Share

Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening
Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening
Penulis: Amellia

Bab 1

Penulis: Amellia
Windy Lorandi duduk di ruang VIP salon kuku, tetapi stafnya berkata dengan canggung, "Bu, saldo kartu keanggotaanmu nggak mencukupi."

Windy pun terkejut. Bulan lalu, suaminya, Yudha Cengkara, baru memberinya kartu itu dan mengatakan ada 60 juta di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya dia menggunakan kartu itu.

Setelah memeriksa di komputer, staf itu berkata, "Bu Windy, ada transaksi sebesar 56 juta pada Kamis sore lalu."

"Kamis lalu? 56 juta?" Jari-jari Windy berhenti bergerak. "Aku ada di perusahaan hari itu."

Staf itu tergagap, "Pa ... Pak Yudha bawa seorang wanita datang. Waktu pergi, dia bilang 56 juta itu tip buat salah satu staf kami."

Jantung Windy tiba-tiba berdebar kencang dan telinganya berdengung. Kamis lalu, Yudha mengatakan akan bertemu klien dan baru pulang jam 8 malam. Dia juga mengeluh betapa sulitnya menghadapi klien tersebut.

Windy ingat dirinya mengakhiri rapat lebih awal untuk membuatkan sup pereda mabuk untuk Yudha.

"Aku mau periksa rekaman CCTV," kata Windy pelan. Hatinya tiba-tiba tenggelam.

Dalam rekaman itu, Yudha berjalan masuk bersama seorang gadis berbaju biru muda. Gadis itu mendongak dan mengatakan sesuatu, lalu Yudha tersenyum dan mengelus rambutnya.

Windy pun membeku. Gerakan intim itu membuat mereka terlihat seperti pasangan muda, seandainya Yudha bukan suaminya.

Tiba-tiba, Yudha dalam video itu berlutut dan mengecat kuku kaki gadis itu secara pribadi di bawah arahan tukang manikur. Setelah selesai, dia bahkan mengangkat kaki gadis itu dan menciumnya dengan penuh kasih.

Darah Windy terasa seperti sudah membeku. Yudha benar-benar mengesampingkan harga dirinya untuk mengecat kuku orang lain. Setelah pulang malam itu, Yudha bahkan menciumnya dengan mulut sama yang telah mencium kaki orang lain. Windy merasa sangat mual.

Video itu berlanjut dan menunjukkan Yudha tetap berada di sisi gadis itu sepanjang waktu. Saat pergi, dia mengambil tas putih gadis itu dengan alami.

Windy menatap layar dengan saksama. Tas itu sama persis dengan yang ada di lemarinya. Itu adalah hadiah yang dibawa Yudha dari perjalanan bisnisnya minggu lalu. Ternyata, Yudha tidak hanya memberikan tas itu kepadanya.

"Kirim videonya ke e-mail aku." Windy berdiri dengan kedua kaki yang terasa lemas. Dia mengambil tasnya, lalu bergegas keluar.

Setelah kembali ke vila, Windy langsung masuk ke ruang kerja. Jari-jarinya gemetar saat dia menekan nomor detektif swasta. "Aku mau tahu seluruh jadwal Yudha belakangan ini."

Tiga jam kemudian, e-mail Windy dibanjiri belasan foto. Yudha dan seorang gadis bernama Nadia terlihat berbelanja bahan makanan dan berpegangan tangan di bioskop. Foto yang paling mengejutkan adalah foto akta nikah yang menunjukkan bahwa mereka sudah "menikah" setahun lebih.

Windy gemetar tak terkendali. Dia ingat Yudha berlutut di hadapannya dalam resepsi pernikahan mereka dan bersumpah, "Windy, aku nggak akan pernah khianati kamu seumur hidupku."

Ternyata, seumur hidup yang dimaksud Yudha begitu singkat.

Ponsel Windy tiba-tiba bergetar. Detektif swasta itu ​​mengirimkan informasi tambahan.

[ Nadia Suwanto, 24 tahun, guru sekolah menengah internasional. Akta nikah itu palsu. Yudha suruh orang untuk membuatnya dengan harga 600 ribu. Yudha pergi ke apartemennya setiap Rabu dan Jumat sore. ]

Tangannya gemetar saat menekan sebuah nomor. "Ayah, kalau kita tarik investasi proyek energi terbaru Grup Cengkara itu ...."

"Ada apa?" Suara Irfan, ayah Windy tiba-tiba menjadi serius. "Yudha menindasmu?"

Kata-kata itu langsung menghancurkan Windy.

Di resepsi pernikahan mereka, Irfan yang berlinang air mata pernah meletakkan tangan Windy di atas tangan Yudha sambil berujar, "Kalau kamu berani buat putriku menderita, aku akan pastikan kamu nggak bisa lanjut bertahan di dunia bisnis."

