Home / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 4. Merasa Sendiri. 

Share

Bab 4. Merasa Sendiri. 

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2025-12-09 14:07:28

Matahari mulai condong ke barat saat mobil hitam milik Arga keluar dari gerbang rumah keluarga Maheswara. Dari balik kaca, jalanan kompleks perumahan elite itu perlahan menjauh. Di jok belakang, Shaila dan Dharma sudah terlelap, kelelahan setelah seharian berlarian bersama sepupu-sepupu mereka. Shaila bersandar di bahu kakaknya, napasnya teratur, sementara Dharma masih menggenggam mobil-mobilan kecil yang ia dapat dari pamannya.

Suasana dalam mobil hening. Hanya suara mesin dan sesekali gesekan ban dengan aspal yang terdengar. AC berembus lembut, membuat keheningan itu kian terasa tebal.

Arga mengemudi dengan pandangan lurus ke depan, kedua tangannya mantap di setir. Namun di sudut matanya, ia sesekali melirik istrinya yang duduk di kursi penumpang. Nayara diam, menatap keluar jendela, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Sinar sore yang keemasan memantul di pipinya, menyoroti guratan lelah yang tak bisa ia sembunyikan.

Arga membuka mulutnya, hendak bicara, tapi urung. Ia menelan ludah, lalu kembali menatap jalan. Sementara itu, Nayara mengeratkan genggaman pada tas di pangkuannya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak kencang, bukan karena marah, tapi karena rasa sesak yang menumpuk.

Setelah beberapa kilometer, Arga akhirnya bicara. “Anak-anak kelihatan senang, ya. Mereka tadi main sepuasnya.”

Nayara tidak langsung menjawab. Hanya anggukan kecil, singkat. Suaranya baru keluar setelah jeda panjang. “Iya. Anak-anak selalu bisa bahagia, meski orang dewasa … tidak.”

Arga menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. Ia tahu maksud istrinya. Helaan napasnya terdengar berat. “Naya ….”

Nayara tetap menatap keluar jendela. Pepohonan yang berlari mundur di kaca seperti lebih menarik daripada menatap wajah suaminya sendiri. “Aku sudah terbiasa, Mas. Sudah sering.”

“Jangan bilang begitu.” Nada Arga tegas, tapi samar-samar terdengar seperti pembelaan diri. “Ibu memang begitu orangnya. Kamu tahu.”

Nayara menoleh perlahan, tatapannya tajam tapi penuh luka. “Aku tahu. Pertanyaannya, apakah kamu juga tahu aku yang harus menanggung semua sikapnya? Aku yang jadi sasaran setiap ucapan nyinyir, setiap tatapan meremehkan. Kamu hanya … diam.”

Keheningan kembali turun. Suara jam di dashboard berdetik pelan, menyuarakan detik-detik yang terasa panjang.

Arga menggenggam setir lebih erat, urat-urat tangannya menegang. “Aku tidak mau memperkeruh suasana di depan keluarga. Kalau aku menegur Ibu atau Mbak Indira keras-keras, itu bisa jadi masalah besar.”

Nayara tertawa kecil, getir. “Masalah besar untuk siapa? Untukmu? Untuk nama keluarga Maheswara? Lalu aku? Apa aku bukan keluargamu juga?”

Pertanyaan itu menghantam tepat di dada Arga. Ia tidak bisa segera menjawab.

Mobil terus melaju. Jalanan sore yang lengang seakan memberi ruang bagi percakapan yang berat itu, tapi keduanya lebih banyak diam.

Sesampainya di rumah, mobil berhenti di garasi. Arga dengan hati-hati membangunkan anak-anak. Dharma tergeragap sebentar sebelum melanjutkan tidur sambil dipapah masuk kamar. Shaila digendong Nayara, kepala kecilnya bersandar di bahu sang ibu.

Setelah memastikan anak-anak tertidur pulas di kamar masing-masing, rumah terasa sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang mengisi ruang tamu.

Nayara melangkah keluar menuju teras samping. Ia butuh udara, butuh ruang untuk menenangkan pikirannya. Di sana, bunga-bunga hasil kerja tukang kebun tertata rapi. Mawar, melati, dan beberapa tanaman hias lainnya bergoyang ringan diterpa angin sore.

Ia berdiri mematung, tangannya meraba daun yang basah sisa siraman sore tadi. Suaranya bergetar ketika ia berbisik pada dirinya sendiri.

“Sampai kapan aku harus begini?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seperti jeritan hati yang tak sanggup lagi ditahan.

Langkah kaki terdengar mendekat. Arga muncul dari balik pintu, berdiri di sampingnya. Tubuhnya tegak, namun wajahnya menampakkan guratan lelah yang sama.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya pelan.

