เข้าสู่ระบบSe supone que es un castigo, pero termina conmigo muriendo congelada en el congelador. Mi prometido, Carlo Vesta, también conocido como el heredero de la familia Vesta, solo recuerda que existo tres días después. Ahora, simplemente floto alrededor mientras lo veo abrazar mi cadáver congelado, con su cuerpo temblando violentamente. Noto cuán rota es su expresión y, pronto, soy testigo de cómo va armando la verdad que me llevé conmigo a la tumba. Es demasiado tarde, Carlo. Pero está bien. Estoy justo aquí, observándote. Quiero ver cómo vas a enfrentar la verdad de que tú mismo encerraste a la mujer que amas en su propia tumba.
ดูเพิ่มเติมElena Neivara, wanita yang baru genap memasuki kepala dua itu keluar dari kamarnya. Tubuhnya dibalut piama satin merah, yang menonjolkan bentuk dada dan bokongnya.
Kaki jenjang Elena melangkah ke dapur, dengan satu gelas kosong di tangannya. "Haus sekali," gumamnya. Dapat Elena lihat, kedua majikannya sedang menonton film di sofa ruang tamu. Saat akan melangkah lebih jauh, suara Riven membuatnya terhenti. "Elena!" Sang pemilik nama menoleh, lalu membungkuk sebentar. "Iya, Tuan? Ada yang bisa–" Decakan Diana memotong ucapannya, wanita itu melirik sinis Elena dan bersedekap dada. "Pakaianmu, Elena. Apa tidak ada yang lain?" tanya Riven. Elena menunduk, jantungnya berdegup cepat. "Maaf, Tuan. Semua pakaian besarku dicuci, karena aku harus menggantinya dua kali sehari," sahutnya pelan. Diana kini berdiri, lalu menghampiri Elena dan menudingnya dengan telunjuk. "Pekerjaanmu itu pelayan, Elena! Perhatikan caramu berpakaian. Kamu tidak sedang berada di rumahmu, dan Tuanmu sudah memiliki istri!" serunya. Riven juga menghampiri, majikannya itu terlihat merangkul pinggang Diana. Matanya tajam menusuk Elena, begitu pun Diana yang meremehkannya. Elena semakin tertunduk, karena aura para majikannya sangat menekan. "Bahkan jika kau tidak memakai apapun, aku tidak akan tergoda, Elena. Pergilah, dan ganti pakaianmu jika kau masih berkeliaran di luar kamar." Setelahnya, Elena hanya mengangguk lalu pergi ke dapur. Mengambil segelas air dan kembali ke kamarnya. Di sana, Elena merenungkan perkataan Diana dan Riven. Ia hanya pelayan di sini, dan harus menghormati keduanya. Elena tidak bisa lagi memejamkan mata, hingga pagi hari tiba. Ia langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Elena memakai kaus oversize dan celana longgar di bawah lutut. Meski begitu, bagian dadanya yang besar tetap terlihat cukup jelas. Pagi ini, Elena menyiapkan sarapan dengan mata yang sayu menahan kantuk. Saat akan meraih piring, tubuhnya terhuyung ke depan. Elena dapat merasakan tangan besar menopang tubuhnya, tepat di bawah dadanya. Elena segera menyingkirkan tangan Riven, lalu berdiri tegap. "M-maaf, Tuan," ucapnya gugup. Riven masih terpaku pada ingatannya, dada Elena terasa sangat kenyal dan besar. Hingga Diana turun, menghampiri mereka berdua dengan raut marah. "Apa yang kalian lakukan?! Elena?! Kau menggoda suamiku?!" pekik Diana. Tangan Diana langsung melingkar posesif di lengan Riven, membuat suaminya tersadar dari lamunan kotor. "Dia hampir jatuh tadi, Diana. Sepertinya dia mengantuk," jelas Riven. Elena yang seolah menjadi tersangka, hanya diam dengan wajah menunduk. "Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiranmu, Elena?! Pekerjaanmu sangat buruk!" cerca Diana. Elena semakin menunduk, matanya fokus menatap pada kaki yang tidak dibalut apapun. Riven mengikuti arah pandang Elena. Kaki Elena tampak putih, mulus, dan bersih. Terdapat rona merah di setiap lipatan dan ujung jemarinya. Pikiran kotor lagi-lagi hinggap di pikiran Riven, ia membayangkan sebersih apa tubuh Elena jika tidak memakai apapun. "Riven!" seru Diana. Dada Riven dipukul olehnya, hingga kembali tersadar. "Apa yang kau bayangkan?! Kau berniat selingkuh, ya?!" tuding Diana. Riven gelagapan, ia langsung mendekap Diana. Namun, tatapannya tidak beralih dari Elena yang masih menunduk. "Tentu tidak, Sayang. Aku mencintaimu, dan kau tau itu. Justru aku harus bertanya, apa kau masih mencintaiku?" Bukannya mendapat jawaban, Riven malah mendapatkan sebuah tamparan. Emosinya langsung naik, ia mengangkat tangan untuk mengusir Elena. Lalu, menatap Diana yang memberikannya tatapan tajam. "Kau!" Diana menuding Riven, telunjuknya berada tepat di depan wajah sang suami. "Kau menuduhku selingkuh lagi, Riven?!" seru Diana. Riven hanya menghela napas kasar, ia langsung pergi dan mengabaikan Diana yang berteriak. Sedangkan Elena, masih mengintip di antara tembok dapur. Lagi-lagi, ia menyaksikan keributan antara Diana dan Riven. Sebelum pikirannya melayang, kakinya langsung melangkah untuk kembali menyiapkan sarapan dan bekal Jay. Anak majikannya itu tak lama turun, dengan seragam yang berantakan. Elena bergegas menghampiri, dengan raut wajah sendu. Mengingat kedua orang tua Jay yang selalu bertengkar, pikirnya, Jay pasti tertekan. "Tuan Muda, Bibi Elen sudah menyiapkan bekal untuk Tuan Muda," ujarnya. Ia mencoba meraih tangan Jay, namun anak itu menolaknya. "Kata Mama, kau hanya pelayan. Jangan menyentuhku!" sinisnya. Jay menaiki kursi untuk meraih bekalnya di atas meja makan, ia memasukkan bekalnya dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun pada Elena. Elena menunduk singkat, kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, kedatangan Riven membuatnya sejenak terpaku. Menatap betapa tampannya pahatan Tuhan. Wajah Riven terkesan dingin dan tegas, siapapun pasti menilainya galak. Bahu yang lebar dan gagah, dengan urat yang tampak di sepanjang garis tangan dan jemarinya. Elena melihat itu semua, ia merasa semakin kagum dengan majikannya. "Buatkan aku kopi, Elena." Perintah Riven membuat Elena tersadar, ia bergegas melaksanakan perintahnya.Mi funeral se celebró aquella tarde.Carlo lo organizó con los más altos honores, como correspondía a la futura Donna de la familia Vesta. Mi lápida fue colocada justo al lado de la de su madre, con la inscripción:[Margherita Rossi Vesta.][1998–2023.][Novia Eterna.]Papá lloró desconsoladamente durante la ceremonia. En un momento, casi se abalanzó sobre Carlo, sujetándolo por el cuello. Carlo detuvo a los soldados que intentaron intervenir y dijo: —Lo siento, señor Rossi. Esto es culpa mía.Las lágrimas corrieron por las mejillas de mi padre mientras sus ojos ardían de dolor y furia. —Mi hija… ¡Tú la mataste!—Podría matarme si lo desea —dijo Carlo con calma—. La familia Vesta nunca buscaría venganza.Papá aflojó el agarre y Carlo se sujetó la garganta, tosiendo violentamente.—Cuando Margherita dijo que quería casarse contigo, yo no quería aceptar. Esperaba que pudiera casarse con un hombre común y llevar una vida normal —dijo papá mientras se limpiaba las lágrimas—. E
Carlo se acercó a Benedetta y la miró desde arriba. —¿Los tacones rojos? ¿El muro del hospital? ¿La grabación de la cámara del auto? ¿Debo sacar la ropa de tu maletero, la que está cubierta de polvo de la sala de control? ¿De verdad pensaste que tirar la llave sería suficiente?La respiración de Benedetta se volvió rápida e irregular.—¿Por qué? —exigió Carlo, luchando por contener el dolor que sentía—. Ella nunca te hizo daño.Benedetta clavó la mirada en él. El pánico y la angustia de su rostro desaparecieron lentamente.—¿Que nunca me hizo daño?De repente, Benedetta estalló en una risa aguda y penetrante, como si la idea fuera una burla. —Ella te alejó de mí. Ese fue el mayor daño de todos. Te conozco desde hace veinte años, Carlo. Crecimos juntos. Mi padre incluso recibió una bala por el tuyo. Cuando éramos niños, todos decían que yo estaba destinada a ser la Donna Vesta. ¿Y ella? Solo es la hija de un comerciante de logística. ¿Solo porque su familia tiene influencia en
