Home / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 3. Keluarga Maheswara

Share

Bab 3. Keluarga Maheswara

Author: Ucing Ucay
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-09 14:06:53

Arga menyapa ibunya dengan hangat, duduk di kursi samping. “Bagaimana kabar, Bu?”

“Baik. Apalagi kalau melihat cucu-cucu ini,” jawab Ratna, mengelus kepala Dharma. “Mereka yang membuat hidup Ibu lebih berwarna.”

Nayara menelan ludah. Ia tahu maksud tersiratnya: seolah-olah bukan dirinya yang memberi warna, melainkan hanya cucu-cucu.

Tak lama kemudian, seorang wanita elegan memasuki ruangan. Rambut hitamnya disanggul rapi, perhiasan emas menghiasi pergelangan tangannya. Senyum manis menghiasi wajahnya, tapi matanya penuh kilatan sinis. 

“Wah, akhirnya adik iparku datang juga,” suara lantang terdengar begitu tidak bersahabat. 

Indira Maheswara. Kakak kandung Arga, istri dari seorang pengusaha properti yang namanya sering terpampang di majalah bisnis. Penampilannya glamor, gaun sutra biru tua yang berkilau dipadukan dengan perhiasan mencolok di leher dan telinganya. Senyum yang ia pasang terlihat ramah, tapi nada suaranya penuh sengatan.

Nayara berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Selamat siang, Mbak Indira.”

Indira berdiri, mendekat, lalu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Senyum di bibirnya semakin lebar, penuh arti. “Bajumu sederhana sekali, Naya. Tapi ya … cocok, sih. Kamu kan memang orangnya nggak suka menonjol.”

Kata-kata itu menusuk tajam, tapi dibalut dalam kemasan manis.

Arga langsung menoleh ke arah kakaknya, nada suaranya mengeras. “Indira, sudah.”

Namun Indira pura-pura tak mendengar. Ia malah berlalu dengan langkah anggun menuju kursi panjang tempat ibunya, Ratna, sudah duduk sejak tadi.

Indira duduk di sisi Ratna, lalu dengan penuh semangat meraih Dharma dan Shaila yang mendekat. Ia menciumi pipi mereka sambil tertawa. “Kedua anak ini manis sekali. Untung wajah mereka lebih banyak menurun Arga, ya, Bu. Kalau tidak, hmm …” Ia menahan tawa, jelas-jelas menyindir.

Ratna ikut tersenyum samar, tidak ada tanda-tanda hendak menegur. Justru, ia melirik sekilas ke arah Nayara. “Ya, syukurlah anak-anak bisa membawa nama baik keluarga. Mereka cerdas dan rupawan. Itu yang penting.”

Nayara merasakan jantungnya terhimpit. Kata-kata itu seolah ingin menegaskan bahwa dirinya hanyalah latar belakang, bukan bagian penting. Ia menelan ludah, menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi tersinggung.

Shaila yang polos menatap bundanya. “Bunda, kenapa mereka bilang begitu?” suaranya pelan.

Nayara cepat mengelus rambut putrinya, memaksa senyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Main saja dulu sama Kakak Dharma.”

Arga, yang duduk di samping, mengusap bahu istrinya sekilas, sebuah gerakan kecil tapi berarti. Namun ia juga tak bisa terlalu keras menegur ibu dan kakaknya di depan semua orang. Ia tahu betul, menegur terang-terangan hanya akan memicu drama yang lebih besar.

Siang terus berjalan, percakapan para anggota keluarga makin ramai. Tantenya Arga sibuk membicarakan bisnis, beberapa ipar perempuan lain berkompetisi memamerkan tas dan perhiasan terbaru.

Indira kembali membuka suara, kali ini lebih nyaring agar terdengar banyak orang. “Eh, Naya … kamu sekarang sibuk apa? Masih di butik kecilmu itu, ya? Wah, hebat sekali. Punya usaha sendiri meskipun … sederhana.”

Beberapa orang menoleh, pura-pura tersenyum tapi jelas menunggu jawaban.

Nayara menarik napas panjang. “Iya, Mbak. Butik kecil. Tapi saya senang menjalaninya. Ada pelanggan tetap juga.”

“Oh, syukurlah. Minimal ada kesibukan, ya,” Indira menimpali, senyumnya penuh nada merendahkan.

