LOGINMinggu berikutnya, rumah keluarga Arga Maheswara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang Shaila yang berlarian mencari pita rambutnya, atau rengekan Dharma yang minta dicari sepatu kesukaannya. Sejak sore, kedua anak itu sudah bersama pengasuh mereka, sesuai pesan Nayara agar ditemani dan diberi makan malam tepat waktu dan tidak tidur terlalu larut.
Di kamar utama, Nayara berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun malam berwarna navy—potongannya sederhana, jatuh anggun mengikuti tubuhnya, dengan detail lipit halus di bagian pinggang. Gaun itu bukan hasil rekomendasi perancang busana terkenal atau hadiah dari butik mahal, melainkan pilihannya sendiri dari koleksi butik kecil tempat ia biasa menghabiskan waktu. Baginya, busana bukan sekadar pakaian, tapi cerminan jati diri. Elegan tanpa berlebihan, berkelas tanpa harus membuktikan diri pada siapa pun.
Rambut hitamnya ia tata sederhana, disanggul rendah dengan beberapa helaian jatuh natural di sisi wajah. Make-up-nya tipis, hanya menonjolkan rona mata dan bibir yang segar. Ia mengamati bayangannya, mencoba menenangkan diri. Dunia yang akan ia masuki malam ini—dunia gala bisnis, investasi, dan jaringan pengusaha—bukanlah ruang yang membuatnya nyaman. Namun ia tahu, sebagai istri Arga, ada saat-saat ketika kehadirannya bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Pintu kamar terbuka. Arga keluar dari kamar mandi dengan balutan jas hitam rapi, kemeja putih bersih, dan dasi perak yang serasi. Wajahnya bercahaya oleh rasa percaya diri yang khas.
Ia sempat terhenti, menatap istrinya yang sudah bersiap. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Kamu cantik.”
Nayara mengangkat alis, senyumnya samar. “Baru sekarang pujian itu keluar dari mulutmu.”
Arga tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Kamu tahu aku tidak pandai berkata manis.” Ia mendekat, meraih tangan istrinya dengan lembut. “Ayo, kita bisa terlambat kalau masih bercanda.”
Mobil hitam mereka meluncur keluar dari garasi, menembus jalanan kota yang berkilauan lampu neon. Gedung-gedung tinggi menjulang, papan reklame berganti dengan cepat, dan cahaya lampu jalan berkelebat seperti kilau bintang.
Di dalam mobil, suasana hening. Arga fokus mengemudi, sesekali menerima panggilan singkat dari rekan bisnisnya melalui headset. Nayara duduk diam, memandangi jalanan dari balik kaca. Perasaan campur aduk memenuhi dadanya—antara canggung, enggan, sekaligus ingin menunjukkan bahwa ia bisa berdiri tegak di samping suaminya meski dunia yang mereka hadapi terasa asing.
Ia menarik napas panjang, membiarkan gemerlap lampu malam menjadi pengalih perhatian. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia bertanya-tanya: sampai kapan ia harus berada di ruang yang tidak pernah benar-benar menerima dirinya?
Begitu memasuki hotel bintang lima di pusat kota, atmosfer langsung berubah. Aroma bunga segar dan wangi parfum mewah bercampur di udara. Lantai marmer mengkilap, lampu gantung kristal berkilau, dan musik klasik mengalun lembut dari panggung orkestra di sudut ruangan.
Ballroom dipenuhi para tamu dalam balutan gaun glamor dan setelan jas eksklusif. Gelas champagne berkilauan di tangan, percakapan hangat terdengar di berbagai sudut, sementara fotografer sibuk mengabadikan momen.
Arga langsung memasuki mode yang berbeda—sosok pebisnis karismatik. Senyumnya ramah, jabat tangannya mantap, dan percakapan bisnisnya mengalir penuh percaya diri. Ia tampak seperti ikan yang berenang di lautan luas, bebas, percaya diri, dan tentu saja—di tempat yang seharusnya.
Nayara berjalan di sisinya, menjaga senyum. Namun ia tidak bisa menolak tatapan para wanita lain yang penuh pengukuran, dari ujung rambutnya hingga sepatu. Ada yang hanya melirik singkat, ada pula yang terang-terangan menilai, seolah bertanya dalam hati: apa yang membuat perempuan ini pantas berdiri di samping Arga Maheswara?
Setiap tatapan itu menusuk, tapi Nayara memilih berdiri tegak. Ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihatnya goyah.
Acara berlangsung semakin meriah. Pembicaraan bisnis mengalir di meja-meja, investor dan pengusaha bertukar kartu nama, sementara musik terus mengiringi. Arga larut dalam diskusi dengan beberapa kolega penting. Sesekali ia menoleh ke arah istrinya, memberi senyum singkat, namun segera kembali fokus pada percakapan.
