แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Seanna
Reina terpaku di tempat. Tanpa perlu berpikir pun dia tahu apa yang sedang dilakukan Bayu.

Tempat ini adalah satu-satunya tempat suci di hati mereka. Bayu belum pernah membawa siapa pun ke sini.

Namun, dia saat ini memeluk Nadia, tangannya bertumpu pada foto berdua mereka bertahun-tahun yang lalu.

“Tempat ini sangat kecil, tapi aku bisa merasakan kalau kamu jauh lebih bersemangat di sini.”

Suara manis Nadia membuat jantung Bayu berdebar, dan dia menggenggam tangannya lebih erat.

"Kita jadi seperti kekasih yang terpaksa berpisah, memanfaatkan saat-saat terakhir bersama. Rumah bobrok ini jadi terasa lebih istimewa, 'kan?"

Reina mengepalkan tangannya erat-erat, mengembuskan napas perlahan, dan menutup pintu.

Dia berbalik dengan nada meminta maaf. "Maaf, sepertinya kita nggak bisa survei hari ini. Mungkin lain kali."

Pembelinya adalah seorang gadis muda, yang juga mendengar suara-suara tadi.

Tatapan gadis itu pada Reina kini dipenuhi rasa iba.

"Nggak mau masuk? Jangan takut. Kalau sampai ribut, kita kan berdua."

Reina menggelengkan kepala dan mengucapkan terima kasih. "Nggak usah, aku sudah nggak peduli lagi. Kita buat janji lain kali saja."

Untuk apa masuk ke dalam?

Haruskah dia berteriak-teriak mempertanyakan seperti orang gila, atau menangis-nangis menceritakan betapa banyak yang telah dia korbankan untuk Bayu di masa lalu?

Hasilnya akan sama saja.

Seorang pria yang hatinya sudah lama berpaling pada orang lain, bahkan jika direbut kembali, dia hanya cangkang kosong saja.

Reina bergegas menuruni tangga, tapi dihentikan Bayu yang mengejarnya dari belakang.

Dia terengah-engah, bahkan kemejanya belum dikancingkan.

"Kamu tadi mau pulang? Kamu ... dengar sesuatu nggak?"

Reina menarik tangannya dengan santai dan menggelengkan kepalanya.

"Cuma lewat saja. Aku lupa bawa kunci, jadi nggak masuk."

Bayu menghela napas lega setelah mendengar jawabannya. Dia menduga Reina ingin mengunjungi tempat itu lagi karena sedih dia tidak pulang.

Benar saja, Reina memang masih tidak bisa lepas darinya.

Dia buru-buru menjelaskan, "Aku tiga hari ini sibuk terus di kantor. Kamu juga tahu perusahaan sekarang nggak bisa kutinggal. Kamu baru pulang dari rumah sakit, jadi aku nggak mau mengganggu istirahatmu, makanya aku pulang ke sini."

Reina tidak mau mempermasalahkan kebohongan kaku Bayu dan berbalik hendak pergi.

Namun, pada saat yang sama, api tiba-tiba berkobar di dalam kamar rumah kontrakan itu.

Mata Bayu membelalak. Dia mencengkeram pipi Reina dengan keras, tatapannya merah menyala seperti binatang buas.

"Kukira kamu benar-benar sudah memaafkanku, ternyata kamu sengaja membakar rumah ini!"

"Aku peringatkan, Nadia tinggal di sini atas izinku. Kalau sampai dia terluka, aku nggak akan memaafkanmu begitu saja!"

Bayu mendorongnya, lalu berlari masuk ke rumah yang terbakar itu.

Reina terhuyung-huyung setelah didorong.

Dia teringat ketika kehidupan mereka baru saja mulai membaik, mereka pernah dirampok di gang tua yang sempit dan kumuh ini.

Saat itu, dia memeluk uang 20 juta hasil menabung susah payah. Dia terpojok di tanah, pisau perampok itu hampir menusuk lehernya.

Di saat yang genting itu, Bayu datang berlari dan merebut pisau itu dengan tangan kosong. Darah hangat menetes ke wajah Reina.

Bayu membekuk penjahat itu ke tanai, menghujaninya dengan pukulan.

"Dia itu nyawaku. Jika sampai dia terluka, aku nggak akan memaafkanmu begitu saja!"

Hanya dalam beberapa tahun, yang menjadi nyawanya telah berubah orang.

Tepat ketika Reina hendak pergi, dia tiba-tiba teringat bahwa surat perjanjian cerainya dia simpan di lemari rumah kontrakan itu.

Itu adalah satu-satunya bukti bahwa dia telah meninggalkan Bayu!

Dengan susah payah menembus gelombang panas, dia akhirnya kembali ke rumah kontrakan itu. Bayu terkena luka bakar di lengannya, merangkul Nadia untuk menyelamatkan diri.

"Kenapa ke sini? Ingin lihat dia mati?"

Reina tidak peduli dengan kata-kata sinisnya. Dia bergegas dengan cemas menuju kamar yang api di dalamnya semakin berkobar.

"Bisa nggak kamu berhenti bikin masalah?! Apinya sudah terlalu besar, keluar denganku!"

Bayu berusaha menarik tangan Reina.

Detik berikutnya, pintu kaca di tengah kobaran api itu mendadak meledak. Bayu secara naluriah melindungi Nadia dalam pelukannya.

Reina berlumuran darah akibat pecahan kaca dan jatuh ke lantai. Lemari pakaian menimpanya akibat ledakan itu.

Dia memaksakan diri untuk memeluk kotak kayu yang menjadi tujuannya masuk ke sini, lalu kehilangan kesadaran.

Dalam keadaan setengah sadar, Reina bermimpi tentang banyak kenangan masa lalu.

Bayu yang berusia 18 tahun menggenggam tangannya dan berkata akan menafkahinya seumur hidup.

Bayu yang berusia 22 tahun mabuk setelah acara perjamuan dan tergeletak di pinggir jalan. Tangannya memeluk ubi panggang kesukaan Reina.

Bayu yang berusia 24 tahun berlutut melamarnya, berjanji akan selalu bersama selamanya.

Bayu yang berusia 28 tahun berteriak dengan wajah garang bahwa dialah yang menafkahinya, dan dia seharusnya berterima kasih.

Saat terbangun kembali, Reina terbaring di rumah sakit.

Bayu membuka kotak yang diambil Reina dengan mempertaruhkan nyawanya itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status