Nayara menoleh sebentar, lalu tersenyum samar, sebuah senyum yang lebih menyerupai topeng daripada ketulusan. “Aku baik-baik saja.”

Arga menghela napas panjang, tatapannya diarahkan ke halaman, seolah mencari jawaban di antara bunga-bunga yang bergoyang. “Maaf soal tadi. Ibu memang kadang … berlebihan.”

“Kadang?” Nada Nayara meninggi sedikit, meski ia berusaha menahannya. “Mas, ini sudah kesekian kali.”

Arga terdiam. Udara sore yang sejuk tidak cukup mendinginkan ketegangan yang ada. Ia mengangkat tangan, menepuk lembut bahu istrinya, sebuah gerakan sederhana yang dimaksudkan menenangkan. Namun, di telinga Nayara, itu hanya terasa seperti isyarat kosong.

“Jangan ambil hati,” ucap Arga, suaranya datar. “Aku tahu kamu kuat.”

Kata-kata itu membuat Nayara menoleh penuh. Matanya berkaca-kaca, bukan karena kelemahan, tapi karena kecewa yang terlalu lama dipendam.

“Mas … aku tidak butuh kamu bilang aku kuat. Aku butuh kamu ada di sisiku. Berdiri untukku. Bukan hanya menonton dari jauh.”

Arga menunduk, tak mampu menatap istrinya. Ia ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa situasi lebih rumit daripada yang terlihat. Tapi di hadapan tatapan Nayara yang penuh luka, semua alasan terasa hampa.

Keheningan panjang kembali turun di antara mereka. Angin sore berembus, membawa aroma bunga melati. Dari kamar anak-anak, terdengar napas teratur, tanda tidur nyenyak. Dunia di sekitar mereka tenang, tapi di hati Nayara, sebuah retakan kecil kembali terbuka—dan kali ini, retakan itu bertambah lebar.

Nayara melangkah menjauh, duduk di kursi kayu di sudut teras. Ia memeluk dirinya sendiri, seperti mencoba menahan pecahnya air mata. Arga tetap berdiri, kebingungan harus berbuat apa.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa diamnya selama ini mungkin bukan lagi bentuk pengendalian, melainkan sebuah pelarian. Diam yang semula ia yakini sebagai tanda kebesaran hati, kini terasa seperti cara mudah untuk menghindar dari kenyataan.

Nayara menatap ke arah suaminya. Sorot matanya bergetar, namun suaranya tetap lirih, jelas, dan menusuk.

“Mas, aku lelah. Aku bisa menerima kalau orang lain meremehkan aku. Tapi ketika kamu membiarkan itu terjadi, rasanya … aku sendirian.”

Arga menutup mata sejenak. Kata-kata istrinya menembus semua pertahanan yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Ia tahu Nayara tidak pernah meminta banyak—hanya keberpihakan. Tapi di antara tuntutan keluarga, bisnis yang harus dijaga, dan rasa hormat pada ibunya, Arga sering memilih diam. Diam yang kini mulai berbalik menyakiti orang yang paling ia cintai.

Namun lidahnya kelu. Kata-kata yang seharusnya keluar, tersangkut di kerongkongan. Seolah ada jurang tak kasat mata yang menghalangi dirinya untuk sekadar berkata: Aku di pihakmu.

Nayara mengalihkan pandangan, menatap ke halaman yang ditata rapi dengan bunga dan perdu hijau. Hatinya berdenyut perih. Keyakinan yang selama ini rapuh mulai runtuh sedikit demi sedikit. Ia mencintai Arga, ia mencintai keluarganya, ia berusaha sekuat tenaga bertahan. Tetapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut: apakah cintanya cukup kuat untuk bertahan menghadapi dinding dingin yang dibangun suami dan keluarganya sendiri?

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang segera ditelan kelam. Angin sore berembus, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kamboja dari sudut halaman. Di teras samping itu, dua manusia berdiri bersebelahan—tampak dekat dalam jarak, tetapi hati mereka terasa begitu jauh.

Arga akhirnya membuka mata, menoleh sekilas ke arah istrinya, ingin bicara namun tak mampu. Di balik wajahnya yang tenang, pikirannya porak-poranda. Ia mencintai Nayara, tapi juga terikat pada keluarganya. Ia ingin melindunginya, namun tak tahu cara yang tepat.

Nayara tetap berdiri, diam dalam luka. Di dadanya, retakan kecil itu terus melebar. Retakan yang semula tak terlihat, kini semakin nyata, semakin dalam, tanpa ada tanda akan berhenti.

