Snowborn Sword God

Snowborn Sword God

last updateLast Updated : 2026-04-04
By:  GSilvaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
10views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di wilayah utara bernama Frosheim, kematian datang perlahan bersama dingin yang menusuk tulang. Rowan, seorang anak pungut, tumbuh di tengah kemiskinan, wabah penyakit, dan hinaan orang-orang desa. Ia tak punya apa-apa-selain tekad untuk bertahan hidup demi orang tua angkatnya. Tak seorang pun tahu, di balik tubuh kecilnya tersembunyi rahasia besar, jiwa Rowan berasal dari dunia lain, terlahir kembali dengan berkat dewi. Dianugerahi dua aliran yang seharusnya mustahil bersatu. Sword Master yang memanfaatkan aura, dan Sword Magic yang menyalurkan sihir melalui pedang. Rowan mulai menantang takdirnya. Ia berburu monster di usia belia, menahan lapar dan dingin demi keluarganya, hanya untuk menyadari satu kenyataan pahit: di dunia ini, kebaikan tidak menjamin keselamatan. Saat kebencian manusia dan hukum yang kejam merenggut satu-satunya keluarga yang ia miliki, sesuatu di dalam diri Rowan pun ikut mati. Anak yang dulu hanya ingin hidup layak kini melangkah pergi, membawa luka, dendam, dan tekad dingin yang tak akan mencair. SNOWBORN SWORD GOD

View More

Chapter 1

Bab 1: Kontrak Kematian

Jam dinding menunjuk angka 03.45 pagi.

Rowan (35 tahun) menatap kursor yang berkedip di layar monitornya. Di saku kemejanya, surat pengunduran diri sudah terlipat rapi. Besok, pikirnya. Besok aku akan melempar surat ini ke muka Bos, lalu tidur selama yang aku mau.

Rowan mencoba berdiri, tapi jantungnya tiba-tiba berdetak kencang—seperti drum yang dipukul gila-gilaan—lalu berhenti mendadak.

Hah?

Dunia berputar. Kopi dingin di mejanya tumpah. Tubuhnya ambruk menghantam lantai kantor. Hal terakhir yang dia pikirkan bukan tentang keluarga atau Tuhan, melainkan: Sialan... aku mati saat lembur tanpa dibayar? Konyol sekali.

(Kegelapan Mutlak)

[Lokasi: Ruang Hampa (Limbo)]

Cahaya putih meledak. Rowan tersentak. Di depannya, Dewi Reinkarnasi duduk di singgasana jam pasir, menatapnya bosan.

"Kau mati karena kerja lembur. Konyol sekali. Tapi sesuai prosedur, kau berhak reinkarnasi ke dunia Aeterra."

"Aeterra?" ulang Rowan, mengangkat alis. "Apa ini dunia fantasi standar? Peri cantik? Petualangan santai?"

Dewi tertawa. Bukan tawa sopan, tapi tawa mengejek yang menggema di ruang hampa.

"Jangan mimpi, Manusia," desis Dewi. Dia menjentikkan jarinya, menampilkan proyeksi hologram dunia Aeterra yang suram.

"Aeterra bukan dongeng pengantar tidur. Itu adalah Dunia Sisa Perang Dewa. Di sana, Hukum Rimba adalah satu-satunya konstitusi. Yang kuat memakan yang lemah. Yang punya Mana adalah raja, yang tidak punya adalah budak."

Proyeksi itu menunjukkan monster raksasa yang menghancurkan satu desa dalam sekali jalan, dan bangsawan yang menyiksa rakyat jelata dengan sihir.

"Di Aeterra, tidak ada jaminan HAM, tidak ada asuransi, dan tidak ada pensiun. Kau bisa mati kapan saja—dimakan Behemoth saat tidur, ditusuk perampok saat makan, atau dieksekusi bangsawan hanya karena kau menatap mata mereka."

Rowan terdiam menatap proyeksi mengerikan itu. Otak bisnisnya berputar cepat. Dunia ini bukan pasar bebas. Ini monopoli kekerasan. Kalau aku tidak jadi predator puncaknya, aku yang akan dimakan.

Dewi itu menjentikkan jarinya. WUSHHH!

Ruang hampa itu seketika berubah menjadi galaksi kartu. Ribuan kartu bercahaya melayang di udara, berputar mengelilingi Rowan seperti bintang-bintang. Ada yang bersinar emas menyilaukan, ada yang merah membara, ada juga yang abu-abu kusam.

"Ini adalah Perpustakaan Takdir," kata Dewi, suaranya menggema. "Berdasarkan karma kerjamu, kau punya 10 Slot Kosong di jiwamu. Isilah dengan bijak."

