LOGINAlex doesn’t do complications, especially not the kind that come with a smoking hot, cocky, openly bi roommate who sleeps shirtless and looks like temptation personified. He’s straight and he has a girlfriend and sharing a dorm room with Seth Carter was never supposed to mean sharing anything else. But when one drunken mistake turns into an unforgettable night, the boundaries blur fast. Now Alex can’t stop thinking about the way Seth looks at him or the way he felt when Seth touched him like no one else ever has. Seth isn’t asking Alex to figure it all out. But he’s not about to play dirty little secret, either. And the more Alex tries to run from the truth, the more it hunts him down.
View MorePlak!
"Jadi, ini yang kamu lakukan di belakang aku, hah?! Kamu selingkuh?!"
Seorang gadis menampar lelaki yang ada di hadapannya seraya menangis tersedu-sedu. Mereka berada di sebuah mall, hingga kejadian itu ditonton banyak pengunjung lainnya.
Clara namanya, gadis lumpuh yang sedang jalan-jalan memakai kursi roda diantar oleh perawatnya itu tak menyangka akan menemukan kenyataan pahit mengenai kekasihnya.
Dari pendengaran Teguh yang sedang berjalan-jalan di mall tersebut, gadis cantik itu memarahi lelaki yang merupakan kekasihnya karena berselingkuh. Bahkan selingkuhannya juga ada di sana.
"Dia hanya temanku, Clara!" sanggah Tomi, sang kekasih. Dan membuat wanita yang berada di sampingnya ikut marah.
"Kamu menganggap aku teman? Dasar baj*ngan! Sia-sia aku membelikan kamu ini-itu kalau akhirnya kamu milih dia!" ucap Bella, selingkuhan Tomi.
Perempuan itu menunjuk-nunjuk wajah Tomi. Keributan pun semakin menjadi, karena kini percekcokan itu menjadi tiga arah. Antara Clara, Tomi, dan Bella. Bahkan Bella sampai mendorong Clara hingga gadis itu terjatuh dari kursi roda. Dan naasnya, Tomi hanya melihat saja tanpa mau menolongnya.
Melihat hal tersebut, Teguh yang ikut menonton pertujukan drama cinta segi tiga itupun langsung menolong Clara, sebab pengunjung lain malah sibuk merekamnya.
"Mari, saya bantu," tawar Teguh seraya mengulurkan tangannya.
Clara digendong oleh Teguh, sementara sang perawat memegang kursi rodanya. Clara yang masih menangis itu berterima kasih pada pemuda itu.
"Jadi laki-laki itu harus punya pendirian, jangan main belakang!" tegur Teguh pada Tomi yang langsung murka karena tak terima dihina.
"Berani, lo, ya, ngomong gitu sama gue!" bentak Tomi.
"Saya cuma menasehati. Daripada gadis secantik ini kamu sia-siakan, lebih baik saya bawa pulang!" kata Teguh sembari mendorong kursi roda Clara, dan perawatnya pun tanpa berkata apa-apa hanya mengikutinya.
Teguh membawa Clara ke parkiran, di mana motornya diparkirkan. Lalu, dia meminta maaf pada gadis itu karena sudah lancang membawanya padahal mereka tidak saling kenal.
"Saya hanya kasihan karena kamu ditonton bahkan direkam banyak orang. Kamu kan tidak salah, kamu korban, tapi kalau video sudah tersebar tetap saja nama kamu kebawa-bawa. Iya, kan?"
Clara menunduk, dia merasa malu karena ucapan Teguh benar. Gadis itu pun menangis lagi hingga membuat Teguh panik.
"Eh, kamu kenapa? Saya salah bicara, ya?" tanya Teguh menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku malu, seharusnya aku tidak menegur dia di tempat umum seperti tadi."
"Oh, saya kaget takutnya kamu nangis karena saya. Perkenalkan, nama saya Teguh." Teguh mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya.
"Saya Clara, terima kasih sudah menolong saya tadi."
Keduanya bersalaman dan berkenalan, lalu berbincang sebentar menanyakan alamat rumah, setelah itu mereka saling berpamitan. Namun, saat sopir Clara menyalakan mobilnya, Clara kembali memanggil Teguh.
"Kenapa?" tanya Teguh.
"Hmmm ... saya mau ngobrol-ngobrol lagi sama kamu, bisa?" Clara menyeka keringat di dahinya.
"Boleh." Teguh tersenyum seraya mengajak Clara ke sebuah warung lesehan di seberang mall besar itu.
