MasukMi compañero destinado, el Alfa Ryker, pospuso nuestra ceremonia de unión treinta y tres veces después de mi ceremonia de Luna. Todo porque su estudiante, Isla, siempre tenía algún problema nuevo. En nuestra primera ceremonia, Isla afirmó que fue atacada por renegados y que su transformación falló. Necesitaba ayuda. Ryker me dejó en el altar lunar. Esperé toda la noche. Sola. La segunda vez, Isla dijo que su loba estaba débil, que estaba a punto de colapsar en los campos de entrenamiento. Ryker soltó mi mano y corrió hacia ella. Sin pensarlo dos veces. Después de eso, cada vez que intentábamos celebrar nuestra ceremonia, cada vez que estaba a punto de marcarme, Isla interrumpía. Me tragué el dolor punzante en mi pecho y, finalmente, decidí rechazarlo. Pero en el momento en que lo hice, Ryker se volvió loco. Comenzó a desgarrar el mundo entero de los hombres lobo, solo para encontrarme.
Lihat lebih banyakDi puncak Gunung Taiyi, sebuah gunung suci di Benua Tengah, dunia Tian Yuan, Qin Yun, seorang kultivator ranah dewa yang perkasa, berdiri terhuyung-huyung. Wajahnya yang tadinya tampan dan penuh semangat kini pucat pasih seperti bulan terlupakan di tengah malam gelap.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang kini berwarna biru, membasahi jubah putihnya yang tadinya bersih dan suci. Di dadanya, sebuah pedang perak terlihat menembus jantungnya, memantulkan cahaya dingin yang menusuk tulang. Pedang itu terlihat seperti ular perak yang menggigit mangsanya, meninggalkan luka yang dalam dan tak terobati. "Kenapa?" tanya Qin Yun dengan suara lemah dan terengah-engah, matanya menatap nanar wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Matanya yang tadinya berkilauan kini terlihat kusam dan sunyi, menatap Ling Xi dengan campuran keheranan dan kesakitan. Ling Xi, wanita yang pernah dicintainya, kini memegang gagang pedang perak yang menembus jantungnya, dengan tangan yang stabil dan tanpa getaran. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atau kesadaran akan kejahatan yang telah dilakukannya. Sudut bibir Ling Xi ditarik membentuk senyum dingin yang menusuk hati, matanya berkilauan dengan kekejaman yang tak tersembunyi. Dengan nada acuh tak acuh dan suara yang datar, dia berkata: "Kamu harus mati, Qin Yun. Ini adalah satu-satunya pilihan untukmu!" Setelah mengucapkan kata-kata kejam tersebut, Ling Xi menarik pedang perak dari tubuh Qin Yun dengan gerakan kasar, membuat darah segar menyemprot ke udara seperti pancuran merah yang menghujam langit. Darah itu membasahi tanah di sekitarnya, menciptakan lukisan kematian yang mengerikan di puncak gunung yang sunyi. Tubuh Qin Yun terguncang, napasnya semakin lemah, dan matanya mulai kehilangan cahaya. Sampai napas terakhirnya, Qin Yun tetap tercenung dalam kebingungan yang mendalam. Mengapa Ling Xi, cinta sejatinya, melakukan pengkhianatan yang kejam ini? Apa yang mendorongnya untuk menusuk hati yang pernah mencintainya dengan begitu tulus? Dia telah menyerahkan segalanya: hati, jiwa, dan kekuasaannya. Semua untuk Ling Xi. Namun, saat dia berdiri di ambang pintu keabadian sebagai Dewa Imortal Legendaris, Ling Xi memilih untuk menusuknya dari belakang. Air mata darah menetes dari mata Qin Yun, mencerminkan kesedihan dan kekecewaan yang tak terhingga. "Ling Xi... mengapa?" katanya dengan suara yang terengah-engah, napas terakhirnya berubah menjadi pertanyaan yang tak terjawab. .. Qin Yun terjebak dalam kegelapan abadi yang pekat dan sunyi, bagai jurang tak berdasar yang menelan cahaya dan harapan. Kesadaran akan kematiannya menyergapnya seperti badai yang menghantam jiwa. Dalam keheningan yang mencekam dan menggetarkan, dia menemukan keinginan yang membara dalam hatinya, seperti api yang menyala di tengah kegelapan, membangkitkan