Short
Sekretaris Adalah Maut Penghancur Rumah Tangga

Sekretaris Adalah Maut Penghancur Rumah Tangga

โดย:  Gebralinจบแล้ว
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21บท
414views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

"Bu Alicia, ini adalah formulir persetujuan donasi jenazah. Mohon tanda tangan di sini." Alicia menatap lembaran kertas tipis yang tergeletak di hadapannya. Tangan yang memegang pena sedikit gemetar. Petugas itu menangkap keraguannya dan berkata dengan penuh pengertian, "Donasi jenazah memang keputusan yang besar. Kalau berubah pikiran di saat-saat terakhir juga hal yang wajar. Anda bisa pulang dulu untuk berdiskusi dengan keluarga sebelum memutuskan ...." "Sudah saya tanda tangani." Alicia tersenyum pahit. Keluarga. Baginya, kata itu terasa begitu mewah. Bagaimanapun juga, hati suaminya sudah tidak ada lagi padanya.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1

"Bu Alicia, ini adalah formulir persetujuan donasi jenazah. Mohon tanda tangan di sini."

Alicia menatap lembaran kertas tipis yang tergeletak di hadapannya. Tangan yang memegang pena sedikit gemetar.

Petugas itu menangkap keraguannya dan berkata dengan penuh pengertian, "Donasi jenazah memang keputusan yang besar. Kalau berubah pikiran di saat-saat terakhir juga hal yang wajar. Anda bisa pulang dulu untuk berdiskusi dengan keluarga sebelum memutuskan ...."

Mana mungkin Alicia tidak menyadari bahwa petugas itu sedang memberinya jalan keluar, agar dia masih punya kesempatan untuk berubah pikiran.

Namun, dia hanya tersenyum tipis, lalu membubuhkan tanda tangannya di sudut kanan bawah.

"Sudah saya tanda tangani."

Petugas itu mengucapkan terima kasih dengan tulus kepadanya. "Bu Alicia, terima kasih atas kontribusi Anda bagi dunia medis. Ini sertifikat donasi jenazah Anda, mohon disimpan baik-baik."

Saat Alicia pulang ke rumah, rumah itu tetap kosong seperti biasanya.

Sarapan yang telah dia siapkan sebelum berangkat pagi tadi masih tersaji di atas meja, persis seperti semula, sama sekali belum disentuh.

Di ponselnya hanya ada satu pesan yang belum dibaca.

[ Suamiku: Malam ini ada lembur, aku nggak pulang. ]

Alicia tersenyum getir.

Belakangan ini, "lembur" suaminya semakin sering. Sebenarnya Alicia tahu, kemungkinan besar Caleb kembali menemani Pauline.

Pauline adalah sekretarisnya.

Pauline ... mengidap depresi.

Pauline jatuh cinta kepada Caleb, tetapi dia tidak sanggup mengalahkan rasa bersalah dalam hatinya dan tidak mau menjadi pelakor. Pada akhirnya, di bawah tarik-ulur antara kedua perasaan itu, dia menderita depresi.

Karena itu, Caleb menganggap semua kesalahan ada pada dirinya sendiri. Berkali-kali dia pernah berkata kepada Alicia, "Pauline sakit karena saat itu aku sudah menikah denganmu."

Caleb dipenuhi rasa bersalah terhadap Pauline. Karena itu, dia semakin memperhatikan Pauline dan semakin menuruti keinginannya. Sampai akhirnya, perubahan kecil yang terus menumpuk berubah menjadi perubahan besar. Rasa iba itu pun pada akhirnya berubah menjadi cinta.

Alicia tidak tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya dimulai.

Satu-satunya yang dia tahu adalah, pria yang dulu begitu mencintainya dan memanjakannya sepenuh hati, pada akhirnya juga bisa jatuh cinta kepada wanita lain.

Alicia berbaring dengan bosan di sofa sambil memainkan ponselnya. Algoritma media sosial memang hebat. Tanpa perlu dia mencarinya sendiri, semua informasi tentang kejadian semalam langsung muncul di hadapannya.

