แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Seanna
Reina mencengkeram kruknya erat-erat, jari-jarinya memutih. Dia berjalan pincang keluar pintu.

Bayu memandangi punggungnya yang kurus, hatinya terasa iba. Sejak kapan Reina menjadi sekurus ini?

"Kuantar pulang."

Di luar, hujan sudah mulai turun. Mendengar ucapan Bayu yang terdengar tidak terlalu peduli, dia berjalan semakin cepat, ingin melarikan diri dari suara menjijikkan di belakangnya.

"Nggak apa-apa, aku sudah nggak mencintainya lagi."

“Reina, jangan terlalu menyedihkan. Kamu sudah melepaskannya, dan sebentar lagi bisa pergi sepenuhnya.”

Dia terus meyakinkan dirinya sendiri, tetapi pipinya tetap berlinang air mata.

Kruknya terlepas dan dia jatuh ke tanah. Darah merembes dari luka bakar di lengannya, menetes ke genangan air hujan di bawah.

Dia jatuh sangat keras, rasanya seperti ada sesuatu yang hancur di dadanya.

Dia mencengkeram bajunya dengan erat, air mata mengalir di wajahnya seperti untaian mutiara yang putus.

Sejak kecil, Reina selalu iri pada anak-anak yang memiliki keluarga. Meskipun dia tampak optimis di mata orang lain, dia tetap iri melihat lampu-lampu rumah yang menyala.

Bayu tahu betul bahwa ini adalah luka yang paling menyakitkan baginya, tapi demi menghibur Nadia, pria itu terus-menerus merobek luka itu kembali.

Dia sendiri juga terus-menerus merasa sakit hati karena pria seperti itu.

Betapa konyolnya.

Saat Bayu berlari keluar, dia melihat Reina terjatuh di tanah. Dia pun segera membantunya berdiri dan memeluknya.

"Sudah kubilang aku antar pulang, kenapa kamu keras kepala?"

Belum sempat Reina menjawab, sebuah kotak makan menghantam wajahnya.

Sup panas di dalamnya merembes masuk melalui kerah bajunya, dan dahinya juga membengkak seketika itu juga.

Ibu Nadia melihat mereka berpelukan, sangat marah hingga tubuhnya gemetar dan dia menampar Reina. "Dasar perempuan jalang! Kamu nggak tahu dia menantuku? Jadi perempuan, nggak belajar yang baik-baik, malah jadi selingkuhan orang? Kuberi kamu pelajaran, biar menyesal merayu suami orang!"

Dia tampak masih belum puas, mengambil kruk Reina dan memukulkannya.

Reina terkena pukulannya dan langsung terjatuh ke tanah.

Ibu Nadia memukulnya dengan keras tepat di kepala.

Bayu cepat-cepat menghentikan ibu Nadia. "Tante ... jangan begini, Tante salah paham!"

"Ajari saja anakmu sendiri. Yang selingkuhan itu siapa, dia yang paling tahu!"

Reina baru saja membuka mulut, Bayu langsung menyela. Dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, dia berbisik, "Ibunya punya penyakit jantung parah, aku mohon pengertianmu."

Lalu Bayu berdiri dan menopang ibu Nadia yang terengah-engah. "Dia cuma temanku. Dia punya depresi, jadi mentalnya kurang stabil."

Dia memperlihatkan sekilas rekam medis Reina kepada ibu Nadia, lalu membantunya pulang.

Saat akan pergi, ibu Nadia tidak lupa meludahinya.

"Sakit bukan alasan buat lolos dari hukuman. Dasar orang hina! Pantas saja dia ditinggal ayah ibunya!"

Reina menyaksikan kepergian mereka, bahkan tidak mampu meneteskan air mata.

Namun, Bayu tidak menoleh satu kali pun.

Dia dibawa ke rumah sakit oleh orang baik hati, menjalani perawatan sederhana, lalu kembali ke vila.

Melihat kamar tempat dia tinggalnya selama lebih dari sepuluh tahun, hati Reina terasa hampa.

Dia melemparkan semua foto berdua dan surat-surat mereka ke dalam perapian dan membakarnya.

Reina kembali menghancurkan foto pernikahan berukuran besar itu dan melemparkannya ke dalam api.

Dia mengemas barang-barang yang akan dibawanya besok dan menyadari bahwa barang-barang yang bisa dia bawa setelah tinggal lebih dari sepuluh tahun itu hanya sebanyak satu koper saja.

Di sini, tidak ada satu pun yang benar-benar miliknya.

Ponselnya bergetar singkat, notifikasi unggahan terbaru Nadia. Reina pernah membuat akun samaran untuk memata-matai mereka.

Dalam foto itu, Nadia bersandar erat di dada seorang pria, disertai tulisan: [Kita seperti ngengat mendekati api. Walaupun sakit, memikirkanmu memberiku keberanian untuk terus maju.]

Reina serta-merta berhenti mengikuti akunnya.

Saat Bayu masuk, hari sudah gelap.

Dia membawa ubi panggang kesukaan Reina, dengan mata penuh penyesalan. "Soal tadi siang, aku minta maaf. Dia orang tua, aku cuma nggak mau terjadi hal yang nggak diinginkan."

Kali ini, Reina tidak memberi jawaban datar, melainkan berdiri dengan serius di hadapannya.

"Kita pisah saja."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status