แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Seanna
Hati Bayu tiba-tiba diliputi kegelisahan, tapi dia seketika teringat bahwa dia memang telah berbuat salah kepada Reina beberapa hari terakhir ini.

"Rere, kata-kata seperti itu jadi nggak ada artinya lagi kalau diulang-ulang terus."

"Kau lebih memilih mengakhiri hidupmu daripada meninggalkanku, bisakah kamu benar-benar tahan berpisah dariku?"

Dia melangkah mendekat dan memeluknya erat-erat.

"Aku sudah beberapa hari nggak menemanimu, aku sangat merindukanmu." Tangan yang kuat membelai pinggang Reina, lalu dia menunduk menghirup aroma rambutnya.

Reina mendorongnya dengan tidak sabar.

"Ikut aku ke Kantor Catatan Sipil besok."

Bayu tersenyum. "Oke, aku ingat kamu pernah bilang foto di akta nikah kita jelek. Kita waktu itu memang miskin, tapi sekarang sudah lebih baik. Aku akan membelikan cincin berlian yang lebih besar untuk foto lagi dan mengganti akta nikahnya."

Reina merasa lemas dan mengulanginya sekali lagi.

"Aku bilang, kita cerai."

Nada dering khusus di ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi. Dia berbalik untuk mengangkatnya.

"Sayang, kamu tadi bilang apa? Sudahlah, ini hari ulang tahunmu, jangan sedih, ya?"

Tanpa memberi kesempatan Reina untuk menanggapi, dia menarik Reina masuk ke dalam mobil dan mengemudi ke restoran berputar di gedung tertinggi Kota Mega.

Reina ingat tempat ini.

Selama bertahun-tahun, ulang tahun mereka berdua selalu dirayakan dengan duduk di pinggir jalan, makan sepotong kue sisa semalam.

Saat itu, Bayu menunjuk ke arah sini dan berjanji padanya, "Suatu hari nanti, kita akan kaya dan aku akan merayakan ulang tahunmu di sini."

Kemudian, mereka memiliki segalanya.

Namun, tidak ada "kita" lagi di antara mereka.

Di dalam restoran, tersusun 999 tangkai mawar merah yang bersinar sangat indah diterangi cahaya lilin.

Reina duduk di kursi menyaksikan pemandangan di luar jendela, mengayun-ayunkan minuman di gelasnya.

Melihat Reina tidak berkata apa-apa, dia mengeluarkan sebuah cincin bertatahkan berlian besar dan mendorongnya ke hadapan Reina.

"Selamat ulang tahun, Rere."

Makan malam itu terasa hambar. Mereka hampir tidak saling berbicara.

Tiba-tiba, kembang api meletus di luar jendela. Drone yang tak terhitung jumlahnya terbang ke langit membentuk sebuah kalimat.

[Sayang, selamat ulang tahun ke-20.]

Bayu mengetik di ponselnya tanpa mengangkat kepala. "Tim ini nggak becus, angka 9 di belakang kok bisa salah atur. Sayang, jangan marah, mereka pasti kukasih hukuman nanti."

Tangan Reina tiba-tiba mengepal erat, karena hari ini adalah ulang tahun ke-20 Nadia.

Ini bukan kesalahan teknis. Itu hanya alasan yang sudah direncanakan Bayu.

Dia bahkan tidak menunggu tanggapan Reina dan mencari alasan untuk pergi.

Ponsel Reina bergetar beberapa kali, pesan masuk dari Nadia.

[Makan malam romantisnya enak? Kembang apinya cantik? Dia menyiapkan semua itu khusus untukku.]

[Kita sudah merayakannya tadi sore. Makanan yang kamu makan itu cuma sisa makananku saja.]

[Wanita yang memaksa pria untuk menuruti keinginannya dengan mengancam bunuh diri, apa hakmu bersaing denganku?]

Pesan-pesan Nadia semakin keterlaluan. Membayangkan semua makanan itu, perut Reina terasa mual.

Jijik.

Sangat jijik.

Saat berjalan menuruni tangga, layar raksasa di seluruh gedung menampilkan ucapan "Selamat Ulang Tahun" dan kembang api menyala beruntun.

Orang-orang yang lewat mengangkat ponsel mereka untuk memotret, mengagumi betapa romantisnya direktur perusahaan itu.

Hanya Reina yang melangkah perlahan ke arah berlawanan dari kerumunan.

Dia merasa ada kehampaan di dadanya.

Akhir tahun di Kota Mega sangatlah dingin. Angin dingin menerpa dadanya dengan kencang, tapi matanya justru semakin panas.

Malam itu, Bayu tetap tidak pulang sama sekali.

Keesokan harinya, Reina mengenakan mantel favoritnya, pergi menuju Kantor Catatan Sipil dengan membawa koper.

Dia duduk menunggu di Kantor Catatan Sipil selama satu jam, tapi Bayu tidak kunjung muncul.

"Kalau dia datang, tolong serahkan bagian miliknya. Saya sudah hampir ketinggalan pesawat."

Reina naik taksi dan berangkat menuju bandara. Di jalan, mobilnya tepat berpapasan dengan mobil Bayu.

Kedua mobil itu melaju berlawanan arah.

Reina melirik sebentar sebelum membuang muka. Sudah tidak penting lagi.

Hubungan yang telah terjalin selama belasan tahun akhirnya berakhir, dan dia akan menyambut babak baru dalam hidupnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 17

    Bang Wahyu tidak menyangka Nadia segila itu, sampai ingin menyeret mereka semua untuk mati bersamanya.Seluruh gudang menjadi ricuh, semua orang berebut untuk melarikan diri ke luar.Bayu bangkit dengan susah payah, melangkah perlahan menuju Reina.Saat melihat hitungan mundur lima menit, dia menelan darah di mulutnya dengan gugup, lalu berlutut dengan hati-hati untuk membongkarnya."Bayu ...."Suara Reina mulai bergetar, dan air mata mengalir di wajahnya.Bayu menyeka air matanya, tangannya masih gemetar."Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian."Hitung mundur sudah memasuki dua menit terakhir. Bayu tidak mengerti prinsip penjinakan bom, dia hanya bisa berharap sambil melepas cincin besi pada bom itu dengan hati-hati.Namun, ketika dia membuka cincin besi itu, dia menemukan bahwa masih ada lagi dua kabel berwarna merah dan biru yang harus dipotong.Wajah Reina semakin pucat, kehilangan darah yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran."Bayu, pergi. Jangan b

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 16

    Reina merasakan sakit kepala yang hebat seperti akan pecah. Dia membuka matanya dengan linglung, mendapati dirinya terbaring di sebuah gudang tua terbengkalai.Beberapa pria bertubuh kekar berdiri di ruangan itu. Nadia berdiri membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya."Bang Wahyu, sudah kubilang, 'kan? Aku bisa menculik putri sulung Keluarga Narendra. Ini dia, sudah kubawakan untukmu."Pria dengan panggilan Bang Wahyu yang buta satu mata itu tersenyum."Paling nggak, kamu masih berguna. Nggak sia-sia aku mengeluarkanmu dari rumah sakit jiwa."Dia merapikan penutup mata di wajahnya, berkata dengan nada garang, "Arga membutakan mataku, membuatku terpaksa kembali ke Kota Mega untuk memulihkan diri sampai bertahun-tahun. Tentu saja, aku harus menjamu adik cantiknya dengan baik."Mata Nadia berbinar-binar penuh kegembiraan. "Kenapa kamu nggak suruh orang menghabisinya sekarang juga? Kalau begitu kan masalahnya selesai?"Pria itu memotongnya dengan nada yang kasar."A

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 15

    Arga mengadakan pesta penyambutan kembalinya Reina, mengundang para tokoh terkemuka dari Andasia.Saat Reina muncul di bawah sorotan lampu panggung dengan mengenakan gaun desainer dan perhiasan yang dulu paling disukai ibunya, semua orang bertepuk tangan meriah.Arga menggenggam lembut tangannya dan membawanya selangkah demi selangkah ke depan panggung."Mutiara terindah Keluarga Narendra akhirnya kembali."Hati Reina berdebar saat memandang ke sudut ruangan di bawah panggung. Bayu seperti hantu gentayangan, masih menghantui dirinya.Arga juga melihatnya dan hendak memerintahkan pengawal untuk mengusirnya, tapi Reina menghentikannya."Ada beberapa hal yang lebih baik aku jelaskan sendiri. Kalau nggak dihadapi langsung, nggak akan pernah selesai."Reina mengangkat ujung gaunnya dan menuruni tangga, langkah demi langkah menuju Bayu.Saat mendekat, barulah dia melihat jelas luka-luka di wajah Bayu. Di sepasang matanya yang dulu bersinar kini hanya tersisa kekosongan."Bayu, apa sebenarnya

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 14

    Reina tidur nyenyak, tidak tahu apa yang terjadi pada malam sebelumnya.Begitu turun ke lantai bawah, dia melihat Arga sedang duduk di ruang makan, minum kopi sambil membaca laporan."Kenapa kamu di sini?"Arga mendongak dengan santai, lalu memberi isyarat agar Reina duduk dan makan. "Karena kamu khawatir, aku tinggal di lantai bawah saja. Kebetulan juga lebih dekat ke kantor."Reina duduk di seberangnya, menggigit roti sedikit demi sedikit.Dia benar-benar tidak bisa memahami pria di depannya ini. Tempat ini jelas-jelas lebih jauh dari kantor Grup Narendra, bahkan membutuhkan jalan memutar."Kalau kamu mau keluar jalan-jalan, tinggal bawa pengawal. Jaga-jaga kalau ada masalah."Sampai sarapan selesai, mereka tidak saling berbicara lagi.Reina juga berniat keluar untuk mencari udara segar, jadi dia pergi keluar bersama Arga.Tepat ketika akan masuk mobil, tangannya seseorang menggenggam tangannya dengan erat."Rere, kamu sebenarnya punya hubungan apa dengan dia?"Saat Bayu melihat Rein

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 13

    Ketika Bayu datang lagi untuk mengantar hadiah, dia diberi tahu bahwa pemilik rumah itu telah pindah.Dengan tatapan muram, dia mengambil ponsel dan menelepon asistennya. "Cari tahu Reina pergi ke mana! Dia nggak mungkin bisa menghilang begitu saja dalam sehari!"Selama beberapa hari ini, sikap Reina yang tidak peduli telah membuatnya sangat tertekan, hingga dia menjadi sangat mudah marah.Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kata-kata yang diucapkan Reina hari itu terus terngiang-ngiang di benaknya.Permintaan maafnya pasti belum cukup, itulah mengapa Reina tidak mau memaafkannya.Reina pasti masih marah pada Nadia.Bayu mengeluarkan video yang memperlihatkan Nadia disiksa di rumah sakit jiwa. Dalam rekaman itu, beberapa pria berpakaian pasien rumah sakit jiwa memukuli tubuh Nadia berulang kali dengan tongkat listrik.Nadia tidak lagi berseri-seri seperti sebelumnya. Dia tampak linglung, dan bekas luka panjang membentang di wajahnya.Bayu menyaksikan video itu dan perlahan ter

  • Musim Dingin Tak Mengenal Waktu   Bab 12

    Reina menundukkan pandangannya, dengan tenang berkata, "Saat selingkuh, kamu juga nggak pernah mempermasalahkan apa itu adil atau nggak bagiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."Bayu memandangi sosoknya yang menjauh, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.Sejak hari itu, Reina setiap hari menerima bunga dan hadiah di depan pintu. Kadang perhiasan, kadang tas, semuanya tanpa terkecuali adalah model yang pernah dia miliki.Seperti biasa, dia langsung membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah.Reina tidak tahu bagaimana Bayu bisa menemukan alamatnya, tapi dia tidak bisa tinggal di sini lagi.Dia mengambil ponsel, ragu sebentar sebelum menelepon."Halo, aku ingat kamu pernah bilang aku bisa menghubungimu kalau butuh bantuan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih tersembunyi."Suara Arga terdengar dalam, seperti sedang membuka lembar-lembar dokumen. "Rere?"Dia mendengarkan kata-kata Reina dan terdiam sejenak. "Beri aku waktu dua jam, nanti aku hubungi lagi secepatnya."Setelah menut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status