Mag-log inNovember 2025.
"Dingin," ucap Samantha perlahan ketika dia merasakan angin dingin berembus menyentuh wajahnya, mengibas rambutnya yang tergerai. Berulang kali Samantha menghela napas sambil menyortir isi loker.
Harapannya hari ini hanya satu: jangan sampai salju tiba-tiba turun ketika dirinya tak siap.
Musim dingin belakangan ini sangatlah berbeda dengan musim dingin di dalam ingatannya ketika dia masih kecil.
Jika sewaktu kecil musim dingin yang dia ingat adalah pohon Natal, cokelat panas, dan lampu-lampu kecil, kini yang dia ingat hanya hawa dingin yang menusuk tulang.
Sam selesai dengan isi lokernya. Dia menutup loker itu. "Sudah empat tahun. Terima kasih," ucapnya pada loker kosong itu.
Sambil membawa sisa isi loker itu ke perpustakaan, dia melihat beberapa tempat yang sering ditempati, seperti sebuah meja panjang di samping tiang besar dekat perpustakaan.
Sam duduk di bangku itu sambil mengingat apa yang telah dia lalui di sana.
Oktober 2020.
Sam selesai dengan kelasnya, tetapi ketika dia ingin pergi ke meja besar itu, matanya seakan melihat sesuatu yang tidak dia sangka akan dia lihat. Orang yang seharusnya baru kembali tiga hari lagi kini telah ada di hadapan matanya.
Laki-laki itu mengenakan kaus hitam dengan celana hitam serta topi hitam, persis dengan gayanya yang biasa ketika ingin menghindar agar orang tidak mengenalinya. Sam hanya tersenyum dan berjalan mendekat.
Orang itu pun tersenyum sambil mengikuti irama langkah Sam. Ketika mereka bertemu di tengah, laki-laki itu memeluknya.
"Bukannya kamu baru pulang tiga hari lagi?"
"Aku tidak sanggup."
"Berikan kunci mobilmu, biar aku yang menyetir," ucap Sam sambil menadahkan tangan, meminta.
Laki-laki itu pun tak punya kuasa untuk menolak. Dia memberikan kunci mobilnya, membiarkan Sam menyetir.
Kenangan itu seakan muncul seperti air yang mengalir dari langit. Jika hujan turun ditandai dengan awan mendung, berbeda halnya dengan kenangan yang sudah dikubur oleh Samantha sejak empat tahun lalu.
Dia tidak pernah mengingatnya sebelum ini. Biasanya dia berhasil menahan diri untuk tidak mengingat masa lalu itu, tetapi kini, ketika dia akan lulus dari kampus ini, tiba-tiba ingatan itu muncul.
Itu bukan ingatan yang indah, tetapi Sam tersenyum tipis ketika mengingatnya. Itu merupakan ingatan yang sepertinya masih cukup segar di kepalanya meskipun sudah terjadi hampir empat tahun lalu.
"Sam!" Suara panggilan itu menyadarkan Samantha dari lamunannya.
"Oh, Rene, ada apa?" tanya Sam begitu melihatnya. Seingatnya, mereka tidak punya rencana untuk bertemu.
Rene menyodorkan sebuah paper bag kecil. "Ini untukmu."
Sam mengerutkan keningnya. "Aku? Untuk apa?"
"Untuk bantuanmu hari itu. Kebetulan ayahku baru pulang dari Milan, hanya cokelat dan makanan ringan."
"Ah, terima kasih kalau begitu, tapi tidak apa-apa sebenarnya."
"Tidak masalah." Rene tersenyum. Dia tidak beranjak, hanya berdiri di depan Samantha sambil meremas tas di tangannya.
Samantha melihat gestur tersebut. Dia yakin ada sesuatu. "Ada apa?" tanya Sam.
"Sam, kamu punya kontak Lanx?"
Sam terkejut Rene bertanya tentang Lanx. Rene bukan mahasiswa desain sepertinya; dia merupakan mahasiswa jurusan Public Relation, dan Lanx merupakan seniornya yang sekarang sudah menjadi jewelry designer di New York.
"Lanx? Aku punya, tapi aku tidak yakin dia bisa mengangkat teleponku atau tidak. Kenapa?"
Mata Rene bergerak ke kanan dan kiri, ragu untuk bertanya atau tidak.
"Kenapa?" tanya Samantha lagi.
"Hmm, seniorku bertanya tentang Lanx. Ada yang mencari dia dari Hands Jewelry, mereka ingin mengajak Lanx kerja sama."
"Aneh, seharusnya mereka tahu kalau Lanx tidak mau bekerja sama."