Nayara duduk di kursi yang disediakan, memandangi keramaian. Di sekelilingnya, para istri pengusaha saling berbisik, menilai, membandingkan. Ia bisa merasakan tatapan mereka menusuk, seakan-akan dirinya hanya bayangan di antara gemerlap lampu kristal.
Namun di balik tatapan tenangnya, api kecil mulai menyala. Ia mungkin tidak memiliki nama besar atau harta keluarga Maheswara, tapi ia punya sesuatu yang lebih berharga—harga diri.
Tatapan beberapa wanita dan istri pengusaha lain terasa menusuk, menilai dari ujung rambut hingga sepatu.
***
Para tamu berdiri dengan anggun, berbincang dengan tawa tertahan sambil membawa segelas champagne. Orkestra kecil di sudut ruangan memainkan musik klasik yang menenangkan, menciptakan latar belakang elegan untuk malam penuh gengsi ini.
Nayara berdiri di sisi Arga, tubuhnya kaku dalam gaun navy sederhana yang meski elegan, terasa begitu berbeda dibandingkan lautan gaun mahal berpayet dan penuh perhiasan di sekelilingnya. Sesekali ia tersenyum, berusaha menyesuaikan diri dengan dunia yang sebenarnya bukan miliknya. Ia tahu, malam ini Arga membutuhkan kehadirannya. Tapi di dalam hati, ada kegugupan yang terus berdenyut.
Arga dengan cepat larut dalam keramaian. Ia berbicara dengan kolega-koleganya, wajahnya berubah menjadi persona publiknya: ramah, percaya diri, penuh wibawa. Nayara hanya berdiri, mengangguk ketika diperkenalkan, melempar senyum sopan meski sorot mata beberapa tamu wanita terasa menusuk, mengukur dan menilai penampilannya dari kepala hingga kaki.
Dan lalu, terdengar suara yang membuat Nayara tersentak.
“Arga! Long time no see!”
Sebuah suara nyaring, lantang namun manis, terdengar jelas di atas alunan musik. Semua orang di sekitar spontan menoleh. Arga ikut menoleh, dan seketika udara di sekitar Nayara seakan berubah lebih dingin.
Seorang wanita melangkah masuk dengan percaya diri. Gaun merah marun melekat sempurna di tubuh rampingnya, memancarkan aura seksi sekaligus berkelas. Rambut hitam panjangnya tergerai, berkilau memantulkan cahaya lampu kristal. Bibir merah darahnya melengkung membentuk senyum menawan yang seolah mampu meluluhkan ruangan.
Shanaya mendekat dengan percaya diri, tumit stiletto berderap anggun. “Arga Wiranata Maheswara,” sapanya dengan suara yang manis namun mengandung racun nostalgia. “Kukira kamu terlalu sibuk untuk datang ke acara begini.”
Arga tertegun sepersekian detik. “Shanaya .…”
Shanaya Prameswari.
Nama itu menghantam kepala Nayara. Ia mengenalnya, meski belum pernah bertemu langsung. Sudah sering ia mendengar nama itu — dari bisik-bisik samar keluarga Maheswara, dari cerita teman kuliah lama Arga yang tanpa sengaja sampai ke telinganya, bahkan dari cara Indira, kakak iparnya, menyebut nama itu dengan nada penuh pujian. Shanaya, wanita yang dulu hampir menjadi menantu kesayangan keluarga Maheswara. Mantan kekasih Arga yang dikabarkan “nyaris sempurna.”
Dan kini, untuk pertama kalinya, Nayara melihat sosok itu dengan matanya sendiri.
Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya datang karena kamu tidak memberi kabar, Arga,” ucap Shanaya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. “Tiga hari aku menunggu. Katamu, kamu akan menemuiku setelah urusan kantor selesai. Tapi sampai hari ini, tidak satu pesan pun kamu kirim. Jadi, aku pikir … mungkin kamu memang tak berniat menemuiku.”Arga menarik napas berat, menahan amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan. “Dan karena itu kamu merasa pantas datang ke rumahku? Rumah yang kamu tahu masih ada istriku di dalamnya?”Nada suaranya tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kekecewaan yang dalam. Shanaya tersenyum samar, menatap ke arah tangga di mana Nayara berdiri diam, tubuhnya kaku seperti patung.“Justru karena itu aku data
Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-kali memintanya duduk, istirahat, tapi Nayara menolak halus.“Kalau diam, rasanya makin sesak, Mbok,” katanya pelan, sambil menata piring yang seharusnya tak perlu dipindahkan lagi.Mbok Darmi menghela napas, menatap nyonya mudanya itu dengan iba. “Bu, kalau memang kepikiran Pak Arga, jangan disimpan terus di dada. Kadang marah itu juga perlu keluar, biar nggak bikin sakit.”Nayara tersenyum, tapi pahit. “Saya sudah terlalu banyak marah, Mbok. Sekarang malah capek sendiri.”Anak-anak berlarian d
Ia menarik napas dalam-dalam, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan ke cermin.Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada retakan halus yang tak lagi bisa disembunyikan.“Kalau aku terus di sini, aku cuma nyakitin diri sendiri,” bisiknya pelan.Kantor pengacara itu terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana di Jalan Haryono. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik — tempat orang-orang datang diam-diam ketika rumah tangga mereka mulai retak.Nayara mengenakan blouse krem dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia duduk di ruang tunggu dengan jantung berdebar, sementara suara printer dan percakapan pelan terdengar dari ruangan lain.“Bu Nayara?” panggil resepsionis. “Silakan masuk, Pak Rian sudah menunggu.”Langkahnya pelan saat ia masuk ke ruang kerja pengacara itu. Rian, pria muda berusia awal empat puluhan, berdiri menyambutnya dengan sopan.“Silakan duduk, Bu Nayara. Saya sudah menerima pesan Anda kemarin. Ibu ingin mengu
Hujan masih turun deras malam itu. Wiper mobil Arga bergerak cepat, menyapu air yang terus menetes di kaca depan, tapi pandangannya tetap buram—bukan karena hujan, melainkan karena pikirannya yang berantakan.Sejak ia melihat Shanaya bersama Mahesa di mobil tadi, otaknya seperti dipenuhi gema yang tak berhenti menggema:Apa mungkin anak itu bukan milikku?Tangannya mengepal di setir, sendi-sendi jarinya memutih. Napasnya pendek, seperti menahan amarah yang berusaha menembus kulitnya.Ia memperlambat laju mobil, tapi pikirannya justru melaju lebih cepat dari kecepatan apa pun.Semua hal yang sempat ia abaikan kini kembali satu per satu.Ucapan Shanaya yang sering berubah.Reaksi Mahesa yang selalu tampak terlalu tahu.Dan cara Mahesa menyarankan agar ia “bertanggung jawab” pada Shanaya, seolah sudah tahu segalanya lebih dulu.“Bisa jadi … dari awal mereka memang mainin aku,” gumamnya lirih.Tapi begitu kata-kata itu keluar, dada Arga justru semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, m
Langit malam Jakarta berpendar lembut, lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil Shanaya yang melaju menuju salah satu apartemen di kawasan Kuningan. Tangannya menekan setir erat, bibirnya terkatup rapat. Di dalam dadanya, sisa pertengkaran dengan Arga masih membekas seperti bara yang belum padam.Ia memarkir mobilnya di basement, lalu berjalan cepat menuju lift. Setiap langkah terasa berat, tapi bukan karena kelelahan—melainkan rasa takut dan campur aduk antara bersalah dan lega. Ia sudah melakukan perintah Mahesa: memaksa Arga memilih.Lift berhenti di lantai unit apartement rahasia itu. Pintu terbuka, menampakkan lorong sepi dengan cahaya lampu temaram. Shanaya melangkah pelan, mengetuk pintu bernomor cantik itu tiga kali. Tak sampai beberapa detik, pintu terbuka.Mahesa berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, aroma parfumnya langsung memenuhi udara. Senyumnya tipis, tapi matanya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan—dingin tapi memikat.“Masuk,”
Arga menatap punggungnya menghilang di balik dinding.Rasa bersalah menumpuk di dadanya, sementara ponsel di tangannya kembali bergetar. Pesan baru masuk.Shanaya: “Aku tahu kamu pasti sibuk pagi ini. Tapi aku pengen ketemu sebentar, tolong .…”Arga menatap layar itu lama, hingga teksnya kabur di matanya sendiri.Tangannya gemetar. Antara ingin memblokir nomor itu dan ingin menjelaskan semuanya. Tapi yang lebih membuat dadanya sesak adalah bayangan Nayara—wanita yang selalu memilih tenang saat terluka, yang kini mungkin sudah lelah menunggu penjelasan yang tak pernah datang.Ia mendesah, lalu menekan tombol power, mematikan ponsel.Namun keheningan yang tersisa justru lebih bising dari bunyi notifikasi barusan.Di lantai atas, Nayara duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang terbuka sedikit. Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma kopi yang masih tersisa dari bawah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.Hatinya ingin percaya kalau Arga masih bisa berubah, tapi kepal







