Share

3. Hi, long time no see

Author: Ang.Rose
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-12 21:00:51

November 2025.

Samantha menyandarkan kepalanya, menikmati alunan musik dari Anne Marie yang berjudul "2002". Dua hari lagi dia akan wisuda, masa kuliah selesai, dan dia berharap agar kesedihannya pun selesai di hari itu.

Walaupun dia sadar, tak ada hubungannya wisuda dengan kesedihannya. Sam ingat bagaimana dia bisa bertemu dengan orang itu, orang yang membuatnya bisa merasakan kembali cinta yang tulus.

Sam tak perlu bekerja keras untuk mengingat masa-masa itu karena ingatan itu tak pernah hilang. Sama seperti susunan gedung di 42nd Street, atau jalanan yang dia lalui dengan Victor hari ini.

Atau bahkan ciuman ketika mereka bertukar gelang waktu itu, ketika mereka berdua sepakat untuk memulai hubungan mereka meskipun usia mereka terpaut sepuluh tahun.

Sam menghela napas. Semakin perkuliahannya mendekati akhir, dia justru semakin merindukan orang itu. Dia tak berdoa, tidak berharap, namun masih bertanya-tanya: apa yang terjadi jika mereka bertemu lagi?

Apa yang harus dia lakukan? Menamparnya? Bertanya? Atau memukul perutnya? Atau menendang tulang keringnya? Atau melakukan semuanya secara bersamaan?

Terdengar konyol, mungkin. Tetapi ketika waktu itu terjadi, Sam berulang kali mengambil keputusan yang salah, menyalahkan dirinya, bertanya pada diri sendiri apa yang salah dengannya.

Mobil yang dikendarai oleh Victor berhenti di sebuah toko dengan tulisan Nan's Trailor Shop. Dengan nuansa industrial dan berwarna monokrom, Victor membuka pintu toko tersebut, tetapi Sam tak ikut masuk.

Dia tetap berdiri di depan toko sambil melihat ke sebelah kiri.

Kalau jalan tiga blok, bisa ke sana. Apa aku harus ke sana? ucap Sam dalam hati.

Victor menyadari bahwa temannya itu menatap ke arah lain. "Sam? Ayo masuk," bujuk Victor agar Sam tak pergi ke sana.

Sam melihat Victor sambil tersenyum mengangkat bahunya ke atas, lalu memberikan secarik kertas dan berkata, "Aku titip ini, ya. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban, Sam berlari kecil meninggalkan Victor yang tak sempat bereaksi.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki, Sam akhirnya sampai di tempat itu, tempat yang bersejarah untuknya. Sebuah kafe yang menjadi langganan para mahasiswa di kampusnya, Design Flox.

Sam tak langsung masuk. Dia berdiri di depan pintu untuk beberapa saat, dan ketika hatinya dia rasa sudah mantap, barulah dia mendorong pintu tersebut.

"Welcome to Prince Cafe—" sapa sang kasir yang juga kepala toko. "Astaga! Sam!" teriaknya begitu dia sadar orang yang di depannya siapa.

"Hai, Jill," Sam kembali menyapanya.

"Oh my God, oh my God," entah berapa kali Jill mengulangi kata-kata itu sambil keluar dari konter untuk memeluk Sam. "Aku merindukanmu," ucapnya lagi.

"Sama. Maaf aku lama tidak ke sini. Bagaimana kabarmu?"

"Baik, cukup sehat sekarang."

"Oke, oke. Duduklah, aku akan buatkan pesananmu. Kopi dua atau tiga?"

"Hmm, tiga," ucap Sam sambil mengeluarkan kartu, namun Jill mendorong tangan Samantha dengan perlahan.

"Tidak, ini dariku. Aku senang kamu kembali."

"Terima kasih."

Sam pun keluar dari antrean. Dia berjalan mengelilingi tempat itu, pergi ke pojok ruangan melihat tembok kenangan yang dulu terbentuk tanpa sengaja itu. Sepertinya Jill memelihara budaya tersebut hingga saat ini.

Sam melihat dengan saksama apakah masih ada foto itu, namun tak dia temukan. Tetapi itu juga bukan perkara mudah; tembok itu sudah penuh dengan Post-it dan kartu nama, bahkan ada lowongan pekerjaan.