Clara memakai kursi roda yang bisa berjalan sendiri dengan hanya menekan tombol, sehingga saat akan mengobrol dengan Teguh, Clara tidak mengizinkan perawatnya ikut karena gadis itu membutuhkan privasi.
Sebuah pengalaman yang unik bagi Clara, karena sebagai anak dari seorang Direktur dan pemilik banyak perusahaan, ini adalah pengalaman pertamanya makan di pinggir jalan, beralaskan tikar dengan makanan murah tapi lezat di lidah.
"Kamu sepertinya orang kaya, tidak apa-apa kan makan di tempat seperti ini?" tanya Teguh karena merasa takut jika Clara tak nyaman.
"Ah, tidak. Aku senang meskipun ini adalah pengalaman pertama. Kita bisa saling ngobrol hangat, bertukar pikiran dan pengalaman," sahut Clara dengan senyumnya yang khas.
Clara memang anak yang ramah dan humble pada siapa saja tanpa menilai pertemanan dari segi harta dan kasta.
"Kamu bekerja di perusahaan mana?" tanya Clara sembari menyendok makanannya.
"Di salah satu cabang perusahaan pemasaran, saya baru tiga bulan bekerja di sana. Itupun setelah menjalani serangkaian test yang sangat banyak, karena aku hanya lulusan SMK."
"Oh, begitu, jadi kamu seperti sales?" kata Clara dengan tersenyum sedikit.
"Ah … iya, mau bagaimana lagi, aku sadar diri tidak memiliki ijazah tinggi." Teguh menyuapkan sendok ke dalam mulutnya sembari tersenyum kecil, meratapi nasibnya.
Clara hanya tertawa, melihat tingkah Teguh yang merendah.
"Apaan, sih, biasa saja lah. Nanti kamu juga punya kesempatan yang sama seperti mereka, makanya tunjukkan saja semua kemampuan terbaik kamu," ucap Clara membuat Teguh merasa mulai bersemangat kembali dengan motivasi darinya.
*
Satu minggu telah berlalu, Teguh dan Clara tidak pernah bertemu lagi. Teguh bekerja dengan giat di sana dengan mengeluarkan semua kemampuannya, dia menjalankan apa yang di katakan oleh Clara.
Hingga manager perusahaan memanggilnya dan menyuruh Teguh melakukan presentasi di depan klien penting, yang rencananya akan bekerja sama dengan cabang perusahaan tersebut.
"Saya kan baru tiga bulan bekerja di sini, jadi saya takut tidak bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Saya masih belajar dan takut mengecewakan perusahaan," tolak Teguh dengan lembut.
"Tidak ada kata belajar, kalau sudah masuk ke perusahaan apalagi perusahaan sebesar ini, ya, kamu harus siap kalau diperintahkan melakukan sesuatu!" tegas sang manager padanya.
Teguh menimbang-nimbang dan dia berharap jika presentasi ini akan berhasil dan Teguh akan diangkat jabatannya, meskipun belum lama bekerja di sana, mengingat jika tender ini lolos, maka perusahaan akan untung besar.
"Baiklah, saya akan mencobanya!" ucap Teguh dengan yakin, dan manager langsung memberinya bahan-bahan untuk presentasi minggu depan.
*
Di tempat lain, seorang pria paruh baya sangat senang, karena dipertemukan kembali dengan pemuda yang pernah menolongnya. Brian, dia adalah seorang milyarder, pemilik banyak perusahaan yang sahamnya ada di mana-mana.
Brian pernah mengalami musibah kehilangan seluruh uang yang dia bawa saat dirinya pulang dari Surabaya naik kereta api, hingga terlunta-lunta di terminal
Hingga akhirnya, pemuda yang tak lain adalah Teguh itu menolongnya dengan memberikan uang dua ratus ribu, padahal Teguh sendiri hanya memiliki uang tiga ratus ribu saja saat dia hendak berangkat ke Jakarta.
"Jadi, pemuda itu siapa?" tanya Clara pada sang ayah.
“Dia adalah pemuda yang pernah menjadi malaikat penolong papa. Papa sudah lama mencari keberadaannya ke mana-mana, namun, takdir baru mempertemukan kami sekarang.”
Setelah tahu jika Teguh bekerja di salah satu cabang perusahaannya, Brian memerintahkan manager di sana untuk menyuruh Teguh melakukan presentasi di hadapan klien, karena Brian ingin melihat sejauh mana kemampuan Teguh dalam berbicara di depan publik, sebelum dia memutuskan untuk mengangkat Teguh sebagai Direktur di salah satu perusahaan utamanya.
Setelah itu, Brian kembali menceritakan semua kisahnya selama terlunta dan kebingungan di terminal pada Clara, hingga akhirnya bisa pulang dan bertemu dengan keluarganya.
‘Teguh, malaikat penolongku, aku akan memberikan kejutan padamu.’
Alex~I get to the arena too early.The building looks smaller from the outside than it does on TV, a squat concrete thing with banners taped crooked along the entrance and students milling around in clusters.I walk in with my hands in my jacket pockets and my shoulders loose.Inside, it smells like popcorn and rubber soles and there is a faint electric buzz that never quite goes away in places meant for crowds. I find my seat halfway up the bleachers, close enough to see faces but far enough back that I can take the whole court in at once.The floor gleams. The lights are aggressive. Music pulses through the speakers in short bursts, hype stitched together from bass and shouting.I text Seth even though I know he won’t see it yet.I’m here.Three dots appear almost immediately, then disappear, then come back.Good. Don’t leave.I smile to myself and tuck my phone away.People trickle in around me. A couple holding hands, a group of freshmen wearing matching hoodies, someone settles
Alex~ I clock in at twelve forty-eight, two minutes early, because I like the feeling of being ahead of something even when nothing else in my life feels like it’s waiting for me. Jamie is already there, perched sideways on the edge of the big table like the room belongs to them, laptop open, coffee sweating through the paper cup and leaving rings on the wood. The space smells like dust and citrus cleaner, the kind they use when they want a place to feel productive instead of loved. The windows are cracked open just enough to let the afternoon in, that half-warm, half-bored light that makes everything look unfinished. Maya swivels in her chair when she sees me. “You’re early,” she says. “I woke up early,” I tell her, which isn’t a lie, just not the reason. She hums, already turning back to her screen. Maya always does acknowledging you without making it a thing and I swear it’s a talent. Jamie, on the other hand, looks up like they’re about to read me aloud. “How is t
Seth~ I wake up already late for something. Alex is still in bed beside me, the sheets kicked halfway down, his shirt twisted around his ribs. He’s on his side, facing me, eyes closed but not deeply asleep. I can tell by the way his fingers keep flexing against the pillow, like he’s counting breaths. I don’t move right away. There’s a version of my life now where mornings feel borrowed, like I’m always leaving something behind even when I’m still in the room. I don’t want to rush this one. Not when he’s here. Not when the day hasn’t asked anything of us yet. The light is different this late. Sharper. It cuts across his face instead of spilling gently over it, catching on his lashes, the line of his mouth. He looks older like this. More settled. Not softer—Alex has never been soft—but anchored in himself in a way I don’t remember from earlier in the year. I wonder when that happened. Maybe I was too busy looking outward to notice. I reach out, brush my thumb
Alex~ The sheets are still warm when we crawl back into them. The curtains are half drawn. Afternoon light spills in sideways, catching dust in the air, striping Seth’s bare shoulder, my arm, the wall. By this time the campus is fairly active that we can hear activities going on. A skateboard cracking against concrete, a car door slamming somewhere too far to matter, voices of people. Seth lies on his stomach, one arm tucked under the pillow, the other stretched toward me. His hair is still damp from the shower he took after breakfast, darker at the ends. I watch the slow rise of his back, the way his breathing evens out only when he’s really relaxed, when he’s not thinking about drills or meetings or the shape of the next week. I slide closer, my knee fitting into the space behind his thigh like it belongs there. My hand finds the line of his spine, traces down, stops at the waistband of his shorts. He hums, low and content, without opening his eyes. “You’re heavy,” he
Alex~I wake up to the sound of Seth moving around the room. It’s not unusual for him to be up before me, but usually he’s still in bed until I stir, throwing out some ridiculous comment about my hair sticking up or pretending to complain when I hog the blanket.This morning, he’s already by his dr
Seth~The squeak of sneakers on polished hardwood is a rhythm I’ve lived in for years. It’s predictable, almost comforting, the way a bounce pass feels under my palms or how my lungs burn in that familiar way halfway through a scrimmage. Practice is supposed to be the one place I don’t think too ha
Alex~By the next morning, things are no better, Seth moves around the dorm with the kind of focus that leaves no room for conversation. I half expect him to say something about my hair sticking up or how late I slept in, but the only sound is the zip of his backpack and the soft click of the door
Alex~I do not know how long we stay like that on the sidewalk, with the night air wrapping around us like a second skin. My face is pressed into his jacket, and it smells faintly of laundry soap and underneath is something warmer, that makes me want to hold my breath just to keep it in.The cold
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews