Share

134 - GADIS JEPANG

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-10-10 19:16:31
“Gadis Jepang, Mama sudah bangun?” bisikku lembut saat menyadari kehadiran putri kecilku. Aku melemparkan senyum hangat yang seketika mengusir sisa kantuk dari wajahnya.

Aku suka menyebutnya Gadis Jepang karena mata sipit dan rambut lurusnya mengingatkanku pada ibuku, nenek Naomi, yang merupakan perempuan Jepang. Itulah sebabnya aku memilih nama Naomi untuk putri kecilku, sedangkan nama Saraswati berasal dari latar belakangku yang dibesarkan di Surabaya.

Tanpa perlu diperintah, Naomi langsung me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   137 - PEREMPUAN TIONGHOA

    Sesuatu yang besar muncul di kejauhan. Punggung hitamnya membelah permukaan laut, disusul semburan air yang menjulang tinggi dan berkilauan diterpa matahari.“Ibu, lihat! Ada paus!” seruku sambil menunjuk.Aku mendekati pagar kayu di sepanjang jalur pejalan kaki (boardwalk). Seekor paus menghantamkan ekornya ke air hingga percikan ombak berhamburan. Tak jauh darinya, paus-paus lain ikut muncul. Aku sampai lupa berkedip, takut melewatkan pemandangan yang belum pernah kulihat sedekat ini.“Wah, besar sekali!”Ketika kawanan paus itu berenang menjauh, kakiku ikut melangkah menyusuri pagar. Aku ingin melihatnya sedikit lebih lama.Namun, beberapa saat kemudian, laut kembali tenang. Paus-paus itu menghilang di bawah permukaan, meninggalkan buih putih yang perlahan tersapu ombak.Aku menoleh sambil menyunggingkan senyum lebar.“Ibu, tadi besar se—”Ucapanku terhenti.Ibu tidak ada di sana.Aku menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Beberapa turis sibuk memotret laut. Seorang pria bertopi berjalan

  • Menjemput Senja di Langit Palu   136 - JAWABAN

    Siang itu, saat jam istirahat, suasana kantor yang biasanya bising terasa sedikit lebih tenang. Aku menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap layar ponsel yang menyala di tanganku.Sebuah pesan baru saja masuk dari RedRoses, teman obrolan anonimku di aplikasi kencan yang belakangan ini menjadi tempatku melarikan diri dari kepenatan dunia nyata.Jawaban apa yang akan kau berikan kepadanya? tanya RedRoses.Dia tahu aku sedang dihadapkan pada pilihan besar yang membuatku bimbang.Aku mengembuskan napas panjang, lalu mulai mengetik balasan.Menurutmu, sebaiknya kuterima saja lamarannya?Apakah kau mencintainya?RedRoses langsung mengajukan pertanyaan yang selama ini paling kuhindari.Aku terdiam sejenak sebelum membalas.Tidak. Dia memang sempurna untukku. Aku menyukainya, tetapi mungkin perasaanku hanya sebatas kekaguman. Kadang-kadang aku berpikir, apakah sebaiknya aku menikah saja dengannya? Toh, Felix mencintaiku dengan tulus. Mungkin suatu hari nanti aku akan jatuh cinta kepadany

  • Menjemput Senja di Langit Palu   135 - JATUH TERTIMPA TANGGA

    “Polisi sedang menuju kemari,” kata Papa lirih, dengan napas yang masih memburu.Tak lama kemudian, suara sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan. Setelah mengetahui para penyerang telah pergi, para tetangga akhirnya mulai berani keluar dari rumah masing-masing. Mereka berdatangan dan berkumpul di halaman rumah kami, menatapku dan Ibu dengan wajah penuh iba.Saat itu, aku masih duduk di bangku SMP. Usia ketika seharusnya aku bisa menjalani hari-hari dengan tenang, belajar, dan bermain bersama teman-teman. Namun, malam itu aku justru menyaksikan bagaimana ego orang dewasa bisa menghancurkan rasa aman sebuah keluarga dalam sekejap.Keesokan harinya, aku akhirnya mengetahui penyebab teror yang kami alami.Sekitar tiga puluh pengendara sepeda motor bersenjata tajam ternyata sengaja datang untuk mencari Papa. Semua itu bermula dari perkelahian di luar rumah yang melibatkan Papa dan kakak laki-lakinya, pamanku sendiri.Paman yang saat itu mabuk berat telah memukul salah seorang teman to

