Share

Bab 7

Author: Semi
Sejak kecil hingga dewasa, Sonia bersekolah di sekolah swasta ternama dan diantar jemput ke sekolah setiap hari. Stella hanya bisa bersekolah di sekolah biasa dan harus berdesakan di dalam bus bersama teman-teman lainnya.

Sonia suka membeli banyak pakaian dan perhiasan. Dia menghabiskan uang seperti air. Sebaliknya, uang saku bulanan Stella hanya cukup untuk membuat perutnya kenyang, dan dia hanya bisa mengenakan pakaian yang sudah tidak diinginkan Sonia lagi.

Sonia adalah seorang putri kecil yang pintar, imut, dan baik hati yang dimanjakan oleh semua orang sejak kecil. Sebaliknya, sekeras apa pun Stella berusaha, bahkan dengan dinding yang dipenuhi sertifikat prestasi, dia hanya seorang Cinderella yang diabaikan oleh semua orang ....

Mengingat perlakuan berbeda yang dia terima dari keluarganya selama bertahun-tahun ini, Stella tak kuasa menahan diri lagi dan berteriak, "Apa aku bukan putri kandung kalian? Mengapa kalian selalu menyuruhku memberikan apa yang kumiliki kepada Sonia? Apa aku nggak pantas mendapatkan kebahagiaan?"

Nyonya Besar Gondo meliriknya dengan tidak senang, lalu berkata dengan nada dingin, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Sonia jauh lebih baik darimu dalam segala hal, sudah seharusnya kamu mengalah padanya, 'kan? Lagian, siapa pun bisa melihat bahwa Hans menyukai Sonia. Tapi kamu masih bersikeras mendekati Hans. Siapa lagi yang ingin kamu salahkan kalau kamu nggak bahagia? Kamu hanya bisa salahkan dirimu sendiri!"

Rasa kasih sayang terakhir Stella terhadap keluarganya telah sirna oleh kata-kata itu.

Dia menengadahkan kepalanya, menahan air matanya, dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memberi tahu mereka.

"Baiklah! Akan kukabulkan keinginan kalian dan nggak akan pernah kembali lagi!"

Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik.

Detik berikutnya, ayahnya langsung membalikkan meja makan.

Sup panas dan hidangan lainnya sukses mengenai tubuh Stella, membuat kulitnya memerah.

Piring porselen itu mengenai tulang punggungnya, menyebabkan luka yang masih dalam proses penyembuhan itu kembali berdarah.

Namun, dia tidak berhenti sedikit pun, dan melangkah pergi dengan tegas.

Begitu berjalan ke koridor, dia bertabrakan dengan Sonia.

Melihat penampilannya yang berantakan, Sonia meraih lengannya.

"Stella, Ayah dan Ibu memarahimu lagi?"

Stella tidak ingin menyaksikan akting pura-puranya lagi, jadi dia dengan paksa menepis tangannya.

Kilatan licik muncul di mata Sonia. Dia memiringkan tubuhnya dan sengaja menabraknya.

Diikuti suara keras, Stella terjatuh ke dalam kolam renang.

Air di tengah musim hujan meresap ke dalam luka, dan rasa dingin tiba-tiba menusuk tubuhnya.

Stella menggigil karena kesakitan. Dia merasa seolah tulang-tulangnya membeku dan dia hampir tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.

Dia ingin meminta bantuan, tetapi ketika mendongak, dia melihat Hans bergegas mendekat, menggendong Sonia, dan buru-buru kembali ke ruang tamu.

Dari awal hingga akhir, pandangan pria itu tidak pernah tertuju padanya bahkan sedetik pun.

Setelah diselamatkan oleh kepala pelayan, Stella menyeret tubuhnya yang basah dan kedinginan pulang ke rumah sendirian.

Dia menahan rasa sakit, mengganti pakaiannya, mengeluarkan kotak P3K, dan menggertakkan giginya sambil mengoles obat.

Selesai membalut lukanya, dia kembali ke ranjang dan tertidur.

Dia tidak tidur nyenyak dan mengalami banyak mimpi buruk. Hans mengguncang dirinya yang menangis sambil menjerit, hingga terbangun.

Pria itu memeluknya dan menghiburnya, suaranya sangat lembut. "Mimpi buruk ya? Jangan takut, aku ada di sini."

Dalam pelukan hangatnya, emosi Stella perlahan mereda.

Dia menyeka air matanya, dan suaranya kembali tenang.

"Sudah larut malam begini, kenapa kamu nggak menginap?"

Hans tidak terbiasa dengan perubahan suasana hatinya yang begitu tiba-tiba. Ada sedikit rasa terkejut terpancar di matanya. "Ini baru rumah kita, tentu saja aku harus pulang. Kudengar kamu bertengkar dengan Ibu dan Ayah?"

Stella melepaskan diri dari pelukannya, bergumam sebagai jawaban, dan hanya bergeming.

Melihat ekspresinya, Hans menghela napas dengan pasrah.

"Sonia baru saja pulang dari luar negeri. Wajar saja Ayah dan Ibu kasihan padanya. Jangan marah-marah sama mereka lagi."

"Kamu tahu mereka bertengkar denganku gara-gara apa?"

Sekarang giliran Hans yang terkejut.

Dia sibuk merawat Sonia, dan hanya samar-samar mendengar beberapa kata seperti 'tidak sopan' dan 'keras kepala'.

Mungkin mereka bertengkar lagi seperti dulu karena memperebutkan sesuatu?

Setelah menebak, dia mengangguk, dan menasihatinya lagi.

"Ayah dan Ibu sudah tua, jadi dengarkan saja apa yang mereka katakan. Jangan selalu bertengkar dengan mereka."

Stella terdiam, mengangkat kepalanya dan menatapnya lama. Senyum getir tersungging di sudut bibirnya.

"Baiklah, aku akan menuruti kata-kata mereka."

Merestuimu dengan Sonia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status