LOGINMaya just lost her sister and needs a way to survive. When her best friend’s father, the powerful and… offers her job, she accepts without hesitation. She soon finds out that it came with a price she never imagined. Nights of temptation and whispered secrets pull her deeper into a world where nothing is safe and everyone is hiding something. With Liam watching, Julian scheming, and her own heart at risk, Maya must play the dangerous game… or lose everything.
View More“Maaf, Tuan. Mau makan di sini atau dibungkus?” tanya Kamila.
Kamila yang sejak tadi menunggu pria di depannya ini untuk memesan makanan merasa heran, ia menoleh ke sekitar. Namun, tak ada seorang pun, hanya mereka berdua di warung tendanya ini. “Menikahlah dengan saya,” titah seorang pria dengan tubuh tegap nan wajah rupawannya. Jujur saja, Kamila sedikit kikuk karena pria itu menatapnya dalam, belum lagi penampilannya yang terlihat seperti orang kaya. Walau kotanya ini tidak sebesar kota yang lain, tapi jangan salah. Hasil panen dan perkebunan di kota ini begitu subur dan makmur. Tak heran banyak yang menjadi supplier buah-buahan serta sayuran yang dibawa ke kota besar, serta menjadi langganan restoran mewah maupun hotel berbintang. Lantas yang menguasai kota kecil ini adalah keluarga Dewangga, mempunyai tanah puluhan hektar serta menjadi orang terkaya di kota ini. Keluarga mereka sangat terpandang, walau kehidupannya begitu privasi. “Kau tidak dengar atau pura-pura mengalihkan pembicaraan?” sindir Pria itu. Kamila tergugu melihat wajah dingin itu, apa dirinya berbuat salah? “Maaf, maksudnya bagaimana ya, Tuan? Saya tidak mengerti.” Aron Dewangga, sang tuan muda kaya raya yang memiliki kesabaran setipis tisu dibagi tiga hanya bisa mengepalkan tangan kuat. “Kau harus menjadi istri saya, apa masih kurang jelas?!” sentaknya kesal. Jantung gadis itu seketika berdegup kencang, Kamila meremas kedua tangganya penuh ketakutan. Ia melihat sekitar yang tampak sepi, maklum saja ini sudah pukul sebelas malam. Kamila sangat menyesal karena kukuh ingin berjualan sampai larut malam seperti ini. “Tuan … saya tidak tahu apa motif Anda meminta hal seperti ini, tapi tolong. Ja−jangan sakiti saya, atau merampok uang saya. Ka−karena ini untuk biaya adik saya bersekolah.” Kamila berucap gugup, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, jantungnya kian memompa lebih cepat dari biasanya. Zaman sekarang kita tidak boleh tertipu dengan pakaian mahal atau wajah rupawan. Karena banyak pelaku kejahatan berkedok sebagai orang kaya. Kamila memundurkan langkahnya ketika pria tampan itu semakin mendekat. Ia ingin menangis sekarang juga, jika ini adalah akhir dari hidupnya. Bagaimana nasib sang adik? “Tuan, saya mohon. Ka─kasihanilah saya. Kedua orang tua saya sudah meninggal, dan saya mempunyai adik yang masih kecil, tolong … jangan sakiti saya.” Bahu Kamila berguncang dengan isakan yang mulai lolos. Tangannya gemetar mengambil uang dari laci gerobak. “I−ini … ini adalah penghasilan saya selama dua hari. Tuan boleh membawanya, asalkan jangan sakiti saya.” Aron melirik uang pecahan lima puluh ribu yang berjumlah empat lembar. Pria itu mengernyit bingung, untuk apa uang segitu? Apakah bisa membeli makanan? “Saya tidak butuh uang, saya hanya ingin kau menjadi istri saya!” titahnya tegas. Kamila terduduk di kursi kayu itu, ia menutup wajahnya dengan tangis yang sudah mulai pecah. “Tolong … jangan mencelakai saya, apalagi mengambil organ-organ sa−saya.” Aron mengusap wajahnya kasar, ada apa dengan gadis ini, mengapa ia terus histeris tak jelas. Apa orang miskin memang parnoan? Sedikit-dikit curigaan dengan orang baru, pria itu berdecak kesal. Waktu berharganya dengan sang kekasih harus ia korbankan demi gadis aneh ini. “Apa kau mengira saya ini adalah penculik?” Kamila mengangguk kaku dengan wajah yang masih tertutupi oleh kedua telapak tangan. Isakannya perlahan mereda, tapi tidak dengan bahunya yang masih bergetar ketakutan. “Saya adalah Aron Dewangga, cucu dari Abraham Dewangga, apa kau puas? Dan saya tidak mungkin menculik tikus kecil sepertimu!” sindir Aron dengan tatapan remeh. Tubuh Kamila menegang, secara perlahan ia menurunkan kedua telapak tangannya. Lalu menatap Aron takut-takut. “Ke-keluarga Dewangga?” tanyanya takut-takut. Mimpi apa ia bisa bertemu dengan keturunan Dewangga yang terkenal tampan itu. Tanpa sadar Kamila melihat Aron dari ujung kaki sampai kepala. Setelahnya ia menelan ludah susah payah. Benar-benar definisi tuan muda yang sesungguhnya. Teman-temannya sering mengatakan