MasukCahaya lilin di sudut kamar pengobatan menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Suasana begitu hening, hanya interupsi napas Fan Yi yang berat dan tersengal yang sesekali memecah kesunyian. Xiao Cui masih duduk di sana, bahunya turun karena kelelahan, namun tangannya tak berhenti bergerak. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memeras kain putih ke dalam baskom kayu. Air di dalamnya kini tak lagi jernih; warnanya telah berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan darah yang mencemari kesucian air tersebut. Ia menyeka sisa-sisa darah dan kotoran yang mengering di pundak serta dada Fan Yi, tubuh kaku yang biasanya selalu berdiri tegap melindunginya, kini terbaring tak berdaya. "Cepat sembuh, Tuan Kaku," bisik Xiao Cui, suaranya lembut dan nyaris hilang ditelan malam. Ia berhenti sejenak, memandangi wajah Fan Yi yang pucat pasi dalam tidurnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, menetes tepat di atas telapak tangan Fan Yi yang kasar. "Kalau k
Wusss! Jleb!Desingan tajam membelah keheningan malam yang pekat. Hutan di perbatasan Gunung Yu yang tadinya sunyi mendadak bertransformasi menjadi neraka kecil yang mencekam."Awas anak panah! Menunduk semua!" teriak Fan Yi menggelegar, suaranya nyaris tenggelam oleh deru derap kaki kuda pasukan Murong Guan yang semakin merangsek mendekat.Jleb!Fan Yi tersentak hebat. Tubuhnya terlempar ke depan, hampir saja ia terjungkal dari kursi kusir yang berguncang keras. Sebatang anak panah menancap telak di punggung kirinya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, namun jemarinya justru semakin erat mencengkeram tali kekang, menolak untuk menyerah pada rasa sakit."Fan Yi! Kau terkena?!" teriak Liya dari dalam kereta, suaranya sarat akan vibrasi kepanikan yang tak terbendung."Jangan keluar, Nyonya! Tetap menunduk!" balas Fan Yi dengan gigi bergeletuk menahan perih. Ia memacu kuda lebih gila lagi, mengabaikan denyut menyiksa di punggungnya. "Sedikit lagi ... sedikit lagi kita menca
Seorang bocah laki-laki dengan pakaian kumal, wajah yang kusam terkena debu, dan rambut yang berantakan menatapnya dengan tatapan kosong. Telapak tangan kecilnya yang kotor terbuka, seolah-olah ia sedang meminta sedekah di pinggir jalan."Tuan Muda Yuan!" Xiao Cui menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang nyaris lolos.Pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Tidak ada lagi jubah hanfu sutra yang mewah atau seragam sekolah Shin Yue yang gagah. Tuan mudanya kini tak berbeda dengan pengemis kecil di pasar."Tuan Muda ... apa yang mereka lakukan padamu?" Xiao Cui langsung berlutut dan memeluk erat tubuh kecil itu.Long Yuan tidak bergerak. Tubuhnya kaku, namun suaranya terdengar lirih dan parau. "Xiao Cui, bawa aku ke Paman Xuan dan Bibi Shishi ... bawa aku bersama nenek."Fan Yi segera mendekat, matanya yang tajam menyapu sekeliling. "Tuan Muda, di mana Nenekmu? Tunjukkan jalannya sekarang," bisik Fan Yi dengan nada lembut namun tetap matanya mengawasi sekita
Langkah kaki Liya terasa seringan bulu saat ia menyelinap di antara bayang-bayang pilar kayu yang menopang bangunan-bangunan kecil di sekitar aula utama Kuil Tianning. Ia menekan tubuhnya ke dinding, mengatur napas agar tidak terdengar oleh para penjaga yang sesekali melintas dengan langkah yang berat. Di pelataran aula utama, pemandangan berbeda tersaji. Seorang biksuni tua dengan wajah teduh menghampiri Xiao Cui dan Fan Yi."Semoga Sang Buddha memberkati janin dalam rahimmu, Nyonya. Dan semoga Tuan senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keluarga kecil ini," ucap biksuni itu tulus sembari merapalkan doa-doa keselamatan.Fan Yi mengangguk khidmat, tangannya menggenggam jemari Xiao Cui dengan erat yang terasa mendebarkan bagi Xiao Cui. Kepura-puraan mereka begitu natural; sepasang suami istri muda yang sedang menanti kehadiran buah hati pertama mereka. Namun, di balik senyum tipis Fan Yi, matanya terus bergerak liar, memindai setiap wajah di kerumunan jemaat yang bersujud di dep
