FAZER LOGINLiya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti mengapa suaminya selalu menatapnya dengan penuh kecurigaan. Di mata Long Xuan, setiap wanita yang dikirim oleh keluarga bangsawan ke dalam keluarganya adalah potensi pengkhianat. Dan ia, Murong Shi, adalah bom waktu yang akan diledakkan tepat di jantung paviliunnya. "Nyonya ... wajah Nyonya pucat sekali," bisik Xiao Cui yang mencegatnya di lorong gelap. "Apa yang dikatakan Tuan Besar? Apakah beliau memarahi Nyonya?" Liya tidak menjawab dengan segera. Ia hanya menggenggam tangan Xiao Cui dengan dingin, menyalurkan kegelisahan yang membeku. "Siapkan barang-barang kita, Xiao Cui. Kita tidak akan tinggal di sini lebih lama lagi. Besok pagi-pagi sekali, kita kembali ke Beiyuan." "Tapi Nyonya, b
Udara di dalam ruang kerja Murong Guan terasa kian mencekik oleh ketegangan yang memuncak. Liya merasakan ujung jemarinya mendingin, namun api amarah di dadanya justru berkobar makin panas. Pertanyaan ayahnya tentang perubahan sikapnya membuat lidah Liya kelu sejenak. Ia tidak menjawab, namun rahangnya mengeras, tatapannya tajam menantang mata ayahnya yang penuh kelicikan. Murong Guan menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan denting yang menyakitkan telinga. Ia menyipitkan mata, menatap putrinya seolah sedang membedah isi kepalanya. "Murong Shi yang aku kenal tidak pernah berani menatap mataku seperti sekarang," ucap Guan dengan nada curiga yang kental. "Siapa yang mengajarimu bersikap lancang seperti ini? Apakah Long Xuan yang mengajarimu untuk membangkang pada ayahmu sendiri?" Liya menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya hingga ia tampak lebih tinggi dari sebelumnya. "Aku berubah atau tidak, itu bukan urusan Ayah lagi. Aku adalah istri Ad
Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. "Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel
Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengkungan bibir yang tak pernah menyentuh binar matanya. "Kaisar sedang diliputi kegelisahan, Tuan Murong. Beliau tidak menyukai kabar yang berembus dari Beiyuan belakangan ini."Murong Guan melemparkan tatapan tajam, menembus ketenangan semu sang penasihat. "Jelaskan makna di balik ucapanmu itu, Penasihat Bao.""Rencana awal kita mengirim putrimu ke Beiyuan adalah untuk menjadi beban, pengalih perhatian, dan jika memungkinkan, melumpuhkan pengaruh Adipati Beiyuan dari dalam. Namun, apa yang terjadi sekarang? Distrik Timur bangkit, pasar tradisional menjelma menjadi episentrum ekonomi baru, dan rakyat Beiyuan kini memuja nama klan Long lebih dari sebelumnya."Murong Guan menyesap tehnya dengan
Angin sore di tepian Danau Beiyuan berembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amis darah yang mulai memudar. Di bawah sebuah pohon willow tua, sebuah gundukan tanah baru berdiri sunyi. Na Ying dan Liya baru saja menyelesaikan pemakaman sederhana untuk Bibi Wan. Tidak ada nisan mewah, hanya tumpukan batu alam sebagai tanda bahwa seorang tabib hebat telah beristirahat di sana. Kereta kuda sewaan Liya yang membawanya tadi telah lenyap, kemungkinan besar kusirnya melarikan diri karena ketakutan saat melihat komplotan berpakaian hitam menyerang. "Naiklah ke kudaku," perintah Na Ying singkat sembari menuntun tunggangannya. Suaranya kembali dingin, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di balik cadarnya. Liya menurut, namun sebelum ia menginjakkan kaki di sanggurdi, ia menahan lengan Na Ying. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan sejak semalam terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, momen ini mungkin tidak akan datang dua kali. "Kak Na, tunggu se







