LOGINPersiapan di markas Gunung Yu berubah menjadi hiruk-pikuk yang menyenangkan. Tidak ada denting pedang atau teriakan latihan yang mengintimidasi pagi itu. Liya memimpin segalanya dengan semangat yang meluap. Para bandit yang biasanya memegang kapak, kini tampak kikuk memegang untaian bunga liar dan kain-kain merah untuk menghias aula kecil di sudut markas."Pelan-pelan, Wan Yi! Bunga itu harus digantung simetris, bukan asal tempel!" teriak Liya sambil mengarahkan beberapa pria kekar yang sedang menghias langit-langit."Nyonya, tangan kami lebih biasa memegang leher musuh daripada tangkai bunga sesensitif ini," keluh Wan Yi, namun ia tetap tersenyum lebar.Di dalam kamar rias, Liya menatap Xiao Cui yang terpantul di cermin perunggu. Pelayannya itu tampak luar biasa cantik dalam balutan hanfu merah sederhana dengan sulaman benang emas di bagian kerah, hasil karya Liya dan Nyonya Besar Long dalam waktu singkat."Jangan gemetar begitu, Xiao Cui. Kau terlihat seperti bidadari gunung har
Bulan telah berganti, dan aroma pinus di lereng Gunung Yu terasa lebih tajam saat bayangan seorang penunggang kuda muncul dari balik kabut lembah. Fan Yi kembali. Penyamarannya di Beiyuan selama sebulan terakhir telah membuahkan hasil, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di sarang macan. Di dalam aula yang remang, Long Xuan menuangkan cangkir kedua arak hangat untuk pria di hadapannya. Fan Yi, yang baru saja menempuh perjalanan berbahaya dari Beiyuan, tampak lebih kurus dengan tulang pipi yang menonjol, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah padam."Minumlah, Fan Yi. Kau butuh ini untuk menghangatkan darahmu," ujar Long Xuan sembari menggeser cangkir tanah liat itu.Fan Yi meneguknya dalam sekali tegukan. "Terima kasih, Ketua. Beiyuan sedang bergejolak. Murong Guan tidak hanya memperkuat bentengnya, tapi dia sudah menempatkan Gunung Yu di urutan teratas daftar buruannya. Pasukan Murong Xi, putra sulungnya, sudah bersiap.""Murong Xi?" Xuan mengerutkan kening. "Aku be
Suara derap kaki kuda yang mantap memecah keheningan lapangan utama. Liya muncul dari arah instal, duduk tegak di atas kuda tunggangannya. Hanfunya berkibar tertiup angin pagi. "Cepat naik! Aku pikir kau memang sengaja mengunci kamar karena tidak sudi lagi melihat wajah Fan Yi." Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Cui yang masih berdiri mematung dengan wajah sembap. "Nyonya ...." Xiao Cui mendongak, matanya yang merah berkaca-kaca menatap telapak tangan Liya. "Hamba ... hamba menyulam kantung wangi ini semalaman untuknya, tapi hamba justru ketiduran. Hamba sungguh bodoh, Nyonya." Liya mendenguks pelan, namun matanya memancarkan simpati. "Rombongan itu belum lama pergi. Mereka membawa beban berat, jadi laju mereka tidak akan secepat kuda ini. Cepat naik! Kita masih bisa mengejar mereka di dasar lembah sebelum mereka berpisah jalan." Tanpa membuang waktu lagi, Xiao Cui menyambut uluran tangan Liya. Dengan sekali sentakan kuat, Liya menarik tubuh mungil pelayannya itu n
Malam di Gunung Yu terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam kamarnya, Xiao Cui duduk gelisah di tepi dipan. Jemarinya terus mengusap permukaan halus gelang giok berwarna hijau lumut di tangannya. Kata-kata Fan Yi sore tadi terus terngiang seperti gema yang tak mau hilang. “Tanya pada Nyonya jika kau tidak mengerti.”Rasa penasaran yang membuncah akhirnya mengalahkan rasa kantuknya. Dengan langkah ragu, ia menyusuri koridor kayu menuju kamar Liya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Nyonya Mudanya sedang duduk tenang menyeduh teh, uap hangatnya menari-nari ditiup angin malam."Nyonya ... Nyonya belum tidur?" bisik Xiao Cui setelah mengetuk pelan.Liya mendongak dan tersenyum lembut. "Belum, Xiao Cui. Tuanmu masih di aula, memberikan arahan terakhir untuk pasukan yang akan berangkat fajar nanti. Kau sendiri kenapa belum istirahat?"Xiao Cui menggeleng, lalu masuk dan duduk bersimpuh di dekat meja teh. Wajahnya tampak mendung oleh keresahan yang nyata. "Ada sesuat
Aula utama markas Gunung Yu terasa mencekam. Udara dingin pegunungan menyelinap di antara celah dinding kayu, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau besi dari senjata-senjata yang diasah. Di tengah ruangan, Long Xuan berdiri menatap peta wilayah Beiyuan yang terbentang di atas meja batu, sementara Fan Yi dan beberapa perwira bandit lainnya menyimak dengan saksama."Jadi, Murong Guan benar-benar akan merekrut prajurit baru dalam skala besar?" tanya Long Xuan, suaranya berat dan bergema di langit-langit aula."Benar, Ketua," jawab salah satu mata-mata yang baru saja kembali. "Kekalahan telak pasukannya di perbatasan tempo hari membuatnya paranoid. Ia butuh tenaga baru untuk memperkuat benteng Beiyuan."Long Xuan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang menandakan strategi sedang tersusun di kepalanya. "Ini adalah celah yang kita tunggu. Kita akan menghancurkan mereka dari dalam. Jika kita menyerang dari luar, tembok Beiyuan terlalu kokoh, tapi jika rayap sudah ada di dal
Matahari sudah merangkak tinggi, cahayanya menembus celah-celah kisi jendela paviliun dan jatuh tepat di atas wajah Liya. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang terasa tertinggal di alam mimpi. Ketika ia mencoba menggerakkan bahunya untuk meregangkan tubuh, rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke seluruh persendiannya. Tubuhnya terasa seolah baru saja dipaksa menempuh perjalanan ribuan mil tanpa henti. "Oh, Xuan ... kau benar-benar binatang buas," gumam Liya dengan suara parau. Ia menyingkap selimut sutranya sedikit dan mendesah pasrah. Di bawah cahaya pagi yang terang, tanda-tanda merah keunguan berserakan di leher, bahu, hingga dadanya, jejak-jejak absolut dari kegilaan suaminya yang seolah ingin membalas dendam atas tiga tahun pernikahan yang hambar hanya dalam satu malam. Tok, tok, tok. "Nyonya, ini Xiao Cui. Hamba diminta membangunkan Nyonya karena matahari sudah tinggi. Hamba juga sudah menyiapkan air hangat untuk Nyonya berendam,
Liya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti meng
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengku
Debu beterbangan di lereng bawah Gunung Yu saat derap kaki kuda pasukan khusus "Gagak Hitam" terhenti seketika. Di barisan paling depan, Long Xuan menarik tali kekang kudanya dengan sentakan kasar hingga hewan itu meringkik nyaring. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya memancarkan kedinginan mau
Malam makin merayap di Paviliun Phoenix, namun suasana di dalam kamar Long Xuan masih terperangkap dalam sisa-sisa ketegangan malam yang liar. Song Liya terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia baru saja menyentuh rahasia terbesar suaminya, tanda lahir daun lotus itu, ketika sebuah gerakan t







