تسجيل الدخولMi compañero destinado, el Alfa Ryker, pospuso nuestra ceremonia de unión treinta y tres veces después de mi ceremonia de Luna. Todo porque su estudiante, Isla, siempre tenía algún problema nuevo. En nuestra primera ceremonia, Isla afirmó que fue atacada por renegados y que su transformación falló. Necesitaba ayuda. Ryker me dejó en el altar lunar. Esperé toda la noche. Sola. La segunda vez, Isla dijo que su loba estaba débil, que estaba a punto de colapsar en los campos de entrenamiento. Ryker soltó mi mano y corrió hacia ella. Sin pensarlo dos veces. Después de eso, cada vez que intentábamos celebrar nuestra ceremonia, cada vez que estaba a punto de marcarme, Isla interrumpía. Me tragué el dolor punzante en mi pecho y, finalmente, decidí rechazarlo. Pero en el momento en que lo hice, Ryker se volvió loco. Comenzó a desgarrar el mundo entero de los hombres lobo, solo para encontrarme.
عرض المزيدBab 1
Sebuah janji yang pernah terlontar dari mulut seorang Muhammad Abidzar Al Hafiz kepada istri pertamanya, bahwa ia takkan mengambil istri lain lagi setelah menceraikan istri keduanya.Benarkah janji itu akan di tepati?
Ataukah hanya sekedar janji manis yang untuk selanjutnya kembali ia ingkari?***
Seandainya Hafiz bisa berlari, itu akan segera dia lakukan. Betapa inginnya menjauh dari tempat ini. Hal yang sangat dilematis tatkala harus berhadapan dengan orang tuanya, sosok tua nan berwibawa yang tengah melontarkan sebuah permintaan.Permintaan yang mungkin bagi seorang laki-laki mata keranjang, bahkan dianggap sebagai sebuah anugerah!
"Kamu tahu, Nak, tidak mungkin bagi Abah menolak keinginan kiai Nawawi yang ingin menjodohkan putri bungsunya denganmu." Laki-laki tua itu menatap tajam padanya. Hafiz menghela nafas.
"Hafiz tidak mungkin menerimanya, Bah. Hafiz sudah punya istri, sudah punya Azizah."
"Seorang laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu, Nak," sergah Abah. "Bukankah kau sendiri pernah mempraktekkannya?"
"Poligami itu berat, tidak semudah dan seindah teori. Justru karena pernah praktek, jadi Hafiz tahu bagaimana rasanya. Nyatanya Hafiz sudah gagal, kan?"
Sejenak ingatannya melayang pada sosok Yasmin, istri kedua yang sudah diceraikannya beberapa bulan yang lalu.
"Rasulullah Saw, para sahabat dan ulama juga banyak yang berpoligami. Poligami itu tidak sesulit yang kamu bayangkan. Selama ini pikiranmu selalu di hantui oleh pemikiran-pemikiran luar yang menganggap poligami itu merendahkan derajat kaum wanita."
"Kalaupun kamu pernah gagal, itu bukan berarti poligami itu salah, tapi cara kamu dalam mengurus istri-istrimu yang perlu di perbaiki," tandas Abah.
"Di dalam sejarah, Rasulullah Saw menikahi Sayyidah Khadijah selama 24 tahun dan beliau berumah tangga tanpa istri yang lainnya selama kurun waktu itu. Pernikahan poligami di dalam sejarah rumah tangga Rasul di mulai setelah Sayyidah Khadijah wafat, menjelang hijrah, lalu berlanjut ke periode Madinah."
"Apakah itu tidak cukup menjadikan bukti, bahwa sesungguhnya Rasulullah lebih cenderung menyarankan kepada para umatnya untuk memiliki istri hanya satu saja?" sahut Hafiz tanpa mengangkat wajah yang sejak tadi terus dia tundukkan
"Lantas bagaimana dengan lamaran kiai Nawawi? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana mungkin kita menolak putri bungsunya? Nak, urusannya tidak sesederhana pikiranmu. Pikirkanlah baik-baik."
"Hafiz sudah memikirkan semua ini secara baik-baik. Mungkin Abah benar. Kalau seandainya pernikahan ini terjadi, pasti akan membawa manfaat yang besar terhadap pesantren. Namun, jikalau itu gagal bagaimana? Apakah Abah sudah memperhitungkan resiko itu? Ingat, Bah, pesantren kita bukan taruhan dan pernikahan itu bukan kelinci percobaan!"
***
Kata-kata orang yang paling dia hormati di dalam lingkungan keluarga besarnya sungguh membuat kepala Hafiz terasa berdenyut. Abah benar. Menolak lamaran kiai Nawawi untuk putri bungsunya bukanlah urusan mudah.
Apa yang harus dia katakan sekarang kepada Azizah? Sungguh, dia tak sanggup membayangkan harus melihat air mata Azizah yang terus berjatuhan membasahi pipinya. Dia tak sanggup melihat Azizah menangis dan terluka untuk yang kesekian kali.
Menerima pernikahan dengan Yasmin saja sudah terasa begitu berat bagi Azizah. Meskipun pada akhirnya dia dan Yasmin bercerai, tapi sisa luka itu masih begitu terasa. Lantas bagaimana dengan lamaran kiai Nawawi? Haruskah dia menerima putri bungsunya untuk menjadi istri yang ketiga?
Ya Allah, betapa peliknya. Di satu sisi, Hafiz tak mau mengecewakan harapan Abah dan kiai Nawawi, tapi di sisi lain dia juga tak mau menghancurkan hati Azizah. Tak ada perempuan yang mau berbagi, apalagi untuk berkali-kali.
Ah, Hafiz merasa dirinya seperti pengkhianat!
"Abang." Suara lembut itu membuyarkan lamunannya.
"Ada apa, Bang? Adek lihat semenjak Abang pulang dari rumah abah, wajah Abang terlihat murung. Abang ada masalah dengan Abah?"
Azizah duduk disampingnya. Hafiz mengecup punggung tangan istrinya sekilas.
"Adek, maafkan Abang ya. Abang belum bisa membahagiakan kamu. Selama ini Abang selalu membuatmu bersedih dan meneteskan air mata."
"Adek bahagia bisa bersama dengan Abang. Memangnya kenapa, Bang? Abang ada masalah apa? Cerita sama Adek ya," bujuknya. Azizah menatap Hafiz dengan lembut yang kemudian di balasnya dengan mendaratkan sebuah kecupan di kening Azizah.
"Sungguh, apakah Adek mau mendengarkan cerita Abang?"
"Iya, Abang. Adek kan istri Abang. Kenapa Abang harus merasa sungkan untuk bercerita kepada Adek?"
"Abang tidak tega, Sayang."
"Abang kenapa sih?" Hafiz membiarkan telapak tangan Azizah membelai pipinya. "Apakah ini menyangkut soal Adek?"
"Sebenarnya Abang tidak tega mengatakan hal ini kepadamu, Sayang. Namun, kamu harus mengetahuinya," ucapnya sembari berusaha menahan nafas.
"Dek, kalau seandainya Allah menghendaki di dalam hidup Abang harus memiliki tiga orang bidadari, apakah Adek ikhlas?"
"Tiga bidadari?" Azizah terdiam sejenak.
"Abang mau nikah lagi ya? Astagfirullah ... Abang!" pekik Azizah. Dia menurunkan jemarinya yang semula bergerak menyusuri lekuk pipi laki-laki itu.
"Tadi Abah bilang, kalau kiai Nawawi menawarkan putri bungsunya untuk Abang."
"Dan Abang menerima begitu saja?" ketus Azizah. Wajahnya seketika merah padam. Gemuruh di dadanya laksana badai yang menghempas dunianya. Sakit sekali, sampai ke ulu hati.
"Abang tidak menerima, Sayang. Namun, kamu kan tahu siapa sebenarnya kiai Nawawi? Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana cara menghadapi beliau agar penolakan kita tidak menyakiti hati keluarga mereka," ucap Hafiz hati-hati. Dia tidak mau Azizah bertambah marah.
