مشاركة

Bab 47

مؤلف: Wei Yun
last update تاريخ النشر: 2026-02-06 14:40:18

Cahaya fajar yang pucat mulai menyusup melalui celah kain tenda, membawa hawa dingin yang kontras dengan kehangatan luar biasa yang dirasakan Liya. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menemukan dirinya terjepit di antara dada bidang Long Xuan dan dekapan lengan kokoh pria itu yang melingkar erat di pinggangnya.

​Liya mencoba melepaskan diri dengan gerakan sekecil mungkin, berusaha menggeser tangan Long Xuan tanpa membangunkan sang pemilik. Namun, alih-
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
rifdanafisha
yaelahhhh thorrr sbiji doang wahhhh
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 168

    Malam merayap semakin larut di markas Gunung Yu. Aroma tanah basah dan sisa asap yang menempel di pakaian para prajurit perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut. Seluruh Pasukan Bandit Gunung Yu telah kembali ke markas. Di dalam kamar Ketua, udara terasa begitu kaku, seolah-olah ketegangan siang tadi belum sepenuhnya menguap. ​Liya berdiri mematung di dekat meja kayu, tangannya gemetar saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen. Di belakangnya, ia bisa mendengar derap langkah Long Xuan yang berat. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri di sungai, rambutnya yang hitam panjang masih tampak lembap, menjuntai di bahunya yang lebar. ​"Minumlah," ujar Liya pendek tanpa menoleh. Suaranya dingin, sedingin embun malam di puncak gunung. ​Long Xuan menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sambil matanya terus mengunci punggung istrinya. "Terima kasih, Shishi." ​Liya tidak menyahut. Ia melangkah ke lemari kayu, mengambil setelan jubah tidur yang b

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 167

    Langit Desa Qing Lu yang biasanya biru jernih kini tertutup jelaga kelabu yang menyesakkan dada. Aroma kayu terbakar dan jerit histeris penduduk desa memecah keheningan siang. Long Xuan, dengan wajah yang tercoreng abu dan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri di tengah kekacauan, memerintah pasukannya dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. ​"Wan Yi, bawa beberapa orang! Bantu padamkan api di sebelah sana sebelum merembet ke lumbung!" teriak Xuan sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan yang sudah dilalap si jago merah. ​"Siap, Ketua!" Wan Yi menyahut lantang, segera memimpin sekelompok pria berbaju gelap menuju rumah tersebut. Penduduk desa bahu-membahu dengan para bandit Gunung Yu, mengalirkan air dari sumur-sumur terdekat menggunakan ember kayu. ​Telinga Xuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara lirih di tengah deru api. Sebuah teriakan melengking dari dalam rumah yang atap ilalangnya sudah hampir runtuh sepenuhnya. ​"Ketua, sangat berbahaya jika kita masuk se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 166

    Liya terus mundur hingga punggungnya membentur batang bambu yang dingin dan licin. Parang di tangannya terlepas, jatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara dentang yang hambar. Ia menatap Long Xuan—pria yang semalam membanting cangkir di depannya—kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya dengan pedang yang masih meneteskan darah babi hutan.​"Kenapa kau mundur?" tanya Long Xuan, suaranya kini tidak lagi menggelegar, namun justru terdengar berat.​Liya memalingkan wajah, matanya memanas. "Bukankah kau bilang tidak ingin berbicara denganku? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar tidak perlu memintamu melakukan apa pun."​Long Xuan menghela napas kasar. Ia menyarungkan pedangnya dengan sentakan keras, lalu menatap tajam pada lima prajurit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. "Kalian berlima, potong bambu-bambu ini sesuai tanda yang dibuat Nyonya. Bawa semuanya ke dekat saluran air sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"​"Siap, Ketua!" Para prajurit itu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 165