Ratna ikut menambahkan, kali ini nadanya lebih dingin. “Yang penting jangan sampai kesibukan itu membuat kamu lupa tugas utama sebagai istri Arga. Rumah, anak-anak … itu tanggung jawab utama. Usaha sampingan boleh saja, tapi jangan mengganggu.”

Ucapan itu seperti pisau yang mengiris halus. Nayara tahu, apapun jawabannya hanya akan dipelintir. Maka ia memilih diam, menunduk sebentar, lalu menyibukkan diri menuangkan minuman ke gelas anak-anak.

Tak lama kemudian, beberapa sepupu Arga datang membawa kue. Suasana semakin ramai. Namun Nayara tetap merasa asing, seperti tamu di rumah suaminya sendiri.

Indira kembali mencari celah. Ia memandang gaun Nayara dengan tatapan menyelidik. “Eh, Bu … lihat, deh. Gaunnya Naya. Model lama, ya? Sekarang kan tren-nya sudah beda. Tapi ya wajar, butik kecil mungkin belum update koleksi.”

Orang-orang di sekitar tertawa kecil, pura-pura menutup mulut.

Ratna hanya menanggapi dengan senyum tipis. “Yang penting nyaman dipakai. Tidak semua orang perlu mengikuti tren.”

Sekilas terdengar seperti membela, namun intonasinya datar, membuat ucapan itu terasa sebagai bentuk pembenaran yang dingin.

Arga menegakkan punggung, nadanya tegas. “Sudah, cukup. Kita di sini untuk berkumpul, bukan membicarakan hal yang tidak penting.”

Indira menaikkan alis, pura-pura tersinggung. “Lho, aku hanya bercanda, Ga. Kenapa jadi serius?”

Ratna menepuk tangan putrinya, menyuruhnya duduk tenang. Namun sorot matanya pada Arga penuh teguran. Seakan berkata, jangan bela istrimu terlalu jauh di depan keluarga.

Nayara memilih menjauh sebentar. Ia membawa Shaila ke halaman belakang, tempat taman bunga berjejer rapi. Suara tawa dan obrolan dari dalam rumah masih terdengar, tapi sedikit teredam.

Shaila meraih tangan bundanya. “Bunda, kenapa mereka bicara begitu? Apa Bunda jelek?”

Nayara merasakan matanya panas. Ia berlutut, menatap mata anaknya dengan lembut. “Tidak, Sayang. Bunda tidak jelek. Mereka hanya suka bercanda, tapi caranya tidak baik. Kamu jangan dengar, ya.”

Anak itu mengangguk, meski wajahnya masih kebingungan.

Nayara menarik napas panjang, mencoba menegakkan dirinya lagi. Aku harus kuat, batinnya. Untuk anak-anak, untuk menjaga keluarga ini tetap utuh, meski hatinya berkali-kali diremukkan oleh ucapan yang sama.

Di ruang tamu, Indira masih melanjutkan obrolan dengan beberapa anggota keluarga lain, sekali-sekali menyelipkan sindiran tipis. Ratna duduk anggun, mengamati semua dengan tenang. Sesekali ia ikut tertawa kecil, seolah menyetujui ucapan putrinya.

Mereka tampak begitu kompak, seolah Nayara memang tak pernah benar-benar dianggap bagian dari keluarga besar Maheswara.

Arga kembali meneguk teh, diam tapi wajahnya jelas menahan jengkel. Ia tahu istrinya terluka, tapi ia juga tahu, melawan ibunya dan kakaknya di forum besar seperti ini hanya akan memperuncing jurang.

Waktu berjalan, acara arisan ditutup dengan doa singkat. Semua orang masih bercakap-cakap sambil menunggu giliran pamit.

Nayara kembali masuk bersama Shaila, berusaha tetap menebar senyum sopan meski hatinya tergores. Ia tahu, malam nanti, saat semua tamu pulang, luka ini akan kembali ia rawat sendirian.

Namun satu hal pasti, setiap kalimat nyinyir dari Indira dan setiap tatapan dingin dari Ratna hanya membuatnya semakin sadar: ia harus menemukan cara untuk tetap bertahan.

