Share

Bab 8

Author: Pixie
last update Huling Na-update: 2025-08-27 18:01:58

"Baiklah, aku minta maaf karena kurang berhati-hati saat berkendara. Tapi, bukan cuma aku yang mendapat pelajaran hari ini. Kamu juga, kan?" tanya Briony kepada Andrew. 

Bocah itu enggan mengangguk. "Pelajaran apa? Untuk tidak menyeberangi jalan sendirian? Aku sudah tahu itu dari dulu. Aku tidak akan melakukannya kalau Nyonya Powell mau mendengarkan aku."

Briony mendengus geli. Sifat tak mau kalah Andrew yang lucu itu terkesan familiar baginya. "Baiklah, aku paham. Aku akan membeli bola jika waktuku sudah senggang. Tapi berjanjilah untuk tidak menyeberang sembarangan lagi. Mengerti?" 

Raut Andrew berubah kecut. Meskipun demikian, kepalanya tetap mengangguk. "Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Bagus. Sekarang ayo kuantar pulang. Berterimakasihlah kepada dokter dan perawat," Briony menepuk punggung Andrew dua kali. 

Andrew pun turun dari kursi. Ia mendongak menatap Briony. "Kau tidak perlu mengantarku pulang. Papa pasti sudah menungguku di luar. Aku yakin dia akan mengajakku ke kantornya. Dia tidak mungkin meninggalkan aku sendirian di rumah dengan kondisi seperti ini. Dia pasti cemas."  

Kemudian, bocah itu berputar menghadap para petugas medis. "Terima kasih atas pertolongan kalian. Berkat kalian, tanganku tidak sakit lagi. Saat aku kembali ke sini, akan kupastikan tulang-tulangku sudah sehat, dan gips-ku pasti sudah ditempeli banyak stiker keren." 

Dokter dan perawat itu tercengang. Mereka agak heran mengapa bocah pemberontak itu bisa patuh kepada Briony. Padahal, ia cukup sulit diatur tadi. Dan, bukankah dua orang itu baru kenal? Mengapa malah Nyonya Powell yang terkesan seperti orang asing? Andrew bahkan melarangnya untuk menunggu di dalam. Siapa nanny Andrew yang sesungguhnya?

Saat Andrew keluar, keheranan mereka bertambah pekat. Bocah itu sama sekali tidak antusias menunjukkan gipsnya seperti yang tadi dilakukannya kepada Briony. Ia malah bertanya, "Nyonya Powell, di mana Papa? Kupikir dia sudah di sini." Andrew celingak-celinguk. Ia tampak kecewa karena tidak menemukan sang ayah.

Sementara itu, Briony diam-diam menahan napas. Matanya ikut memeriksa sekeliling. Tidak melihat Alex di sana, pundaknya terasa lebih ringan. 

"Tuan White ada rapat penting yang tidak bisa diganggu. Dia tidak mengangkat telepon meskipun sudah saya hubungi beberapa kali. Tapi saya sudah menghubungi sekretarisnya. Dia pasti akan menyampaikan pesan kepada Tuan White begitu rapat selesai," terang Nyonya Powell. 

Andrew langsung cemberut. Punggungnya tampak agak melengkung. Mengendus kekecewaan bocah itu, Briony merasa iba. Ia pun mengetuk-ngetuk pundak kecil tempat arm sling bergantung. 

"Hei, Andrew. Karena ayahmu tidak sempat menjemput, bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu? Kita bisa singgah membeli bola. Kau bebas memilih model apa saja yang kau mau," ujar Briony, menghibur. Ia lupa bahwa dirinya masih harus was-was dengan siapa ayah Andrew. 

Akan tetapi, raut bocah itu tetap sama—suram dan sendu. Briony pun menambahkan, "Kau juga boleh membeli stiker sebanyak apa pun yang kau mau." 

Alis Andrew akhirnya terangkat sedikit. "Sebanyak apa pun yang kumau? Bagaimana kalau aku mau beli satu karung?" 

Briony menggeleng. "Tidak masalah. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf dariku karena sudah menabrakmu. Jadi, kau mau ikut?" 

"Maaf, Nona. Tuan muda tidak diperbolehkan pergi bersama orang asing," ujar Nyonya Powell, tegas. 

Briony malah tersenyum manis. "Aku bukan orang asing. Aku dan Andrew sudah berkenalan tadi. Kami sekarang berteman."

"Ya, sekarang kami berteman. Tapi dia tetap harus menebus kesalahannya. Dia juga berutang bola dan stiker kepadaku. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk dia membelinya," angguk Andrew, memberi dukungan. 