semangat balas dendam yang tak terpadamkan. "Jika aku diberi satu permintaan," katanya pada diri sendiri. Suaranya bergema dalam kekosongan. "Aku ingin kembali ke dunia orang hidup, bahkan jika hanya untuk sesaat!" Mata Qin Yun berkilauan dengan semangat balas dendam. "Aku ingin merenggut nyawa Ling Xi dengan tanganku sendiri, menghancurkannya menjadi ribuan keping, membuatnya merasakan sakit yang tak terhingga seperti yang aku rasakan!" Suara hatinya berteriak, meminta keadilan dan balas dendam. Pada saat itu, tiba-tiba, Qin Yun merasakan tubuhnya ditarik oleh energi misterius yang kuat dan tak terbayangkan. Energi itu memancar seperti ombak besar, menggetarkan seluruh wujudnya. Ruang gelap yang mengurungnya tiba-tiba terbelah, seperti tirai yang robek, dan cahaya putih terang menyinari sekitarnya. Cahaya itu begitu intens, membuat mata Qin Yun terasa terbakar. Dengan tubuh yang terangkat dari tanah, Qin Yun merasakan dirinya ditarik masuk ke dalam cahaya tersebut. Kesadarannya mulai memudar, dan dia merasakan dirinya terlempar ke dalam kekosongan yang tak terhingga. Semua yang terlihat hanya cahaya putih yang menyilaukan, dan kemudian... kegelapan. Qin Yun kehilangan kesadaran, meninggalkan kebingungan dan pertanyaan besar tentang nasibnya. .. Dua abad kemudian. Di sebuah kota terpencil yang tersembunyi di balik pegunungan hijau, Wilayah Kekaisaran Tang. Seorang pemuda tampan berwajah pucat tersentak bangun dari tidurnya. Dia duduk di atas kasur sederhana, menatap sekeliling dengan ekspresi heran dan bingung. Mata pemuda itu terbuka lebar, mencari jawaban atas kebingungan yang memenuhi pikirannya. "Apa yang terjadi? Dimana aku? Bagaimana aku sampai di sini?" katanya dengan suara pelan dan penuh keheranan. Wajahnya yang pucat dan kulitnya yang pucat membuatnya terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai di bahu, menambahkan kesan misterius pada penampilannya. Pemuda itu menoleh ke sekeliling kamar, mencari petunjuk tentang identitas dan masa lalunya. Kamar itu sederhana, dengan dinding yang putih dan lantai yang terbuat dari kayu. Satu-satunya benda yang menarik perhatian adalah jendela kecil yang menghadap ke luar, membiaskan cahaya matahari pagi. Bersambung.... Jika kalian suka dengan cerita ini, tolong tinggalkan komentar dan ulasan kalian untuk membantu penulis. Terimakasih.Punto de vista de FreyaAl día siguiente, Ryker dejó el Sur. Pero ese no fue el final.A partir de la tercera semana, empezó a aparecer fuera de mi edificio de apartamentos cada fin de semana. No llamaba a la puerta. No llamaba por teléfono. No hacía ni un ruido. Simplemente se sentaba allí en silencio, desde el anochecer hasta el amanecer, y luego se marchaba.La primera vez que lo vi, miré por la mirilla y lo vi acurrucado en la esquina. El segundo fin de semana, el tercero, el cuarto... Nunca abrí la puerta. El portero me preguntó si quería llamar a seguridad. Solo sacudí la cabeza.—Déjenlo estar.Esa era su elección. Y mi elección fue volcar toda mi energía en mi trabajo.En mi primer año en el Sur, demostré mi valía por completo. Rediseñé los protocolos de respuesta ante crisis de la Alianza y resolví con éxito tres disputas diplomáticas que podrían haber llevado a la guerra. Mi oficina se convirtió en el lugar más concurrido de la Alianza, con representantes de varias mana