"Dia ...." Tenggorokan Windy terasa seperti tersumbat. Dia tiba-tiba teringat ketika dirinya demam tinggi akibat pneumonia tahun lalu. Yudha membawanya ke UGD pada larut malam dan berlutut di samping tempat tidurnya selama tiga hari penuh. Bagaimana mungkin pria yang bersedia bergadang untuknya itu "menikah" dengan orang lain?

"Nggak apa-apa dulu untuk sekarang." Windy menggigit punggung tangannya keras-keras agar tidak menangis. "Tunggu kabarku."

Setelah menutup telepon, Windy mendengar pintu garasi dibuka.

Yudha berjalan masuk dengan membawa sebuah map. Wajahnya masih selembut biasanya. "Kamu pulang begitu cepat hari ini?"

"Emm, aku pergi manikur." Windy mengulurkan tangannya sambil berkata, "Pakai kartu keanggotaan yang kamu berikan."

Tubuh Yudha langsung menegang. Meskipun dia pulih dengan cepat, Windy tetap melihatnya dengan jelas.

"Ngomong-ngomong." Windy bertanya dengan santai, "Staf toko bilang, kamu bawa seorang gadis ke sana Kamis lalu?"

Ekspresi Yudha membeku sesaat. Dia mengamati ekspresi Windy dengan saksama. Melihat ekspresi Windy yang normal, dia tersenyum lembut. "Itu putri tetangga. Dia mau manikur, tapi takut pergi sendiri. Jadi, aku rekomendasikan tempat biasamu."

Yudha berjalan mendekat dan memeluk Windy. "Lapar nggak? Aku akan masak."

Windy memperhatikan Yudha berjalan menuju dapur. Hatinya dipenuhi kepahitan. Apakah jika dia tidak menemukannya, Yudha akan memperlakukannya seperti orang bodoh selamanya? Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Irfan.

[ Tarik investasi itu minggu depan. Aku mau cerai. ]

Setelah mengirim pesan, Windy melihat ke arah dapur. Yudha sedang memotong sayuran dengan gerakan terlatih. Apakah dia mengasah keterampilan memasaknya di rumah gadis itu selama setahun terakhir?

Windy berdiri, lalu melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia berbalik dan berjalan menuju kamar tidur.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 28

    Kabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 27

    Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 26

    Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 25

    Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem ​​dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 24 

    Windy berbaring malas dalam pelukan Axel. Jari-jarinya bermain-main dengan kancing kemeja Axel.Sinar matahari masuk melalui jendela. Axel sedang mengupas anggur untuk Windy. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan cekatan. Daging buah yang berkilauan pun jatuh sempurna ke dalam mangkuk buah."Axel, aku pengen makan macaron dari toko di timur kota itu," kata Windy dengan manja. Axel segera meletakkan anggur dan mengambil ponselnya. "Aku akan suruh orang untuk membelinya sekarang juga." Windy menyipitkan mata dengan puas. Perasaan dimanja sangat menyenangkan. Baru saja dia mendekat dan hendak mencium Axel, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari luar jendela."Windy! Aku akan tunjukkan tekadku!"Yudha berdiri di luar gerbang vila Keluarga Lorandi. Dia masih mengenakan jubah rumah sakit. Luka cambukan di punggungnya membuatnya tidak dapat berdiri tegak, tetapi matanya terlihat penuh tekad.Windy mengerutkan kening dengan kesal. "Dia datang lagi ...."Axel menepuk-nepuk tangan Wi

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 23

    Yudha perlahan-lahan membuka matanya di tengah bau disinfektan. Rasa sakit yang membakar di punggungnya membuatnya meringis. "Hk."Sinar matahari menerobos tirai dan menciptakan bayangan berbintik di ranjang pasien. Yudha masih terhanyut dalam mimpi yang baru saja dibuatnya. Dalam mimpi itu, dia tidak mengkhianati Windy. Mereka hidup bahagia bersama dan memiliki anak kembar yang menggemaskan.Dalam mimpi, senyum lembut Windy terasa begitu nyata. Yudha bahkan masih bisa mengingat aroma melati dari rambutnya. Sebelum senyum itu memudar, kenyataan menghantamnya seperti tersiram air dingin.Kamar rawat inap ini kosong, hanya terdengar suara peralatan medis yang teratur. Tidak ada rumah hangat dari mimpinya, apalagi istri yang menyelimutinya."Heh." Yudha menertawakan dirinya sendiri. Bekas cambukan di punggungnya berdenyut kesakitan setiap kali dia bergerak. Namun, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan di hatinya.Yudha teringat tatapan dingin Windy hari itu, j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status