"Kiai Nawawi yang pengasuh pondok pesantren Darul Falah itu, kan?" tanya Azizah memastikan.
"Iya, Dek." Hafiz menghela nafas panjang.
Azizah membeku. Sebagai seorang wanita dia sudah tahu jawabannya. Secara perasaan, pasti dia tidak mau dimadu apalagi dimadu untuk yang kedua kali.
"Abang sudah tahu jawabannya, kan? Adek ini manusia. Adek bukan malaikat atau pun bidadari yang bisa menerima dengan begitu mudah suaminya hidup dengan perempuan lain dan bisa menerima perempuan lain ada di disisi suaminya. Adek hanya manusia biasa, Bang. Hanya manusia lemah, perempuan yang memiliki perasaan cemburu!" pekik wanita itu.
"Abang paham dan Adek juga sudah tahu jawabannya. Abang hanya ingin bertukar pikiran denganmu, bagaimana cara menghadapi kiai Nawawi dan putri bungsunya. Dia itu juga perempuan lho, Dek. Bagaimana rasanya jika seandainya kamu yang menawarkan diri kepada seorang laki-laki, tetapi laki-laki itu menolak?" Hafiz kembali menghela nafas panjang.
"Lalu bagaimana kalau seandainya kita berada di posisi kiai Nawawi dan keluarganya?"
"Apa yang harus kita lakukan, Abang? Apakah Abang nekat menerima tawaran dari kiai Nawawi? Apakah Abang tega mengorbankan Azizah untuk yang kedua kali?" Tangisnya tumpah seketika.
"Bang, Allah memang memperbolehkan laki-laki untuk berpoligami dengan syarat-syarat yang jelas. Abang pernah menikah dengan Yasmin. Namun, apa yang terjadi? Akhirnya Abang malah bercerai. Apakah itu kurang cukup untuk menunjukkan kapasitas diri Abang yang belum memungkinkan Abang untuk memiliki istri lebih dari satu?"
"Azizah tidak pernah menolak konsep poligami, tetapi Azizah ingin agar Abang lebih jauh berpikir. Kita boleh saja bermaksud baik, tidak mau mengecewakan orang lain. Akan tetapi, bagaimana kalau di antara kalian tidak ada kecocokan? Apakah Abang akan bercerai lagi?"
"Apakah Abang tidak malu kalau nantinya orang-orang menyebut diri Abang sebagai lelaki tukang kawin?"
Punto de vista de FreyaAl día siguiente, Ryker dejó el Sur. Pero ese no fue el final.A partir de la tercera semana, empezó a aparecer fuera de mi edificio de apartamentos cada fin de semana. No llamaba a la puerta. No llamaba por teléfono. No hacía ni un ruido. Simplemente se sentaba allí en silencio, desde el anochecer hasta el amanecer, y luego se marchaba.La primera vez que lo vi, miré por la mirilla y lo vi acurrucado en la esquina. El segundo fin de semana, el tercero, el cuarto... Nunca abrí la puerta. El portero me preguntó si quería llamar a seguridad. Solo sacudí la cabeza.—Déjenlo estar.Esa era su elección. Y mi elección fue volcar toda mi energía en mi trabajo.En mi primer año en el Sur, demostré mi valía por completo. Rediseñé los protocolos de respuesta ante crisis de la Alianza y resolví con éxito tres disputas diplomáticas que podrían haber llevado a la guerra. Mi oficina se convirtió en el lugar más concurrido de la Alianza, con representantes de varias mana
Punto de vista de FreyaEl sol en el Sur era más cálido que en el Norte. En el momento en que bajé del avión, una brisa marina y húmeda me golpeó. Olía a libertad.—Bienvenida a las Tierras del Sur, señorita Blackwood.Gabriel Moreau, el Alfa líder de la Alianza del Sur, había venido al aeropuerto para recibirme personalmente. Era un macho elegante, de casi cincuenta años, con sabios ojos grises.—Es un honor servir a la Alianza —dije con una sonrisa mientras nos dábamos la mano. Fue la primera sonrisa genuina que había tenido en tres años.—Estoy seguro de que le gustará estar aquí —dijo Alfa Gabriel—. El Sur da la bienvenida a todos los individuos talentosos, sin importar de dónde vengan.Sin importar de dónde vengan. Incluyendo el Norte. Incluyendo a la antigua compañera de Ryker.Mientras el auto recorría la ciudad, vi un mundo completamente diferente al Norte. Los edificios eran más modernos, las calles más vibrantes y los rostros de los lobos estaban llenos de vida y esper
