ログインArga menyapa ibunya dengan hangat, duduk di kursi samping. “Bagaimana kabar, Bu?”
“Baik. Apalagi kalau melihat cucu-cucu ini,” jawab Ratna, mengelus kepala Dharma. “Mereka yang membuat hidup Ibu lebih berwarna.”
Nayara menelan ludah. Ia tahu maksud tersiratnya: seolah-olah bukan dirinya yang memberi warna, melainkan hanya cucu-cucu.
Tak lama kemudian, seorang wanita elegan memasuki ruangan. Rambut hitamnya disanggul rapi, perhiasan emas menghiasi pergelangan tangannya. Senyum manis menghiasi wajahnya, tapi matanya penuh kilatan sinis.
“Wah, akhirnya adik iparku datang juga,” suara lantang terdengar begitu tidak bersahabat.
Indira Maheswara. Kakak kandung Arga, istri dari seorang pengusaha properti yang namanya sering terpampang di majalah bisnis. Penampilannya glamor, gaun sutra biru tua yang berkilau dipadukan dengan perhiasan mencolok di leher dan telinganya. Senyum yang ia pasang terlihat ramah, tapi nada suaranya penuh sengatan.
Nayara berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Selamat siang, Mbak Indira.”
Indira berdiri, mendekat, lalu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Senyum di bibirnya semakin lebar, penuh arti. “Bajumu sederhana sekali, Naya. Tapi ya … cocok, sih. Kamu kan memang orangnya nggak suka menonjol.”
Kata-kata itu menusuk tajam, tapi dibalut dalam kemasan manis.
Arga langsung menoleh ke arah kakaknya, nada suaranya mengeras. “Indira, sudah.”
Namun Indira pura-pura tak mendengar. Ia malah berlalu dengan langkah anggun menuju kursi panjang tempat ibunya, Ratna, sudah duduk sejak tadi.
Indira duduk di sisi Ratna, lalu dengan penuh semangat meraih Dharma dan Shaila yang mendekat. Ia menciumi pipi mereka sambil tertawa. “Kedua anak ini manis sekali. Untung wajah mereka lebih banyak menurun Arga, ya, Bu. Kalau tidak, hmm …” Ia menahan tawa, jelas-jelas menyindir.
Ratna ikut tersenyum samar, tidak ada tanda-tanda hendak menegur. Justru, ia melirik sekilas ke arah Nayara. “Ya, syukurlah anak-anak bisa membawa nama baik keluarga. Mereka cerdas dan rupawan. Itu yang penting.”
Nayara merasakan jantungnya terhimpit. Kata-kata itu seolah ingin menegaskan bahwa dirinya hanyalah latar belakang, bukan bagian penting. Ia menelan ludah, menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi tersinggung.
Shaila yang polos menatap bundanya. “Bunda, kenapa mereka bilang begitu?” suaranya pelan.
Nayara cepat mengelus rambut putrinya, memaksa senyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Main saja dulu sama Kakak Dharma.”
Arga, yang duduk di samping, mengusap bahu istrinya sekilas, sebuah gerakan kecil tapi berarti. Namun ia juga tak bisa terlalu keras menegur ibu dan kakaknya di depan semua orang. Ia tahu betul, menegur terang-terangan hanya akan memicu drama yang lebih besar.
Siang terus berjalan, percakapan para anggota keluarga makin ramai. Tantenya Arga sibuk membicarakan bisnis, beberapa ipar perempuan lain berkompetisi memamerkan tas dan perhiasan terbaru.
Indira kembali membuka suara, kali ini lebih nyaring agar terdengar banyak orang. “Eh, Naya … kamu sekarang sibuk apa? Masih di butik kecilmu itu, ya? Wah, hebat sekali. Punya usaha sendiri meskipun … sederhana.”
Beberapa orang menoleh, pura-pura tersenyum tapi jelas menunggu jawaban.
Nayara menarik napas panjang. “Iya, Mbak. Butik kecil. Tapi saya senang menjalaninya. Ada pelanggan tetap juga.”
“Oh, syukurlah. Minimal ada kesibukan, ya,” Indira menimpali, senyumnya penuh nada merendahkan.
Ratna ikut menambahkan, kali ini nadanya lebih dingin. “Yang penting jangan sampai kesibukan itu membuat kamu lupa tugas utama sebagai istri Arga. Rumah, anak-anak … itu tanggung jawab utama. Usaha sampingan boleh saja, tapi jangan mengganggu.”
Ucapan itu seperti pisau yang mengiris halus. Nayara tahu, apapun jawabannya hanya akan dipelintir. Maka ia memilih diam, menunduk sebentar, lalu menyibukkan diri menuangkan minuman ke gelas anak-anak.
Tak lama kemudian, beberapa sepupu Arga datang membawa kue. Suasana semakin ramai. Namun Nayara tetap merasa asing, seperti tamu di rumah suaminya sendiri.
Indira kembali mencari celah. Ia memandang gaun Nayara dengan tatapan menyelidik. “Eh, Bu … lihat, deh. Gaunnya Naya. Model lama, ya? Sekarang kan tren-nya sudah beda. Tapi ya wajar, butik kecil mungkin belum update koleksi.”
Orang-orang di sekitar tertawa kecil, pura-pura menutup mulut.
Ratna hanya menanggapi dengan senyum tipis. “Yang penting nyaman dipakai. Tidak semua orang perlu mengikuti tren.”
Sekilas terdengar seperti membela, namun intonasinya datar, membuat ucapan itu terasa sebagai bentuk pembenaran yang dingin.
Arga menegakkan punggung, nadanya tegas. “Sudah, cukup. Kita di sini untuk berkumpul, bukan membicarakan hal yang tidak penting.”
Indira menaikkan alis, pura-pura tersinggung. “Lho, aku hanya bercanda, Ga. Kenapa jadi serius?”
Ratna menepuk tangan putrinya, menyuruhnya duduk tenang. Namun sorot matanya pada Arga penuh teguran. Seakan berkata, jangan bela istrimu terlalu jauh di depan keluarga.
Nayara memilih menjauh sebentar. Ia membawa Shaila ke halaman belakang, tempat taman bunga berjejer rapi. Suara tawa dan obrolan dari dalam rumah masih terdengar, tapi sedikit teredam.
Shaila meraih tangan bundanya. “Bunda, kenapa mereka bicara begitu? Apa Bunda jelek?”
Nayara merasakan matanya panas. Ia berlutut, menatap mata anaknya dengan lembut. “Tidak, Sayang. Bunda tidak jelek. Mereka hanya suka bercanda, tapi caranya tidak baik. Kamu jangan dengar, ya.”
Anak itu mengangguk, meski wajahnya masih kebingungan.
Nayara menarik napas panjang, mencoba menegakkan dirinya lagi. Aku harus kuat, batinnya. Untuk anak-anak, untuk menjaga keluarga ini tetap utuh, meski hatinya berkali-kali diremukkan oleh ucapan yang sama.
Di ruang tamu, Indira masih melanjutkan obrolan dengan beberapa anggota keluarga lain, sekali-sekali menyelipkan sindiran tipis. Ratna duduk anggun, mengamati semua dengan tenang. Sesekali ia ikut tertawa kecil, seolah menyetujui ucapan putrinya.
Mereka tampak begitu kompak, seolah Nayara memang tak pernah benar-benar dianggap bagian dari keluarga besar Maheswara.
Arga kembali meneguk teh, diam tapi wajahnya jelas menahan jengkel. Ia tahu istrinya terluka, tapi ia juga tahu, melawan ibunya dan kakaknya di forum besar seperti ini hanya akan memperuncing jurang.
Waktu berjalan, acara arisan ditutup dengan doa singkat. Semua orang masih bercakap-cakap sambil menunggu giliran pamit.
Nayara kembali masuk bersama Shaila, berusaha tetap menebar senyum sopan meski hatinya tergores. Ia tahu, malam nanti, saat semua tamu pulang, luka ini akan kembali ia rawat sendirian.
Namun satu hal pasti, setiap kalimat nyinyir dari Indira dan setiap tatapan dingin dari Ratna hanya membuatnya semakin sadar: ia harus menemukan cara untuk tetap bertahan.
Dan entah bagaimana, firasat dalam hatinya berbisik—hari-hari seperti ini baru permulaan.