Dan entah bagaimana, firasat dalam hatinya berbisik—hari-hari seperti ini baru permulaan.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menyala Istri Sah!    Bab 128. Kembali Jadi Rumah

    Pagi itu rumah keluarga kecil itu terasa berbeda.Hangat. Penuh tawa. Tidak ada lagi udara dingin yang dulu sering menyesaki ruang makan setiap kali mereka duduk bersama.Dari dapur, aroma wangi tumisan bawang menyeruak lembut. Suara panci dan tawa bercampur jadi satu—sesuatu yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.Arga sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel yang dikenakan setengah asal. Di sebelahnya, Nayara sibuk memotong sayur dengan ekspresi serius tapi senyum terus menghiasi wajahnya.“Mas, tolong kecilin apinya, nanti gosong,” tegur Nayara sambil melirik panci.Arga malah terkekeh. “Tenang aja, Chef Nayara. Aku udah pro sekarang.”Begitu selesai bicara, minyak di wajan tiba-tiba muncrat dan membuatnya reflek mundur.“Au! Panas!”Nayara spontan tertawa sampai harus menutup mulutnya. “Tuh kan, katanya udah pro!”Arga menatap istrinya pura-pura kesal. “Kamu sengaja nggak kasih tau kan biar aku keliatan gagal?”“Ya siapa suruh sok yakin,” Nayara menjawab

  • Menyala Istri Sah!    Bab 127. Pulang ke Hati

    Malam itu rumah terasa tenang.Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan dari ruang keluarga. Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat tirai bergerak lembut. Di kamar tamu, Dharma dan Shaila sudah terlelap, kelelahan setelah seharian membantu di panti asuhan.Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk saling berhadapan. Arga dan Nayara.Mereka sudah lama tidak duduk berdua seperti ini—tanpa jarak, tanpa dinding, tanpa perantara apa pun.Di antara mereka ada dua cangkir teh yang mulai dingin, dibiarkan begitu saja.Arga menatap istrinya dalam diam. Wajah Nayara masih sama seperti yang selalu ia ingat—lembut tapi kuat. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata itu tak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan kebimbangan yang jujur.“Sudah tiga tahun ya,” suara Nayara pelan, nyaris seperti gumaman.Arga menarik napas panjang. “Tiga tahun sejak semuanya berantakan.”Ia menunduk. “Aku masih ingat malam kamu pergi, Nay. Aku pikir waktu bakal bant

  • Menyala Istri Sah!    Bab 126. Bahagia yang Menular

    “Sudah lama ya, kita nggak ke sini,” ucap Nayara sambil tersenyum. “Aku bawa sedikit hadiah buat anak-anak, Mbak. Pakaian dari butik, model baru. Semuanya baru keluar dari produksi.”Indira menatap tumpukan kardus itu dengan mata membulat. “Astaga, ini semua untuk anak-anak? Banyak sekali, Nayara .…”Nayara tertawa kecil. “Nggak seberapa, Mbak. Aku cuma ingin mereka ngerasain punya pakaian baru juga. Ini juga hasil dari butik yang sekarang berkembang. Sekarang kami sudah buka cabang di beberapa negara Asia.”Arga menatap istrinya dengan bangga yang tak disembunyikan. Ia tahu betul perjalanan panjang Nayara untuk sampai di titik ini. Dari butik kecil di ruko kecil hingga kini menjadi brand fashion terkenal. Dan di balik kesuksesan itu, Nayara tetap rendah hati.Ratna yang ikut bersama mereka turun dari mobil kedua. Begitu melihat menantunya, wajah Ratna langsung lembut. Ia mendekat, menepuk bahu Nayara dengan penuh kasih.“Kamu memang luar biasa, Nak. Ibu beruntung punya menantu sepert

  • Menyala Istri Sah!    Bab 125. Rumah untuk yang Tak Punya Rumah

    Mentari pagi menyinari halaman rumah besar bergaya kolonial itu. Di halaman yang dulu sering sunyi, kini terdengar tawa anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bola, beberapa lainnya sibuk menyiram bunga dengan ember kecil. Pemandangan itu membuat Indira berdiri lama di depan jendela, matanya basah tapi bibirnya tersenyum lembut.Sudah dua tahun berlalu sejak ia benar-benar memutuskan untuk melepaskan masa lalunya—rasa kehilangan, penyesalan, dan semua luka yang dulu ia bawa seperti beban berat di punggungnya. Sekarang, rumah yang dulu terasa kosong berubah menjadi tempat hidup bagi puluhan anak yang membutuhkan kasih sayang.Panti itu diberi nama “Rumah Cahaya Indira.”Nama yang sederhana, tapi penuh makna. Ia ingin setiap anak yang datang menemukan cahaya baru di hidupnya, seperti dirinya yang menemukan arti hidup setelah kehilangan begitu banyak hal.“Bu Indira, ayo ikut sarapan sama kami!” seru seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dengan senyum penuh semangat.Indir