  • Menjemput Senja di Langit Palu   134 - GADIS JEPANG

    “Gadis Jepang, Mama sudah bangun?” bisikku lembut saat menyadari kehadiran putri kecilku. Aku melemparkan senyum hangat yang seketika mengusir sisa kantuk dari wajahnya.Aku suka menyebutnya Gadis Jepang karena mata sipit dan rambut lurusnya mengingatkanku pada ibuku, nenek Naomi, yang merupakan perempuan Jepang. Itulah sebabnya aku memilih nama Naomi untuk putri kecilku, sedangkan nama Saraswati berasal dari latar belakangku yang dibesarkan di Surabaya.Tanpa perlu diperintah, Naomi langsung mengambil tempat di bangku kayu kecil dekat tungku tanah liat. Setiap pagi, tugasnya adalah memastikan api tungku tetap menyala dengan stabil. Dengan jemari kecilnya yang lincah, ia menyusun ranting-ranting kayu kering, lalu meniup bara melalui sebatang bambu kecil hingga api kembali berkobar dan memanaskan wajan besar di atasnya. Sambil menjaga nyala api, ia sesekali membantuku mengupas bawang atau mencuci bumbu-bumbu dapur.Bagiku, momen-momen sunyi menjelang subuh seperti itu selalu terasa berh

  • Menjemput Senja di Langit Palu   133 - BINTIK-BINTIK HITAM

    Hari itu adalah hari penerimaan rapor hasil belajar selama aku duduk di kelas lima SD. Mama menemaniku ke sekolah dengan pakaian terbaiknya, sementara Papa harus tinggal di rumah karena sibuk melayani pelanggan yang datang untuk memperbaiki dinamo. Pagi itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupku karena aku berhasil meraih juara satu di kelas.Senyum Mama terus mengembang saat melihat hasil belajarku. Mama membelikanku sebuah jam tangan digital dengan tali plastik berwarna biru. Aku langsung memasangnya di pergelangan tangan.Namun, kejutan hari itu belum berakhir.Begitu memasuki halaman rumah, langkahku terhenti saat melihat sebuah sepeda baru terparkir di dekat teras. Keranjang kecil di bagian depannya membuatku langsung mengenali sepeda yang selama ini kuimpikan. Aku sudah lama menginginkannya, tetapi tak pernah sampai hati meminta kepada Papa dan Mama. Melihat sepeda itu, rasa haru dan gembira bercampur menjadi satu. Aku segera berlari menghampiri Papa dan mem

  • Menjemput Senja di Langit Palu   132 - BAYI

    Malam itu, sebelum pesta dansa dimulai, aku masih bersama Berk. Udara di dalam kamar penginapan menyisakan sisa-sisa kehangatan dari gairah yang baru saja padam. Kami baru saja selesai memadu kasih.Berk segera mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan rompinya. Dalam waktu singkat, penampilannya kembali rapi dan berwibawa, seolah tak pernah ada apa pun yang terjadi di antara kami. Sementara itu, aku berdiri di depan cermin besar, merapikan rambut dan membenahi gaun marun yang kukenakan.“Ini terakhir kalinya kita melakukan hubungan seperti ini. Jangan temui aku lagi,” ucap Berk tiba-tiba.Tanganku terhenti di depan cermin. Aku menoleh, menatapnya melalui pantulan kaca, lalu menyunggingkan senyum tipis.“Apa maksudmu? Bukankah selama ini kau yang selalu mengemis untuk mendapatkan perhatianku?”Rahangku mengeras. Berani sekali dia mencampakkanku setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Seharusnya akulah yang menentukan kapan hubungan ini berakhir.“Ines hamil.”Aku terdiam sejenak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status