Home / Romansa / Milford Hall: His Sweet Obsession / Beneath The Prince's Mask

Share

Beneath The Prince's Mask

Author: Juno Bug
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-16 15:24:28

​Sesi belajar di pinggir lapangan baseball yang awalnya direncanakan berlangsung formal, lama-lama berubah menjadi medan pertempuran ego yang dibumbui dengan tawa tertahan.

Sore itu, udara terasa lebih dingin, membuat ujung hidung Fraya memerah—pemandangan yang menurut Damian jauh lebih menarik daripada buku teks Grammatik di depan mereka.

​"Fraya, kamu baru saja menggunakan kata kerja 'essen' untuk menjelaskan subjek yang meninggal. Kamu mau bilang dia makan atau dia mati?" Damian berkomentar sambil menahan senyum, jarinya menunjuk baris tulisan Fraya yang berantakan.

​Fraya mengerang frustrasi, menjatuhkan pulpennya. "Hurufnya hampir mirip! Kenapa bahasa ini harus punya kata yang serumit ini hanya untuk hal-hal sederhana? Di Indonesia, makan ya makan. Mati ya mati. Titik!"

​Damian terkekeh, tubuhnya condong ke depan, mendekat ke arah Fraya hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum cedarwood dan citrus yang maskulin.

"Makanya, Dokter Bedah masa depan, kamu harus teliti. Bayangkan kalau nanti di ruang operasi kamu salah sebut istilah. Bukannya membedah, kamu malah minta camilan."

​Fraya melotot, mencoba memberikan tatapan mematikan yang biasanya berhasil membuat orang ciut. Namun bagi Damian, tatapan itu justru terlihat menggemaskan.

​"Berhenti mengejekku, Harding. Fokus!" gertak Fraya.

​"Aku sangat fokus, Fraya. Fokus melihat bagaimana alis kananmu naik setiap kali kamu bingung. And that was.. really informatif," goda Damian dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Fraya meremang diam-diam.

​"Kamu benar-benar menyebalkan," gumam Fraya, wajahnya memanas. Ia segera menunduk, pura-pura sangat sibuk dengan kamusnya. "Cepat, ajarkan aku Dativ dan Akkusativ. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum aku benar-benar melempar kamus ini ke kepalamu."

​"Galak sekali. But i like challenging," Damian menyeringai, matanya tidak lepas dari wajah Fraya yang sedang tersipu.

​Keesokan harinya, Fraya sedang berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan beberapa referensi medis ketika ia melewati lorong belakang gedung sains yang biasanya sepi.

Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan rendah dari balik pilar.

​Ia mengintip perlahan dan tertegun.

​Di sana, Damian—si pangeran sombong yang kemarin baru saja menggodanya habis-habisan—sedang berjongkok di depan seorang murid kelas sepuluh yang tampak gemetar.

Murid itu, seorang anak laki-laki berkacamata tebal, sepertinya baru saja menjadi korban perundungan. Bukunya berserakan di lantai, dan kacamata kirinya retak.

​Fraya bersiap untuk melihat Damian melontarkan hinaan atau sekadar berlalu dengan angkuh. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

​Damian memungut buku-buku yang berserakan dengan tenang. Ia membersihkan debu dari sampul buku itu sebelum menyerahkannya kembali pada anak itu.

​"Siapa yang melakukannya?" tanya Damian. Suaranya tidak dingin seperti biasanya, melainkan berat dan penuh wibawa.

​"Hanya... anak-anak tim rugby, Kak," jawab anak itu pelan.

​Damian mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada anak itu untuk mengusap wajahnya yang kotor.

"Pakai ini. Dan dengar, kalau mereka mengganggumu lagi, katakan saja kamu sedang mengerjakan tugas khusus untukku. Mereka tidak akan berani menyentuhmu."

​Anak itu menatap Damian dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Kak Damian."

​"Pergilah ke ruang kesehatan. Bilang pada perawat aku yang menyuruhmu," tambah Damian sambil menepuk pundak anak itu.

​Fraya terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sisi Damian yang ini—sisi yang peduli dan melindungi tanpa ada kamera atau penonton—sama sekali tidak cocok dengan cerita "cowok brengsek" yang beredar di sekolah.

​Saat Damian berdiri dan berbalik, ia menyadari keberadaan Fraya. Untuk sesaat, wajah Damian tampak kaku, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan. Namun, dengan cepat ia menguasai diri dan kembali memasang wajah datar andalannya.

​Ia berjalan menghampiri Fraya yang masih mematung.

​"Mengintai orang lain bukan hobi yang bagus untuk calon dokter bedah, Fraya," ucap Damian sambil melintas di sampingnya.

​Fraya menoleh, menatap punggung Damian yang menjauh. "Ternyata kamu tidak seburuk yang terlihat, ya?" seru Fraya pelan.

​Damian berhenti melangkah, namun tidak berbalik. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka ada sampah yang mengotori area sekolahku. Itu saja."

​Fraya tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini benar-benar tulus.

"Terserah apa katamu, Harding. Tapi sapu tangan itu... sangat tidak 'brengsek' untuk ukuranmu."

​Damian terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tak terlihat oleh Fraya, sebelum ia melanjutkan langkahnya dengan keangkuhan yang kini terasa seperti sebuah topeng di mata Fraya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Sweet of Secrecy

    Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sealed With a Promise

    ​"Apa-apaan sih ini!"​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Abyss of Fear

    Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.​Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.​Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Shower's Dirty Secret

    Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.​Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.​"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Steam and Sin

    Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.​"Mr. Moore, silakan

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   London, Lights and Lies

    Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.​Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.​"Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."​Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   White Dress, Dark Knight, and Intoxicated Kiss

    Damian membalikkan badan saat pintu kaca balkon berderit pelan, menampakkan sosok Axel Rosewood yang berdiri santai dengan sebelah tangan di saku, memancarkan aura aristokrat yang selalu berhasil memicu kekesalan Damian.​"Want one?" Axel menyodorkan sebatang rokok dari saku celana linen nya ke ara

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Fatal Obsession

    Dentuman musik techno yang menggema dari pengeras suara kelas atas di kediaman Hastings terasa seperti detak jantung pesta malam itu. Di bawah pendar lampu disko yang berputar liar, suasana aula terasa pekat oleh aroma parfum mahal, uap alkohol, dan sisa-sisa asap ganja yang tipis berterbangan di

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Kings, Queens, and Outsiders

    "Party in my house?"​Selembar flyer mendarat persis di depan wajah Fraya, menghalangi pandangannya sesaat setelah ia menutup pintu loker dengan dentum logam yang terdengar keras.Aroma kertas baru dan tinta mahal langsung tercium, jenis kemewahan yang bahkan merambah hingga ke urusan alat tulis di

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Traces of the Past, Shadows of the Future

    "Dia sangat cantik, ya?"​Damian terperanjat. Ia mendapati Freddie entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, memecah fokus Damian yang sejak tadi terkunci pada satu objek. Senyum di bibir tuanya yang mulai keriput itu tersungging jahil, sebuah ekspresi yang praktis membuat Damian mendadak sal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status