Punto de vista de FreyaEl sol en el Sur era más cálido que en el Norte. En el momento en que bajé del avión, una brisa marina y húmeda me golpeó. Olía a libertad.—Bienvenida a las Tierras del Sur, señorita Blackwood.Gabriel Moreau, el Alfa líder de la Alianza del Sur, había venido al aeropuerto para recibirme personalmente. Era un macho elegante, de casi cincuenta años, con sabios ojos grises.—Es un honor servir a la Alianza —dije con una sonrisa mientras nos dábamos la mano. Fue la primera sonrisa genuina que había tenido en tres años.—Estoy seguro de que le gustará estar aquí —dijo Alfa Gabriel—. El Sur da la bienvenida a todos los individuos talentosos, sin importar de dónde vengan.Sin importar de dónde vengan. Incluyendo el Norte. Incluyendo a la antigua compañera de Ryker.Mientras el auto recorría la ciudad, vi un mundo completamente diferente al Norte. Los edificios eran más modernos, las calles más vibrantes y los rostros de los lobos estaban llenos de vida y esper
Punto de vista de Alfa RykerEran las cuatro de la mañana cuando llegué a casa. La casa estaba vacía, silenciosa como una tumba. Caminé hacia la chimenea y me arrodillé sobre las cenizas, recogiendo los pedazos rotos del Ámbar de Sangre, uno por uno.Hace ocho años, yo mismo había colocado esta piedra en su muñeca.—Freya, esta es mi promesa —había dicho, con una rodilla en el suelo, observando la alegría en sus ojos—. Pase lo que pase, siempre te protegeré.Ella había llorado, con lágrimas de felicidad rodando por su rostro.—Te creo, Ryker. Esperaré a que logres todos tus sueños, y luego construiremos nuestro futuro juntos.Promesa. Protección. ¿Cuándo se convirtieron esas palabras en mentiras vacías? ¿Fue cuando me convertí en el "mentor" de Isla? Sostuve los fragmentos afilados en mi palma. Eran como nuestro vínculo, destrozados más allá de toda reparación.Necesitaba una prueba. Una prueba de que alguna vez la había amado correctamente. Caminé hacia el vestidor de Freya. Su
Cada palabra era un latigazo en mi rostro.—No lo entiendes. Isla necesitaba mi ayuda. Su situación es especial...—¡Especial, mis narices! —Sophia finalmente estalló—. ¿Sabías que Freya presentó su solicitud para dejar la manada hace dos días? ¿Sabías que quería decírtelo ella misma, pero estabas demasiado ocupado con tu "estudiante especial" como para darle siquiera cinco minutos de tu tiempo?Me congelé. ¿Hace dos días? ¿Qué estaba haciendo yo hace dos días? Estaba en la academia con Isla, ayudándola a practicar su transformación, calmándola cuando lloraba, sosteniendo su mano cuando decía que tenía miedo… Y Freya había querido decirme que se iba. Pero nunca le di la oportunidad de hablar.—No... eso es imposible... —sacudí la cabeza—. Si realmente hubiera querido decírmelo, podría haberlo hecho...—¿Podría haber qué? —Sophia me cortó—. ¿Esperar a que le concedieras una audiencia, como las otras treinta y tres veces? ¿Rogar por tu atención como un perro callejero?Treinta y tr
A la mañana siguiente, comencé a empacar. Compré un boleto a las Tierras del Sur para el día siguiente. No había terminado cuando escuché que se abría la puerta principal. Ryker había vuelto.En el momento en que abrió la puerta del dormitorio, el aroma empalagoso de otra loba me golpeó. El aroma d
Después de mi Ceremonia de Luna, mi compañero destinado, el Alfa Ryker, todavía no me había marcado. Incluso se presentó en mi banquete de victoria, el que celebraba que yo había terminado la guerra de las tres manadas en solo ocho horas, con su estudiante, Isla, del brazo.Luché contra el dolor ap
A medianoche, de todas las horas posibles, Ryker llegó a casa. Yo estaba acostada en la cama, de espaldas a la puerta, fingiendo estar dormida. Lo escuché entrar de puntillas en el dormitorio y luego detenerse en seco.—Maldita sea, qué demonios... —murmuró.Había visto el Ámbar de Sangre destroza
Punto de vista de Alfa RykerMi mente era una zona de guerra mientras aceleraba hacia la academia de hombres lobo. Estaba dividido. Los ojos escalofriantemente tranquilos de Freya me perseguían, pero los sollozos de pánico de Isla resonaban en mis oídos.—Freya lo entenderá —me decía a mí mismo—.






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.