Masuk"Aku tidak punya keluarga. Hanya Kang Angga satu-satunya keluargaku."
"Dia mengaku sebagai pamanmu." Kening Fauzia mengerut. Masih belum ada gambaran siapa yang sudah mengaku sebagai Pamannya. Setahunya sang ayah tidak memiliki saudara, begitu pula dengan Ibunya. Suara petugas membuyarkan lamunannya, mengajak wanita itu segera menuju ruangan yang diperuntukkan bagi tahanan untuk bertemu dengan penjenguknya. Ketika pintu ruangan terbuka, nampak dua pria tengah duduk menunggunya. Ini pertama kalinya Fauzia bertemu dengan kedua pria itu. Pelan-pelan Fauzia mendekati meja lalu menarik kursi di depannya. Matanya masih belum lepas dari dua orang di hadapannya. "Kalian siapa?" tanya Fauzia setelah cukup lama mereka terdiam. "Aku Pamanmu, namaku Daffa." Salah satu pria menjawab pertanyaan Fauzia. Dipandanginya wajah pria yang mengaku sebagai Pamannya. Usianya belum terlalu tua. Mungkin hanya berbeda lima sampai enam tahun saja dengannya. "Aku tidak punya keluarga lagi setelah kedua orang tuaku meninggal. Aku juga tidak mengenalmu. Kenapa kamu mengaku sebagai Pamanku?" "Yang terpenting bukan itu sekarang, tapi masalahmu," balas Daffa. "Kenalkan ini Pak Krishna, dia adalah pengacara yang kusiapkan untuk membelamu." Kini pandangan Fauzia tertuju pada pria di sebelah Daffa. Pria bernama Krishna itu terlihat lebih tua. Sebagian rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban dan ada kacamata menghiasi wajahnya. Wajahnya terlihat ramah dan tenang, berbeda dengan Daffa yang nampak dingin. "Nama saya Krishna, mulai saat ini saya yang akan menjadi pengacara mu. Bisakah kamu menceritakan semuanya? Kenapa anda sampai dituduh membunuh suami anda sendiri? Dan tolong ceritakan dengan jujur agar saya bisa menolong anda." "Apa benar kamu sudah berselingkuh dan membunuh suamimu sendiri?" "Ngga! Itu ngga benar! Aku tidak berselingkuh dan aku tidak membunuh suamiku!" "Polisi tidak akan asal menahan orang tanpa bukti dan saksi. Apa ada hal yang bisa membuktikan kalau kamu tidak melakukan itu semua?" Fauzia langsung terdiam mendengar pertanyaan Daffa. Setiap mengingat kepergian Angga dengan cara yang tragis, Fauzia tidak pernah bisa menahan airmatanya. Dia juga tidak bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Semua bukti dan saksi menunjuknya sebagai pelaku pembunuhan. Daffa hanya berdecak saja melihat Fauzia yang malah menangis. Krishna mengeluarkan tisu dari dalam tas kerjanya lalu memberikannya pada wanita di hadapannya. Pria itu juga mengeluarkan alat perekam digital lalu menaruhnya di meja. "Tenangkan diri anda. Sekarang ceritakan apa yang sudah terjadi. Ceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal, supaya saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk membela anda." Fauzia menghapus airmatanya dengan tisu lalu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara terbata, dia mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan suaminya. Semua peristiwa aneh dimulai ketika ada pegawai baru di koperasi yang bernama Andika. Pria itu dengan terang-terangan mengakui perasaan sukanya padanya dan sering membuat trik seolah-olah ada hubungan antara dirinya dan Andika. "Malam sebelum suamiku meninggal, aku masih berbincang dengannya. Dia bahkan memberikanku kalung. Kami membicarakan soal masa depan. Karena aku dan suami belum dikaruniai anak, kami bermaksud melakukan promil." Dengan sabar Krisha dan Daffa mendengarkan cerita Fauzia. Alat perekam juga masih menyala. Menyimpan percakapan mereka. "Saat kami akan tidur, tetangga kamu datang. Namanya Bu Kokom. Dia datang membawakan bandrex untuk kami. Tidak lama setelah kami menghabiskan bandrex, tiba-tiba saja aku merasa mengantuk. Aku tidur lebih dulu sementara Kang Angga memeriksa pintu dan menguncinya. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Tidurku begitu nyenyak. Hingga pagi harinya aku terbangun ketika mendengar suara Bu Kokom memanggilku. Saat aku bangun, di tangan dan pakaian yang kukenakan terdapat noda darah yang sudah mengering. Aku benar-benar tidak tahu saat itu kalau itu adalah darah Kang Angga." Kembali Fauzia terisak. Krishna dan Daffa saling berpandangan. Setelah keadaannya sedikit tenang, Fauzia melanjutkan ceritanya. Saat malam menjelang, Angga masih belum kembali ke rumah, Fauzia pun berinisiatif mencarinya. Saat itulah ditemukan jasad Angga terkubur di kebun pisang milik tetangganya. Polisi datang dan mulai menggeledah rumah. Sebuah pisau terkubur di halaman belakang. Di pisau tersebut terdapat noda darah dan juga sidik jari Fauzia. "Aku berani sumpah, bukan aku yang membunuh Kang Angga. Aku sangat mencintainya, tidak mungkin aku membunuhnya. Dia adalah keluargaku satu-satunya." "Pakaian anda yang berlumuran darah, anda kemanakan?" "Karena panik, aku menyembunyikan di laci lemari pakaianku. Ketika para tetangga berkumpul, entah bagaimana Bu Kokom menemukan pakaian itu." "Bagaimana cara dia menemukan pakaian itu?" tanya Daffa. "Aku tidak tahu karena aku tidak terlalu memperhatikan. Sejak datang sikapnya memang mencurigakan. Aku merasa dia seolah tahu apa yang kusembunyikan." "Lalu Andika, apa anda tahu dia di mana?" "Tidak. Sebelum suamiku ditemukan tidak bernyawa, dia sudah pergi dari sana. Pria itu juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Aku yakin sekali kalau Andika yang sudah membunuh suamiku. Tapi aku tidak punya buktinya." "Apa anda punya teman atau siapa saya yang bisa mendukung pernyataan anda?" "Teh Murni. Dia rekanku di kantor. Dia tahu permasalahan ku dengan Andika." "Ada informasi lain yang bisa anda katakan soal Andika. Mungkin aja dia mengatakan pada anda di mana dia tinggal, di mana rumah orang tuanya." "Tidak. Aku selalu menjauh saat dia ingin mengakrabkan diri dehganku. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya." "Baiklah. Untuk sekarang cukup sampai di sini. Saya akan menggali lagi lebih dalam tentang kasus ini dan mencari celah agar bisa membuat anda dibebaskan." "Terima kasih." Krishna mematikan alat perekam lalu memasukkan kembali ke dalam tasnya. Fauzia melihat pada Daffa. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Sebenarnya ada yang ingin ditanyakan pada pria itu. Tapi melihat wajah dingin Daffa, membuat Fauzia ragu. "Saya akan menemui anda lagi nanti." Kedua pria itu segera bangun dari duduknya. Saat hampir mendekati pintu, terdengar suara Fauzia. Dengan mengumpulkan keberaniannya, dia bertanya pada Daffa. "Apa benar anda Paman saya?" Sadar pertanyaan Fauzia ditujukan padanya, Daffa membalikkan badannya. Matanya menatap lurus pada Fauzia namun bibirnya masih terkatup rapat. "Anda Pamanku dari pihak mana? Papaku atau Mamaku? Maaf aku sama sekali tidak tahu kalau masih memiliki paman. Kedua orang tuaku tidak mencerikana apa pun padaku." "Tunggu sampai kasusmu menemui titik terang, aku akan menceritakan semuanya padamu. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan berbuat bodoh!" "Maksudmu bunuh diri? Sebelum aku mengetahui siapa orang yang sudah membunuh suamiku, aku tidak akan berbuat bodoh." "Baguslah." Daffa membalikkan tubuhnya lalu keluar dari ruangan bersama dengan Krishna. Seorang petugas masuk lalu membawa Fauzia kembali ke selnya. Selesai bertemu dengan Fauzia, Krishna tidak langsung meninggalkan kantor polisi. Lebih dulu dia berbicara dengan petugas yang menangani kasus Fauzia. Pria itu langsung memperkenalkan dirinya sebagai pengacara Fauzia. Sementara Daffa keluar dari kantor polisi. Dia bergabung dengan Reza dan Gunawan yang juga ikut dengannya. Keduanya sengaja tidak ikut masuk karena hanya dua orang saja yang diperbolehkan menemui Fauzia. "Bagaimana? Apa kamu bisa membebaskan Fauzia?" tanya Reza tak sabar. "Agak sulit. Semua bukti dan keterangan saksi mengarah padanya." "Apa kalian merekam keterangan Fauzia?" tanya Gunawan. "Sudah. Rekamannya ada pada Pak Krishna. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan Andika. Dia saksi utama kasus ini. Fauzia mencurigai kalau pria itu yang sudah membunuh Angga. Oh ya, Bapak bisa memulai dengan bertemu dengan Bu Kokom. Wanita itu terlihat mencurigakan." Percakapan ketiganya terhenti ketika Krishna keluar dari kantor polisi. Pria bersahaja itu segera mendekati Daffa dan yang lain. "Bagaimana? Apa Fauzia bisa dilepaskan dengan jaminan?" tanya Reza. "Tidak bisa. Saat ini Fauzia masih menjadi tersangka utama. Dari semua bukti yang ditemukan di TKP, ada satu yang memberatkannya, yakni pisau yang terdapat sidik jarinya. Pisau itu diyakini sebagai senjata pembunuhan Angga karena terdapat darah Angga di sana." "Tapi semua yang ditemukan dirasa begitu kebetulan. Kalau benar Fauzia yang membunuh Angga, untuk apa dia menyimpan pakaian penuh darah di dalam kamar. Begitu senjata pembunuhan. Lebih baik dibuang ke tempat yang jauh." Daffa mengemukakan analisanya. Krishna menyetujui apa yang disampaikan pria itu. Banyak keganjilan yang dirasakan dari kasus ini. Polisi yang menangani kasus ini juga mengatakan hal sama. Tapi mereka sedang diburu waktu untuk menyelidiki kasus ini. Orang tua Angga meminta mereka secepatnya menjebloskan pembunuh anaknya ke penjara. "Lebih baik kita mulai bekerja sekarang. Pak Gunawan, bisakah Bapak mengerahkan anak buah Bapak untuk mencari keberadaan Andika?" "Bisa. Apa ada foto laki-laki itu?" Krishna mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto Andika yang didapatnya dari petugas polisi. Pria itu lalu mengirimkan foto tersebut pada ponsel Gunawan. Krishna juga menyerahkan hasil rekaman suara Fauzia. "Saya akan menemui Ibu Kokom. Perempuan itu terlihat mencurigakan," ujar Krishna. Gunawan bergegas menuju mobilnya sambil menghubungi dua anak buahnya. Krishna langsung berpamitan pada Daffa. Dia akan menuju desa Banjarsari untuk bertemu dengan Kokom dan Murni. "Kamu mau kemana?" Daffa melihat pada Reza. "Aku mau ke rumah sakit. Papa masih belum tersadar dari komanya. Aku mau menungguinya." "Baiklah. Kamu tidak usah ke kantor dulu. Urus saja dulu Om Faisal." Dengan menggunakan kendaraan masing-masing, Daffa dan Gunawan segera meninggalkan pelataran parkir kantor polisi. Kedua mobil itu mengambil arah yang berbeda setelah melewati lampu merah. *** Fauzia duduk melamun di dalam selnya. Kedatangan Daffa seolah memberikan angin segar untuknya. Semoga saja Krishna bisa menemukan Andika dan membebaskannya dari sini. Selain itu, Fauzia masih penasaran dengan sosok Daffa. Tiba-tiba saja pria itu muncul dan mengaku sebagai Pamannya. Lamunan Fauzia terhenti ketika rambutnya ditarik oleh seseorang. Dua orang penghuni sel lainnya mendekatinya. Salah satunya menarik rambutnya sampai kepalanya terdongak. "Apa yang kamu lakukan?" "Heh pembunuh! Aku tidak suka melihat wajah jelekmu itu!" "Aku juga tidak suka melihat wajahmu!" balas Fauzia. Apa yang dikatakan Fauzia sontak membuat wanita itu berang. Namun Fauzia tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Dia sudah muak terus menerus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari rekan satu selnya. Fauzia menarik tangan wanita bertubuh bongsor itu ke dekat mulutnya lalu menggigitnya. "Aaaaa!" Jambakan wanita itu di rambut Fauzia langsung terlepas. Temannya yang satu langsung membantu dengan memberikan tamparan di pipi Fauzia. Tak terima mendapat tamparan, Fauzia berdiri lalu menyerang wanita itu. Pergumulan tiga wanita langsung terjadi. Petugas segera datang untuk memisahkan mereka. "Jangan membuat keributan! Kamu! ikut saya!'' Fauzia berdiri lalu mengikuti petugas itu. Fauzia dipindahkan ke sel sebelah yang kosong. Wanita itu masuk lalu duduk di pojokan sambil memeluk lututnya. *** Krishna sudah tiba di Desa Banjarsari. Orang yang pertama ditemuinya adalah Murni. Dia ingin mencocokkan cerita Fauzia dengan wanita itu. Apa yang dikatakan Fauzia dibenarkan oleh Murni. Wanita itu juga mencurigai Andika ada di balik kematian Angga. "Rumah Ibu Kokom di mana?" "Tidak jauh dari rumah Uzi. Mari saya antar." Murni mengantar Krishna menuju rumah Kokom. Rumah milik janda anak dia itu terlihat sepi. Krishna mempersoalkan Murni untuk pulang, dia sendiri yang akan menemui Kokom. Tak lama setelah Murni pergi, Kokom keluar membukakan pintu. "Selamat siang. Dengan Ibu Kokom?" "Iya benar." "Perkenalkan saya Krishna," pria itu mengeluarkan kartu namanya lalu memberikannya pada Kokom. "Saya adalah pengacara dari Ibu Fauzia." "Pengacara? Uzi punya uang darimana menyewa pengacara?" gumam Kokom pelan namun masih bisa tertangkap oleh telinga Krishna. Kokom menilai penampilan Krishna. Pakaian yang dikenakan pria itu terlihat mahal. Belum lagi jam tangan merk ternama yang melingkar di pergelangan tangannya. Pasti Krishna bukanlah pengacara sembarangan. "Apa Ibu punya waktu untuk berbicara? Ada hal yang ingin saya tanyakan pada Ibu." Walau enggan, akhirnya Kokom mempersilakan Krishna untuk masuk. Pria itu langsung bertanya tentang hubungan rumah tangga Angga dan Fauzia dan juga hubungan Andika dengan Fauzia. Keterangan yang diberikan Kokom berbeda dengan yang diberikan oleh Murni. "Uzi itu perempuan tidak tahu diri. Angga itu suami yang baik, malah diselingkuhi. Bukan cuma itu saja, dia sudah membunuh suaminya sendiri." "Bagaimana Ibu bisa yakin kalau Ibu Fauzia yang membunuh Bapak Angga? Polisi saja masih menyelidiki kasusnya sampai sekarang." "Semua bukti sudah jelas mengarah padanya. Pisau yang dipakai membunuh Angga ditemukan di belakang rumahnya. Belum lagi pakaian Uzi yang penuh darah ditemukan di kamarnya Uzi." "Saya dengar Ibu yang menemukan pakaian itu." "Iya," jawab Kokom bangga. "Bagaimana Ibu bisa tahu Ibu Fauzia menyembunyikan pakaian yang berlumuran darah di kamarnya?"Mata Fauzia dan Daffa terus melihat pada monitor di depan mereka? Keduanya telinga mereka terus mendengarkan apa yang dikatakan dokter kandungan. Upaya pasangan suami istri itu mengikuti program kehamilan membuahkan hasil. Sekarang Fauzia sedang mengandung buah hati pertamanya. Usia kehamilan Fauzia sekarang sudah memasuki usia lima bulan. "Sejauh ini kondisi janinnya sehat. Air ketubannya juga cukup. Pertumbuhan janinnya juga berjalan normal." Terang sang dokter kandungan setelah memeriksa kehamilan Fauzia menggunakan USG. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di meja kerja sang dokter. "Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Daffa. Pria itu sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak pertamanya. Dokter wanita itu hanya mengulum senyum saja. Mengetahui jenis kelamin anak yang masih dalam kandungan memang sering ditanyakan pasangan yang kontrol kandungan padanya. "In Syaa Allah kalau tidak ada kesalahan, anak Bapak dan Ibu laki-laki." "Alhamdulillah." Kalima
"Ananda Muhammad Syahreza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Keyla Salsabila dengan mas kawin sebuah vila senilai 1 milyar rupiah dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Keyla Salsabila binti Egi Sudjana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana saksi?" "Sah!" Baik Reza maupun Ayah dari Keyla sama-sama mengucap syukur. Ijab kabul berhasil dilakukan tanpa hambatan. Reza menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki. Keyla yang terbalut kebaya warna putih gading berjalan mendekatinya didampingi oleh Ibunda tercinta dan Murni. Kedua wanita itu mengantarkan Keyla sampai ke dekat meja akad. Reza bangun dari duduknya kemudian menyambut kedatangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Pria itu membantu Keyla duduk di sebelahnya. "Silakan dipasangkan cincin pernikahannya," ujar sang penghulu. Sebuah kotak beludru diberikan oleh Daffa. Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Kedua pengantin memasangkan cincin ke jari masing-mas
Usai menemui Imron, Salim tidak langsung pulang. Pria itu lebih dulu menemui Rafi yang juga ditahan di lapas yang sama. Walau Rafi sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarganya, namun Salim merasa harus memberitahu kabar kematian Anita. Bagaimana pun juga Rafi pernah menjadi bagian keluarga mereka selama dua puluh tahun lebih. Mata Salim memandangi Rafi yang baru saja memasuki ruangan. Wajah pria itu nampak kuyu, tubuhnya juga lebih kurus dan rahangnya sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Dia menarik sebuah kursi di depan Salim. "Bagaimana kabar mu, Rafi?" "Seperti yang Papa lihat." Sebisa mungkin Rafi menghindari tatapan mata Salim, pria yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan Papa. Namun belakangan dia baru tahu kalau dirinya adalah anak haram dari Imron dan Anita. "Bersabarlah Rafi, jalani hukuman mu dengan tenang. Bertobatlah. Papa harap kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik sekeluarnya dari sini." Kepala Rafi terangkat. Sungguh pria itu tidak
Di sebuah kamar sel lembaga pemasyarakatan, nampak Anita duduk di atas lantai dingin dengan punggung bersandar ke dinding di belakangnya.Wanita itu masih belum percaya kalau anak yang dikandungnya selama sembilan, ternyata bukanlah Rafi, melainkan Angga. Sungguh wanita itu tidak menyangka takdir akan mempermainkan dirinya sedemikian rupa. Siapa sangka Mita akan menukar bayinya demi membalaskan sakit hatinya.Airmata jatuh membasahi wajah Anita ketika mengingat semua perlakuan buruknya pada Angga hanya karena menganggap anak itu adalah buah hati dari Mita dan Salim.Sekali pun Anita tidak pernah menampilkan senyum di wajah untuk Angga. Yang ada hanya tatapan tajam dan penuh kebencian.Puncaknya ketika wanita itu memutuskan menghabisi nyawa Angga demi bisa mendapatkan harta Salim dan menyelamatkan posisi untuk Rafi. Bersama dengan Imron, keduanya merencanakan pembunuhan keji tanpa mereka tahu kalau orang yang hendak dihabisi adalah darah dagingnya sendiri.Anita memukuli dadanya bebe
"Selamat Om. Semoga rumah tangganya samawa dan pernikahan Om langgeng sampai maut memisahkan." Fauzia memeluk Pamannya. Wanita itu bahagia, akhirnya sang Paman mau mengakhiri masa lajangnya bersama sahabatnya. "Terima kasih, Uzi." "Selamat Teh, eh apa aku sekarang harus memanggil Tante?" goda Fauzia. Murni hanya mengulum senyum saja mendengar godaan Fauzia. Jika boleh, dia ingin tetap dipanggil dengan sebutan Teteh. Tapi mengingat statusnya sekarang, mungkin memang lebih cocok jika dipanggil dengan sebutan Tante. Daffa menghampiri Faisal kemudian memeluknya erat. Sejak kecil pria itu sudah mengenal Faisal. Pria yang selama ini selalu bertahan dalam kesendirian, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. "Cepat beri Zia adik sepupu," ujar Daffa sambil tersenyum. "Kamu saja dulu yang punya anak. Masa sudah beberapa bulan menikah, masih belum bisa membuat Uzi hamil." "Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Zia." "Alasan." Daffa hanya tertawa kecil. Dia memang masih ing
Sepasang insan masih asik melampiaskan kerinduan dengan melakukan percintaan. Suara deru nafas mereka terdengar bersahutan memenuhi seisi kamar. Peluh juga sudah membasahi tubuh keduanya. Daffa mengerang panjang ketika akhirnya pria itu sampai ke puncaknya. Dia mengeluarkan cukup banyak cairan kental yang sudah ditabungnya selama berada di Sidney. Sebuah kecupan diberikan Daffa di kening istrinya. Fauzia mengangkat tangannya kemudian membelai pipi suaminya dengan lembut. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Pelan-pelan Daffa menggulirkan tubuhnya ke samping. Ditariknya Fauzia ke dalam pelukannya. Beberapa kali kecupan didaratkan di bahu sang istri. "Bagaimana keadaan Reza?" "Bang Reza sepertinya masih belum menerima kalau dirinya anak Pak Salim. Pak Salim meminta Bang Reza tinggal di rumahnya dan membantu mengurus perusahaan. Tapi Bang Reza menolak." "Dia pasti masih terkejut dengan semua ini. Kita harus memberinya waktu." "Apa Mas mengijinkan kalau Bang Reza mau mengurus peru







