MasukSe supone que es un castigo, pero termina conmigo muriendo congelada en el congelador. Mi prometido, Carlo Vesta, también conocido como el heredero de la familia Vesta, solo recuerda que existo tres días después. Ahora, simplemente floto alrededor mientras lo veo abrazar mi cadáver congelado, con su cuerpo temblando violentamente. Noto cuán rota es su expresión y, pronto, soy testigo de cómo va armando la verdad que me llevé conmigo a la tumba. Es demasiado tarde, Carlo. Pero está bien. Estoy justo aquí, observándote. Quiero ver cómo vas a enfrentar la verdad de que tú mismo encerraste a la mujer que amas en su propia tumba.
Lihat lebih banyakDi bawah cahaya rembulan, seorang wanita muda dengan paras yang cantik tampak duduk sendiri menatap rembulan dingin dari balik kaca.
Wajah itu tampak bercahaya ketika menghadap bulan yang jauh di atas sana.Dengan rambut panjang terurai yang menambah kecantikannya, dia tampak anggun.Dia duduk diam tak terusik oleh apapun, rembulan malam sungguh mengalihkan perhatiannya.Hembusan angin malam yang dingin bahkan tidak mengganggu si cantik yang sedang termenung.Gadis cantik itu tidak menyadari seseorang yang tidak jauh dari dirinya menatap kagum, pandangan matanya tidak lepas dari sosok gadis cantik yang sedang menikmati indahnya bulan.Perlahan sosok yang hanya berdiri diam mendekat, langkahnya tampak hati-hati dengan senyum manis mengukir di wajahnya yang tampan."Lama tidak bertemu." Pria itu membuka suara begitu tiba di sisi sang gadis.Sapaan dari seseorang membuat si gadis berpaling dari rembulan malam, berpindah pada sosok tampan yang sedang berbicara dengannya." . . . " Si gadis hanya memberi sebuah senyuman manis.Pria itu menatap sang gadis sesaat, senyuman itu terlihat lebih indah dari biasanya."Bagaimana kabarmu?" Pria itu bertanya sebelum duduk di sisi kosong gadis itu."Baik," jawab sang gadis dengan singkat."Itu baik untukku, mendengar jawaban itu darimu," ucap si pria." . . . " Gadis itu mengunci bibirnya.Sorot mata sang gadis mulai berubah, tatapan sendu diarahkan pada pria yang duduk di sisinya."Kau orang yang baik, terima kasih untuk semua hal yang sudah kau lakukan padaku," ungkap si gadis." . . . " pria tampan itu menoleh pada orang yang bersuara, perlahan mengambil tangan halus gadis itu dan menggenggamnya."Kau tau, ini sangat menyiksaku," jawab pria itu, semakin mengeratkan genggamannya."Maka lepaskan, itu akan membantumu," jawab sang gadis."Andai aku bisa, aku tidak tau sampai kapan aku bisa seperti ini, bahkan akal sehatku pun tidak pernah menyadarkan tentang itu," balas si pria." . . . " gadis itu kembali diam, perlahan berdiri dan menarik jemarinya dari genggaman pria itu."Bisakah kau tidak pergi?""Aku mencintaimu!!" ucap si pria tampan menahan jemari sang gadis agar tidak melepaskan tangannya."Tapi aku harus pergi," balas sang gadis."Tidak.. bagaimana dengan diriku?" tanya si pria."Tolong, kau harus melepaskanku." Sang gadis menatap dengan kedua mata indah yang terlihat berkaca-kaca." . . . " pria tampan itu tetap bersikeras menahan sang pujaan hati, dia bangkit dan segera mendekap tubuh yang terasa dingin."Aku mencintaimu," gumam si pria tampan." Aku mencintaimu!! "Kalimat itu terus menggema, berulang kali diucapkan oleh si pria tampan pada sosok yang berada dalam dekapannya."Jangan membuatku semakin tersesat," jawab si gadis, perlahan melepaskan diri dari dekapan itu." . . . " wajah pria itu memanas, kedua matanya mulai terganggu karena bulir hangat yang menggenang.Sosok itu adalah luka yang sangat dia rindukan, tidak peduli meskipun menderita tersiksa rindu sehingga membuat dirinya tidak bisa bernafas.Melepaskan sosok itu adalah sebuah pilihan yang dirasa tidak mungkin, melupakan senyuman manis itu terasa lebih menyakitkan dari apa yang dia rasakan saat ini.Sosok gadis itu semakin menarik diri, dengan senyuman yang masih terukir manis di bibirnya.Perlahan genggamannya terlepas, sang gadis semakin melangkah mundur, membuat butiran bening yang sudah ditahan sejak lama akhirnya jatuh di pipi pria itu.Sosok cantik itu semakin