Compartilhar

Bab 98. Dua Surat

Autor: Ucing Ucay
last update Data de publicação: 2026-03-01 08:21:13

Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.

Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menyala Istri Sah!    Bab 128. Kembali Jadi Rumah

    Pagi itu rumah keluarga kecil itu terasa berbeda.Hangat. Penuh tawa. Tidak ada lagi udara dingin yang dulu sering menyesaki ruang makan setiap kali mereka duduk bersama.Dari dapur, aroma wangi tumisan bawang menyeruak lembut. Suara panci dan tawa bercampur jadi satu—sesuatu yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.Arga sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel yang dikenakan setengah asal. Di sebelahnya, Nayara sibuk memotong sayur dengan ekspresi serius tapi senyum terus menghiasi wajahnya.“Mas, tolong kecilin apinya, nanti gosong,” tegur Nayara sambil melirik panci.Arga malah terkekeh. “Tenang aja, Chef Nayara. Aku udah pro sekarang.”Begitu selesai bicara, minyak di wajan tiba-tiba muncrat dan membuatnya reflek mundur.“Au! Panas!”Nayara spontan tertawa sampai harus menutup mulutnya. “Tuh kan, katanya udah pro!”Arga menatap istrinya pura-pura kesal. “Kamu sengaja nggak kasih tau kan biar aku keliatan gagal?”“Ya siapa suruh sok yakin,” Nayara menjawab

  • Menyala Istri Sah!    Bab 127. Pulang ke Hati

    Malam itu rumah terasa tenang.Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan dari ruang keluarga. Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat tirai bergerak lembut. Di kamar tamu, Dharma dan Shaila sudah terlelap, kelelahan setelah seharian membantu di panti asuhan.Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk saling berhadapan. Arga dan Nayara.Mereka sudah lama tidak duduk berdua seperti ini—tanpa jarak, tanpa dinding, tanpa perantara apa pun.Di antara mereka ada dua cangkir teh yang mulai dingin, dibiarkan begitu saja.Arga menatap istrinya dalam diam. Wajah Nayara masih sama seperti yang selalu ia ingat—lembut tapi kuat. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata itu tak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan kebimbangan yang jujur.“Sudah tiga tahun ya,” suara Nayara pelan, nyaris seperti gumaman.Arga menarik napas panjang. “Tiga tahun sejak semuanya berantakan.”Ia menunduk. “Aku masih ingat malam kamu pergi, Nay. Aku pikir waktu bakal bant

  • Menyala Istri Sah!    Bab 126. Bahagia yang Menular

    “Sudah lama ya, kita nggak ke sini,” ucap Nayara sambil tersenyum. “Aku bawa sedikit hadiah buat anak-anak, Mbak. Pakaian dari butik, model baru. Semuanya baru keluar dari produksi.”Indira menatap tumpukan kardus itu dengan mata membulat. “Astaga, ini semua untuk anak-anak? Banyak sekali, Nayara .…”Nayara tertawa kecil. “Nggak seberapa, Mbak. Aku cuma ingin mereka ngerasain punya pakaian baru juga. Ini juga hasil dari butik yang sekarang berkembang. Sekarang kami sudah buka cabang di beberapa negara Asia.”Arga menatap istrinya dengan bangga yang tak disembunyikan. Ia tahu betul perjalanan panjang Nayara untuk sampai di titik ini. Dari butik kecil di ruko kecil hingga kini menjadi brand fashion terkenal. Dan di balik kesuksesan itu, Nayara tetap rendah hati.Ratna yang ikut bersama mereka turun dari mobil kedua. Begitu melihat menantunya, wajah Ratna langsung lembut. Ia mendekat, menepuk bahu Nayara dengan penuh kasih.“Kamu memang luar biasa, Nak. Ibu beruntung punya menantu sepert

  • Menyala Istri Sah!    Bab 125. Rumah untuk yang Tak Punya Rumah

    Mentari pagi menyinari halaman rumah besar bergaya kolonial itu. Di halaman yang dulu sering sunyi, kini terdengar tawa anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bola, beberapa lainnya sibuk menyiram bunga dengan ember kecil. Pemandangan itu membuat Indira berdiri lama di depan jendela, matanya basah tapi bibirnya tersenyum lembut.Sudah dua tahun berlalu sejak ia benar-benar memutuskan untuk melepaskan masa lalunya—rasa kehilangan, penyesalan, dan semua luka yang dulu ia bawa seperti beban berat di punggungnya. Sekarang, rumah yang dulu terasa kosong berubah menjadi tempat hidup bagi puluhan anak yang membutuhkan kasih sayang.Panti itu diberi nama “Rumah Cahaya Indira.”Nama yang sederhana, tapi penuh makna. Ia ingin setiap anak yang datang menemukan cahaya baru di hidupnya, seperti dirinya yang menemukan arti hidup setelah kehilangan begitu banyak hal.“Bu Indira, ayo ikut sarapan sama kami!” seru seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dengan senyum penuh semangat.Indir

