Share

4. Bestfriend

Author: Ang.Rose
last update publish date: 2026-07-14 12:01:31

Januari 2022.

Victor melihat rumah Samantha yang sudah penuh dengan mobil pemadam dan mobil ambulans, jantungnya berdegup kencang, sampai membuat tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai muncul di punggung, dahi dan tangannya.

Tidak pernah terbayangkan di pikiran Victor hari ini akan terjadi, perasaan bersalah memenuhi pikirannya. Dengan tangan yang gemetar dia melepaskan sabuk pengaman, meninggalkan mobilnya, tidak peduli apakah mobilnya menghalangi jalan, dia berlari masuk ke dalam rumah.

Victor berlari menaiki tangga hampir dua-tiga tangga sekali dia pijak dan ketika pintu yang familiar dengannya terbuka, ada banyak orang di depannya. Ketika dia melihat petugas pemadam ada didepan pintu, kakinya seakan tidak menapaki bumi.

Kakinya gemetar, dia terdiam dan berjalan perlahan, mendekati pintu, matanya mencoba mencari sahabatnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat Samantha terbaring di lantai yang dingin, Rachel berada disampingnya sambil bersandar ke salah satu paramedik.

Yang Victor lakukan, dia hanya terdiam bersandar ke dinding, dia meremas tangannya, kukunya menancap ke telapak tangan, geramnya dia pada dirinya sendiri. “Harusnya aku tidak pergi tadi. Harusnya aku tetap disini,” ucapnya dalam hati.

Victor melihat kertas yang dititipkan Sam kepadanya. Di dalam hati Victor bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Samantha pergi kesana, pergi ketempat yang terlarang untuknya. “Dia mau nostalgia atau apa?”

Napak tilas bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh Samantha, bahkan tidak disarankan, Victor menghela nafas, dia masuk ke dalam toko mencari Winnie, dilihatnya perempuan yang tinggi itu sedang memegang tab sambil menghitung kain.

“Win,” panggil Victor.

Perempuan yang bernama Winnie itu menoleh, dia tersenyum padanya. “Hai Vixy, mana pesanannya?”

Victor memberikan dua carik kertas pada Winnie. “Ini, tolong siapkan ya, kutunggu di depan.”

Winnie hanya mengangguk, Victor keluar dari toko, dia duduk di bangku yang ada di depan toko, dia ingin melihat seberapa lama Samantha bisa bertahan disana. Tapi sepertinya, Winnie selesai lebih dulu dibandingkan Sam.

“Pesananmu dan Sam sudah jadi,” ucap Winnie sambil duduk disebelah Victor. “Aku lihat tadi, Sam pergi ke arah Prince. Sudah tidak apa-apa?”

Sudah tidak apa-apa? Mungkin pertanyaan itu juga yang ditanyakan oleh Victor, dia pun tidak bisa menilai apa sekarang Samantha sudah tidak apa-apa, atau masih butuh pengawasan. Victor tak bisa 24 jam bersama dengannya dan dia pun mencoba untuk percaya.

Tapi entah mengapa—hal itu sulit dilakukan.

“Aku tidak tahu,” akhirnya itulah yang keluar dari mulut Victor.

“Aku harap, dia jauh lebih baik sekarang.”

Victor mengangguk perlahan. “Ya aku pun juga berharap begitu.”

“Jangan terlalu keras padanya, kita sama-sama tahu, hidupnya sudah begitu keras menyuruhnya untuk dewasa. Aku rasa kejadian waktu itu juga tidak bisa dia lupakan,” Winnie mengusap punggung Victor.

Perlahan bahunya yang terangkat karena waspada takut sesuatu akan terjadi perlahan-lahan mulai turun dan nafasnya mulai teratur dari yang sebelumnya. Tenang, setidaknya itu bisa dia dapatkan dari Winnie.

“Ohh, ada yang sedang pacaran, aku mengganggu kah?” tanya Samantha.

Winnie tersenyum sambil berdiri. “Tidak, pesananmu sudah jadi ya.”

“Ah, terima kasih dan ini untukmu,” ucap Sam sambil memberikan kopi dan sandwich untuknya.

“Thanks.”

“Kalau sudah ayo pergi,” ucap Victor sambil membawa paper bag pesanan mereka.

Samantha berpamitan pada Winnie dan mengikuti Victor ke mobil, dari dalam mobil hingga mereka sampai di studio milik Victor, dia hanya diam, benar-benar diam. Dia tidak bereaksi apa-apa, tidak marah dan hanya diam.

Victor yang diam, justru membuat Samantha khawatir, karena berarti kemarahannya tidak bisa lagi diungkapkan. Dia tahu pergi ke Prince Cafe bukanlah sesuatu yang mudah tapi dia ingin melakukannya, dia ingin pergi kesana.

“Ayolah bicara padaku, aku tahu kamu marah,” ucap Samantha yang tak suka melihat sahabatnya terus diam.

“Aku harus bicara apa padamu?”

“Aku tahu kamu marah.”

“Kamu sudah berjanji padaku, kamu tidak akan kesana lagi,” ucap Victor sambil menunjuk paper bag yang ada di meja.

“Aku tahu, lagi pula, kamu yang sudah memastikan kalau orang itu tidak pernah terlihat lagi di sana, jadi ku pikir sebentar lagi kita sudah lulus, aku hanya ingin pergi untuk melihat tempat itu.”

“Kamu yakin? Hanya untuk melihat tempat itu setelah sekian lama? Apa kamu pikir aku tidak melihatmu berjalan dengan raut wajah yang berbeda?”

Samantha terkejut mendengar ucapan Victor, terdengar seperti tidak percaya padanya. “All these years, you’re still not believe me?”

“This is nothing about I don’t trust you, Sam! This is about I don’t think you’re ready enough!”

Samantha terdiam. Dia duduk di kursi yang ada di depannya, tak terasa tiba-tiba air matanya turun, membasahi pipi, Victor melihat hal itu menghampiri Samantha dan memeluknya.

I’m sorry. Maaf, aku tahu itu terlalu kasar.”

Samantha menggelengkan kepalanya. “Aku tahu, aku mengerti kalau memang mungkin keadaanku belum bisa dipercaya, apalagi ibuku, tapi tak kusangka, kamu juga tidak percaya padaku. Bahkan sampai saat ini,” ucap Sam sambil mendorong Victor menjauh.

“Kalau kamu marah padaku, itu urusanmu. Bagimu bangun dari koma, terapi, itu sudah selesai, tapi apa kamu pernah menyadari, bagaimana perasaan aku dan Rachel? Aku datang dengan kondisi Rachel sudah duduk di sampingmu menangis, aku melihat muntahan dan sisa busa dari mulutmu. Sam, you practically died for almost 12 minutes.

“Dan kamu pikir aku tidak menyesali apa yang sudah aku perbuat!? Sudah hampir 4 tahun! 4 tahun! Dan kalian sama sekali tidak percaya padaku, selalu memperlakukanku seperti anak kecil!”

Samantha berdiri dan ingin pergi, namun kata-kata Victor menghentikannya. “Aku sudah bilang, aku hanya berpikir kamu belum waktunya untuk datang kesana. Jika sesuatu terjadi lagi dan aku tidak datang tepat waktu atau Rachel tidak bisa datang tepat waktu, apa yang akan terjadi? Sam, aku kehilangan ibuku didepan mataku, jadi aku tidak sanggup melihat sahabatku juga mati didepan mataku.”

Sam tak bisa membalasnya, dia tahu kematian sang ibu masih menghantui Victor hingga saat ini.

“Aku pulang dulu, maaf,” hanya itu yang bisa Sam katakan pada Victor.

Sam sadar kalau dia meninggalkan banyak luka untuk banyak orang dan luka yang dia tinggalkan kepada orang-orang yang dia cintai belum tentu bisa pulih dengan cepat, sama seperti lukanya ketika kehilangan Charlie, orang yang dia cintai yang menghilang bak ditelan bumi, atau sang ayah yang tiba-tiba pergi meninggalkannya, meninggalkan keluarganya, meninggalkan Los Angeles pergi entah kemana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   25. The Eyes

    Charlie duduk di kursinya, dia menatap ke pintu ruangan yang tertutup itu, ruangannya tidak seperti ruangan lain yang memiliki pintu kaca, tempatnya benar-benar tertutup, bahkan kacanya saja juga tertutup tirai.Charlie tidak ingat dia tidak suka cahaya, seingatnya dia begitu menikmati musim panas tapi tiba-tiba dia tidak suka dengan cahaya entah efek kecelakaan atau memang karena benturan di kepalanya.Hans sudah mengatakan dengan gamblang kalau kepalanya sudah berbeda dari sebelumnya, banyak struktur saraf yang disusun ulang karena benturan berulang kali, jadi tidak aneh jika dia merasa tidak seperti biasanya.Pintu ruangannya terbuka, Charlie sudah bisa memprediksi siapa yang muncul, sudah pasti 2 orang itu. Sahabatnya, Ben dan asistennya yang meskipun sudah bekerja untuk perusahaannya tapi Charlie tidak pernah merasa kalau Blake bekerja untuknya.“Kapan aku akan mendapatkan undangan pernikahan kalian?” tanya Charlie.“Oh astaga,” Blake kembali mengeluh bagaimana tidak setiap kali u