  • Menyala Istri Sah!    Bab 124. Satu Detak di Antara Derita

    Di salah satu kamar bersalin yang sempit, Shanaya terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya menempel di dahi karena keringat, bibirnya pecah, napasnya berat—dan air matanya mengalir tanpa henti.Ia menggenggam erat tepi ranjang, berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya. Suster di sampingnya berkata agar ia terus bernapas teratur, tapi suaranya terdengar jauh, kabur, seolah tertelan oleh suara hujan di luar sana.“Bu, kontraksinya sudah kuat ... ayo tahan sedikit lagi, ya,” ujar suster muda itu, suaranya lembut namun penuh tekanan waktu.Shanaya mengangguk pelan, menggigit bibir hingga darahnya terasa di lidah.Setiap denyut rasa sakit yang datang seolah mengiris nyawanya sedikit demi sedikit.Ia ingin menjerit, ingin menggenggam tangan seseorang—tapi tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada Mahesa, tidak ada ibunya, tidak ada satu pun keluarga yang menunggunya di balik pintu.Yang ada hanya dirinya sendiri, berjuang melawan sakit yang seperti tak berujung.Di

  • Menyala Istri Sah!    Bab 123. Saat Dinding Itu Mulai Retak

    Pagi itu, aroma wangi melati dari taman belakang menyusup lembut ke dalam rumah. Matahari baru naik separuh, menyinari kaca jendela dapur dengan bias keemasan yang hangat. Nayara berdiri di sana, menyiapkan sarapan sambil sesekali menatap ke arah halaman belakang, tempat Arga sedang bermain bola kecil bersama Shaila dan Dharma.Pemandangan itu—sesuatu yang dulu biasa, kini terasa asing tapi juga menenangkan.Arga tertawa kecil ketika Shaila berlari mengejar bola dan hampir jatuh. Refleks, pria itu menangkap tubuh mungil putrinya, mengangkatnya tinggi ke udara sambil berkata, “Nggak apa-apa, kan, Putri Ayah?”Shaila tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh halaman.Sementara Dharma, yang biasanya dingin dan enggan ikut bermain, kini berdiri di sisi Arga, mengoper bola dengan tenang, sesekali tersenyum kecil.Dari balik jendela itu, Nayara diam—matanya berkaca. Ia tak menyangka suasana seperti ini bisa kembali hadir di rumahnya. Dulu, rumah itu penuh suara bentakan dan diam yang menu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 7. Firasat Seorang Istri. 

    Sepanjang sisa malam, Nayara merasakan tatapan Shanaya dari kejauhan. Senyum misterius wanita itu seperti tidak pernah hilang, seolah menyimpan rencana yang lebih besar. Dan yang lebih menyakitkan, setiap kali Arga berbicara dengan kolega, Shanaya selalu berhasil menyelip di antara mereka, menjadi

  • Menyala Istri Sah!    Bab 6. Munculnya Masa Lalu. 

    Sejenak, Nayara merasa dunia berhenti. Perutnya mual, napasnya pendek. Ada rasa asing, sebuah tekanan yang menekan dadanya. Seolah semua wanita di ruangan ini tidak berarti dibanding kehadiran satu orang: Shanaya.Arga tersenyum kecil, langkahnya maju satu langkah. “Shanaya.” Suaranya datar, tapi a

  • Menyala Istri Sah!    Bab 5. Pertemuan yang Membakar. 

    Minggu berikutnya, rumah keluarga Arga Maheswara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang Shaila yang berlarian mencari pita rambutnya, atau rengekan Dharma yang minta dicari sepatu kesukaannya. Sejak sore, kedua anak itu sudah bersama pengasuh mereka, sesuai pesan Nayara agar ditemani d

  • Menyala Istri Sah!    Bab 4. Merasa Sendiri. 

    Matahari mulai condong ke barat saat mobil hitam milik Arga keluar dari gerbang rumah keluarga Maheswara. Dari balik kaca, jalanan kompleks perumahan elite itu perlahan menjauh. Di jok belakang, Shaila dan Dharma sudah terlelap, kelelahan setelah seharian berlarian bersama sepupu-sepupu mereka. Sha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status