"Banyak yang berubah, bukan?" Ternyata Jill sudah berdiri di sampingnya.

Sam mengangguk kecil. "Ya, aku tidak menyangka. Tembok yang awalnya hanya keisengan belaka justru jadi melebar sampai satu tembok penuh."

"Ini semua berkat idemu. Bisnisku berkembang pesat."

"Aku hanya memberikanmu ide. Kalau kamu tidak melakukannya, itu hanya akan menjadi ide. Semua tetap keberhasilanmu."

Jill memberikan paper bag pada Sam. "Aku harap itu tidak jadi masalah, jika Rachel dan Victor melihatnya."

Sam menerima paper bag itu sambil tersenyum. Ada tawa sedikit keluar dari mulutnya. "Aku rasa sudah pasti akan jadi masalah. Tapi aku senang bisa melihat tempat ini setelah sekian lama."

"Dan aku rindu melihatmu duduk di sofa itu sambil makan sandwich buatanku."

"Aku pasti akan melakukannya kapan-kapan. Thanks, Jill. Aku pergi dulu."

"Hmm." Jill memeluk Sam dengan erat. Dia tahu apa yang telah terjadi pada Sam, dan terkadang dia tidak sanggup memikirkan apa yang sudah Sam alami. "Hati-hati. Datanglah kapan pun kamu mau."

"Aku mengerti. Terima kasih. Maaf butuh waktu lama hingga aku datang lagi ke sini."

Sekali lagi sebelum dia pulang, Sam melihat kembali sofa itu. Masih hangat di ingatannya bagaimana dia menunggu orang itu hingga letusan kembang api selesai, menunggu dia hingga pukul dua pagi.

Tak ada air mata yang keluar, tak ada jeritan, dan tidak ada raungan kesedihan. Hanya kesunyian, kehampaan, dan putus asa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   25. The Eyes

    Charlie duduk di kursinya, dia menatap ke pintu ruangan yang tertutup itu, ruangannya tidak seperti ruangan lain yang memiliki pintu kaca, tempatnya benar-benar tertutup, bahkan kacanya saja juga tertutup tirai.Charlie tidak ingat dia tidak suka cahaya, seingatnya dia begitu menikmati musim panas tapi tiba-tiba dia tidak suka dengan cahaya entah efek kecelakaan atau memang karena benturan di kepalanya.Hans sudah mengatakan dengan gamblang kalau kepalanya sudah berbeda dari sebelumnya, banyak struktur saraf yang disusun ulang karena benturan berulang kali, jadi tidak aneh jika dia merasa tidak seperti biasanya.Pintu ruangannya terbuka, Charlie sudah bisa memprediksi siapa yang muncul, sudah pasti 2 orang itu. Sahabatnya, Ben dan asistennya yang meskipun sudah bekerja untuk perusahaannya tapi Charlie tidak pernah merasa kalau Blake bekerja untuknya.“Kapan aku akan mendapatkan undangan pernikahan kalian?” tanya Charlie.“Oh astaga,” Blake kembali mengeluh bagaimana tidak setiap kali u

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   24. At Glance

    Dalam hitungan detik, melihat orang yang dia pikir sudah mati itu, Samantha selalu berpikir, jika ada saatnya mereka bertemu lagi apa yang akan dia lakukan, menamparnya, memukulnya, memeluknya, menangis atau apa. Sam tidak bisa menemukan sesuatu yang pas.Tapi kini ketika akhirnya saat itu tiba, hari dimana mereka benar-benar bertemu lagi, Sam justru terpaku, terdiam bahkan tidak bisa bicara apa-apa. Matanya hanya bisa menatap orang itu seperti dulu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di auditorium kampus.Tatapan yang tidak bisa dia jelaskan, dulu mungkin ada penjelasannya, bahwa dia mengincar orang ini, dia menyukai orang ini karena fisiknya. Tapi kini—Sam sadar bahwa matanya tak berkedip, dia tidak bisa bergerak, bahkan bernafas pun sulit.Plak! Suara hentakan tepuk tangan yang berada di depan wajahnya membuat Sam tersadar dari lamunannya. Hingga keluar dari mulutnya. “Oh astaga.”“Astaga? Kau yang berdiri terpaku begitu, bahkan tidak mendengar orang memanggilmu, siapa dia?

