LOGINBagi Damian Nicholas Harding, hidup adalah tentang kesempurnaan yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma.
Di usianya yang kedelapan belas, ia memiliki segalanya: tubuh tegap menjulang, rahang yang seolah dipahat oleh seniman Yunani, hidung mancung sempurna, dan sepasang mata sebiru samudra yang sanggup mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Di dunia ini, orang kaya ada sebanyak bintang di langit. Namun, Damian bukan sekadar "orang kaya". Keluarganya adalah penguasa; tangan-tangan mereka menggenggam setengah dari populasi bumi melalui imperium teknologi, alat kesehatan global, hingga lini fashion mewah yang namanya selalu bergema di panggung Eropa. Di Milford Hall, nama Damian bukan sekadar nama—itu adalah sebuah kasta. Pemandangan gadis-gadis yang mendadak lemas atau bahkan mimisan saat berpapasan dengannya sudah menjadi "menu sarapan" sehari-hari. Teriakan histeris yang mengiringi langkah angkuhnya di lorong sekolah tak ubahnya melodi wajib yang selalu menemaninya. Namun, Damian bukan tipe cowok sok dingin yang menutup diri. Ia menerima semua pemujaan itu dengan senyum ramah yang dibalut keangkuhan khas seorang pewaris takhta. Ia adalah pusat gravitasi. Fisiknya yang sempurna dan latar belakang aristokratnya membuat Damian terasa nyata, namun mustahil untuk digapai. Seperti lukisan Mona Lisa di balik kaca antigeluru: dikagumi jutaan orang, tapi tak boleh disentuh. Soal wanita? Damian adalah masternya. Ia bisa mendapatkan siapa pun tanpa perlu label "status". Ia tidak punya batasan, selama mereka cantik dan seksi. Namun, ada satu aturan mutlak dalam kamusnya: Tidak ada kata pacaran. Jangan pernah meminta kejelasan, atau kamu akan tereliminasi dari dunianya. Namun, hari itu di kelas Mrs. Witherspoon, benteng pertahanan Damian mendadak retak. Ia mendapati dirinya termenung lebih lama dari biasanya saat seorang murid baru melenggang masuk. Gadis Asia dengan rambut hitam legam yang jatuh nyaris sepinggang. Cara gadis itu menyibakkan rambutnya—menciptakan helaian berantakan yang entah bagaimana justru terlihat sangat menawan—membuat napas Damian tertahan sejenak. Kulitnya yang seputih gading tampak sehat dan mulus, kontras dengan seragam gelap Milford. Damian bahkan lupa caranya berkedip saat gadis itu menyunggingkan senyum tulus, meski Axel baru saja melontarkan godaan murahan yang membuat kelas riuh. Senyum itu... Damian tidak bisa melepaskan pandangannya saat gadis itu melintas di sampingnya menuju bangku belakang, tepat di belakang Louis Partridge. Fraya Alexandrea. Nama yang cantik, pikir Damian. Ia sudah sering mendengar nama Freya atau Alexandra, tapi perpaduan keduanya terasa baru dan memikat. Namun, kejutan sebenarnya terjadi saat Fraya tanpa sengaja membalas tatapannya. Gadis itu menatapnya sekilas, lalu berpaling begitu saja. Damian tertegun. Untuk pertama kalinya, ia dipandang seperti orang biasa. Tidak ada binar memuja, tidak ada rona merah di pipi, tidak ada reaksi apa pun. Dan untuk pertama kalinya pula, rasa penasaran yang asing mulai merayap di hati Damian tanpa permisi. Dua minggu berlalu, dan Damian berubah menjadi pengintai rahasia. Fokusnya pada Fraya terkadang melewati batas wajar. Ia pernah menabrak pintu loker yang terbuka karena matanya sibuk mencari sosok gadis itu di kerumunan. Bahkan saat latihan Lacrosse, instruksi yang tengah ia berikan pada timnya menguap begitu saja saat melihat Fraya berada di lapangan sebelah untuk jam olahraga. Anehnya, teman-temannya yang berisik tidak ada yang menyadari alasan di balik sikap linglung Damian. Demi menjaga harga diri yang setinggi langit, Damian lebih memilih menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Bisa habis dia jadi bahan olok-olok jika ketahuan sedang terobsesi pada si anak baru. Tepat di hari ke-15, Damian akhirnya mengetahui satu hal—setelah dengan sedikit tak tahu malu menyuruh informan pribadinya mencari tahu: Fraya yang jenius itu ternyata memiliki kelemahan. Dia payah dalam pelajaran bahasa Jerman. Di Mildford, menguasai bahasa Jerman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan surat rekomendasi ke universitas impian. Dan Damian tahu, Oxford adalah harga mati bagi Fraya. Kepala Damian berdenyut. Kenapa dia harus peduli sejauh ini? Dia tidak mungkin naksir gadis yang bahkan belum pernah dia ajak bicara, kan? "Vodka atau gin?" Suara Axel membuyarkan lamunan Damian. Mereka kini berada di sebuah bar eksklusif, tempat biasa mereka menghabiskan waktu. "Vodka sounds interesting," sahut Damian malas, matanya masih terpejam sembari menyandarkan kepala di dinding bar