jika Aron Dewangga adalah seorang dosen di salah satu universitas terbaik di kota ini. Kamila yang tak mengenyam pendidikan perguruan tinggi hanya bisa mendengarkan tanpa menimpali. Dan rata-rata dari mereka masuk kuliah hanya ingin melihat Aron, bahkan tak jarang memfoto pria di depannya ini, lalu mencetaknya untuk diperjualbelikan. Kamila yang perhitungan soal uang tentu saja tidak pernah tertarik. Lebih baik ia tabung demi masa depan sang adik. “Ma-maaf, saya tidak tahu. Da-dan mengapa Tuan mengatakan jika saya harus menjadi istri Anda?” tanya Kamila gugup. Aron menyerahkan selembar foto pada Kamila. Gadis itu menerimanya sedikit kaku, karena merasa malu sudah berburuk sangka pada keturunan Dewangga. Tangan Kamila terlihat bergetar melihat foto seorang pria paruh baya yang tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. “Ini … Pak Abra?” tanyanya lirih. Lantas apa hubungan Aron dengan Abra, seorang kernet bus yang menjadi pelanggan setianya sejak lima tahun lalu. “Abra? Dia menyuruh kau memanggilnya dengan sebutan, Abra?!” Kali ini Aron yang terlihat kaget, wajah pria itu menegang dengan tatapan tak terbaca. “Betul, Tuan. Pak Abra ini adalah kernet bus pelanggan setia warung saya. Dan dari mana Anda mendapatkan fotonya? Karena sudah dua bulan ini beliau tidak pernah datang lagi ke sini.” Kamila melihat lagi selembar foto di tangannya, pria ini begitu baik, tak jarang memberikan bayaran lebih jika makan. Bahkan saat adik Kamila sedang ada di warung, Abra selalu memberikan uang, walau sang adik sudah menolak. Sedangkan Aron terlihat mengepalkan tangan kuat, rahangnya bergetar dengan sorot mata tajam. Kamila yang melihat itu tentu saja merasa ketakutan, ia meremas kedua tangannya gugup. Jantungnya kian berdegup kencang, apakah ada yang salah dengan ucapannya? Mengapa Aron seolah-olah ingin mencabik-cabiknya sekarang. “Tarik kata-katamu, yang difoto itu adalah Abraham Dewangga, Kakek saya sendiri!” titah Aron penuh tuntutan. Kamila sampai berpegangan pada gerobaknya agar tak terhuyung ke belakang, gadis sembilan belas tahun itu menatap Aron tak percaya. Foto yang ada di tangannya pun jatuh seketika, Kamila menunduk dengan tatapan kosong. Lalu secara perlahan menatap Aron kembali. “Ti−tidak mungkin, jelas-jelas Pak Abra adalah seorang kernet bus, beliau juga sering memarkirkan busnya di sini sambil makan siang dengan Pak Bimo, supirnya.” “Bimo, dia adalah orang kepercayaan kakek saya!” timpal Aron cepat, pria tiga puluh tahun itu mengusap wajah kasar. Ada apa dengan kakeknya, mengapa membuat drama seperti ini hanya untuk seorang gadis miskin. “Ya, Tuhan ….” Kamila menutup mulut dengan kedua telapak tangan, tak menyangka selama ini yang menjadi pelanggan setianya adalah seorang Abraham Dewangga. Keluarga mereka begitu menjaga privasi, hanya segelintir orang yang mengenal baik wajah orang kaya nomor satu di kota kecil ini. Dan siapalah seorang Kamila Cahaya, hanya gadis yatim piatu dengan hidup serba pas-pasan, serta hutang menumpuk. Lalu mengapa Abraham sampai menyamar menjadi kernet bus dan menjadi pelanggan setianya. Tidak mungkin pria paruh baya itu melakukan semua ini hanya untuk dekat dengannya, bukan? Kini atensi Kamila beralih pada Aron, gadis itu meremas ujung bajunya sebelum menjawab penuh kehati-hatian. “Lalu apakah ini tujuan Tuan Aron ke sini?” “Ya, itu pesan terakhir dari mendiang kakek saya," jelas Aron. Kamila tertegun, netranya seketika berkaca-kaca. “Me−mendiang? Jadi, Pak Abraham─” “Kakek saya sudah berpulang dua bulan yang lalu, dan saya minta untuk kau menjadi istri saya secepatnya," sela Aron mulai tak sabaran. Kamila tergugu di tempatnya, ia begitu shock dengan kabar kematian Abraham, tapi lebih kaget lagi kala Aron meminangnya penuh paksaan. Gadis itu termenung sejenak, sebelum menjawab lirih. “Saya menolak.”Maya’s POVFive years after the first doors opened, the Sarah Foundation stretched across seven cities. The original headquarters still stood at the center of everything, but new buildings carried the same quiet promise in every location. I walked the main courtyard as Executive Director, a title that still felt larger than the woman I once was. Hope, now six, ran ahead with her younger brother, Noah, who had arrived two years after her. Liam followed at an easy pace, hands in his pockets, watching them with the same steady attention he had given me through every hard season.Sarah met me near the front steps. She oversaw every survivor program across the network and still knew most of the families by name. “Three new intakes this morning,” she said. “All housed before noon. The Chicago center is at capacity again, so we’re opening the overflow wing next month.”I nodded. “Elena called from Washington. Her anti-corruption task force just closed another major case. She wants us to take
