แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Seanna
Sebelum Reina sempat mencegah, Bayu sudah membuka kotak kayu itu.

Sebuah akta cerai menyala tergeletak di dalamnya.

"Akta nikah? Kamu nekat kembali lagi cuma untuk mengambil ini?"

"Kamu tahu nggak, tulang betismu patah karena tertimpa lemari, dan kamu hampir mati karena menghirup asap tebal!"

Reina diam-diam mengambil kembali kotak itu. Isinya semuanya adalah dokumen perceraian.

Tanpa akta nikah, bagaimana mungkin bisa bercerai?

Bayu melihatnya menggenggam kotak itu erat-erat, dan hatinya merasa sedikit kesal.

Reina masih saja seperti ini. Pikirannya selalu terpaku pada masa lalu. Dan melakukan hal-hal yang impulsif saat emosinya lepas kendali!

"Jelas-jelas kita bertiga bisa sama-sama selamat, kenapa kamu harus bertingkah konyol begini dan memaksaku memilih salah satu cuma demi membuktikan posisi dirimu?!"

"Rere, kamu sengaja membakar rumahnya, jadi sudah sepatutnya aku menyelamatkan Nadia."

Reina berbaring di tempat tidur rumah sakit menatap langit-langit, mengangguk pelan.

"Rere." Bayu mencoba menjelaskan, nada suaranya melembut. "Karena aku sudah memutuskan untuk berubah, aku nggak akan terlibat dengan Nadia lagi. Dia ... sedang kesusahan, aku cuma membantunya sedikit, memberinya tempat tinggal."

Nadia sedang kesusahan, jadi dia membantunya sampai naik ke ranjang.

Mulutnya berkata sudah berhenti selingkuh, tapi tubuhnya tanpa sadar tertarik pada gadis muda itu.

Reina akhirnya mendongak menatapnya.

Matanya seperti air yang tenang, benar-benar tenang dan tidak bergelombang.

"Aku tahu, aku mengerti."

Ketenangan Reina itu membuat Bayu hampir gila. Dia melonjak berdiri, tapi kemudian melihat luka bakar yang luas di lengan Reina. Lengan yang sebelumnya sudah ada bekas luka percobaan bunuh diri.

Tenggorokannya kering, hatinya terasa perih karena sikap Reina.

"Rere, satu luka saja nggak cukup, kamu ingin menahanku di sini dengan lebih banyak luka lagi?"

"Aku nggak akan melukai diriku sendiri lagi."

Mendengar nada suaranya yang tetap datar, Bayu ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering.

Dia bergegas ke jendela dan mengangkat telepon.

Reina tidak dapat mendengar isi percakapan dengan jelas, hanya sesekali mendengar isak tangis Nadia.

Bayu berbisik menenangkannya, lalu menoleh menatap Reina.

"Di kantor ada urusan mendadak, jadi aku sibuk beberapa hari ke depan. Kamu istirahat dan sembuhkan lukamu, nanti aku temani merayakan ulang tahunmu."

Reina tiba-tiba tertawa.

"Aku dan Nadia ulang tahun di hari yang sama, kamu nggak perlu menemaninya?"

Wajah Bayu seketika memerah, suaranya pun sedikit meninggi.

"Apa urusanku dia ulang tahun? Aku sudah bilang, aku cuma membantunya sementara!"

Namun, saat dia menatap Reina, Reina sudah berbalik membelakanginya.

Bayu masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya terus bergetar. Dia hanya menggumamkan beberapa pesan wanti-wanti sebelum berbalik dan pergi.

Beberapa hari berikutnya, Reina memulihkan diri dengan tenang di rumah sakit.

Bayu merasa bersalah. Dia terus-menerus mengirimkan pesanan bunga dan kue favoritnya, serta sering mengirim pesan.

Setiap kali, Reina hanya membalas dengan singkat dan langsung mengakhiri percakapan.

Pada hari dia pulang dari rumah sakit, dia turun ke lantai bawah sendirian dengan bantuan kruk untuk melunasi tagihan.

Begitu Reina menyerahkan slip tagihannya, seorang wanita tua menyela dan menghalangi jalannya.

"Bu, jangan menyela antrean."

Lansia itu mendorong Reina ke samping dengan jijik dan menyerahkan tagihannya.

"Menantuku salah satu investor di rumah sakit ini. Memangnya kenapa kalau aku berdiri di depanmu? Jangan cari masalah. Kalau kuberi tahu menantuku, menyesal kamu nanti!"

Seolah tidak sabar dengan gerakan lambat Reina karena menggunakan kruk, wanita tua itu mendorongnya ke samping dengan keras.

Reina mengerutkan kening.

Investor terbesar Rumah Sakit Kota Mega adalah Bayu ....

Dia menoleh dan kebetulan melihat Bayu bersama Nadia yang bergegas mendekat setelah mendengar suara keributan.

Seolah khawatir Reina akan berkata sesuatu kepada wanita tua itu, Bayu segera menarik Reina ke samping.

"Ibu Nadia sedang sakit parah, jadi mudah marah. Mengalah saja sebentar, nggak apa-apa."

Nadia yang baru saja menenangkan ibunya juga datang menghampiri, dengan air mata masih menggenang di wajahnya.

"Ini salahku. Ibuku terkena flu berat. Aku takut dia nggak mau keluar uang, jadi kubilang kalau aku punya pacar hebat. Nona Reina, salahkan saja aku, jangan salahkan Pak Bayu. Dia benar-benar cuma berniat membantuku."

Dia menatap acuh tak acuh pada dua orang di depannya.

Jadi, ibu Nadia terkena flu. Itulah kenapa Bayu meninggalkannya, yang mengalami patah tulang dan luka bakar, sendirian di rumah sakit?

Sudahlah, sudah tidak penting lagi.

Reina mengangguk, kali ini bahkan tidak ingin menjawab dengan suara sedikit pun, langsung berbalik dan pergi.

Baru berjalan satu langkah, dia mendengar Nadia berkata dengan suara gemetar.

"Nona Reina masih marah padamu, ya? Apa dia akan mengamuk lagi dan menyiksamu? Ini semua salahku, aku terlalu mengkhawatirkan ibuku."

Melihat dia menangis lagi, Bayu menyeka air matanya dengan lembut.

"Nggak apa-apa. Dia nggak pernah punya orang tua sejak kecil, jadi dia nggak bisa mengerti bagaimana perasaanmu."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status