"Aku juga bilang begitu, tapi entahlah, mereka masih berusaha."
"Hmm, aku rasa aku tidak bisa membantu soal itu."
"Tidak apa, tidak masalah, aku mengerti. Terima kasih, Sam."
Samantha dan Rene saling berpamitan. Sam bisa merasakan ada sesuatu yang Rene tutupi. Seharusnya semua orang tahu kalau Sam dan Lanx memang dekat, tetapi Lanx bukanlah mentor dari Sam.
Sam hanya membiarkan asumsinya berlalu. Dia tidak mau terpaku pada hal tersebut. Untuknya, apa yang terjadi belakangan ini sudah lebih dari cukup. Dia sudah pernah mengambil keputusan yang salah, jadi dia tidak ingin mengulanginya lagi.
Whoosh, angin dingin kembali berembus, menyadarkan Sam dari lamunannya. Dia melihat langit yang mulai berawan. Musim dingin benar-benar sudah tiba, hanya tinggal menunggu salju turun.
Salju pertama adalah salah satu hal yang Samantha hindari. Diangkatnya lagi tas yang berisi buku dari loker itu. Dia kembali berjalan menyusuri lorong yang lebar itu.
Dari tempatnya berjalan, dia bisa dengan jelas melihat pintu auditorium. Tempat pertama kali Sam bertemu dengan orang itu, orang yang tidak dia sadari membuat luka besar.
"Sammy!" panggil suara bass yang menggelegar itu.
Sam bahkan bergidik mendengar suara itu. Di lorong besar yang dikelilingi oleh pilar-pilar besar bak museum Eropa, dia hanya sendirian. Meskipun suaranya menyeramkan, Sam kenal betul dengan suara itu.
Itu suara sahabatnya, Victor. Dari caranya berlari, memanggil, dan raut wajahnya yang panik, Sam sudah bisa mengira apa yang terjadi dengan orang itu. Sudah pasti ada tugasnya yang belum selesai.
"Aku kerjakan tugasmu, tapi kamu yang menyetir kita ke Nan's Shop. Tugas yang mana?" ucap Sam begitu Victor sampai di hadapannya.
"Oh, astaga, apalah aku tanpamu, Sam," ucap Victor sambil mengambil tas yang dijinjing oleh Sam.
"Jangan berlebihan. Jadi, yang mana?"
"Esai terakhir."
Sam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Victor mungkin anak desainer terkenal. Banyak orang menunggunya terjun ke industri, tetapi Victor tak pernah mau menyaingi sang ayah. Dia ingin jalannya sendiri.
Terkadang itulah yang membuat Samantha iri padanya. Setidaknya Victor punya ayah yang bisa diajak berdebat, baik tentang kehidupan maupun ideologi. Sedangkan Sam, tidak ada.
Charlie duduk di kursinya, dia menatap ke pintu ruangan yang tertutup itu, ruangannya tidak seperti ruangan lain yang memiliki pintu kaca, tempatnya benar-benar tertutup, bahkan kacanya saja juga tertutup tirai.Charlie tidak ingat dia tidak suka cahaya, seingatnya dia begitu menikmati musim panas tapi tiba-tiba dia tidak suka dengan cahaya entah efek kecelakaan atau memang karena benturan di kepalanya.Hans sudah mengatakan dengan gamblang kalau kepalanya sudah berbeda dari sebelumnya, banyak struktur saraf yang disusun ulang karena benturan berulang kali, jadi tidak aneh jika dia merasa tidak seperti biasanya.Pintu ruangannya terbuka, Charlie sudah bisa memprediksi siapa yang muncul, sudah pasti 2 orang itu. Sahabatnya, Ben dan asistennya yang meskipun sudah bekerja untuk perusahaannya tapi Charlie tidak pernah merasa kalau Blake bekerja untuknya.“Kapan aku akan mendapatkan undangan pernikahan kalian?” tanya Charlie.“Oh astaga,” Blake kembali mengeluh bagaimana tidak setiap kali u
Dalam hitungan detik, melihat orang yang dia pikir sudah mati itu, Samantha selalu berpikir, jika ada saatnya mereka bertemu lagi apa yang akan dia lakukan, menamparnya, memukulnya, memeluknya, menangis atau apa. Sam tidak bisa menemukan sesuatu yang pas.Tapi kini ketika akhirnya saat itu tiba, hari dimana mereka benar-benar bertemu lagi, Sam justru terpaku, terdiam bahkan tidak bisa bicara apa-apa. Matanya hanya bisa menatap orang itu seperti dulu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di auditorium kampus.Tatapan yang tidak bisa dia jelaskan, dulu mungkin ada penjelasannya, bahwa dia mengincar orang ini, dia menyukai orang ini karena fisiknya. Tapi kini—Sam sadar bahwa matanya tak berkedip, dia tidak bisa bergerak, bahkan bernafas pun sulit.Plak! Suara hentakan tepuk tangan yang berada di depan wajahnya membuat Sam tersadar dari lamunannya. Hingga keluar dari mulutnya. “Oh astaga.”“Astaga? Kau yang berdiri terpaku begitu, bahkan tidak mendengar orang memanggilmu, siapa dia?
September 2020.“Ya, sampai disini penjelasan materinya,” Charlie menatap jam tangan yang dia pakai memastikan dia benar menyampaikan materai dalam 40 menit.Charlie sejak tadi melihat seorang perempuan yang duduk di paling depan, perempuan yang dia lihat bersama Jessica sebelum masuk ke dalam auditorium. Perempuan yang tinggi dengan rambut brunette yang panjang, tubuhnya tidak terlalu kurus tapi proporsional.Anak itu tanpa menunggu Charlie membuka sesi tanya jawab sudah mengangkat tangannya lebih dulu.“Aku belum membuka ruang tanya-jawab.”“Anda sudah selesai menyampaikan materi jadi kurasa aku sudah bisa bertanya, kurasa semua orang juga penasaran dengan hal yang sama.”Gemuruh teriakan ya kami ingin tahu berkumandang di ruang besar itu, seakan mereka sedang menonton konser dan dia adalah idola yang sedang ditunggu-tunggu.“Oke, you made your point, jadi pertanyaannya apa?”“Aku yakin pertanyaan ini adalah pertanyaan banyak orang. Jawab yang mana, anda sudah memiliki pacar, istri
Samantha melihat jam tangan sudah pukul 10 pagi. Victor sudah dia kabari lewat pesan singkat, seperti biasa Victor membalasnya dengan simbol hati. Victor sudah cukup sibuk dengan hidupnya, melihat berita semalam, sepertinya dia akan sibuk untuk beberapa hari ini.Sesuai dengan arahan dari Ben dia menunggu Ben di lobby, entah penyambutan apa yang dimaksud, Samantha memegang gelang yang dia pakai, entah mengapa dia cukup gugup hari ini, dia tidak tahu apa bisa memenuhi ekspektasi mereka atau tidak.Ini adalah pertama kalinya dia bekerja untuk orang lain setelah dulu dia selalu bekerja untuk dirinya sendiri dan itu tidak memungkinkan.“Samantha,” suara itu memanggilnya, suara yang rendah dan begitu gelap seperti suara orang-orang mafia di film-film dan suara itu seperti mengingatkannya pada sesuatu.“Ya, hai.”“Kau tiba sebelum jam 10? Kenapa selalu pagi?”Sam mencoba tersenyum. “Tidak ada alasan, hanya senang untuk datang lebih awal.”Ben mengangguk. “Aku mengerti, kalau begitu ayo masu
Samantha duduk sambil tetap melihat laki-laki itu.“Jadi, siapa namamu?”“Namaku, Samantha Enderwinne.”Samantha tidak berpaling dari laki-laki di depannya, Samantha yakin dia seperti pernah mendengar suaranya ataupun mata itu, seperti dia pernah melihatnya. Tapi dia sulit mengingat semuanya.“Namaku, Ben Turner, ini Lea Shey dan Hugo Ralph. Kamu tahu lowongan pekerjaan ini dari Jill?”“Ya, aku tahu darinya, tapi aku tahu sepertinya kalian membutuhkan lulusan dari Flox.”Orang yang bernama Hugo dan Lea pun berhenti mendadak, mereka berdua saling bertatapan dari balik badan Ben. Mereka seperti mendapatkan barang bagus.
Ben terdiam dia melihat keluar jendela, begitu banyak mobil lalu-lalang, bayangannya tentang kecelakaan waktu itu kembali muncul, dia sudah melihat rekaman CCTV dan itu sangat menyeramkan.“Hei, jadi kenapa kau mengajak bertemu sebenarnya?” tanya Patrick sambil memotong steak.“Sudah ku bilang ini karena sudah hampir 4 tahun.”“Ya terus kenapa dengan 4 tahun. Kau resah karena dia tidak ingat juga atau apa?” tanya Hans sambil lanjut makan.“Ben, sudah ku katakan itu bukan salahmu.”Hans mengerutkan keningnya, sepertinya dia mengerti apa maksudnya. “Kau merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Samantha?”“Kalau