  • Menyala Istri Sah!    Bab 124. Satu Detak di Antara Derita

    Di salah satu kamar bersalin yang sempit, Shanaya terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya menempel di dahi karena keringat, bibirnya pecah, napasnya berat—dan air matanya mengalir tanpa henti.Ia menggenggam erat tepi ranjang, berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya. Suster di sampingnya berkata agar ia terus bernapas teratur, tapi suaranya terdengar jauh, kabur, seolah tertelan oleh suara hujan di luar sana.“Bu, kontraksinya sudah kuat ... ayo tahan sedikit lagi, ya,” ujar suster muda itu, suaranya lembut namun penuh tekanan waktu.Shanaya mengangguk pelan, menggigit bibir hingga darahnya terasa di lidah.Setiap denyut rasa sakit yang datang seolah mengiris nyawanya sedikit demi sedikit.Ia ingin menjerit, ingin menggenggam tangan seseorang—tapi tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada Mahesa, tidak ada ibunya, tidak ada satu pun keluarga yang menunggunya di balik pintu.Yang ada hanya dirinya sendiri, berjuang melawan sakit yang seperti tak berujung.Di

  • Menyala Istri Sah!    Bab 123. Saat Dinding Itu Mulai Retak

    Pagi itu, aroma wangi melati dari taman belakang menyusup lembut ke dalam rumah. Matahari baru naik separuh, menyinari kaca jendela dapur dengan bias keemasan yang hangat. Nayara berdiri di sana, menyiapkan sarapan sambil sesekali menatap ke arah halaman belakang, tempat Arga sedang bermain bola kecil bersama Shaila dan Dharma.Pemandangan itu—sesuatu yang dulu biasa, kini terasa asing tapi juga menenangkan.Arga tertawa kecil ketika Shaila berlari mengejar bola dan hampir jatuh. Refleks, pria itu menangkap tubuh mungil putrinya, mengangkatnya tinggi ke udara sambil berkata, “Nggak apa-apa, kan, Putri Ayah?”Shaila tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh halaman.Sementara Dharma, yang biasanya dingin dan enggan ikut bermain, kini berdiri di sisi Arga, mengoper bola dengan tenang, sesekali tersenyum kecil.Dari balik jendela itu, Nayara diam—matanya berkaca. Ia tak menyangka suasana seperti ini bisa kembali hadir di rumahnya. Dulu, rumah itu penuh suara bentakan dan diam yang menu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 99. Test DNA Rahim

    Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya

  • Menyala Istri Sah!    Bab 94. Pilih Nayara Atau Shanaya? 

    Arga menatap punggungnya menghilang di balik dinding.Rasa bersalah menumpuk di dadanya, sementara ponsel di tangannya kembali bergetar. Pesan baru masuk.Shanaya: “Aku tahu kamu pasti sibuk pagi ini. Tapi aku pengen ketemu sebentar, tolong .…”Arga menatap layar itu lama, hingga teksnya kabur di m

  • Menyala Istri Sah!    Bab 93. Aku Capek, Mas. 

    Ketika pintu kamar tertutup, Arga baru menyadari jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia bersandar, menatap layar yang masih menampilkan adegan lucu dari film yang sama sekali tak lagi ia pahami.Dharma yang masih setengah terjaga tiba-tiba bergumam, “Ayah, Bunda capek, ya?”Arga tersenyu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 91. Orang Itu Jahat. 

    “Enggak, kamu yang harus dengar.” Nayara menatapnya, matanya memerah. “Aku ketemu Mas Esa di tempat umum, di siang bolong, dilihat banyak orang. Aku bahkan gak mau ngobrol lama karena gak mau bikin salah paham. Tapi kamu?”Ia berhenti sejenak, suaranya turun menjadi bisikan yang tajam. “Kamu ngelak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status