yang dingin. "Louis sepertinya lagi berbunga-bunga, tuh. He's finally has his own target in Advanced class," seru Russo, teman blasteran Italianya, menggoda Louis. Damian spontan membuka mata dan menegakkan punggung. Louis hanya cengar-cengir salah tingkah. "We're just friends. Dont be so exaggerating," bela Louis singkat. Axel muncul membawa gelas vodka, menyerahkannya pada Damian. "Si cewek Asia itu, ya? Kamu mau 'menjajalnya' dulu?" Istilah "menjajal" yang meluncur sembarangan dari bibir Axel seketika menghapus senyum di wajah Louis. "Mind your language!" gertak Louis jengkel. "Huuu, ada yang marah! Dude, she’s not even your girlfriend yet!" balas Axel dengan nada mengejek. Damian melirik Axel dengan sisa kejengkelan yang mulai membara. Ada dorongan kuat untuk melempar gelas di tangannya tepat ke wajah Axel. Temannya yang satu ini memang dikenal kasar dan sering menganggap wanita sebagai mainan, meski entah kenapa masih banyak yang mau mengantre di ranjangnya. Damian baru saja menenggak vodkanya hingga tandas saat pintu bar terbuka dengan kasar. Suaranya begitu heboh hingga menarik perhatian seisi ruangan. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Fraya, yang Damian sudah sangat yakin kalau sampai detik ini cewek Asia itu belum tahu juga siapa Damian ini di Mildford, Damian terus berandai-andai kapan ia punya keberanian untuk menyapa. Mendekati gadis duluan adalah hal yang tidak pernah ada dalam kamus sejarah hidupnya. Namun hari ini, Fraya muncul di hadapannya lebih cepat dari dugaan. Bukan dengan senyum tulus yang Damian dambakan, melainkan dengan kilat murka di matanya. Gadis itu melangkah cepat, menenteng segelas kopi hangat, dan dalam satu gerakan yang membuat semua orang membeku, ia menyiramkan isinya tepat ke atas kepala Axel. "You really deserve this, Idiot!" desis Fraya tajam. Ruangan itu mendadak hening. Dan Damian? Ia hanya bisa melongo, menatap gadis yang baru saja meruntuhkan dominasi teman-temannya dengan satu siraman kopi.Damian nyaris membanting pintu ruang rekreasi saat ia melangkah masuk dengan napas memburu. Kedua tangannya mendekap erat tubuh Fraya, seolah-olah gadis itu adalah sesuatu yang sangat berharga sekaligus rapuh yang harus ia lindungi dari seluruh dunia.Setelah mendudukkan Fraya dengan sangat hati-hati di atas sofa ruang rekreasi, Damian segera berlutut tepat di hadapan gadis itu.Fraya sejak tadi hanya bisa menunduk. Rasa panas akibat tamparan Alana di pipinya masih terasa begitu menyengat, berdenyut menyakitkan. Fraya yakin, bekas jemari Alana masih meninggalkan jejak merah yang sangat jelas di kulit pipinya yang putih bersih.Damian mendongak, berusaha mencari sepasang mata Fraya dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran.“Baby, look at me…”Fraya berdecak sambil menepis jemari Damian yang hendak menyentuh dagunya, “I told you for hundred times, stop calling me that.”Damian terdiam, namun ia tidak membantah. Tangannya yang sempat terangkat untuk memaksa Fraya agar menatapn
Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k
"Apa-apaan sih ini!"Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se
Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray
Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya."Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman
Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya."Mr. Moore, silakan
Pertandingan akbar Lacrosse antara tim Milford Hall dan Eastwood High akhirnya tiba pada puncak musim gugur. Udara London mulai menggigit, namun atmosfer di lapangan hijau itu justru mendidih. Aroma rumput basah bercampur dengan keringat dan adrenalin, menciptakan sensasi yang hanya bisa dirasakan
Sesi belajar di pinggir lapangan baseball yang awalnya direncanakan berlangsung formal, lama-lama berubah menjadi medan pertempuran ego yang dibumbui dengan tawa tertahan. Sore itu, udara terasa lebih dingin, membuat ujung hidung Fraya memerah—pemandangan yang menurut Damian jauh lebih menarik da
Jumat sore kembali menyapa dengan langit yang sedikit mendung, memberikan nuansa abu-abu yang tenang di atas lapangan baseball Mildford Hall. Fraya sudah duduk lebih dulu di bangku kayu yang sama, namun kali ini tidak ada aksi melempar kamus. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya sambil sesekali
Senin pagi di Milford Hall selalu dimulai dengan kesibukan yang membosankan. Namun bagi Damian, Senin ini terasa aneh. Sejak turun dari mobilnya, matanya secara tidak sadar memindai kerumunan murid di gerbang depan, mencari sosok dengan rambut hitam legam yang selalu terlihat ingin berdebat dengann