Dan malam pun turun, menyelimuti rumah besar itu dengan hening yang berat—hening yang lebih bising daripada pertengkaran, karena di dalamnya ada perasaan yang tidak terucap, menggantung, menyesakkan, dan mengikis perlahan-lahan.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyala Istri Sah!    Bab 128. Kembali Jadi Rumah

    Pagi itu rumah keluarga kecil itu terasa berbeda.Hangat. Penuh tawa. Tidak ada lagi udara dingin yang dulu sering menyesaki ruang makan setiap kali mereka duduk bersama.Dari dapur, aroma wangi tumisan bawang menyeruak lembut. Suara panci dan tawa bercampur jadi satu—sesuatu yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.Arga sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel yang dikenakan setengah asal. Di sebelahnya, Nayara sibuk memotong sayur dengan ekspresi serius tapi senyum terus menghiasi wajahnya.“Mas, tolong kecilin apinya, nanti gosong,” tegur Nayara sambil melirik panci.Arga malah terkekeh. “Tenang aja, Chef Nayara. Aku udah pro sekarang.”Begitu selesai bicara, minyak di wajan tiba-tiba muncrat dan membuatnya reflek mundur.“Au! Panas!”Nayara spontan tertawa sampai harus menutup mulutnya. “Tuh kan, katanya udah pro!”Arga menatap istrinya pura-pura kesal. “Kamu sengaja nggak kasih tau kan biar aku keliatan gagal?”“Ya siapa suruh sok yakin,” Nayara menjawab

  • Menyala Istri Sah!    Bab 127. Pulang ke Hati

    Malam itu rumah terasa tenang.Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan dari ruang keluarga. Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat tirai bergerak lembut. Di kamar tamu, Dharma dan Shaila sudah terlelap, kelelahan setelah seharian membantu di panti asuhan.Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk saling berhadapan. Arga dan Nayara.Mereka sudah lama tidak duduk berdua seperti ini—tanpa jarak, tanpa dinding, tanpa perantara apa pun.Di antara mereka ada dua cangkir teh yang mulai dingin, dibiarkan begitu saja.Arga menatap istrinya dalam diam. Wajah Nayara masih sama seperti yang selalu ia ingat—lembut tapi kuat. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata itu tak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan kebimbangan yang jujur.“Sudah tiga tahun ya,” suara Nayara pelan, nyaris seperti gumaman.Arga menarik napas panjang. “Tiga tahun sejak semuanya berantakan.”Ia menunduk. “Aku masih ingat malam kamu pergi, Nay. Aku pikir waktu bakal bant

  • Menyala Istri Sah!    Bab 126. Bahagia yang Menular

    “Sudah lama ya, kita nggak ke sini,” ucap Nayara sambil tersenyum. “Aku bawa sedikit hadiah buat anak-anak, Mbak. Pakaian dari butik, model baru. Semuanya baru keluar dari produksi.”Indira menatap tumpukan kardus itu dengan mata membulat. “Astaga, ini semua untuk anak-anak? Banyak sekali, Nayara .…”Nayara tertawa kecil. “Nggak seberapa, Mbak. Aku cuma ingin mereka ngerasain punya pakaian baru juga. Ini juga hasil dari butik yang sekarang berkembang. Sekarang kami sudah buka cabang di beberapa negara Asia.”Arga menatap istrinya dengan bangga yang tak disembunyikan. Ia tahu betul perjalanan panjang Nayara untuk sampai di titik ini. Dari butik kecil di ruko kecil hingga kini menjadi brand fashion terkenal. Dan di balik kesuksesan itu, Nayara tetap rendah hati.Ratna yang ikut bersama mereka turun dari mobil kedua. Begitu melihat menantunya, wajah Ratna langsung lembut. Ia mendekat, menepuk bahu Nayara dengan penuh kasih.“Kamu memang luar biasa, Nak. Ibu beruntung punya menantu sepert

  • Menyala Istri Sah!    Bab 125. Rumah untuk yang Tak Punya Rumah

    Mentari pagi menyinari halaman rumah besar bergaya kolonial itu. Di halaman yang dulu sering sunyi, kini terdengar tawa anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bola, beberapa lainnya sibuk menyiram bunga dengan ember kecil. Pemandangan itu membuat Indira berdiri lama di depan jendela, matanya basah tapi bibirnya tersenyum lembut.Sudah dua tahun berlalu sejak ia benar-benar memutuskan untuk melepaskan masa lalunya—rasa kehilangan, penyesalan, dan semua luka yang dulu ia bawa seperti beban berat di punggungnya. Sekarang, rumah yang dulu terasa kosong berubah menjadi tempat hidup bagi puluhan anak yang membutuhkan kasih sayang.Panti itu diberi nama “Rumah Cahaya Indira.”Nama yang sederhana, tapi penuh makna. Ia ingin setiap anak yang datang menemukan cahaya baru di hidupnya, seperti dirinya yang menemukan arti hidup setelah kehilangan begitu banyak hal.“Bu Indira, ayo ikut sarapan sama kami!” seru seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dengan senyum penuh semangat.Indir

