로그인Wangi khas daun pucuk teh yang baru diseduh menyusup ke indra penciuman Liya, membawa kesadaran yang perlahan kembali dari kegelapan yang panjang. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan kayu yang asing namun terasa hangat.Tiba-tiba, sebuah suara teriakan penuh haru memecah keheningan dari arah sudut ruangan."Nyonya Muda! Kau sudah siuman!"Xiao Cui, pelayan setianya, bergegas menghampiri dengan air mata yang sudah membasahi pipi. Liya yang masih merasa lemas berusaha duduk, menatap sosok yang sangat ia kenali itu dengan tatapan tak percaya. Ia ingat saat dirinya dengan berat hati harus meninggalkan Xiao Cui di Perguruan Gunung Yu sat dirinya harus pergi ke Dan Xue untuk menyelamatkan Long Xuan."Xiao Cui! Benarkah ini kau?" tanya Liya parau."Benar, Nyonya! Ini Xiao Cui!" Pelayan itu langsung memeluk Liya, keduanya terisak dalam tangis kerinduan yang mendalam. "Xiao Cui pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Saat menerima pesan rahasi
Hutan itu begitu lebat, menyerupai labirin hijau yang menyesakkan. Long Xuan melangkah di atas dedaunan kering, namun telapak kakinya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Semuanya terasa ganjil. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus tajuk pohon yang rapat, menyisakan keremangan yang mencekam. Tiba-tiba, sebuah suara memecah kesunyian: tangisan bayi yang menyayat hati.Telinganya yang terlatih segera menangkap arah suara itu—di balik semak belukar yang rimbun di dekat sebuah pohon raksasa. Xuan mendekat dengan langkah tanpa suara, namun gerakannya terhenti seketika. Di sana, ia melihat seorang wanita bersimpuh, mendekap erat bayi yang masih memerah di dadanya.Isak tangis sang ibu terdengar jauh lebih memilukan daripada tangis bayinya sendiri."Nak, maafkan ibu. Ibu bukanlah ibu yang baik," bisik wanita itu, air matanya jatuh membasahi bedung sang bayi. "Ibu tidak tega melihatmu tumbuh besar dengan penyakit yang kuturunkan ini. Andai ayahmu masih ada, aku mungkin akan lebih kuat
Gema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan."SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila."Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan
Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin."Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja
Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. "Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. BRAAAK!!! Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. "Mereka sud
Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya."Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?""Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat
Langkah kaki Liya yang terburu-buru di sepanjang selasar kayu terhenti seketika saat sebuah bayangan besar menyambar lengannya. Liya tak perlu menebak si pemilik bayangan besar itu. Kekuatan itu begitu dominan, menarik tubuhnya berputar hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. Sebelum Liya sempat
Meja makan di aula utama pagi itu terasa seperti panggung eksekusi yang dingin. Di tengah suasana yang mencekam itu, Long Yuan duduk di antara paman dan bibinya. Bocah kecil itu nampak gelisah, kepalanya tertunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah bibinya dengan penuh kekhawatiran. Cahaya m
Pagi menyapa Kediaman Adipati Long dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap bangunan, namun di dalam Paviliun Anggrek, suasana terasa lebih beku daripada udara di luar. Liya duduk di depan meja rias, menatap bayangannya di cermin perunggu. Matanya tidak lagi menyiratkan kerapuhan; yang terting
Langkah kaki Long Xuan menghantam lantai kayu Paviliun Phoenix dengan irama yang kacau. Di dalam dekapannya, tubuh Liya terasa seringan helai daun, namun sedingin salju di puncak gunung. Pengawal dan pelayan yang berpapasan dengannya segera menyingkir, menunduk dalam-dalam, terkejut melihat sang Ad







