LOGINLouis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya."Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman
Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya."Mr. Moore, silakan
Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya."Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak
"Mr. Harding, apakah benar wafatnya Nyonya Arnelia Harding akan menjadi hantaman fatal yang melumpuhkan seluruh roda perputaran bisnis Harding Global?""Mr. Harding, apa sebenarnya pemicu di balik kematian mendadak Nyonya Arnelia? Apakah ada spekulasi medis yang sengaja ditutup-tutupi dari publik?""Mr. Harding, bagaimana skenario masa depan jika nantinya putra Anda, Damian Nicholas Harding, harus mengambil alih jaringan raksasa Harding Global di seluruh dunia dalam usia sedini ini? Apakah dia sudah cukup layak untuk memegang kendali?""Mr. Harding...""Mr. Harding...""Mr. Harding..."Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam udara seperti peluru panas yang tak kenal ampun, berebut ruang dengan jutaan kilat lampu kamera wartawan yang mengerumuni pelataran gerbang pemakaman sore itu. Di tengah hiruk-pikuk yang nihil empati tersebut, Nicholas hanya mampu menundukkan kepala sedalam mungkin. Ia berusaha sekuat tenaga menghindari kerumunan wartawan yang seakan tanpa henti menggencat tubuh
Fraya menutup pintu mobil di belakang tubuhnya, atau lebih tepatnya, membantingnya dengan cukup keras hingga dentumannya sanggup membuat Papa yang sedang duduk di balik kemudi tersentak kaget. "You okay, Honey?" Papa berseru dari balik kaca yang setengah terbuka. Fraya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak keruan. Ia membalikkan badan, merendahkan tubuhnya agar bisa menatap Papa langsung ke dalam mobil. "Pa, Papa mau tidak, kalau hari ini Fraya ajak bolos?" Fraya tahu pertanyaannya barusan terdengar sangat tidak masuk akal. Apalagi keluar dari bibir seorang Fraya Alexandrea yang biasanya sangat patuh pada jadwal. Papa menaikkan kedua alisnya bersamaan, seolah sedang mencerna apakah anaknya baru saja kesurupan, lalu seketika meledak dalam tawa yang memenuhi kabin mobil. "Kok Papa malah ketawa sih!" Fraya merengek kesal, tangannya mencengkeram pinggiran pintu mobil. "Damian kali ini berulah apa lagi sampai bikin kamu jadi malas masuk
Fraya menatap pantulan dirinya di depan cermin besar itu, sedikit mengernyit. Ada perasaan ganjil yang merayap saat ia melihat sosok di sana.Seorang gadis yang tampak... kelewat berdandan.Baginya, definisi cantik biasanya cukup dengan kuncir kuda praktis dan sapuan bedak tipis, namun sosok di cermin ini seolah baru saja keluar dari sampul majalah mode yang tidak sengaja terdampar di kamar Damian.Ia menggigit bibir bawahnya, memutar badan perlahan untuk memastikan setiap sudut penampilannya yang kini terasa asing. Rambut yang biasanya ia ikat rapi kini dibiarkan terurai bebas, jatuh membingkai wajahnya dalam gelombang yang lembut.Matanya berpendar lagi ke arah jajaran kosmetik mahal dan ber merk terkenal di atas meja kamar mandi, alat-alat make up yang disiapkan pelayan Damian setelah ia selesai mandi tadi.Fraya tidak tahu sudah berapa jam ia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Sebenarnya bukan untuk merias diri, melainkan karena ia belum siap menampakkan wajah di depan pr







