共有

Bab 2

作者: Amellia
Windy berbaring di tempat tidur sambil menatap lampu di langit-langit. Lampu dengan cahaya lembut itu dipilih khusus oleh Yudha. Katanya, itu tidak akan menyakiti matanya.

Windy berbalik, lalu membenamkan wajahnya di bantal. Napasnya dipenuhi aroma deterjen cucian yang familier. Ini deterjen yang diganti oleh Yudha. Katanya, merek ini lembut dan tidak akan membuat kulitnya iritasi.

Windy memejamkan matanya, tetapi pikirannya dipenuhi dengan gambar dari rekaman CCTV. Yudha merangkul gadis berbaju biru muda, tersenyum padanya, dan mengelus rambutnya dengan lembut.

Windy sangat mengenal senyum itu. Tiga tahun lalu, ketika pertama kali bertemu dengannya, Yudha juga tersenyum seperti itu.

Saat itu, Yudha adalah anak haram yang baru saja diakui oleh Keluarga Cengkara. Dia dikucilkan di sebuah pesta, tetapi tetap mengumpulkan keberanian untuk mendekati Windy dan bertanya dengan telinga merah, "Nona Windy, boleh nggak aku ajak kamu berdansa?"

Saat itu, Windy mengabaikan Yudha. Namun, pria itu tidak menyerah. Setiap hari, Yudha menunggunya di lantai bawah kantornya dengan membawa bekal makan siang buatan sendiri, padahal dia tidak melirik Yudha sama sekali.

Tiga bulan kemudian, Windy akhirnya setuju untuk berkencan dengan Yudha. Pria itu sangat gembira seperti anak kecil. Yudha berdiri di lantai bawah sepanjang malam, hanya agar bisa menjemputnya tepat waktu keesokan harinya.

Pada hari pernikahan mereka, Yudha berlutut di atas karpet merah dan memegang tangan Windy sambil berkata, "Windy, aku nggak akan pernah khianati kamu seumur hidupku."

Windy memercayainya. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Yudha memang sangat baik padanya. Ketika dia merajuk, Yudha akan membujuknya. Apa pun yang diinginkannya, Yudha akan memberikannya. Ketika dia tiba-tiba ingin makan kue dari timur kota di tengah malam, Yudha rela berkendara jauh demi membelinya.

Windy pun mengira Yudha benar-benar mencintainya. Namun, sekarang?

Pintu dibuka secara perlahan. Yudha masuk dengan membawa aroma asap dari dapur. Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Windy. "Windy, makan malam sudah siap."

Windy menghindar dari tangannya dan tetap diam.

Yudha mengerutkan kening. "Ada apa? Kamu nggak enak badan?"

Windy menggeleng.

"Matamu merah." Suara Yudha tiba-tiba menegang. "Kamu sakit kepala? Mau ke rumah sakit?"

Yudha masih seperti ini, mengkhawatirkan hal-hal kecil secara berlebihan.

Windy melihat ekspresi cemas Yudha. Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Apakah kekhawatirannya tulus atau hanya pura-pura?

"Nggak apa-apa." Windy akhirnya berbicara, "Aku lapar."

Yudha menghela napas lega. Dia mencubit pipi Windy sambil tersenyum. "Dasar rakus. Ayo makan."

Di atas meja, ada iga asam manis, ikan saus tiram, dan akar teratai goreng madu. Begitu mencium aroma yang manis, hati Windy langsung tenggelam. Dia tidak pernah makan makanan manis. Yudha mengetahui hal ini.

Windy mendongak dan menatap Yudha lekat-lekat. "Kenapa semuanya manis?"

Tangan Yudha yang sedang menyendok nasi seketika membeku. Kemudian, dia menjawab sambil tersenyum, "Kamu sudah bekerja keras akhir-akhir ini. Jadi, aku kira makan sesuatu yang manis bisa menghiburmu."

Windy menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.

Ekspresi Yudha perlahan-lahan membeku. Dia meletakkan piring dan bertanya dengan suara agak gugup, "Kalau nggak ... aku masak ulang?"

"Oke." Windy mengangguk.

Yudha segera berdiri dan pergi ke dapur, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melirik ponselnya, lalu ekspresinya berubah panik.

"Ada sesuatu yang mendesak di perusahaan. Aku harus pergi ke sana." Yudha meraih jasnya dan berujar, "Kamu makan dikit saja dulu. Aku akan masakkan yang baru setelah kembali."

Windy meletakkan peralatan makannya. "Aku mau makan masakanmu hari ini."

Yudha menghentikan langkahnya. Kerutan di dahinya makin dalam. "Bisa nggak kamu jangan begitu manja? Bukannya semuanya sama-sama adalah makanan?"

Begitu mengucapkan kata-kata itu, Yudha sendiri juga tertegun. Windy menatapnya dengan hati terasa seperti diremas erat.

Yudha segera melembutkan suaranya. "Maaf, bukan begitu maksudku. Urusan ini benar-benar mendesak. Aku akan segera kembali."

Setelah itu, Yudha pergi tanpa menoleh.

Suara pintu tertutup sangat pelan, tetapi Windy merasa dirinya seperti sudah ditampar. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Yudha tidak pernah mengucapkan hal-hal seperti itu.

Windy duduk di meja dan memandang hidangan-hidangan manis itu. Ini adalah selera gadis itu. Dia berdiri dan pergi ke dapur. Sayuran yang setengah terpotong masih tergeletak di talenan, sedangkan air di dalam panci sudah mendidih sampai hampir kering.

Windy mematikan kompor, lalu mengambil kunci mobil dan berjalan keluar.

Hujan mulai turun. Windy mengikuti mobil Yudha ke sebuah gedung apartemen yang tidak dikenalnya. Lift berhenti di lantai 12. Begitu keluar, dia mendengar suara manis dan genit seseorang.

"Sayang, akhirnya kamu datang juga."

"Gadis bodoh." Suara Yudha selembut biasanya. "Kamu ada makan yang baik nggak hari ini?"

"Aku nggak bisa makan tanpamu," jawab gadis itu dengan nada seperti ingin menangis.

"Aku sudah datang sekarang." Yudha membujuk dengan lembut, "Meski kamu nggak mau makan, bayi juga mau makan. Yang patuh, ya?"

Kunci mobil jatuh dari tangan Windy dengan bunyi denting.

Yudha langsung menoleh. Begitu melihat Windy, wajahnya langsung pucat pasi. "Windy ... apa yang kamu lakukan di sini?"

Windy berbalik dan pergi.

Ternyata Nadia sudah hamil!

Windy duduk di dalam mobil. Hujan dan air mata mengaburkan pandangannya. Dia menatap Yudha yang mengejarnya di kaca spion. Mulut Yudha terbuka dan tertutup, seolah-olah sedang memanggil namanya. Namun, dia tidak ingin mendengar sepatah kata pun.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 28

    Kabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 27

    Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 26

    Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 25

    Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem ​​dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 24 

    Windy berbaring malas dalam pelukan Axel. Jari-jarinya bermain-main dengan kancing kemeja Axel.Sinar matahari masuk melalui jendela. Axel sedang mengupas anggur untuk Windy. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan cekatan. Daging buah yang berkilauan pun jatuh sempurna ke dalam mangkuk buah."Axel, aku pengen makan macaron dari toko di timur kota itu," kata Windy dengan manja. Axel segera meletakkan anggur dan mengambil ponselnya. "Aku akan suruh orang untuk membelinya sekarang juga." Windy menyipitkan mata dengan puas. Perasaan dimanja sangat menyenangkan. Baru saja dia mendekat dan hendak mencium Axel, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari luar jendela."Windy! Aku akan tunjukkan tekadku!"Yudha berdiri di luar gerbang vila Keluarga Lorandi. Dia masih mengenakan jubah rumah sakit. Luka cambukan di punggungnya membuatnya tidak dapat berdiri tegak, tetapi matanya terlihat penuh tekad.Windy mengerutkan kening dengan kesal. "Dia datang lagi ...."Axel menepuk-nepuk tangan Wi

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 23

    Yudha perlahan-lahan membuka matanya di tengah bau disinfektan. Rasa sakit yang membakar di punggungnya membuatnya meringis. "Hk."Sinar matahari menerobos tirai dan menciptakan bayangan berbintik di ranjang pasien. Yudha masih terhanyut dalam mimpi yang baru saja dibuatnya. Dalam mimpi itu, dia tidak mengkhianati Windy. Mereka hidup bahagia bersama dan memiliki anak kembar yang menggemaskan.Dalam mimpi, senyum lembut Windy terasa begitu nyata. Yudha bahkan masih bisa mengingat aroma melati dari rambutnya. Sebelum senyum itu memudar, kenyataan menghantamnya seperti tersiram air dingin.Kamar rawat inap ini kosong, hanya terdengar suara peralatan medis yang teratur. Tidak ada rumah hangat dari mimpinya, apalagi istri yang menyelimutinya."Heh." Yudha menertawakan dirinya sendiri. Bekas cambukan di punggungnya berdenyut kesakitan setiap kali dia bergerak. Namun, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan di hatinya.Yudha teringat tatapan dingin Windy hari itu, j

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status