Sebuah papan transparan muncul di depan Rowan:

[KUOTA KARTU ANDA]

• Rank S: Pilih 1 Kartu

• Rank A: Pilih 1 Kartu

• Rank B: Pilih 2 Kartu

• Rank C: Pilih 2 Kartu

• Rank D: Pilih 2 Kartu

• Rank F: Pilih 2 Kartu

"Silakan belanja," ujar Dewi sambil menopang dagu. "Pilihlah skill yang akan menyelamatkan nyawamu."

Rowan tidak panik. Matanya yang tajam memindai ribuan kartu itu layaknya sedang melihat laporan saham.

Memilih Rank S Rowan melihat deretan kartu Emas. Ada [Archmage] (Penyihir Agung), ada [Dragon Slayer], ada [Necromancer]. Tangan Rowan melewati semua itu dan menyambar satu kartu dengan gambar pedang bersayap.

PILIHAN: [Rank S: Sword Master] "Aku lebih suka sesuatu yang pasti. Pedang tidak pernah berbohong," gumamnya.

Memilih Rank A Rowan melihat deretan kartu Merah. Ada [Teleportation], [Stealth], [Explosion Magic]. Tanpa ragu, dia mengambil kartu bergambar sel DNA yang membelah diri.

PILIHAN: [Rank A: Cellular Regeneration] "Serangan fisik sudah punya. Sekarang butuh asuransi kesehatan."

Memilih Rank B - F Untuk sisa slotnya, Rowan asal ambil saja dari udara. Dia butuh mengisi kuota agar bisa melakukan rencananya.

• Rank B: Dia ambil [Cooking] dan [Archery].

• Rank C: Dia ambil [Map] dan [Language].

• Rank D: Dia ambil [Night Vision] dan [Cold Resistance].

• Rank F: Dia ambil [Cleaning] dan [Sewing].

"Selesai," kata Rowan. Kesepuluh kartu itu kini melayang rapi di hadapannya.

Dewi mengangguk. "Pilihan yang standar. Kau punya serangan, pertahanan, dan skill bertahan hidup yang lengkap. Kau siap diberangkatkan?"

Rowan tersenyum tipis. Senyum seorang penipu ulung.

"Tunggu sebentar, Bu Dewi. Aku ingin mengajukan Tukar Tambah."

Dewi mengernyit. "Maksudmu?"

Rowan mengambil kartu [Rank S: Sword Master] dan [Rank A: Regeneration],

Kemudian, dia menyapu 8 Kartu Sisanya (Rank B, C, D, dan F) ke tengah meja imajiner.

"Aku kembalikan semua sampah ini," kata Rowan dingin. "Aku tidak butuh masak. Aku tidak butuh peta. Aku tidak butuh melihat dalam gelap."

"Kau gila?!" Dewi bangkit dari duduknya. "Kau membuang [Map] dan [Common Language]? Kau akan lahir di dunia itu sebagai bayi! Kau cari mati?"

"Aku cari kekuatan," potong Rowan. "Aku ingin menukar 8 kartu penunjang hidup ini... dengan Satu Kartu Rank S Tambahan."

Dewi terdiam. Dia menatap tumpukan kartu yang dibuang Rowan. Secara nilai matematik, 8 kartu level menengah-bawah memang setara dengan 1 kartu level atas. Tapi secara logika bertahan hidup, itu tindakan bunuh diri.

"Kau mau menukar kenyamanan hidupmu demi kekuatan tempur?" tanya Dewi, nada suaranya berubah antara kagum dan ngeri.

"Aku mau kartu itu," Rowan menunjuk ke satu kartu Emas yang masih melayang di kejauhan. [Rank S: Magic Swordsman].

"Berikan itu padaku. Biar kulengkapi koleksiku."

Dewi menyeringai lebar. "Manusia serakah. Baiklah! Jika kau begitu ingin menderita... KABULKAN!"

WUSHHH!

Kedelapan kartu penunjang (Masak, Peta, Tahan Dingin, dll) terbakar menjadi abu. Sebagai gantinya, kartu [Rank S: Magic Swordsman] terbang ke tangan Rowan.

Kini, Rowan hanya memegang tiga kartu:

1. [Rank S: Sword Master]

2. [Rank S: Magic Swordsman]

3. [Rank A: Regeneration]

Tiba-tiba, kedua kartu Rank S di tangan kanan dan kirinya bergetar hebat. Mereka saling tarik-menarik.

KRAK!

Cahaya ungu meledak menyilaukan. Saat cahaya itu pudar, Rowan kini hanya memegang Dua Kartu di tangannya.

Rowan mengangkat kartu pertama—hasil gila dari penggabungan dua Rank S.