Punto de vista de Alfa RykerEran las cuatro de la mañana cuando llegué a casa. La casa estaba vacía, silenciosa como una tumba. Caminé hacia la chimenea y me arrodillé sobre las cenizas, recogiendo los pedazos rotos del Ámbar de Sangre, uno por uno.Hace ocho años, yo mismo había colocado esta piedra en su muñeca.—Freya, esta es mi promesa —había dicho, con una rodilla en el suelo, observando la alegría en sus ojos—. Pase lo que pase, siempre te protegeré.Ella había llorado, con lágrimas de felicidad rodando por su rostro.—Te creo, Ryker. Esperaré a que logres todos tus sueños, y luego construiremos nuestro futuro juntos.Promesa. Protección. ¿Cuándo se convirtieron esas palabras en mentiras vacías? ¿Fue cuando me convertí en el "mentor" de Isla? Sostuve los fragmentos afilados en mi palma. Eran como nuestro vínculo, destrozados más allá de toda reparación.Necesitaba una prueba. Una prueba de que alguna vez la había amado correctamente. Caminé hacia el vestidor de Freya. Su
Cada palabra era un latigazo en mi rostro.—No lo entiendes. Isla necesitaba mi ayuda. Su situación es especial...—¡Especial, mis narices! —Sophia finalmente estalló—. ¿Sabías que Freya presentó su solicitud para dejar la manada hace dos días? ¿Sabías que quería decírtelo ella misma, pero estabas demasiado ocupado con tu "estudiante especial" como para darle siquiera cinco minutos de tu tiempo?Me congelé. ¿Hace dos días? ¿Qué estaba haciendo yo hace dos días? Estaba en la academia con Isla, ayudándola a practicar su transformación, calmándola cuando lloraba, sosteniendo su mano cuando decía que tenía miedo… Y Freya había querido decirme que se iba. Pero nunca le di la oportunidad de hablar.—No... eso es imposible... —sacudí la cabeza—. Si realmente hubiera querido decírmelo, podría haberlo hecho...—¿Podría haber qué? —Sophia me cortó—. ¿Esperar a que le concedieras una audiencia, como las otras treinta y tres veces? ¿Rogar por tu atención como un perro callejero?Treinta y tr
Punto de vista de Alfa RykerMi mente era una zona de guerra mientras aceleraba hacia la academia de hombres lobo. Estaba dividido. Los ojos escalofriantemente tranquilos de Freya me perseguían, pero los sollozos de pánico de Isla resonaban en mis oídos.—Freya lo entenderá —me decía a mí mismo—.
A medianoche, de todas las horas posibles, Ryker llegó a casa. Yo estaba acostada en la cama, de espaldas a la puerta, fingiendo estar dormida. Lo escuché entrar de puntillas en el dormitorio y luego detenerse en seco.—Maldita sea, qué demonios... —murmuró.Había visto el Ámbar de Sangre destroza
A la mañana siguiente, comencé a empacar. Compré un boleto a las Tierras del Sur para el día siguiente. No había terminado cuando escuché que se abría la puerta principal. Ryker había vuelto.En el momento en que abrió la puerta del dormitorio, el aroma empalagoso de otra loba me golpeó. El aroma d
Después de mi Ceremonia de Luna, mi compañero destinado, el Alfa Ryker, todavía no me había marcado. Incluso se presentó en mi banquete de victoria, el que celebraba que yo había terminado la guerra de las tres manadas en solo ocho horas, con su estudiante, Isla, del brazo.Luché contra el dolor ap






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.