Video itu dibuka dengan sosok Pauline yang mengenakan gaun putih, berdiri di puncak sebuah gedung ikonik di pusat kota.

Di tengah malam yang gelap, gaun putihnya tampak semakin mencolok. Tak terhitung banyaknya orang yang memperhatikannya, hingga memicu keramaian besar di pusat kota.

"Dia kenapa?"

"Kudengar dia patah hati."

"Kasihan sekali gadis itu. Sebenarnya pria mana sih yang nggak tahu diuntung itu? Punya gadis sebaik ini malah disia-siakan."

Pauline memang terlahir dengan penampilan yang rapuh. Ketika mengenakan gaun putih dengan rambut hitam tergerai, dia tampak semakin kesepian dan tak berdaya, membuat siapa pun ingin mengasihaninya.

Orang-orang baru saja menghela napas penuh iba, ketika tiba-tiba kerumunan meledak dalam kegaduhan.

"Lihat! Ada yang naik ke atas!"

"Ahhh! Ciuman! Mereka berciuman!"

"Huhu, romantis sekali ... seperti adegan di film ...."

Alicia memperbesar tampilan video, lalu menatap saksama pasangan yang sedang berpelukan erat dan berciuman di layar. Pria itu tinggi dan tampan, sedangkan wanita itu tampak mungil dan bersandar manja di pelukannya.

Memang sangat romantis.

Pria itu sepertinya sangat mencintainya. Dia memeluk wanita itu begitu erat, seakan ingin meleburkannya ke dalam tubuhnya sendiri. Lalu, dia menopang wajah wanita itu dengan kedua tangannya dan menciumnya dengan penuh gairah.

Pada akhirnya, dia mengangkat Pauline dalam gendongan dan membawanya turun dari atap gedung, hingga menghilang dari pandangan semua orang.

Malam itu, seluruh kota menjadi saksi kisah cinta mereka yang begitu indah.

Alicia mematikan layar ponselnya. Matanya dipenuhi rasa perih dan basah. Air mata hangat mengalir di pipinya. Lalu, menetes ke atas sofa.

Sofa itu juga mereka pilih bersama saat baru menikah.

Saat cinta mereka sedang hangat-hangatnya, Caleb selalu memeluk Alicia terlebih dahulu setiap kali pulang ke rumah. Dia akan mencium aroma rambut Alicia, memejamkan mata, lalu memeluknya diam-diam.

Caleb selalu merengek manja sambil memeluknya lebih erat. "Alicia sayang, biarkan aku peluk kamu sebentar lagi."

Hanya saja sekarang, orang yang dia peluk dengan penuh gairah itu sudah berganti.

Saat Caleb pulang, di tangannya masih ada sebungkus sarapan. Melihat Alicia, dia bertanya, "Kenapa sudah bangun sepagi ini? Kebetulan, aku bawain sarapan untukmu."

Namun ketika melihat sarapan berlimpah yang sudah tersaji di meja makan, Caleb tampak jelas tertegun. Alicia memaksakan sebuah senyum tipis. "Capek nggak kerja semalaman? Gimana kalau berbaring sebentar di sofa?"

Wajah Caleb tampak canggung. "Lumayan, nggak terlalu capek."

"Kalau begitu ... mau berpelukan sebentar?"

Caleb menolak. Dia langsung melewati ALicia dan berjalan menuju ruang makan. "Nggak usah, nggak perlu."

Suasana di meja makan sangat sunyi.

Delapan tahun saling mengenal, lima tahun menikah. Pada akhirnya, mereka juga sampai pada titik ketika tak ada lagi yang bisa dibicarakan.

Bzz ....

Ponsel Caleb bergetar. Dia mengeluarkannya dan melirik layarnya sekilas, lalu bergumam, "Telepon promosi."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon.

Namun, orang di seberang sana tampaknya belum menyerah dan kembali menelepon.

Alicia berkata pelan, "Angkat saja. Siapa tahu Pauline mencoba bunuh diri lagi. Aku nggak sanggup tanggung jawab."

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
21
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status