memudar, perlahan hilang di bawah cahaya rembulan."Tidak… tidak!!! Jangan pergi!!" Gumam si pria tampan.Jantung berdetak kencang, nafas pendek juga memburu dengan keringat dingin membasahi kening, si pria terbangun dari tidurnya.Mimpi itu terus datang mengejarnya tanpa ampun, gadis cantik yang begitu dia cintai, sosok yang menghilang meninggalkan penyesalan yang mendalam dihatinya.Mimpi yang selalu berhasil membuatnya terjaga di tengah malam, dan tidak akan bisa kembali terpejam.Pria itu bangkit dari tempat tidur, keluar kamar untuk membuat segelas kopi, dia pasti akan terjaga hingga pagi.Pria itu kembali berangan-angan dengan secangkir kopi di tangan, dan bergerak ke arah meja.Sebuah cincin yang tersimpan dalam kotak kecil, kali ini mengalihkan perhatiannya, kotak kecil yang pernah membuatnya begitu bahagia, si pria menatap cincin itu cukup lama.Sebuah cincin berukiran nama seseorang, cincin malang yang pasti juga merindukan pemiliknya.Sudah lama sekali sosok itu berdiam di hatinya, sosok yang meskipun sudah tidak lagi berada di dekatnya, tapi tetap menguasai hati dan pikiran si pria tampan sepanjang waktu.Dia adalah sang bulan, rembulan dingin yang membeku diam, menunggu kejora kecil yang hilang ditelan pekatnya malam.Di sana pria itu tertunduk diam, menyaksikan setelah sekian lama, tidak ada yang berubah dari dirinya.Jiwa yang kesepian, mencari belahan hati tanpa henti, berharap takdir kembali mempertemukan.Waktu terus berlalu hari tidak selamanya gelap, awan mendung sudah memudar, membuat cahaya hangat menyapa jiwa yang sepi.Pada akhirnya, semua hanyalah sebuah cerita untuk melengkapi kisah dalam perjalanan hidup yang harus dilalui.Meskipun sudah begitu banyak air mata yang jatuh membasahi bumi, tidak peduli seberisik apa suara-suara di dalam kepala mengeluh pada semesta tentang takdir yang dia jalani.Jiwa itu sudah terbebas, berhasil melewati rintangan berat dalam melewati kehidupan.Seorang pria tampan datang dengan wajah tenang, tidak ada lagi awan mendung di raut wajahnya.Sosok itu melangkah santai, menemui seseorang yang dia rindukan dengan sebuah buket mawar merah di tangannya.Si pria menatap lekat, sebelum duduk setengah berjongkok dan merogoh sesuatu dari saku jas yang dia kenakan.Sebuah kotak kecil yang berisi cincin indah yang telah lama disimpannya.Si tampan tersenyum, menatap cincin dan bunga mawar merah yang terlihat begitu sempurna."Bukankah ini terlihat cantik?" Si pria membuka suara, diam sesaat menarik nafas cukup dalam sebelum mengeluarkan kalimat lain yang tertahan di hatinya."Apa kau bahagia?" si pria bertanya." . . . . " si wanita hanya diam dan tersenyum."Aku mencintaimu sejak lama, hingga aku tidak lagi bisa menghitung berapa lama waktu yang sudah aku habiskan untuk menahan mu dihatiku, maaf jika itu membuatku menjadi egois. "Si pria tampan, mengambil sesuatu yang tersimpan di kotak kecil, cincin berukir nama seseorang tertahan di udara."Yotta, aku merindukanmu."Mi funeral se celebró aquella tarde.Carlo lo organizó con los más altos honores, como correspondía a la futura Donna de la familia Vesta. Mi lápida fue colocada justo al lado de la de su madre, con la inscripción:[Margherita Rossi Vesta.][1998–2023.][Novia Eterna.]Papá lloró desconsoladamente durante la ceremonia. En un momento, casi se abalanzó sobre Carlo, sujetándolo por el cuello. Carlo detuvo a los soldados que intentaron intervenir y dijo: —Lo siento, señor Rossi. Esto es culpa mía.Las lágrimas corrieron por las mejillas de mi padre mientras sus ojos ardían de dolor y furia. —Mi hija… ¡Tú la mataste!—Podría matarme si lo desea —dijo Carlo con calma—. La familia Vesta nunca buscaría venganza.Papá aflojó el agarre y Carlo se sujetó la garganta, tosiendo violentamente.—Cuando Margherita dijo que quería casarse contigo, yo no quería aceptar. Esperaba que pudiera casarse con un hombre común y llevar una vida normal —dijo papá mientras se limpiaba las lágrimas—. E