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Liya yang sembap. Ia mengerjapkan mata, mendapati sisi tempat tidur di sampingnya masih rapi dan dingin. Long Xuan benar-benar tidak kembali semalaman. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara denting logam yang beradu dan teriakan komando yang tegas.​Liya menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada latihan pedang di lapangan. "Setidaknya dia masih punya energi untuk berlatih," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur hati yang lara.​Sebagai seorang istri yang terbiasa hidup mandiri dan praktis, Liya tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia sadar telah memicu prahara, namun ia juga tahu bahwa kebutuhan pangan di markas Gunung Yu tidak bisa menunggu kemarahan Xuan mereda. Dengan persediaan yang makin menipis, Liya telah merancang sistem hidroponik sederhana untuk membuat kebun sayur-mayur.​"Aku butuh saluran air untuk mengairi tanamannya. Bambu adalah kuncinya,"

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 164

    Cahaya lilin di sudut kamar pengobatan menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Suasana begitu hening, hanya interupsi napas Fan Yi yang berat dan tersengal yang sesekali memecah kesunyian. Xiao Cui masih duduk di sana, bahunya turun karena kelelahan, namun tangannya tak berhenti bergerak. ​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memeras kain putih ke dalam baskom kayu. Air di dalamnya kini tak lagi jernih; warnanya telah berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan darah yang mencemari kesucian air tersebut. Ia menyeka sisa-sisa darah dan kotoran yang mengering di pundak serta dada Fan Yi, tubuh kaku yang biasanya selalu berdiri tegap melindunginya, kini terbaring tak berdaya. ​"Cepat sembuh, Tuan Kaku," bisik Xiao Cui, suaranya lembut dan nyaris hilang ditelan malam. ​Ia berhenti sejenak, memandangi wajah Fan Yi yang pucat pasi dalam tidurnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, menetes tepat di atas telapak tangan Fan Yi yang kasar. ​"Kalau k

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 163

    Wusss! Jleb!​Desingan tajam membelah keheningan malam yang pekat. Hutan di perbatasan Gunung Yu yang tadinya sunyi mendadak bertransformasi menjadi neraka kecil yang mencekam.​"Awas anak panah! Menunduk semua!" teriak Fan Yi menggelegar, suaranya nyaris tenggelam oleh deru derap kaki kuda pasukan Murong Guan yang semakin merangsek mendekat.​Jleb!​Fan Yi tersentak hebat. Tubuhnya terlempar ke depan, hampir saja ia terjungkal dari kursi kusir yang berguncang keras. Sebatang anak panah menancap telak di punggung kirinya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, namun jemarinya justru semakin erat mencengkeram tali kekang, menolak untuk menyerah pada rasa sakit.​"Fan Yi! Kau terkena?!" teriak Liya dari dalam kereta, suaranya sarat akan vibrasi kepanikan yang tak terbendung.​"Jangan keluar, Nyonya! Tetap menunduk!" balas Fan Yi dengan gigi bergeletuk menahan perih. Ia memacu kuda lebih gila lagi, mengabaikan denyut menyiksa di punggungnya. "Sedikit lagi ... sedikit lagi kita menca

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 95

    Liya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti meng

    last updateآخر تحديث : 2026-04-01
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 91

    Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.​Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengku

    last updateآخر تحديث : 2026-03-31
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 84

    Debu beterbangan di lereng bawah Gunung Yu saat derap kaki kuda pasukan khusus "Gagak Hitam" terhenti seketika. Di barisan paling depan, Long Xuan menarik tali kekang kudanya dengan sentakan kasar hingga hewan itu meringkik nyaring. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya memancarkan kedinginan mau

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 87

    Pagi di Paviliun Anggrek terasa lebih sejuk, namun pikiran Song Liya justru membara oleh berbagai teka-teki. Sambil duduk di depan cermin, ia membiarkan Xiao Cui menyisir rambut hitamnya yang panjang. Bayangan tanda lahir daun lotus di paha dalam Long Xuan semalam terus terngiang. Jika pria itu ben

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status