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   24. At Glance

    Dalam hitungan detik, melihat orang yang dia pikir sudah mati itu, Samantha selalu berpikir, jika ada saatnya mereka bertemu lagi apa yang akan dia lakukan, menamparnya, memukulnya, memeluknya, menangis atau apa. Sam tidak bisa menemukan sesuatu yang pas.Tapi kini ketika akhirnya saat itu tiba, hari dimana mereka benar-benar bertemu lagi, Sam justru terpaku, terdiam bahkan tidak bisa bicara apa-apa. Matanya hanya bisa menatap orang itu seperti dulu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di auditorium kampus.Tatapan yang tidak bisa dia jelaskan, dulu mungkin ada penjelasannya, bahwa dia mengincar orang ini, dia menyukai orang ini karena fisiknya. Tapi kini—Sam sadar bahwa matanya tak berkedip, dia tidak bisa bergerak, bahkan bernafas pun sulit.Plak! Suara hentakan tepuk tangan yang berada di depan wajahnya membuat Sam tersadar dari lamunannya. Hingga keluar dari mulutnya. “Oh astaga.”“Astaga? Kau yang berdiri terpaku begitu, bahkan tidak mendengar orang memanggilmu, siapa dia?

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   23. 2020, The First Meeting

    September 2020.“Ya, sampai disini penjelasan materinya,” Charlie menatap jam tangan yang dia pakai memastikan dia benar menyampaikan materai dalam 40 menit.Charlie sejak tadi melihat seorang perempuan yang duduk di paling depan, perempuan yang dia lihat bersama Jessica sebelum masuk ke dalam auditorium. Perempuan yang tinggi dengan rambut brunette yang panjang, tubuhnya tidak terlalu kurus tapi proporsional.Anak itu tanpa menunggu Charlie membuka sesi tanya jawab sudah mengangkat tangannya lebih dulu.“Aku belum membuka ruang tanya-jawab.”“Anda sudah selesai menyampaikan materi jadi kurasa aku sudah bisa bertanya, kurasa semua orang juga penasaran dengan hal yang sama.”Gemuruh teriakan ya kami ingin tahu berkumandang di ruang besar itu, seakan mereka sedang menonton konser dan dia adalah idola yang sedang ditunggu-tunggu.“Oke, you made your point, jadi pertanyaannya apa?”“Aku yakin pertanyaan ini adalah pertanyaan banyak orang. Jawab yang mana, anda sudah memiliki pacar, istri

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   22. The Sounds

    Samantha melihat jam tangan sudah pukul 10 pagi. Victor sudah dia kabari lewat pesan singkat, seperti biasa Victor membalasnya dengan simbol hati. Victor sudah cukup sibuk dengan hidupnya, melihat berita semalam, sepertinya dia akan sibuk untuk beberapa hari ini.Sesuai dengan arahan dari Ben dia menunggu Ben di lobby, entah penyambutan apa yang dimaksud, Samantha memegang gelang yang dia pakai, entah mengapa dia cukup gugup hari ini, dia tidak tahu apa bisa memenuhi ekspektasi mereka atau tidak.Ini adalah pertama kalinya dia bekerja untuk orang lain setelah dulu dia selalu bekerja untuk dirinya sendiri dan itu tidak memungkinkan.“Samantha,” suara itu memanggilnya, suara yang rendah dan begitu gelap seperti suara orang-orang mafia di film-film dan suara itu seperti mengingatkannya pada sesuatu.“Ya, hai.”“Kau tiba sebelum jam 10? Kenapa selalu pagi?”Sam mencoba tersenyum. “Tidak ada alasan, hanya senang untuk datang lebih awal.”Ben mengangguk. “Aku mengerti, kalau begitu ayo masu

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   21. Got the Job

    Samantha duduk sambil tetap melihat laki-laki itu.“Jadi, siapa namamu?”“Namaku, Samantha Enderwinne.”Samantha tidak berpaling dari laki-laki di depannya, Samantha yakin dia seperti pernah mendengar suaranya ataupun mata itu, seperti dia pernah melihatnya. Tapi dia sulit mengingat semuanya.“Namaku, Ben Turner, ini Lea Shey dan Hugo Ralph. Kamu tahu lowongan pekerjaan ini dari Jill?”“Ya, aku tahu darinya, tapi aku tahu sepertinya kalian membutuhkan lulusan dari Flox.”Orang yang bernama Hugo dan Lea pun berhenti mendadak, mereka berdua saling bertatapan dari balik badan Ben. Mereka seperti mendapatkan barang bagus.

  • Merajut Kembali Memori yang Hilang   20. Rose Wine (2)

    Ben terdiam dia melihat keluar jendela, begitu banyak mobil lalu-lalang, bayangannya tentang kecelakaan waktu itu kembali muncul, dia sudah melihat rekaman CCTV dan itu sangat menyeramkan.“Hei, jadi kenapa kau mengajak bertemu sebenarnya?” tanya Patrick sambil memotong steak.“Sudah ku bilang ini karena sudah hampir 4 tahun.”“Ya terus kenapa dengan 4 tahun. Kau resah karena dia tidak ingat juga atau apa?” tanya Hans sambil lanjut makan.“Ben, sudah ku katakan itu bukan salahmu.”Hans mengerutkan keningnya, sepertinya dia mengerti apa maksudnya. “Kau merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Samantha?”“Kalau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status