Maya’s POVThe anniversary celebration filled every corner of the foundation. Soft lights hung across the courtyard. Tables held simple food and stacks of program booklets. Survivors, staff, partners, and friends moved between conversations and quiet laughter. Children ran across the grass under the watch of counselors. The banner that read “One Year of Open Doors” moved gently in the evening air.I stood near the edge of the gathering with Hope in my arms. She had grown steady on her feet and now pointed at every bright color she saw. Liam stayed close beside me. Sarah moved through the crowd, greeting people by name. Chloe handled the welcome table with easy confidence. Elena spoke with a group of national partners. Damien kept a quiet watch from the side without looking tense.A woman I had never met before approached with careful steps. She looked about my age. Her hands held a folded paper.“Miss Maya?” she said. “I live in the building next door to the east wing. I watched this
Maya’s POVOne year later the Sarah Foundation filled an entire city block. The original headquarters still stood at the center, but two new wings had been added. Safe housing units lined the east side. Counseling offices and training rooms filled the west. A small playground sat in the courtyard where children of the families we helped could play while their parents met with staff.I walked through the main lobby with Hope on my hip. She was one year old now, steady on her feet when I set her down, and full of bright sounds. Liam met us near the front desk and kissed both of us.“The morning report looks good,” he said. “Twelve new intakes yesterday. All of them housed within four hours.”Sarah came from the second-floor offices with a tablet in her hands. “The national numbers are in. We have centers in fourteen states. Over three thousand families helped since the day we opened these doors.”Chloe waved from the intake counter. She wore the foundation badge with quiet pride. “Two m
Maya’s POVThe old house sat at the end of a quiet street lined with trees. The paint had peeled in places and the porch steps creaked under our feet. Sarah stood beside me with the key in her hand. Liam waited by the car with Hope asleep in her seat. The older children had stayed behind with Chloe so we could do this alone.Sarah unlocked the door. It opened with a soft push. Dust floated in the afternoon light that came through the windows. The living room looked smaller than I remembered. The same scuffed floorboards. The same spot near the fireplace where we used to sit on cold nights.“I have not been inside since the week after Mom died,” Sarah said.I stepped in behind her. “Neither have I. It feels like walking into a photograph.”We moved slowly through the rooms. The kitchen still held the old table with the uneven leg. Sarah ran her hand along the counter. I opened a cupboard and found a single chipped mug we both used to fight over. Upstairs the bedroom we once shared stil
Maya’s POVThe next day felt heavy inside my stomach like I was carrying small butterflies that kept flying around nervously. I spent the afternoon getting ready, opening the box Chloe sent to me slowly like it was a treasure. Inside was the mask.Black lace with silver sparkles along the edges. It
Maya’s POVMy heart was beating very fast i. It felt like a small drum was hitting my ribs over and over. I quickly pulled my hand from under my dress and smoothed the blue cloth down with shaky fingers. My face felt hot. Not from happiness. From panic.I heard Chloe’s soft footsteps walking on the
Maya’s POVMy phone kept buzzing on my pillow like it is angry at me. I opened one eye and see five missed job application emails.All of them say the same thing. “We are sorry. No vacancy at this time.” I sighed loudly and roll over on my bed.“Why does survival feel like homework I cannot finish?
Maya’s POVThe first thing I heard when I stepped into the office is his voice. “You are late.”I looked at the clock on the wall. It said 8:55am. I was five minutes early. “I… I am sorry, sir,” I whispered. My voice shook.He was sitting behind his huge desk. He looked up from some papers. His eye






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews