Share

Arena and Ambition

Penulis: Juno Bug
last update Tanggal publikasi: 2026-02-16 15:26:03

Pertandingan akbar Lacrosse antara tim Milford Hall dan Eastwood High akhirnya tiba pada puncak musim gugur.

Udara London mulai menggigit, namun atmosfer di lapangan hijau itu justru mendidih. Aroma rumput basah bercampur dengan keringat dan adrenalin, menciptakan sensasi yang hanya bisa dirasakan saat rivalitas abadi bertemu di satu garis lapangan.

​Selama dua tahun kepemimpinan Damian Harding, Milford Hall seolah memiliki mantra kemenangan yang tak terpecahkan. Di bawah arahan Damian, Lacrosse bukan sekadar olahraga; itu adalah tarian taktis yang mematikan.

Sang kapten bukan hanya otak di balik formasi, ia adalah jantung yang memompa semangat rekan-rekannya—termasuk pemain inti seperti Axel Rosewood, Russo Marianno, dan Louis Partridge—untuk terus berlari meski paru-paru mereka terasa terbakar.

​Akibat jadwal latihan yang menggila, Damian dan "geng elit"-nya sudah melewatkan dua pertemuan di kelas Mrs. Whiterspoon. Fraya sempat bersorak dalam hati, berpikir ia akhirnya bebas dari tutor yang hobi ngeledek itu.

Namun, harapannya pupus saat Damian mengumumkan revisi jadwal mereka dengan nada tanpa bantahan.

​"Yah, sayang banget, jadi nggak bisa belajar Bahasa Jerman sama kamu! Berarti Mrs. Crabtree bakal cari guru pengganti, kan?" ledek Fraya waktu itu, mencoba menyembunyikan binar kegembiraan di kedua matanya.

​Namun, karena Damian bukan tipe orang yang membiarkan mangsanya lepas begitu saja, dengan kalem juga Damian menandaskan,

"Memangnya kapan aku bilang aku berhenti ngajarin kamu? Jadwalnya cuma bergeser, Surgeon. Kamu tetap belajar sama aku. Tidak ada ceritanya posisiku akan diganti sama siapapun."

​"Hah? Gimana caranya? Kamu kan harus fokus latihan!"

​Damian hanya menyeringai. Ia tidak peduli jika kepalanya harus berasap karena membagi fokus antara taktik lapangan dan sesi belajar mereka bedua.

Baginya, hari Jumat sore adalah "waktu sakral" yang tidak bisa lagi Damian ganggu gugat. Karena di waktu itu, satu-satunya Damian mendapatkan ruang di mana ia bisa mencuri sedikit kebahagiaan.

Melihat Fraya marah-marah karena kuis dadakan jauh lebih menghibur daripada mencetak sepuluh gol sekaligus. Bahkan, membayangkan Fraya diajar oleh Asa—si murid berkacamata yang juga teman Fraya yang dikenal pintar tapi membosankan—sudah cukup membuat Damian ingin meninju tiang gawang.

Malah akhir-akhir, Damian terlintas untuk menyuruh Mrs. Crabtee agar menambah waktu untuk sesi tutornya pada Fraya hanya supaya Damian bisa punya lebih banyak waktu bertemu dengan cewek itu.

​"Tidak. Tutor kamu cuma aku. Kalau nanti aku sudah mulai sibuk latihan dan jadwal belajar kita tiba, kamu cukup tunggu saja di pinggir lapangan Lacrosse jam dua siang. Tidak usah pergi kemana-mana lagi. Jadi kalau pas aku lagi istirahat latihan, aku bisa langsung ke kamu," putus Damian final.

​Arahan yang lebih mirip perintah ini jelas membuat Fraya langsung melayangkan protes keras, "Ih, Damian! Aku nggak mau ya harus duduk di kursi tribun lapangan kamu. Aku nggak mau sampai nanti dikira seperti penggemar beratmu yang nggak ada kerjaan itu!"

​Damian berhenti sejenak, menatap Fraya dengan intensitas yang berbeda.

"Kamu memang bukan seperti mereka, Fraya. Kamu beda." Kalimat itu diucapkan begitu lembut, hingga Fraya kehilangan kata-kata untuk mendebatnya.

Selama tiga bulan cewek itu sudah bolak-balik bertemu Damian, Fraya mau tidak mau jadi paham kalau Damian si congkak nan menyebalkan ini memang tidak akan pernah bisa didebat kalau sudah berencana. Jadi mau Fraya protes keras dan tidak setuju seperti apa, Damian tidak akan pernah mau mengubah rencananya di awal.

Karena sepertinya keputusan Damian si pongah itu juga sudah final, tidak bisa diganggu gugat, Fraya sekarang cuma bisa menggerutu sepanjang belajar dengan Damian.

Dan Damian cuma bisa terkekeh memandang gemas cewek didepannya ini.

°°°°

​Jumat, 14.00

​Matahari London bersinar pucat di balik awan kelabu. Fraya duduk di tribun paling bawah dengan buku Fisika Lanjutan di pangkuannya.

Ia merasa sangat salah tempat. Lapangan Lacrosse ini adalah pusat kebisingan—tempat para siswi berkumpul untuk berteriak histeris setiap kali Damian menyeka keringat atau berlari melewati mereka.