***
Cahaya lampu malam menembus jendela kaca restoran kecil di pusat kota, menimpa wajah Indira yang menegang di balik kemudi mobilnya. Tangannya memegang erat ponsel dengan kamera menyala, merekam dari kejauhan sosok suaminya—Mahesa—yang duduk di meja pojok bersama seorang wanita yang tak asing lagi: Shanaya.Indira menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Dada yang sesak itu berubah menjadi bara. Ia tak tahu harus marah dulu atau tertawa pada kebodohannya sendiri. Setelah semua gosip yang beredar tentang wanita itu—Shanaya si perusak rumah tangga orang—sekarang ia benar-benar melihat Mahesa duduk bersama wanita itu.Mereka tampak serius berbicara. Sesekali Shanaya menyentuh tangan Mahesa dengan ekspresi memelas. Mahesa menunduk, tampak bicara dengan nada pelan. Bagi Indira, pemandangan itu sudah cukup menghancurkan.“Aku tahu ada yang nggak beres,” gumamnya lirih. “Kamu pikir aku nggak bisa baca tanda-tanda, Mahesa?”Begitu Mahesa berdiri, Indira dengan cepat menunduk, pura-pura
Hujan belum reda ketika Arga kembali menatap dua kertas di meja: satu surat rumah sakit dengan hasil kehamilan Shanaya, satu lagi surat gugatan cerai dari Nayara. Ia menatap keduanya lama, lalu tanpa berpikir panjang, tangannya meraih surat gugatan itu. Dalam hitungan detik, kertas itu robek di tangannya—robek dengan suara tajam yang memecah sunyi ruang tamu.Potongan kertas itu jatuh berserakan di lantai.Arga menunduk, dadanya naik turun cepat. Napasnya berat, matanya gelap oleh tekad yang terlalu keras.“Aku tidak akan menceraikanmu, Nayara,” gumamnya lirih namun pasti. “Sekalipun kamu membenciku ... aku tidak akan biarkan semuanya berakhir begini.”Langkah lembut terdengar di tangga. Nayara muncul dengan wajah yang masih basah air mata. Ia menatap Arga yang kini berdiri dengan tangan gemetar, di antara serpihan surat cerainya sendiri.“Mas ....” Suaranya pelan, tapi sarat luka. “Kamu baru saja merobek hakku untuk berhenti terluka.”Arga menatapnya lama. “Aku tahu kamu benci aku se
Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya datang karena kamu tidak memberi kabar, Arga,” ucap Shanaya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. “Tiga hari aku menunggu. Katamu, kamu akan menemuiku setelah urusan kantor selesai. Tapi sampai hari ini, tidak satu pesan pun kamu kirim. Jadi, aku pikir … mungkin kamu memang tak berniat menemuiku.”Arga menarik napas berat, menahan amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan. “Dan karena itu kamu merasa pantas datang ke rumahku? Rumah yang kamu tahu masih ada istriku di dalamnya?”Nada suaranya tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kekecewaan yang dalam. Shanaya tersenyum samar, menatap ke arah tangga di mana Nayara berdiri diam, tubuhnya kaku seperti patung.“Justru karena itu aku data
Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-kali memintanya duduk, istirahat, tapi Nayara menolak halus.“Kalau diam, rasanya makin sesak, Mbok,” katanya pelan, sambil menata piring yang seharusnya tak perlu dipindahkan lagi.Mbok Darmi menghela napas, menatap nyonya mudanya itu dengan iba. “Bu, kalau memang kepikiran Pak Arga, jangan disimpan terus di dada. Kadang marah itu juga perlu keluar, biar nggak bikin sakit.”Nayara tersenyum, tapi pahit. “Saya sudah terlalu banyak marah, Mbok. Sekarang malah capek sendiri.”Anak-anak berlarian d
Ia menarik napas dalam-dalam, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan ke cermin.Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada retakan halus yang tak lagi bisa disembunyikan.“Kalau aku terus di sini, aku cuma nyakitin diri sendiri,” bisiknya pelan.Kantor pengacara itu terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana di Jalan Haryono. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik — tempat orang-orang datang diam-diam ketika rumah tangga mereka mulai retak.Nayara mengenakan blouse krem dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia duduk di ruang tunggu dengan jantung berdebar, sementara suara printer dan percakapan pelan terdengar dari ruangan lain.“Bu Nayara?” panggil resepsionis. “Silakan masuk, Pak Rian sudah menunggu.”Langkahnya pelan saat ia masuk ke ruang kerja pengacara itu. Rian, pria muda berusia awal empat puluhan, berdiri menyambutnya dengan sopan.“Silakan duduk, Bu Nayara. Saya sudah menerima pesan Anda kemarin. Ibu ingin mengu
Hujan masih turun deras malam itu. Wiper mobil Arga bergerak cepat, menyapu air yang terus menetes di kaca depan, tapi pandangannya tetap buram—bukan karena hujan, melainkan karena pikirannya yang berantakan.Sejak ia melihat Shanaya bersama Mahesa di mobil tadi, otaknya seperti dipenuhi gema yang tak berhenti menggema:Apa mungkin anak itu bukan milikku?Tangannya mengepal di setir, sendi-sendi jarinya memutih. Napasnya pendek, seperti menahan amarah yang berusaha menembus kulitnya.Ia memperlambat laju mobil, tapi pikirannya justru melaju lebih cepat dari kecepatan apa pun.Semua hal yang sempat ia abaikan kini kembali satu per satu.Ucapan Shanaya yang sering berubah.Reaksi Mahesa yang selalu tampak terlalu tahu.Dan cara Mahesa menyarankan agar ia “bertanggung jawab” pada Shanaya, seolah sudah tahu segalanya lebih dulu.“Bisa jadi … dari awal mereka memang mainin aku,” gumamnya lirih.Tapi begitu kata-kata itu keluar, dada Arga justru semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, m







