แชร์

Musim Dingin Tak Mengenal Waktu
Musim Dingin Tak Mengenal Waktu
ผู้แต่ง: Seanna

Bab 1

ผู้เขียน: Seanna
Saat keluar dari rumah sakit, waktu sudah larut malam, tapi di depan pintu terparkir mobil Rolls-Royce milik Bayu.

Pria itu bersandar di sisi mobil sambil bermain ponselnya. Tubuhnya tinggi dan ramping, dan profil wajahnya yang tegas tetap tampan seperti saat mereka pertama kali bertemu.

Melihat Reina keluar, Bayu spontan memasukkan ponselnya ke saku, lalu melangkah dengan mantap menghampirinya.

"Kamu ada kejadian begini, kenapa nggak telepon aku? Kalau aku nggak lihat berita, aku nggak akan tahu ada kejadian seserius ini."

Bayu memandang lengan Reina yang dibalut perban dan ingin memeluknya.

Dia menyingkir dengan hati-hati dan masuk ke dalam mobil, sambil berkata dengan datar, "Aku baik-baik saja, nggak perlu merepotkanmu."

Tangan Bayu terdiam di udara. Suara Reina yang tenang membuatnya mengerutkan kening.

Dia seharusnya tidak seperti ini.

Selama lebih dari sepuluh tahun mereka bersama, Reina bahkan mengambil foto dan membagikan ketika dia memberi makan anjing liar di pinggir jalan.

Namun sekarang, setelah melewati insiden yang mengancam nyawa, dia mengatakannya seolah sesuatu yang ringan.

Bayu tiba-tiba merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

"Rere ... aku sudah berubah, kenapa kamu masih marah padaku?"

Reina terus menatap ke luar jendela tanpa menoleh sedikit pun.

"Aku tahu. Aku baik-baik saja, makanya aku nggak mengganggumu. Ayo pulang."

Lagi-lagi kalimat seperti itu. Reina menanggapi Bayu dengan acuh tak acuh, seperti balasan robot otomatis. Bayu marah, memukulkan tinjunya ke setir.

Suara klakson yang nyaring dan melengking mengejutkan gadis penjual bunga di seberang jalan. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya, lalu mendongak dan menatap ke arah mereka.

Begitu wajahnya terlihat, suasana di dalam mobil langsung membeku.

"Nadia ... kenapa jualan bunga di sini ...."

Bayu tanpa sadar menatap Reina di sampingnya, karena emosinya selalu menjadi tidak stabil, bahkan bisa menjadi gila, setiap melihat Nadia.

Reina meliriknya sekilas, lalu membuang muka tanpa bereaksi.

Bayu mencengkeram setir lebih erat dan melihat ke arah sana lagi.

Di tengah cuaca dingin, gadis itu hanya mengenakan mantel tipis, dan ujung hidungnya merah karena kedinginan.

Tangan Bayu mencengkeram pegangan pintu mobil dengan erat, rasa cemas hampir meluap dari matanya.

Reina mengerti maksudnya dan keluar tanpa ragu dari mobil, memberi Bayu jalan keluar. "Kalau kamu ada urusan di kantor, aku pulang sendiri saja."

Saat Bayu sadar, Reina sudah melambaikan tangan dan masuk ke dalam taksi.

Dia mengejarnya dan cepat-cepat meraih pintu taksi itu, ingin menjelaskan. "Aku beneran nggak punya hubungan apa-apa lagi dengan dia. Aku juga nggak tahu kenapa dia ada di sini. Kenapa kamu nggak percaya padaku?"

Reina mengangguk. "Aku percaya. Dia masih kecil, hidupnya kesusahan. Walaupun sudah nggak punya hubungan lagi, wajar saja kamu masih peduli. Aku mengerti."

Bayu memandangi wajah pucatnya yang hampir tak menunjukkan ekspresi apa-apa, tidak tampak sedang merajuk sama sekali.

Tapi dia merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.

Dulu, Reina sangat suka berbagi dan sangat posesif. Bahkan jika menemukan sehelai rambut di jasnya, dia akan menginterogasinya hingga larut malam.

Sekarang, dia benar-benar seperti yang diinginkan Bayu. Tidak menangis, tidak merajuk, penuh perhatian, dan pengertian. Bayu seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa seperti tersumbat sesuatu.

Tidak bisa dikeluarkan, tidak bisa ditelan.

Saat masih ragu-ragu, pintu taksi tertutup dengan tegas dan mobil itu melaju kencang.

Reina duduk di dalam taksi, memerintahkan sopir untuk berkeliling sebentar sebelum pulang.

Dari kejauhan, dia melihat Bayu memasangkan mantelnya ke tubuh Nadia, lalu memegang dagunya dan menciumnya dalam-dalam.

Reina sama sekali tidak terkejut. Bahkan merasa seolah sudah menduganya sejak lama.

Tanpa sadar, dia mengusap bekas luka di pergelangan tangannya.

Aneh sekali, hatinya terasa sesak tapi tidak terlalu sakit lagi.

Bahkan tidak ada gejolak emosi sama sekali.

Dia tidak akan pernah menjadi seperti saat pertama kali mengetahui perselingkuhan Bayu, menginterogasinya seperti orang gila.

"Bayu! Apa kamu nggak punya malu? Aku sudah bersamamu sejak umur 16 tahun, kita mulai dari nol sampai sekarang, tapi kamu bilang kamu jatuh cinta dengan orang lain?"

Sudut bibir Bayu berdarah akibat tamparan Reina. Dia menjilat bibirnya dan ikut merasa marah.

"Memangnya kamu punya malu? Kalau punya malu, kenapa kamu hidup denganku sejak umur 16 tahun? Orang tuamu sendiri nggak mau menerimamu, tapi aku yang menghidupimu lebih dari sepuluh tahun. Justru kamu yang seharusnya berterima kasih padaku!"

Saat itu, Reina merasa hatinya hancur berkeping-keping mendengar jawabannya.

Padahal, pria itu sendiri yang menggenggam tangannya saat di panti asuhan, berjanji akan memberinya masa depan.

Lebih dari sepuluh tahun mereka hidup saling mendukung, kini hancur berkeping-keping hanya karena satu kalimat dari Bayu.

Dering telepon menarik pikirannya kembali dari lamunan.

"Nona Reina, proses pewarisan harta peninggalan orang tua Anda sudah hampir selesai. Kapan bisa datang ke Andasia?"

Reina menutupi bekas luka di pergelangan tangannya. "Sepuluh hari lagi. Proses perceraian saya akan selesai dalam sepuluh hari."

Pria di seberang sana tidak bisa menahan diri dan mengingatkan lagi.

"Saya dengar Anda sudah hidup tenteram selama bertahun-tahun dengan suami Anda. Sebenarnya, untuk menerima harta warisan itu nggak perlu mengurus imigrasi."

Reina menjawab dengan tenang, "Saya sudah nggak mencintainya lagi. Saya hanya ingin pergi selamanya dari Kota Mega. Sampai jumpa di Andasia sepuluh hari lagi."

Dia memandangi salju yang berjatuhan di luar jendela mobil, lalu mengembuskan napas pelan.

Sejak saat itu, dia tidak akan pernah mencintai Bayu lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status