Carlo se encerró en el estudio, revisando cada grabación de vigilancia e interrogando a todos los involucrados. Yo permanecí a su lado, como si fuera su sombra.Convocó al soldado del depósito frigorífico. —¿Quién pasó por allí esa noche, aparte de Margherita?El hombre tartamudeó: —Nadie…—Dime exactamente qué sucedió —ladró Carlo, golpeando el escritorio—. Ya conoces el precio de mentir.El soldado cayó de rodillas. —¡Don Vesta! Escuché el clic de unos tacones alrededor de la 1:00 a. m. Se detuvieron cerca de la sala de control. No vi su rostro, solo unos tacones rojos.Carlo repitió lentamente: —¿Tacones rojos?El soldado asintió. —Sí, tacones rojos. Se fue casi al instante.Carlo cerró los ojos. Eran las suelas rojas distintivas de Benedetta.Revisó los registros de la cerradura electrónica de la sala de control. El sistema mostraba que la puerta había sido abierta a las 12:40 a. m. de aquella noche, y la tarjeta de acceso pertenecía a —Conti, B—.Realmente era B
El médico también parecía desconcertado. —En condiciones normales, un sistema de respaldo mantendría la temperatura alrededor de los 4°C, pero el estado de la señorita Rossi sugiere una muerte repentina por hipotermia extrema. Eso suele ocurrir únicamente cuando la temperatura cae rápidamente muy por debajo del punto de congelación.—Eso fue porque Benedetta volvió a encender el sistema de enfriamiento —expliqué yo en nombre del médico.Sin embargo, Carlo ya no podía oírme. Simplemente se aferraba a mí, negándose a soltarme. Un soldado dijo con cautela: —Don Vesta, es hora de hacer los preparativos para la señorita Rossi.Carlo apretó su agarre. —No. No está muerta. Solo está dormida. Hace frío, así que se quedó dormida.—Carlo.Una voz baja y pesada atravesó la habitación. El padre de Carlo, el Don de la familia Vesta, estaba en la puerta apoyado en su bastón. Cada línea de su rostro hablaba de pesadas cargas.Carlo levantó la vista. —Papá…—Suéltala, Carlo —dijo Alessa
En los dos días que duró el simulacro de enfermedad de Benedetta, Carlo se había olvidado por completo de mí.No fue sino hasta que el proyecto del muelle que yo dirigía sufrió un contratiempo que él finalmente perdió la paciencia. —¡Vayan a la cámara fría y traigan a Margherita aquí ahora mismo!
Cuando recuperé la conciencia, me encontraba flotando sobre la habitación. Mi cuerpo seguía acurrucado en la esquina del depósito frigorífico, y una fina capa de escarcha cubría mi piel.No podía soportar la visión, así que me di la vuelta y atravesé las pesadas puertas de hierro, dirigiéndome a la
El pasillo exterior estaba en silencio. Me abracé a mí misma, tratando de mantener el calor.Solo después de un largo rato me di cuenta de que era incapaz de ponerme de pie. El frío había entumecido mis piernas por completo y mis dedos ya no me obedecían.Conté hasta cien, y luego de regreso. En l
El viento frío del puerto me cortaba la cara. Me arrodillé sobre las losas de piedra congeladas del muelle privado de la familia Vesta, viendo a Carlo Vesta caminar apresuradamente hacia la orilla mientras cargaba a una Benedetta Conti empapada en sus brazos.Su abrigo negro la envolvía con fuerza,






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.