Carlo se acercó a Benedetta y la miró desde arriba. —¿Los tacones rojos? ¿El muro del hospital? ¿La grabación de la cámara del auto? ¿Debo sacar la ropa de tu maletero, la que está cubierta de polvo de la sala de control? ¿De verdad pensaste que tirar la llave sería suficiente?La respiración de Benedetta se volvió rápida e irregular.—¿Por qué? —exigió Carlo, luchando por contener el dolor que sentía—. Ella nunca te hizo daño.Benedetta clavó la mirada en él. El pánico y la angustia de su rostro desaparecieron lentamente.—¿Que nunca me hizo daño?De repente, Benedetta estalló en una risa aguda y penetrante, como si la idea fuera una burla. —Ella te alejó de mí. Ese fue el mayor daño de todos. Te conozco desde hace veinte años, Carlo. Crecimos juntos. Mi padre incluso recibió una bala por el tuyo. Cuando éramos niños, todos decían que yo estaba destinada a ser la Donna Vesta. ¿Y ella? Solo es la hija de un comerciante de logística. ¿Solo porque su familia tiene influencia en
Carlo se encerró en el estudio, revisando cada grabación de vigilancia e interrogando a todos los involucrados. Yo permanecí a su lado, como si fuera su sombra.Convocó al soldado del depósito frigorífico. —¿Quién pasó por allí esa noche, aparte de Margherita?El hombre tartamudeó: —Nadie…—Dime exactamente qué sucedió —ladró Carlo, golpeando el escritorio—. Ya conoces el precio de mentir.El soldado cayó de rodillas. —¡Don Vesta! Escuché el clic de unos tacones alrededor de la 1:00 a. m. Se detuvieron cerca de la sala de control. No vi su rostro, solo unos tacones rojos.Carlo repitió lentamente: —¿Tacones rojos?El soldado asintió. —Sí, tacones rojos. Se fue casi al instante.Carlo cerró los ojos. Eran las suelas rojas distintivas de Benedetta.Revisó los registros de la cerradura electrónica de la sala de control. El sistema mostraba que la puerta había sido abierta a las 12:40 a. m. de aquella noche, y la tarjeta de acceso pertenecía a —Conti, B—.Realmente era B
El médico también parecía desconcertado. —En condiciones normales, un sistema de respaldo mantendría la temperatura alrededor de los 4°C, pero el estado de la señorita Rossi sugiere una muerte repentina por hipotermia extrema. Eso suele ocurrir únicamente cuando la temperatura cae rápidamente muy por debajo del punto de congelación.—Eso fue porque Benedetta volvió a encender el sistema de enfriamiento —expliqué yo en nombre del médico.Sin embargo, Carlo ya no podía oírme. Simplemente se aferraba a mí, negándose a soltarme. Un soldado dijo con cautela: —Don Vesta, es hora de hacer los preparativos para la señorita Rossi.Carlo apretó su agarre. —No. No está muerta. Solo está dormida. Hace frío, así que se quedó dormida.—Carlo.Una voz baja y pesada atravesó la habitación. El padre de Carlo, el Don de la familia Vesta, estaba en la puerta apoyado en su bastón. Cada línea de su rostro hablaba de pesadas cargas.Carlo levantó la vista. —Papá…—Suéltala, Carlo —dijo Alessa
En los dos días que duró el simulacro de enfermedad de Benedetta, Carlo se había olvidado por completo de mí.No fue sino hasta que el proyecto del muelle que yo dirigía sufrió un contratiempo que él finalmente perdió la paciencia. —¡Vayan a la cámara fría y traigan a Margherita aquí ahora mismo!
Cuando recuperé la conciencia, me encontraba flotando sobre la habitación. Mi cuerpo seguía acurrucado en la esquina del depósito frigorífico, y una fina capa de escarcha cubría mi piel.No podía soportar la visión, así que me di la vuelta y atravesé las pesadas puertas de hierro, dirigiéndome a la
El pasillo exterior estaba en silencio. Me abracé a mí misma, tratando de mantener el calor.Solo después de un largo rato me di cuenta de que era incapaz de ponerme de pie. El frío había entumecido mis piernas por completo y mis dedos ya no me obedecían.Conté hasta cien, y luego de regreso. En l
El viento frío del puerto me cortaba la cara. Me arrodillé sobre las losas de piedra congeladas del muelle privado de la familia Vesta, viendo a Carlo Vesta caminar apresuradamente hacia la orilla mientras cargaba a una Benedetta Conti empapada en sus brazos.Su abrigo negro la envolvía con fuerza,






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.