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   23. 2020, The First Meeting

    September 2020.“Ya, sampai disini penjelasan materinya,” Charlie menatap jam tangan yang dia pakai memastikan dia benar menyampaikan materai dalam 40 menit.Charlie sejak tadi melihat seorang perempuan yang duduk di paling depan, perempuan yang dia lihat bersama Jessica sebelum masuk ke dalam auditorium. Perempuan yang tinggi dengan rambut brunette yang panjang, tubuhnya tidak terlalu kurus tapi proporsional.Anak itu tanpa menunggu Charlie membuka sesi tanya jawab sudah mengangkat tangannya lebih dulu.“Aku belum membuka ruang tanya-jawab.”“Anda sudah selesai menyampaikan materi jadi kurasa aku sudah bisa bertanya, kurasa semua orang juga penasaran dengan hal yang sama.”Gemuruh teriakan ya kami ingin tahu berkumandang di ruang besar itu, seakan mereka sedang menonton konser dan dia adalah idola yang sedang ditunggu-tunggu.“Oke, you made your point, jadi pertanyaannya apa?”“Aku yakin pertanyaan ini adalah pertanyaan banyak orang. Jawab yang mana, anda sudah memiliki pacar, istri

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   22. The Sounds

    Samantha melihat jam tangan sudah pukul 10 pagi. Victor sudah dia kabari lewat pesan singkat, seperti biasa Victor membalasnya dengan simbol hati. Victor sudah cukup sibuk dengan hidupnya, melihat berita semalam, sepertinya dia akan sibuk untuk beberapa hari ini.Sesuai dengan arahan dari Ben dia menunggu Ben di lobby, entah penyambutan apa yang dimaksud, Samantha memegang gelang yang dia pakai, entah mengapa dia cukup gugup hari ini, dia tidak tahu apa bisa memenuhi ekspektasi mereka atau tidak.Ini adalah pertama kalinya dia bekerja untuk orang lain setelah dulu dia selalu bekerja untuk dirinya sendiri dan itu tidak memungkinkan.“Samantha,” suara itu memanggilnya, suara yang rendah dan begitu gelap seperti suara orang-orang mafia di film-film dan suara itu seperti mengingatkannya pada sesuatu.“Ya, hai.”“Kau tiba sebelum jam 10? Kenapa selalu pagi?”Sam mencoba tersenyum. “Tidak ada alasan, hanya senang untuk datang lebih awal.”Ben mengangguk. “Aku mengerti, kalau begitu ayo masu

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   21. Got the Job

    Samantha duduk sambil tetap melihat laki-laki itu.“Jadi, siapa namamu?”“Namaku, Samantha Enderwinne.”Samantha tidak berpaling dari laki-laki di depannya, Samantha yakin dia seperti pernah mendengar suaranya ataupun mata itu, seperti dia pernah melihatnya. Tapi dia sulit mengingat semuanya.“Namaku, Ben Turner, ini Lea Shey dan Hugo Ralph. Kamu tahu lowongan pekerjaan ini dari Jill?”“Ya, aku tahu darinya, tapi aku tahu sepertinya kalian membutuhkan lulusan dari Flox.”Orang yang bernama Hugo dan Lea pun berhenti mendadak, mereka berdua saling bertatapan dari balik badan Ben. Mereka seperti mendapatkan barang bagus.

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   20. Rose Wine (2)

    Ben terdiam dia melihat keluar jendela, begitu banyak mobil lalu-lalang, bayangannya tentang kecelakaan waktu itu kembali muncul, dia sudah melihat rekaman CCTV dan itu sangat menyeramkan.“Hei, jadi kenapa kau mengajak bertemu sebenarnya?” tanya Patrick sambil memotong steak.“Sudah ku bilang ini karena sudah hampir 4 tahun.”“Ya terus kenapa dengan 4 tahun. Kau resah karena dia tidak ingat juga atau apa?” tanya Hans sambil lanjut makan.“Ben, sudah ku katakan itu bukan salahmu.”Hans mengerutkan keningnya, sepertinya dia mengerti apa maksudnya. “Kau merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Samantha?”“Kalau

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status