Share

Bab 100

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-03-05 11:14:36

Fajar belum benar-benar pecah, hanya semburat kelabu yang perlahan merayap di ufuk timur Changxu. Di dalam Paviliun , Liya membuka matanya dengan perlahan. Rasa pening masih tersisa di pelipisnya, namun kesadarannya segera pulih saat ia merasakan kehangatan di sisi ranjangnya.

​Ia menoleh, dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana, tertidur dengan napas yang teratur, adalah pria yang memenuhi mimpinya selama beberapa hari terakhir. Long Xuan.

​Liya mematung. Ingatan tentang malam tadi m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 144

    Air mata yang membasahi dada Xuan kian menderu, beradu dengan isak tangis Liya yang pecah di tengah keheningan gubuk. Liya menyadari bahwa beban rahasia ini terlalu pekat untuk dipikul sendirian. Ia menengadah, menatap paras ksatria yang selama ini berdiri kokoh sebagai pelindungnya, namun kini tampak begitu rapuh di bawah bayang-bayang ketidaktahuan. ​Tanpa sepatah kata, Liya merangkum wajah Xuan dengan kedua tangannya. Ia mencium suaminya, bukan dengan gairah yang menuntut, melainkan sebuah kecupan yang sarat akan pengabdian dan penghiburan. Ia ingin menyalurkan seluruh kekuatannya melalui tautan bibir itu, meyakinkan Xuan bahwa apa pun badai yang menerjang setelah ini, ia tidak akan pernah melepaskan genggamannya. ​Xuan awalnya terpaku, namun ia segera membalas ciuman itu dengan lembut. Di atas dipan sempit itu, dalam pelukan yang kian erat, Liya membiarkan dirinya berada dalam kuasa Xuan yang menyesapnya dalam-dalam, hingga napas suaminya yang tadinya memburu perlahan mulai tena

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 143

    Angin sore menderu di celah-celah dinding kayu gubuk tua di tengah hutan terpencil. Di bawah temaram cahaya lilin yang bergoyang, suasana mencekam masih terasa meski hiruk-pikuk pedang di penginapan telah jauh tertinggal. Semalam, seseorang yang merasa iba pada pelarian mereka, telah merelakan kereta gerobaknya untuk membawa ketiganya menjauh, hingga menemukan tempat persembunyian di tengah hutan itu. ​Long Xuan duduk di atas dipan sempit, wajahnya pucat namun sorot matanya tetap tajam. Di depannya, Na Ying terbaring telungkup di atas meja dengan napas yang satu-satu. Sebilah pedang masih tertancap di punggung wanita itu, dengan darah yang mulai mengering. ​"Xuan, kainnya sudah siap," bisik Liya. Ia menyerahkan tumpukan kain yang disobek dari jubah hanfu-nya sendiri. Wajahnya yang jelita kini kotor oleh debu dan noda darah, namun jemarinya tetap cekatan. "Nan Ying, tahan sebentar. Aku akan menarik pedang dari punggungmu,"bisik Xuan sambil memberikan sebilah kayu untuk digigit yang

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 142

    Di dalam kamar mewah itu, waktu seolah berhenti berputar. Long Xuan menatap manik mata Liya dengan kedalaman yang sanggup menelan seluruh keraguan. Selama tiga tahun, ia membangun benteng es di sekeliling hatinya demi melindungi wanita ini dari "kutukan" darahnya, namun malam ini, benteng itu runtuh total oleh satu sentuhan lembut. ​Xuan menunduk, mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan. Namun, di luar dugaannya, Liya memberikan balasan yang jauh lebih berani. Ia melingkarkan lengannya di leher Xuan, menarik suaminya lebih dekat, dan dengan gerakan menggoda, ia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Xuan ​Xuan mengerang lemah, suara yang lahir dari rasa lapar yang tertahan bertahun-tahun. Hasratnya meledak seketika. Tangannya yang gemetar mulai kehilangan kendali. Ia bahkan tidak menyadari bagaimana jemari lentik Liya begitu cekatan membuka simpul jubahnya, hingga pakaian luar sang Adipati melonggar dan ditarik lepas oleh istrinya. ​Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Xu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 141