​Gunjingan mulai terdengar. Kehadiran Fraya yang cuek dengan buku tebal di tengah kerumunan gadis berseragam modis jelas memancing rasa iri.

​"Lihat, itu si anak baru yang kabarnya jadi 'peliharaan' Damian?" bisik seorang siswi di barisan belakang.

"Aku dengar Damian itu tutornya, tapi sejak kapan orang terkaya se antero Inggris ini mau repot-repot jadi tutor, untuk anak baru, lagi!"

​Waktu itu Fraya cuma menjulingkan mata seraya berusaha untuk tidak peduli. Walaupun ada sisi lain di hati Fraya yang mengaminkan beberapa desas-desus tentang Damian kepada Fraya disekitarnya.

Fraya menggelengkan kepala seketika. Tidak, ia ingin fokus mengejar tujuan utamanya saat ini di Milford. Fraya hanya berdoa supaya apapun rencana Damian, semoga itu bukan dengaj menghancurkan rencana Fraya untuk masa depannya.

Fraya kembali melempar fokus pada soal-soal fisika dipangkuannya, berusaha tenggelam pada dunianya hingga sebuah bayangan tinggi menutupi cahayanya.

Damian berdiri di sana, tepat didepan Fraya. Rambut yang pirang basah oleh keringat, napasnya memburu, dan jersey timnya tampak menempel di tubuh atletisnya.

​"Kamu nggak capek, kan?" tanya Damian dengan suara serak yang seksi.

​Fraya mendongak, menyodorkan botol air mineral dingin. "Kamu kenapa nggak istirahat sama tim kamu di sana? Mereka kelihatannya lagi ngomongin kita."

​Damian meneguk air itu tanpa melepas pandangan dari Fraya. Air mineral menetes dari dagunya ke kerah jersey, namun ia tidak peduli.

"Biarkan saja. Mereka cuma harus tahu kalau kamu nggak boleh ke mana-mana."

​Tiba-tiba, Damian menaruh botol itu dan tanpa aba-aba, tangannya terulur mengacak puncak kepala Fraya dengan gerakan yang sangat protektif sekaligus sayang.

"Setengah jam lagi, ya."

"Damian! Rambutku berantakan!" protes Fraya sambil menepis tangan cowok itu, namun jarinya sibuk merapikan helai rambutnya dengan wajah mulai bersemu merah.

​Damian terkekeh melihat wajah Fraya yang mendadak merah padam dan tangannya yang sibuk merapikan rambut dengan kesal.

​Namun, di tengah lapangan, seorang pemain inti tidak bisa mengalihkan pandangannya dari interaksi itu.

​Sejak sesi latihan dimulai, Louis Partridge kehilangan kendali atas fokusnya. Pandangannya terus tersedot ke pinggir lapangan, menyaksikan pemandangan yang membuat buku jari-jarinya memutih karena mencengkeram stik Lacrosse terlalu kuat.

Di sana, sang kapten tim—Damian Harding—tanpa ragu memisahkan diri dari kerumunan pemain lain hanya untuk menghampiri Fraya. Sepanjang sesi latihan, fokus Louis sebenarnya sudah melantur entah ke mana, meski insting atletnya masih mampu menjaga permainannya tetap terlihat tanpa cela di mata pelatih.

Namun, menyaksikan kedekatan yang intens antara Damian dan gadis yang belakangan ini juga mencuri rasa penasarannya, membuat ulu hati Louis mendadak terasa dihantam benda tumpul. Ada rasa tidak nyaman yang asing, yang mulai merayap dan menetap di dadanya.

​Bagi Louis, yang sudah mengenal Damian sejak seragam sekolah dasar mereka masih kekecilan, sikap temannya itu terasa sangat ganjil—bahkan hampir tidak masuk akal. Sepanjang belasan tahun persahabatan mereka, Louis belum pernah sekalipun melihat Damian menurunkan harga dirinya untuk mengejar perhatian siapa pun.

​Di matanya, Damian Harding adalah definisi dari sosok yang pongah, sombong, dan egois yang merasa seisi dunia harus berputar mengelilingi porosnya sendiri. Jika Louis melihat barisan siswi menangis atau mengemis perhatian di hadapan Damian, itu adalah pemandangan basi yang sudah biasa ia saksikan.

Namun, melihat Damian yang justru "menyerahkan diri" dan menghampiri seorang gadis duluan? Itu adalah sebuah anomali besar yang membuat Louis menyadari satu hal ini:

Apa yang sebenarnya sedang Damian incar dari Fraya? Apakah ini ada kaitannya dengan Axel?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Sweet of Secrecy

    Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sealed With a Promise

    ​"Apa-apaan sih ini!"​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Abyss of Fear

    Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.​Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.​Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Shower's Dirty Secret

    Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.​Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.​"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Steam and Sin

    Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.​"Mr. Moore, silakan

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   London, Lights and Lies

    Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.​Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.​"Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."​Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   New Kind Of Obsession

    Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.​Sudah berapa hari ini

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sweet As Poison, Strong As Addiction

    Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris m

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   A Broken Pieces

    ​"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"​Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga ma

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Unspoken Waiting

    Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.Atmosfer di M

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status