membuktikan kalau aku benar. Sayangnya, kamu tidak melihatku lewat. Kamu seharusnya menginjak rem lebih cepat supaya aku bisa menyeberangi jalan dengan selamat."
Tatapan dokter dan perawat terhadap Briony seketika berubah. Mereka akhirnya berhenti menganggapnya sebagai penjahat. Briony merasa lega melihatnya. Setidaknya, untuk sekarang.
Sorot mata Briony seketika berubah makna. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan keharuan. "Aku pasti melakukan banyak kebaikan di kehidupan sebelumnya. Kalau tidak, rasanya mustahil aku bisa mendapatkan laki-laki sebaik dirimu," tutur Briony, tulus. Senyum Brandon tersungging mendengar itu. "Akulah yang beruntung mendapatkanmu." "Tidak. Aku yang lebih beruntung. Karena itu," Briony meraih tangan Brandon, "mulai detik ini, aku bersumpah untuk selalu setia padamu. Aku akan menjadi pasangan terbaik untukmu, yang tidak memalukan ataupun merugikan. Aku janji akan lebih kuat dan tegar sehingga tidak perlu merepotkan." Merasa tersentuh, Brandon mengusap pipi Briony. "Kau tidak pernah merugikan ataupun membuatku malu, Bri. Aku justru selalu bangga padamu. Sekarang, kamu mau kugendong kembali ke mobil? Kamu sudah menggunakan kakimu terlalu banyak hari ini. Jangan sampai bengkak lagi." Briony melirik ke arah pintu. "Sekarang?Bagaimana kalau Alex masih ada di luar?"Brandon mengintip sekilas. "D
"Apakah ini cukup? Ini kan yang kau mau? Permintaan maaf dariku sambil berlutut. Kau menulisnya di bukumu," ujar Alex, penuh harap. "Tolong maafkan aku, Briony. Aku sadar bahwa ucapanmu benar. Aku memang laki-laki bodoh. Saking bodohnya, aku sampai mengesampingkan cintaku sendiri. Aku memilih wanita yang salah, dan malah membuat gadis yang kucinta menderita. Tapi sekarang aku sudah sadar, Bri. Aku sudah tidak bodoh. Aku tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan itu lagi. Tolong—"Briony menarik kakinya mundur dari Alex. Rautnya tegas. "Kau lupa? Kau menyebutnya kutukan, Alex. Kau mau aku menghilang dari hidupmu supaya kau dan keluargamu yang sempurna itu bisa bahagia. Sekarang kukabulkan.""Tidak! Jangan!" Alex merapatkan tangan di depan dada. Wajahnya yang mendongak menampakkan penyesalan. "Kumohon jangan pergi. Aku butuh kamu, Bri. Hidupku bersama Caro tidaklah sempurna. Sejujurnya, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bahagia. Saat aku memaksakan diri untuk mengingatnya, ya
Alex menggertakkan geraham. Ia tahu ke mana arah pernyataan Briony itu. Brandon. "Tidak apa-apa kalau kau masih marah kepadaku, Briony. Aku terima. Tapi tolong jangan mengambil keputusan sembarangan. Pernikahan itu bukan main-main. Jangan membuat kesalahan yang sama denganku. Pasangan yang tidak tulus hanya akan membuatmu menderita.""Kata siapa Brandon tidak tulus kepadaku?" Briony menggandeng lengan Brandon lalu mendongakkan dagu. "Aku justru bisa merasakan cinta yang tulus berkat dirinya. Kalau tidak ada Brandon, aku mungkin masih terpuruk dalam kesendirian dan kesedihan. Pikiranku yang telah kau racuni, dia yang memulihkannya. Perasaanku yang kau sakiti, dia yang menyembuhkannya. Bersama Brandon, aku yakin hidupku tidak akan menderita."Darah Alex mendidih mendengar perbandingan tersebut. Ia tidak terima posisinya di hati Briony tergeser oleh orang lain, dan ia tidak tahu apa jadinya kalau sampai Brandon menikahi Briony. "Itu hanyalah ilusi yang kau ciptakan untuk menyenangkan d
Alis Briony tertaut. Kepalanya tertekan mundur. Dulu, setelah mereka putus, ia selalu berharap Alex mengucapkan itu lagi—bahwa ia mencintainya. Namun, itu terkesan mustahil dan selalu membuatnya putus asa. Sekarang, setelah ia berhasil move on, Alex malah mengatakannya? "Apakah kau sedang mabuk? Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Ia menggeleng bingung."Aku sangat sadar, Bri. Aku memang mencintaimu. Sampai kapan pun akan selalu begitu," angguk Alex, meyakinkan. Briony mendengus samar. Ia tidak pernah menduga bahwa pernyataan yang dulu sangat ia nantikan sekarang malah membuatnya muak. "Sejam yang lalu, kau baru saja menghinaku. Kau jijik padaku, dan tidak mau lagi melihatku. Sekarang kau malah menyatakan cinta? Trik apa yang sedang kau mainkan, Alex?""Ini bukan trik. Aku baru tahu kalau selama ini, Caro menipuku. Dia menghasutku agar membencimu. Kupikir kau sudah tidur dengan banyak laki-laki karena videomu mabuk di klub malam itu. Aku merasa dikhianati dan sangat terluka.
Alex menggeleng tak terima. "Tidak, tidak, tidak. Aku bukan laki-laki berengsek, Bri. Aku hanyalah laki-laki yang terlalu mencintaimu. Karena itu aku merasa sangat sakit saat melihat video dari Caroline itu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya berusaha untuk melindungi hatiku," bisiknya seakan-akan Briony bisa mendengar.Dengan raut gelisah, ia memeriksa halaman selanjutnya. Ia berharap masih ada tulisan lain yang bisa ia baca. Namun ternyata, keputusan tadi adalah finalnya. Sadar bahwa dirinya bisa tergantikan, air matanya mulai menebal. "Aku harus segera meluruskan semua ini. Briony tidak boleh menikah dengan laki-laki lain," desah Alex, panik. Saat itulah, Alex teringat akan perkataan Briony tentang rencana pernikahannya hari ini. Sadar bahwa ia bisa saja terlambat, mata Alex membola. "Mungkinkah mereka sedang mengurus pernikahan di catatan sipil?" simpulnya, tegang. Keringat dingin telah menusuk tengkuknya. "Tidak," gelengnya kaku. "Itu tidak boleh terjadi. Aku harus seg
"Itu ...." Alex masih ingat buku bergambar beruang itu. Dulu, Briony sering mencurahkan perasaan ke dalamnya. Setiap ia ingin membacanya, Briony selalu melarang. Katanya, semua yang tertulis di dalam situ adalah rahasia. Hanya dirinya dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam keheningan, jantung Alex berdetak kencang. Ia gugup, tetapi penasaran. Alhasil, tangannya memungut buku itu dengan perlahan. Saat membuka halaman pertama, jantungnya berhenti berdetak. Ia seperti tertarik ke masa lalu karena di situ, tertempel foto Briony dan dirinya. "Me and my forever love" tertulis di bagian bawah foto. Meskipun sudah dicoret, itu tetap terbaca. Sama seperti wajah Alex yang telah digambari tanduk dan dipenuhi titik-titik tinta. Briony jelas melampiaskan kekesalannya lewat foto tersebut."Ini adalah foto pertama kita sebagai pasangan, Briony. Kenapa kau mencoretnya?" gumam Alex dengan wajah yang dipenuhi kerutan. Setelah mengelus wajah Briony di sana, ia mulai membaca lembaran berikutnya. "Dear Boobo