    Cahaya lilin di dalam kamar mewah itu bergoyang pelan. Aroma maskulin Long Xuan kini mengepung indra penciuman Liya, membuatnya merasa sesak sekaligus terlindungi. Xuan masih menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan logam, jemarinya yang kasar mengusap pipi Liya yang masih kemerahan bekas tangis.​"Bisakah kau tidak keras kepala dan bertindak sesukamu? Bisakah kau tidak membuatku gila karena mengkhawatirkanmu?" Suara Xuan rendah, serak oleh emosi yang tertahan.​Liya terdiam, menundukkan kepala laksana anak kecil yang tengah disidang atas kenakalannya. Namun, rasa sesak di dadanya menuntut untuk dikeluarkan. Ia mendongak, menatap mata elang suaminya yang kian melembut.​"Tidak bolehkah seorang istri khawatir pada suaminya?" Pertanyaan Liya itu sederhana, namun sanggup menghentikan napas Long Xuan sejenak. Mata Liya berkaca-kaca, memantulkan pijar lilin yang syahdu. "Aku melihatmu disentuh wanita lain, Xuan. Aku melihatmu kehilangan dirimu. Bagaimana aku bisa diam saja?"​L

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 140

    Malam di Dan Xue yang sunyi seketika berubah menjadi badai emosi yang menyesakkan. Begitu Liya mengenali aroma maskulin yang bercampur dengan bau arak mahal itu, seluruh tubuhnya melemas. Ia tahu itu suaminya. Ia tidak berontak saat lengan kokoh Long Xuan melingkar di pinggangnya, mengangkat tubuhnya dengan seringan bulu.​Xuan melompat ke balkon lantai atas dengan ketangkasan yang luar biasa, membawa mereka ke deretan kamar utama yang tarifnya hanya bisa dijangkau oleh kaum bangsawan. Dengan satu tendangan kasar, Xuan membuka pintu salah satu kamar mewah, mendorong Liya masuk hingga istrinya itu nyaris tersungkur di atas permadani tebal.​Pintu dikunci dari dalam. Suasana kamar yang luas dengan interior kayu cendana dan ranjang besar berkelambu sutra itu terasa begitu mengintimidasi. Laki-laki di hadapannya masih mengenakan kain penutup wajah hitam. Tanpa ragu, Liya merangsek maju dan menyentak kain itu hingga terlepas.​Mata mereka bertemu. Di sana, di bawah temaram lentera, berdi

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 139

    Asap ungu yang menyesakkan masih menggantung di udara, namun Jiang Xun tidak memedulikan kekacauan di belakangnya. Pria itu menarik lengan Liya dengan kasar, menyeretnya menembus lorong-lorong gelap Paviliun Yunjin hingga mereka sampai di taman belakang yang sunyi. Oksigen dingin malam Dan Xue menusuk paru-paru Liya yang terengah-engah.​"Lepaskan! Tuan Jiang, kau gila!" teriak Liya, berusaha menyentak tangannya.​"Aku menyelamatkanmu, Miao Er! Lihatlah tempat itu, semua hancur!" Jiang Xun berbalik, matanya berkilat penuh obsesi. "Kau ikut denganku ke kediaman Jiang. Sekarang!"​Namun, sebelum Jiang Xun sempat melangkah lebih jauh, sekelebat bayangan hitam melesat dari balik pepohonan ginkgo. Dengan gerakan yang hampir tak kasat mata, bayangan itu mendaratkan dua hantaman telak ke titik saraf di leher dan punggung Jiang Xun. Sang bangsawan itu jatuh tersungkur, lumpuh seketika tanpa sempat mengerang.​"Na Ying!" Liya terpekik pelan, jantungnya nyaris melompat keluar.​"Berhenti bert

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 39

    Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 40

    Kereta kuda berhenti dengan tenang di depan kedai manisan yang riuh di ujung distrik akademi Shin Yue. Liya turun dengan gerakan anggun, jemarinya merapikan lipatan hanfu ungu berbahan sutra yang ia kenakan. Wajahnya tampak setenang permukaan telaga beku, tanpa sedikit pun jejak kepanikan, meski di

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 34

    Angin malam berembus kencang, menyapu dedaunan kering di pelataran taman belakang Kediaman Long. Di bawah bayang-bayang taman paviliun yang diterangi remang cahaya lampion, atmosfer terasa mencekam, seolah-olah udara pun segan untuk mengalir. ​"Xinxin! Apa yang kau lakukan di sini?" ​Suara barito

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 41

    Cahaya mentari senja yang jingga keemasan menerobos masuk melalui celah tirai sutra, menyinari wajah Long Yuan yang tampak jauh lebih tenang. Bocah itu duduk merapat, menggenggam jemari Liya dengan posesif. ​"Bibi," panggil Long Yuan lirih. Suaranya memecah keheningan yang sejak tadi membeku di an

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status