แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Seanna
Reina pulang sendirian ke vila. Dia tahu Bayu tidak akan pulang malam ini.

Dia duduk di balkon kamar tidur, memandangi foto pernikahan yang terpajang di dinding dalam diam.

Reina sebenarnya sudah menghancurkan foto itu. Bayu sengaja mengganti bingkainya sendiri sebagai simbol memperbaiki hubungan.

Namun, Reina dapat melihat sepotong pecahan kaca yang masih menempel di sudut foto.

Sama seperti hubungan mereka.

Meskipun keduanya berusaha keras untuk pura-pura baik-baik saja, tetap ada retakan di antara mereka.

Pemuda dalam foto itu menatap Reina dengan penuh kasih sayang, membelai hidungnya dengan mesra.

Dia mengenakan kemeja putih yang persis sama dengan yang dikenakannya saat mereka pertama kali bertemu.

Reina dibesarkan di panti asuhan sejak kecil. Pada hari dia bertemu Bayu, pemuda itu baru saja dibawa ke sana karena kedua orang tuanya meninggal.

Angin bertiup kencang hari itu. Saat memandang rambut pemuda itu yang tertiup angin, untuk pertama kalinya, dia merasakan detak jantung yang berdebar-debar.

Pemuda yang pendiam itu, bersama gadis yang penuh semangat, sering berbaring di ayunan di halaman, membayangkan masa depan.

"Aku ingin jadi pelukis."

Untuk pertama kalinya, pemuda itu menggenggam tangannya dengan erat.

"Kalau begitu, aku akan kerja keras mencari uang, biar kamu bisa menjadi pelukis terbaik."

Saat Reina berusia 16 tahun, kepala panti memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang pria tua yang memiliki riwayat KDRT.

Pada hari itulah Bayu menggenggam tangannya dan membawanya melarikan diri dari panti asuhan.

Kepala panti marah besar dan berteriak dari belakang, "Bayu! Kalau berani, kamu nafkahi dia seumur hidup!"

Dia menoleh ke belakang, matanya memancarkan jiwa muda yang penuh keberanian.

"Oke, seumur hidup!"

Bayu menjual satu-satunya kalung warisan orang tuanya, dan mereka akhirnya bisa menetap di sebuah kontrakan.

Dia bekerja keras. Menyanjung relasi dan membuat mereka mabuk di meja makan demi memenangkan proyek.

Reina pun tidak menjadi pelukis, tetapi menemaninya dalam perjalanannya ke penjuru negeri.

Bahkan ketika Bayu terlalu banyak minum hingga pendarahan lambung tapi masih disudutkan, Reina mengambil gelas di tangannya dan menenggaknya sampai habis.

Saat pertama kali mendapatkan proyek dengan nilai miliar.

Mereka menangis tersedu-sedu sambil berpelukan di kamar kontrakan untuk pertama kalinya.

Hidup seolah mulai membaik sejak hari itu. Mereka pindah dari rumah kontrakan itu. Rumah yang mereka tinggali semakin besar, dan perusahaan pun semakin mapan.

Berbagai macam orang mulai muncul di sekitar Bayu, hingga suatu hari Reina menemukan bekas gigitan di tulang selangka Bayu. Mereka berdua pun bertengkar hebat.

"Karena aku di posisi ini, mau nggak mau aku harus pura-pura! Kamu cukup tinggal di rumah dan jadi istri yang baik, apa lagi yang aku minta darimu?"

"Kita sudah janji akan bersama seumur hidup, nggak boleh kurang satu hari pun!"

Tak satu pun dari mereka mau mengalah, dan mereka berdebat sengit.

Reina semakin sering memata-matai Bayu. Bahkan pada akhirnya, setiap Bayu mengatakan harus lembur, dia diam-diam menyelinap ke kantor untuk memverifikasi kata-katanya.

Bayu seolah membalas dendam padanya dan benar-benar mulai berselingkuh.

Dia berganti-ganti wanita, dan yang paling keterlaluan, dia sengaja memamerkan bekas cakaran di punggungnya untuk memprovokasi Reina.

Hanya untuk menghukumnya karena terlalu posesif.

Reina merasa dirinya seperti orang gila. Dia tahu dia seharusnya melepaskannya, tapi dia benar-benar tidak bisa.

Selama lebih dari sepuluh tahun, dia dan Bayu sudah menyatu, mendarah daging bersama, tak terpisahkan.

Mereka akan hancur jika berpisah, tetapi saling menyiksa jika tetap bersama.

Setahun kemudian, Bayu tiba-tiba berubah. Dia menyingkirkan semua wanita di sisinya, hanya menyisakan seorang gadis muda.

Reina menyuruh orang untuk menyelidiki, dan ketika dia melihat rupa gadis dalam foto itu yang sangat mirip dengannya, dia hancur.

Gadis itu mirip dengannya.

Mirip dengan dirinya yang polos saat berusia 16 tahun.

Bayu lebih memilih mencintai tiruan masa lalu dirinya daripada mencintai dia yang sebenarnya.

Reina mencoba bunuh diri, terbaring di bak mandi vila.

Bayu dengan panik melarikannya ke rumah sakit, berlutut di samping ranjang rumah sakit dengan mata merah.

"Kita perbaiki hubungan kita, jangan melakukan sesuatu yang bodoh lagi. Aku nggak mau siapa pun, aku cuma mau kamu."

Reina terbaring di tempat tidur, merasa sangat lelah. Mengapa hatinya masih terasa sakit meskipun sudah mendapat janji darinya?

Pada hari yang sama, dia menerima telepon bahwa orang tua kandungnya telah ditemukan. Tepat di saat dia melihat Bayu berpelukan dengan Nadia di lantai bawah.

"Maaf, Nadia. Kondisinya sangat labil, dia bisa mati kalau jauh dariku."

"Aku janji, walaupun aku nggak di sampingmu, aku akan selalu mendukungmu dengan uang yang cukup. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."

Mereka berciuman dan enggan berpisah, seperti sepasang kekasih yang dilawan takdir.

Pada saat itu, Reina merasa ikatan hati di antara mereka tercabik-cabik, berlubang sangat besar. Rasa sakitnya begitu hebat hingga dia tidak mampu bersuara.

Pada hari ketujuh saat terbaring di tempat tidur, dia tiba-tiba menyadari semuanya.

Dia ingin meninggalkan Bayu dan memutuskan semua ikatan dengannya.

Sejak saat itu, Reina berubah. Dia menipu Bayu agar menandatangani surat perjanjian cerai.

Selama tiga hari berturut-turut, Bayu tidak pulang.

Dia pun tidak menanyakannya, hanya fokus mempersiapkan pembagian harta setelah perceraian, serta menjual rumah kontrakan yang dulu pernah dia beli.

Saat Reina mengantar pembeli ke rumah itu, dia menyadari bahwa pintunya sedikit terbuka.

Dua tangan menempel di atas meja, dan tangan lain yang mengenakan cincin kawin yang sama dengannya menutupi kedua tangan itu.

Suara gesekan terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status