Nyonya Powell terbelalak. Ia heran mengapa Andew bisa cepat akrab dengan wanita yang sudah menabraknya. "Tapi Tuan—"

"Dia tidak akan bisa menculikku, Nyonya Powell. Kau kan ikut dengan kami," potong Andrew. "Lagi pula, untuk apa dia menculik anak yang tangannya sedang rusak seperti ini? Aku hanya akan menyusahkan. Tidak ada untungnya."

Nyonya Powell kehabisan kata-kata. Ia memang selalu kesulitan menghadapi bantahan Andrew. Melihat itu, Briony merasa iba juga kpadanya. 

"Anda tenang saja, Nyonya Powell. Saya memang sudah menabrak Andrew, tapi saya bukan orang jahat. Sekarang, saya harus menebus obat. Tunggulah di sini sebentar." 

"Aku ikut," ujar Andrew seraya melangkah ke sisi Briony. "Dengan begitu, kau tidak akan bisa kabur."

Briony mendesah tak percaya. "Aku bukan penjahat yang sedang dipenjara, Andrew. Kau tunggu di sini saja. Ingat kata dokter. Kau tidak boleh banyak bergerak. Aku tidak akan lama." 

Andrew mencebik. "Apa jaminannya kalau kau tidak akan kabur?" 

Briony menyerahkan kunci mobilnya. Andrew pun tersenyum puas. "Sekarang kau boleh pergi. Ambillah obat yang banyak untukku. Aku mau cepat sembuh dan bermain bola." 

Briony pun mengangguk dan berlalu. Ia tidak tahu bahwa tak lama setelah ia meninggalkan koridor itu, Alexander White muncul dengan raut cemas. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 149

    Sorot mata Briony seketika berubah makna. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan keharuan. "Aku pasti melakukan banyak kebaikan di kehidupan sebelumnya. Kalau tidak, rasanya mustahil aku bisa mendapatkan laki-laki sebaik dirimu," tutur Briony, tulus. Senyum Brandon tersungging mendengar itu. "Akulah yang beruntung mendapatkanmu." "Tidak. Aku yang lebih beruntung. Karena itu," Briony meraih tangan Brandon, "mulai detik ini, aku bersumpah untuk selalu setia padamu. Aku akan menjadi pasangan terbaik untukmu, yang tidak memalukan ataupun merugikan. Aku janji akan lebih kuat dan tegar sehingga tidak perlu merepotkan." Merasa tersentuh, Brandon mengusap pipi Briony. "Kau tidak pernah merugikan ataupun membuatku malu, Bri. Aku justru selalu bangga padamu. Sekarang, kamu mau kugendong kembali ke mobil? Kamu sudah menggunakan kakimu terlalu banyak hari ini. Jangan sampai bengkak lagi." Briony melirik ke arah pintu. "Sekarang?Bagaimana kalau Alex masih ada di luar?"Brandon mengintip sekilas. "D

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 148

    "Apakah ini cukup? Ini kan yang kau mau? Permintaan maaf dariku sambil berlutut. Kau menulisnya di bukumu," ujar Alex, penuh harap. "Tolong maafkan aku, Briony. Aku sadar bahwa ucapanmu benar. Aku memang laki-laki bodoh. Saking bodohnya, aku sampai mengesampingkan cintaku sendiri. Aku memilih wanita yang salah, dan malah membuat gadis yang kucinta menderita. Tapi sekarang aku sudah sadar, Bri. Aku sudah tidak bodoh. Aku tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan itu lagi. Tolong—"Briony menarik kakinya mundur dari Alex. Rautnya tegas. "Kau lupa? Kau menyebutnya kutukan, Alex. Kau mau aku menghilang dari hidupmu supaya kau dan keluargamu yang sempurna itu bisa bahagia. Sekarang kukabulkan.""Tidak! Jangan!" Alex merapatkan tangan di depan dada. Wajahnya yang mendongak menampakkan penyesalan. "Kumohon jangan pergi. Aku butuh kamu, Bri. Hidupku bersama Caro tidaklah sempurna. Sejujurnya, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bahagia. Saat aku memaksakan diri untuk mengingatnya, ya

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 147

    Alex menggertakkan geraham. Ia tahu ke mana arah pernyataan Briony itu. Brandon. "Tidak apa-apa kalau kau masih marah kepadaku, Briony. Aku terima. Tapi tolong jangan mengambil keputusan sembarangan. Pernikahan itu bukan main-main. Jangan membuat kesalahan yang sama denganku. Pasangan yang tidak tulus hanya akan membuatmu menderita.""Kata siapa Brandon tidak tulus kepadaku?" Briony menggandeng lengan Brandon lalu mendongakkan dagu. "Aku justru bisa merasakan cinta yang tulus berkat dirinya. Kalau tidak ada Brandon, aku mungkin masih terpuruk dalam kesendirian dan kesedihan. Pikiranku yang telah kau racuni, dia yang memulihkannya. Perasaanku yang kau sakiti, dia yang menyembuhkannya. Bersama Brandon, aku yakin hidupku tidak akan menderita."Darah Alex mendidih mendengar perbandingan tersebut. Ia tidak terima posisinya di hati Briony tergeser oleh orang lain, dan ia tidak tahu apa jadinya kalau sampai Brandon menikahi Briony. "Itu hanyalah ilusi yang kau ciptakan untuk menyenangkan d

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 146

    Alis Briony tertaut. Kepalanya tertekan mundur. Dulu, setelah mereka putus, ia selalu berharap Alex mengucapkan itu lagi—bahwa ia mencintainya. Namun, itu terkesan mustahil dan selalu membuatnya putus asa. Sekarang, setelah ia berhasil move on, Alex malah mengatakannya? "Apakah kau sedang mabuk? Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Ia menggeleng bingung."Aku sangat sadar, Bri. Aku memang mencintaimu. Sampai kapan pun akan selalu begitu," angguk Alex, meyakinkan. Briony mendengus samar. Ia tidak pernah menduga bahwa pernyataan yang dulu sangat ia nantikan sekarang malah membuatnya muak. "Sejam yang lalu, kau baru saja menghinaku. Kau jijik padaku, dan tidak mau lagi melihatku. Sekarang kau malah menyatakan cinta? Trik apa yang sedang kau mainkan, Alex?""Ini bukan trik. Aku baru tahu kalau selama ini, Caro menipuku. Dia menghasutku agar membencimu. Kupikir kau sudah tidur dengan banyak laki-laki karena videomu mabuk di klub malam itu. Aku merasa dikhianati dan sangat terluka.

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 145

    Alex menggeleng tak terima. "Tidak, tidak, tidak. Aku bukan laki-laki berengsek, Bri. Aku hanyalah laki-laki yang terlalu mencintaimu. Karena itu aku merasa sangat sakit saat melihat video dari Caroline itu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya berusaha untuk melindungi hatiku," bisiknya seakan-akan Briony bisa mendengar.Dengan raut gelisah, ia memeriksa halaman selanjutnya. Ia berharap masih ada tulisan lain yang bisa ia baca. Namun ternyata, keputusan tadi adalah finalnya. Sadar bahwa dirinya bisa tergantikan, air matanya mulai menebal. "Aku harus segera meluruskan semua ini. Briony tidak boleh menikah dengan laki-laki lain," desah Alex, panik. Saat itulah, Alex teringat akan perkataan Briony tentang rencana pernikahannya hari ini. Sadar bahwa ia bisa saja terlambat, mata Alex membola. "Mungkinkah mereka sedang mengurus pernikahan di catatan sipil?" simpulnya, tegang. Keringat dingin telah menusuk tengkuknya. "Tidak," gelengnya kaku. "Itu tidak boleh terjadi. Aku harus seg

  • Menjauhlah, Mantan! Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik   Bab 144

    "Itu ...." Alex masih ingat buku bergambar beruang itu. Dulu, Briony sering mencurahkan perasaan ke dalamnya. Setiap ia ingin membacanya, Briony selalu melarang. Katanya, semua yang tertulis di dalam situ adalah rahasia. Hanya dirinya dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam keheningan, jantung Alex berdetak kencang. Ia gugup, tetapi penasaran. Alhasil, tangannya memungut buku itu dengan perlahan. Saat membuka halaman pertama, jantungnya berhenti berdetak. Ia seperti tertarik ke masa lalu karena di situ, tertempel foto Briony dan dirinya. "Me and my forever love" tertulis di bagian bawah foto. Meskipun sudah dicoret, itu tetap terbaca. Sama seperti wajah Alex yang telah digambari tanduk dan dipenuhi titik-titik tinta. Briony jelas melampiaskan kekesalannya lewat foto tersebut."Ini adalah foto pertama kita sebagai pasangan, Briony. Kenapa kau mencoretnya?" gumam Alex dengan wajah yang dipenuhi kerutan. Setelah mengelus wajah Briony di sana, ia mulai membaca lembaran berikutnya. "Dear Boobo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status