Masuk"Kalau kamu tanya sama aku, apa hal yang Fraya sukai—sesuatu yang kira-kira bisa bikin dia tidak langsung mengusirmu di menit pertama kamu muncul di depan pintu rumahnya—kamu salah besar kalau sampai membawakan dia bunga."Florence mengucapkannya dengan nada final, seolah itu adalah hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi."Karena walaupun aku belum begitu lama mengenal Fraya Alexandrea, tapi sependek yang pernah kuingat, Fraya bukan tipe yang suka diberi bunga. Karena menurutnya itu klise, dan norak. Apalagi mawar merah. Asa pernah memberinya setangkai bunga, meskipun dengan dalih ia menemukannya di pinggir jalan saat berangkat sekolah. Tapi bukannya diterima, Fraya malah bilang: 'Lebih baik kamu berikan saja ke Florence. Aku tidak begitu suka bunga, apalagi mawar merah.' Dan sepertinya aku sudah tidak perlu mengingatkanmu lagi, Damian, kalau orang yang hatinya sedang kamu berusaha luluhkan itu adalah orang yang pernah mematahkan hidung sahabatmu sendiri."Sederet ti
"Fraya, sudahlah. Jangan dilihatin terus. Papa takut kamu jadi beneran stres."Suara Papa yang masih terbata-bata saat mengucapkan deret kalimat berbahasa Indonesia tadi langsung memecah mendung yang sejak tadi menggantung di mata Fraya.Angka 60 di lembar kertas ujiannya masih jadi perhatian khusus yang sudah menyita seluruh emosi Fraya sejak pulang sekolah tadi.Ingin sekali Fraya hapus angka itu, namun dia tahu sikap konyolnya ini karena dia sudah mulai frustasi dengan ujian kuis Hörverstehen tadi."Gimana mau dapet early admission interview dari Oxford kalau buat lolos mata pelajaran Jerman aja ternyata bakal sesulit ini, Pa." keluh Fraya.Ia menyerah sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja dapur dengan bunyi duk pelan. Bibirnya mengerucut, kepalanya kini mulai pusing. Sejak tadi, dunianya cuma berputar di sekitar kegagalan Bahasa Jerman nya saja.Papa Fraya, Eric Moore, berjalan mendekat. Tangannya yang besar meremas kedua bahu Fraya, berusaha menyalurkan kekuatan supaya put
Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini? Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu
Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah. Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang
Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis. Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tanda
"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak. Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau







