Share

113 - GUEST HOUSE

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-09-29 22:30:45
Aku baru saja keluar dari toilet unisex dan melewati area wastafel ketika suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa dari arah belakang membuatku refleks menoleh.

Belum sempat aku benar-benar keluar dari koridor selebar 120 sentimeter itu, sesosok tubuh yang kukenal sudah berdiri di hadapanku.

Aku hendak melewatinya, tetapi Attila lebih dulu meraih pergelangan tanganku. Dalam satu gerakan, ia menarikku ke samping hingga punggungku menyentuh dinding di sebelah wastafel. Tubuhnya kemudian berg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   115 - SAKSI KUNCI

    Satu jam sebelum acara tahlilan dimulai.Lampu-lampu hias di area The Pool Bar belum sepenuhnya menyala. Permukaan kolam di depanku tampak hitam pekat, memantulkan langit malam yang masih diselimuti sisa awan badai. Angin laut berembus dingin, menusuk kulit yang hanya terlindung gaun tipis.Aku duduk menyilangkan kaki di salah satu sudut bar yang sepi.Malam ini, semuanya akan berjalan sesuai rencanaku.Derap langkah kaki terdengar dari kejauhan.Aku mengangkat sudut bibir.Seorang pria berjaket kulit muncul dari balik deretan kursi. Begitu melihatku, langkahnya terhenti.“Apa yang ingin kau katakan?”Wajahnya tampak kaku di bawah cahaya temaram.Aku tidak langsung menjawab. Tanganku masuk ke dalam tas, lalu mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi.Sebuah Micro SD Card.Aku mengangkatnya tepat di depan wajahnya.“Kau pasti mengenal benda ini, kan?”Rahangnya mengeras.“Jadi, kau yang mencuri benda itu dari apartemenku?”Aku tersenyum kecil.“Itu mudah bagiku.” Aku menyandarkan pung

  • Menjemput Senja di Langit Palu   114 - SEKAMAR

    Kamar di bagian paling pojok ini tidak terlalu luas. Aroma kayu pinus yang lembap bercampur dengan hawa dingin yang menyusup dari sela-sela jendela. Di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran queen-size berdiri dengan selimut tebal bermotif kotak-kotak. Tidak ada sofa ataupun kursi panjang. Hanya sebuah karpet wol tipis yang terbentang di atas lantai kayu.Aku melangkah masuk lebih dahulu, sementara Naomi masih berdiri kaku di dekat pintu sambil memegangi tas tangannya.Aku tahu situasi ini membuatnya serba salah. Namun, setelah seharian menyetir di tengah badai, tubuhku sudah terasa berat. Aku melepaskan mantel dan melemparkannya ke sisi ranjang.“Kau tidur di atas karpet. Aku sudah lelah menyetir seharian.”Naomi langsung mengangkat alis.“No... no! Tidak bisa! Perempuan harus tidur di ranjang.”Aku menghentikan gerakanku, lalu berbalik menghadapnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirku.“Bukankah kau selalu mencetuskan ide tentang kesetaraan gender? Apakah malam ini kau berubah me

  • Menjemput Senja di Langit Palu   113 - GUEST HOUSE

    Aku baru saja keluar dari toilet unisex dan melewati area wastafel ketika suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa dari arah belakang membuatku refleks menoleh.Belum sempat aku benar-benar keluar dari koridor selebar 120 sentimeter itu, sesosok tubuh yang kukenal sudah berdiri di hadapanku.Aku hendak melewatinya, tetapi Attila lebih dulu meraih pergelangan tanganku. Dalam satu gerakan, ia menarikku ke samping hingga punggungku menyentuh dinding di sebelah wastafel. Tubuhnya kemudian bergeser menghadang di depanku, menutup jalan keluar.Aku mendongak.“Apa yang kau lakukan?”Tatapan matanya tertuju lurus kepadaku.“Apakah kalian tinggal bersama?” tanyanya. Suaranya rendah, tetapi terdengar jelas.“Lepaskan aku! Kau sudah gila?” sergahku panik sambil berusaha menarik tangan.Cengkeramannya mengendur sedikit, tetapi belum juga melepaskanku.“Jawab aku, Naomi.”Aku menatapnya tajam.“Bukan urusanmu!”“Jadi, kalian benar-benar tinggal bersama?” tanyanya lagi.Ia seolah tidak mendeng

  • Menjemput Senja di Langit Palu   112 - CLBK

    Sebulan setelah kami kembali dari Margaret River, banyak rutinitas yang perlahan berubah, terutama sejak kepergian Ines.Biasanya, jika hari ini aku memasak, besok giliran Ines. Aku sungguh merindukannya, sama seperti aku merindukan Clara.Pagi itu, aroma nasi goreng sudah tercium dari dapur. Rupanya, Erul bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.“Mandilah dan segera bersiap-siap. Oh, ya, sampel karpetnya sudah diantar ke lokasi, termasuk ukiran kaligrafi untuk mihrab.”“Baik. Terima kasih infonya, sayang,” kataku sambil tersenyum.Aku kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.Aku berlutut di lantai mock-up. Jemariku tenggelam ke dalam serat tebal sampel karpet yang baru saja dikirim dari manufaktur asal Turki. Telapak tanganku kutekan perlahan ke permukaan karpet. Kepadatan rajutan (pile density) dan elastisitas serat wol premium terasa jelas di bawah kulitku.“Bagaimana, Naomi?” Erul berdiri di sampingku. “Pihak pabrik mengklaim kepadatannya mencapai satu juta titik rajutan

  • Menjemput Senja di Langit Palu   111 - PHISTASHIO

    “Meskipun pelaku utama itu akhirnya tertangkap, kau tetap tidak akan pernah kembali. Lalu untuk apa, Babe? Untuk apa semua ini?”Suaraku menggantung di udara. Dinding-dinding kamar vila seolah memantulkan kembali kata-kataku, tetapi tidak ada suara yang menyahut.Tidak ada tawa renyahmu.Tidak ada suara lembutmu yang biasanya memanggil namaku.Hanya keheningan.Aku menundukkan kepala. Jemariku mengepal di atas lutut, berusaha menahan sesak yang semakin memenuhi dada.Pikiranku kembali pada malam-malam ketika kita berbicara tentang masa depan.“Aku ingin punya anak-anak yang lucu kelak,” katamu suatu malam sambil menyusupkan jemari ke sela rambutku. “Anak-anak dengan mata biru terang yang indah, persis sepertimu, Berk.”Aku masih mengingat senyummu ketika mengatakan itu.Kau juga pernah merengek memintaku membawamu ke Turki untuk bulan madu. Aku selalu mengatakan akan mengajakmu suatu hari nanti.Suatu hari.Betapa bodohnya aku karena terus menganggap kita memiliki banyak waktu.Kini,

  • Menjemput Senja di Langit Palu   110 - OVERDOSIS

    “Apa yang kau lakukan di kamarku?”Suara serak itu menyambutku begitu aku melangkah masuk.Aku menutup pintu di belakang tubuhku, lalu mengarahkan senyum tipis kepada pria tua yang berdiri di hadapanku.“Kakek sebaiknya tetap di vila. Tidak perlu repot-repot datang ke pesta pernikahan itu.”“Apa maksudmu mengaturku?” sahutnya ketus. “Aku akan berangkat bersama cucuku, Attila.”“Attila sudah berangkat lima menit yang lalu.”Aku mengangkat tangan, memperhatikan kuteks merah menyala yang baru saja kupoles di jemari. Warnanya begitu sempurna.“Aku akan meneleponnya.”Baru saja tangannya hendak meraih ponsel, aku lebih dahulu menyambar benda itu dari atas bufet, tepat di samping lampu meja yang memancarkan cahaya temaram.“Berikan ponselku, perempuan gila!” bentaknya.Aku terkekeh.“Perempuan gila?”Kubalikkan tubuh dan melangkah mendekatinya.“Kau yang gila, Pak Tua. Kau sungguh tidak adil kepadaku.”Aku berhenti beberapa langkah di hadapannya.“Siapa yang membantumu menaruh obat tidur ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status