  • Menyala Istri Sah!    Bab 124. Satu Detak di Antara Derita

    Di salah satu kamar bersalin yang sempit, Shanaya terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya menempel di dahi karena keringat, bibirnya pecah, napasnya berat—dan air matanya mengalir tanpa henti.Ia menggenggam erat tepi ranjang, berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya. Suster di sampingnya berkata agar ia terus bernapas teratur, tapi suaranya terdengar jauh, kabur, seolah tertelan oleh suara hujan di luar sana.“Bu, kontraksinya sudah kuat ... ayo tahan sedikit lagi, ya,” ujar suster muda itu, suaranya lembut namun penuh tekanan waktu.Shanaya mengangguk pelan, menggigit bibir hingga darahnya terasa di lidah.Setiap denyut rasa sakit yang datang seolah mengiris nyawanya sedikit demi sedikit.Ia ingin menjerit, ingin menggenggam tangan seseorang—tapi tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada Mahesa, tidak ada ibunya, tidak ada satu pun keluarga yang menunggunya di balik pintu.Yang ada hanya dirinya sendiri, berjuang melawan sakit yang seperti tak berujung.Di

  • Menyala Istri Sah!    Bab 123. Saat Dinding Itu Mulai Retak

    Pagi itu, aroma wangi melati dari taman belakang menyusup lembut ke dalam rumah. Matahari baru naik separuh, menyinari kaca jendela dapur dengan bias keemasan yang hangat. Nayara berdiri di sana, menyiapkan sarapan sambil sesekali menatap ke arah halaman belakang, tempat Arga sedang bermain bola kecil bersama Shaila dan Dharma.Pemandangan itu—sesuatu yang dulu biasa, kini terasa asing tapi juga menenangkan.Arga tertawa kecil ketika Shaila berlari mengejar bola dan hampir jatuh. Refleks, pria itu menangkap tubuh mungil putrinya, mengangkatnya tinggi ke udara sambil berkata, “Nggak apa-apa, kan, Putri Ayah?”Shaila tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh halaman.Sementara Dharma, yang biasanya dingin dan enggan ikut bermain, kini berdiri di sisi Arga, mengoper bola dengan tenang, sesekali tersenyum kecil.Dari balik jendela itu, Nayara diam—matanya berkaca. Ia tak menyangka suasana seperti ini bisa kembali hadir di rumahnya. Dulu, rumah itu penuh suara bentakan dan diam yang menu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 119. Kesempatan yang Tersisa

    Nayara menutup matanya sebentar, mencoba menahan gelombang emosi yang datang. Rasa sakit dan kecewa masih membekas, meski hatinya tak bisa menolak sedikit perasaan haru melihat kesungguhan Arga. “Mas … kamu harus mengerti. Kata-kata itu … mereka terdengar mudah diucapkan. Tapi luka yang kamu buat …

  • Menyala Istri Sah!    Bab 122. Ayah yang Berbeda

    Pagi itu, udara di halaman belakang rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Embun masih menempel di ujung daun, sementara aroma roti panggang dan teh melati menyeruak dari dapur. Suara burung berceloteh riang di ranting pohon mangga, seolah ikut menyambut hari baru yang berbeda dari hari-hari sebe

  • Menyala Istri Sah!    Bab 121. Yang Tersisa Hanya Aku dan Kamu

    Di luar, hujan tipis mulai menetes. Jaket tipisnya tidak cukup menahan dingin, tapi ia berjalan tanpa menoleh lagi. Perasaan ditolak, dibuang, dan tidak dicintai menyelimuti setiap langkahnya. Air mata jatuh, membasahi pipinya, tapi ia menahannya agar tidak terdengar. Bayi kecil dalam perutnya mene

  • Menyala Istri Sah!    Bab 120. Dibuang Setelah Digunakan

    Udara malam di apartemen Shanaya terasa pengap, meski jendela dibuka lebar dan angin lembab dari hujan sore tadi berhembus pelan. Aroma garam laut bercampur kelembaban udara membuat ruangan seolah dingin dan lengket. Segelas susu di meja dekat jendela masih utuh sejak sore, sementara ponsel yang te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status