مشاركة

Bab 8

مؤلف: Semi
Ketika Stella bangun keesokan harinya, Hans telah keluar.

Dia tidak menanyakan ke mana pria itu pergi, tetapi malah menyuruh para pelayan menyiapkan makanan.

Siang harinya, Desy datang berkunjung ke rumah. Melihat luka Stella yang dibalut perban, sorot matanya dipenuhi ekspresi sedih.

"Kamu sudah mau pergi, kenapa masih membuat dirimu penuh dengan luka?"

Stella tersenyum dan berkata pelan, "Bagaimana aku bisa memulai hidup baru kalau aku nggak memutuskan hubungan dengan masa lalu sepenuhnya?"

"Hais, aku sudah menyiapkan semuanya. Para pramugari akan terjun payung ke tempat aman, lalu pesawat akan jatuh ke laut, dan kamu akan lenyap. Kamu hanya perlu pantau informasi terkait penerbangan EL4192."

Sebelum dia selesai berbicara, pintu telah terbuka.

Hans hanya mendengar kalimat terakhir dan masuk dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

"Penerbangan apa?"

Stella menjawab tanpa mengubah ekspresinya. "Penerbangan yang akan aku naiki besok."

Hans mengangguk, mengingat nomor penerbangan, lalu dengan santai bertanya, "Mau menghadiri pesta pernikahan, 'kan? Kapan kamu pulang? Mau aku jemput?"

Stella terdiam sejenak sebelum menjawab. Dia menghindari tatapan pria itu.

"Nggak usah."

Karena dia tidak akan pulang lagi kali ini.

Hans juga tidak mendesaknya. Setelah menyapa Desy, dia pun masuk ke ruang baca.

Kedua sahabat itu mengobrol sejenak sebelum Desy pulang.

Stella mengambil beberapa kotak dan mulai membersihkan barang-barang.

Pakaian dan kebutuhan sehari-hari yang dia belikan untuk Hans setelah mereka menikah, kosmetik milik Stella, sepatu, tas, dan hadiah pemberian Hans ....

Dia mengeluarkan semuanya dan membuangnya ke tempat sampah.

Hans baru turun ke bawah di malam harinya. Melihat ruang tamu yang jauh lebih kosong, keningnya sedikit berkerut. "Mengapa begitu banyak barang hilang dari rumah?"

"Aku baru saja selesai beres-beres."

Stella memberikan jawaban dengan santai, dan Hans juga tidak terlalu memikirkannya.

"Mau kuantar ke bandara nggak besok?"

"Nggak usah kalau kamu sibuk. Aku juga mau pergi mengunjungi makam Nenek."

Mendengar itu, Hans menyadari bahwa dia sudah lama tidak mengunjungi makam neneknya, dan segera menawarkan untuk pergi bersama.

Keesokan harinya, keduanya membeli seikat bunga dan pergi ke pemakaman dengan membawa koper.

Di makam Nyonya Besar Setiawan, Stella mengajukan pertanyaan kepada Hans.

"Apa kamu pernah menyesal memberikan cincin nikah padaku waktu itu?"

Mata Hans menyipit, dan ekspresi aneh melintas di wajahnya. Butuh waktu lama bagi pria itu untuk menjawab.

"Semua itu sudah berlalu, dan hidup juga nggak bisa diulang kembali. Yang penting jalani hidup dengan baik saja."

Pria itu jelas bisa mengatakan 'tidak'.

Namun, dia justru bertele-tele dan menghindari topik tersebut.

Stella telah memperoleh jawabannya. Dia tidak bertanya lagi, dan hanya berlutut sambil berdoa dalam hati.

‘Nenek, Hans menyesal. Jadi, aku juga nggak ingin menyia-nyiakan hidupku untuk cerita yang nggak punya masa depan. Nenek seharusnya bisa memahami keputusan yang kubuat, 'kan? Aku akan melanjutkan hidup dan dengan berani mengejar kebahagiaanku sendiri. Nenek tenang saja.’

Setelah bersujud beberapa kali, dia berdiri dan kemudian mendengar ponsel Hans berdering.

"Hans, aku ingin makan bubur seafood yang dijual di restoran di selatan kota itu. Temani aku makan ya?"

"Oke, aku ke sana sekarang."

Stella bisa mendengar suara manja Sonia, dan juga telah mempersiapkan diri untuk kepergian Hans.

Jadi setelah pria itu menutup telepon, Stella berinisiatif berkata, "Aku akan naik taksi ke bandara sendiri. Lanjutkan saja pekerjaanmu."

Hans menyetujuinya.

Setelah meletakkan koper, Hans memberikan beberapa instruksi lagi melalui jendela mobil.

"Semoga perjalananmu lancar. Telepon aku begitu kamu sampai."

Kali ini, Stella tidak mengiakannya.

Dia memperlihatkan senyum cerah dan melambaikan tangan pada pria itu.

"Meski aku nggak ada, kamu harus bahagia ya."

Entah mengapa, Hans tiba-tiba merasa sedikit gugup setelah mendengar kata-kata itu.

Kelopak matanya terus berkedut. Dia seolah merasakan firasat buruk.

Dia ingin memanggil Stella kembali untuk mengantarnya ke bandara, tetapi wanita itu sudah berbalik dan naik taksi.

Melihat mobil itu menghilang, pria itu mengerutkan kening dan menuju ke selatan kota.

Bubur seafood yang antreannya sudah berlangsung selama dua jam itu tetap seenak biasanya, tetapi Hans tidak makan sedikit pun karena hatinya gelisah.

Sonia mengira Hans tidak nafsu makan. Karena khawatir wanita itu cemas, Hans baru memasukkan sesendok bubur ke mulutnya.

Sebelum bubur itu sempat masuk ke mulutnya, Hans melihat berita siang hari yang diputar di layar besar toko itu.

"Sepuluh menit yang lalu, penerbangan EL4192 tiba-tiba mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut, menewaskan seluruh orang di dalamnya ...."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status