[Title Card: GOD OF SWORD]

• Visual Kartu: Terbuat dari bahan seperti Obsidian Cair yang berdenyut dengan urat emas. Di tengahnya, ada ilustrasi bergerak: Sebuah mata raksasa yang pupilnya berbentuk bilah pedang vertikal, menatap angkuh ke arah ribuan senjata yang menancap di bawahnya.

[Divine Passive Effects]: Sovereign of All Blades (Penguasa Segala Bilah): Rowan mendapatkan pemahaman tingkat Grandmaster instan untuk semua jenis kategori pedang.

Efek: Bonus Damage +250% saat menggunakan semua jenis kategori pedang.

Mana-Sword Fusion (Jantung Pedang Sihir): Mengonversi Mana menjadi Aura (Sword Aura) dan mengonversi Aura menjadi Mana (Sword Magic) yang menyelimuti senjata. Aura ini bisa memotong baja, membakar (Api), atau membekukan (Es) tanpa perlu mantra sihir. Cukup dengan keinginan.

Everything is a Sword (Segalanya Adalah Pedang): Di mata Rowan, konsep "pedang" tidak terbatas pada besi. Ranting pohon, sendok, atau tulang—selama benda itu panjang, di tangan Rowan benda itu akan memiliki ketajaman dan ketahanan setara Baja Damaskus (selama dialiri Mana).

Sword Intent (Niat Pedang): Kehadiran Rowan memancarkan aura intimidasi. Musuh dengan mental lemah akan merasa "terpotong" hanya dengan melihat tatapan Rowan.

Divine Sword Eye (Mata Dewa Pedang): Karena seorang ahli pedang harus tahu di mana harus memotong, Rowan diberikan penglihatan absolut.

Analisa Tempur: Melihat Status Musuh (Level, HP, Mana) secara mendetail. Death Line: Melihat "Garis Kematian" atau titik lemah vital pada tubuh musuh (jantung, celah armor, aliran darah).

"Indah sekali," gumam Rowan. "Rasanya aku bisa membelah dewa hanya dengan melihat kartu ini."

Lalu, dia beralih ke kartu kedua—satu-satunya asuransi nyawa yang dia miliki.

[Skill Card Rank A: CELLULAR REGENERATION]

Visual: Berbeda dengan kartu Dewa yang agung, kartu ini terlihat... hidup. Warnanya Merah Darah Pekat. Di tengahnya, ada gambar untaian DNA yang putus namun sedang menjahit dirinya sendiri menggunakan benang cahaya.

Effect: Menyembuhkan luka fatal, menumbuhkan anggota tubuh yang putus, dan menetralisir racun dalam hitungan detik. Cost: Sangat Tinggi. Membutuhkan konsumsi Mana besar per detik aktivasi. Warning: Jika Mana habis saat proses berlangsung, regenerasi akan mengambil dari sisa hp dan meninggalkan bekas luka.

Sang Dewi menatap kedua kartu itu dengan tatapan rumit. "Kombinasi yang mengerikan. [God of Sword] memberimu kemampuan membunuh apa saja, dan [Regeneration] membuatmu sulit dibunuh."

"Tapi ingat peringatanku, Rowan..." Dewi menunjuk kartu merah yang berdenyut itu. "Skill Rank A itu adalah parasit. Jika wadah Mana-mu kecil, dia akan memakan vitalitas hidupmu sebagai gantinya."

"Nikmatilah gelarmu itu, Dewa Kecil," bisik Dewi saat tubuh Rowan mulai memudar. "

WUSHHH!

Dingin. Bukan dingin AC kantor. Ini dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Rowan membuka mata. Tidak ada bantal empuk. Dia tergeletak di atas tumpukan salju di tengah hutan gelap. Dia mencoba berteriak, "WOY! Layanannya mana?!"

"Oeeeekkk! Oeeekkk!"

Suara bayi? Rowan terbelalak melihat tangan mungilnya yang merah membiru. Sialan kau, Dewi! Kau melempar pria 35 tahun ke hutan salju dalam wujud bayi?! Ini bukan isekai, ini survival horror!

Tubuhnya mulai kaku. Napasnya memutih. Saat kesadarannya mulai hilang karena hipotermia, sebuah tangan kasar dan hangat mengangkatnya.

"Maria! Lihat! Ada bayi!" suara parau seorang kakek terdengar. "Ya Tuhan... siapa iblis yang membuang malaikat kecil ini?"

Rowan merasakan pelukan erat seorang wanita tua. Baunya apek, campur keringat dan kayu bakar. Tapi bagi Rowan yang baru saja mati kedinginan di lantai kantor... itu adalah kehangatan paling mewah yang pernah ia rasakan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status