Fan Yi segera sadar dari keterpakuannya. Ia menarik Xiao Cui ke dalam dekapannya, membisikkan kata-kata menenangkan agar gadis kecil itu tidak semakin kalap. "Sudah, Xiao Cui. Cukup. Ayo kita pergi sekarang."Fan Yi menatap dingin ke arah perempuan bangsawan itu. "Pergilah bersama dayang-dayangmu sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran sebagai seorang pria."Si bangsawan lari terbirit-birit karena ketakutan melihat aura membunuh Fan Yi. Setelah kerumunan bubar, Fan Yi melepaskan dekapannya pada Xiao Cui. Ia hendak memuji keberanian gadis itu, namun ....PLAK!Fan Yi berdiri mematung di tengah keramaian pasar yang mulai berbisik-bisik. Telapak tangan Xiao Cui yang mungil ternyata meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke telinganya. Ia mengusap pipinya yang perih, matanya masih menatap punggung Xiao Cui yang menjauh dengan langkah menghentak-hentak karena kesal."Apa salahku?" gumamnya lirih, benar-benar bingung dengan logika wanita di depannya.Liya, yang sedari tadi m
Perjalanan satu hari penuh dari Gunung Yu terasa melelahkan, namun ketegangan yang menyelimuti kota ini jauh lebih menyesakkan dada. Liya menyingkap sedikit tirai kereta, menatap Distrik Timur yang biasanya riuh oleh gelak tawa pedagang dan denting koin. Kini, suasana mencekam. Jalanan sunyi, hanya menyisakan beberapa orang yang terburu-buru pulang sebelum jam malam dimulai."Nyonya, tempat ini ... kenapa jadi seperti kota mati?" bisik Xiao Cui dengan suara bergetar."Sepertinya keangkuhan Murong Guan telah mematikan nadi kota ini, Xiao Cui," sahut Liya getir.Kereta berhenti tepat di depan Toko Qin Feng. Pintu kayu jati yang biasanya megah kini tertutup rapat dengan rantai besi yang berkarat. Liya segera mengarahkan Fan Yi menuju rumah Qing Feng yang terletak tepat di belakang toko. Setelah ketukan diberikan, pintu selot kayu ditarik perlahan."Nyonya ... Nyonya Muda Adipati?" Qin Feng tertegun, lentera di tangannya hampir saja terjatuh."Qin Feng, ini aku," bisik Liya.Seketi
Pagi di kediaman Adipati Long yang biasanya teratur, kini pecah oleh kegemparan yang tak biasa di Paviliun utama. "Tuan Muda, mohon keluarlah. Kereta sudah siap," bujuk seorang pelayan senior dengan suara gemetar di depan pintu kamar Long Yuan yang tertutup rapat. Tidak ada jawaban. Long Xuan p
Malam itu, Paviliun Anggrek telah tenggelam dalam keheningan yang dalam. Song Liya memejamkan matanya setelah hari yang panjang di pasar. Namun, ketenangan itu pecah seketika saat pintu kamarnya diketuk dengan suara yang keras dan beruntun.Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Liya bangk
Qin Feng membawa Liya melewati tumpukan kain kusam di tokonya menuju sebuah pintu kayu kecil di bagian belakang. Di baliknya, terdapat sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas untuk ukuran bangunan di tengah pasar. Liya memperhatikan bagaimana Qin Feng terus memastikan istri dan anak-a
Pagi berikutnya, udara di kediaman Adipati Long terasa jauh lebih ringan bagi Song Liya. Sisa-sisa badai emosional semalam seolah luruh bersama hujan yang membasahi bumi. Meskipun lebam di pipinya kini menyisakan warna ungu yang memudar, Liya memilih untuk tidak membiarkan rasa sakit itu mengurung







