แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Yena
Hari-hari seolah kembali seperti dulu.

Aku masih tinggal di rumah yang Haikal beli untuk kami tinggali setelah menikah. Seperti biasa, siang hari aku bekerja, lalu malamnya pergi ke rumah sakit untuk merawat Ibu.

Haikal sibuk menemani istri barunya dan jarang menghubungiku.

Anehnya, meski dia tidak menghubungiku, aku justru merasakan sedikit kelegaan.

Sepulang kerja, aku membeli satu porsi bola kuah kaldu kesukaan Ibu, lalu membawanya ke rumah sakit.

Begitu masuk ke ruang perawatan, ternyata ada dua perempuan muda yang sedang duduk mengelilingi ranjang Ibu.

Aku segera menghampiri mereka dengan gelisah. Saat keduanya menoleh, ternyata mereka adalah sahabatku dan Vivian.

Suaraku bahkan bergetar saat bertanya,

“Rara, kenapa kamu bawa dia ke sini?”

Ibu tersenyum menatapku, lalu menjelaskan,

“Rara takut Ibu bosan, jadi dia bawa temannya untuk menemani Ibu mengobrol biar nggak bosan.”

“Meskipun ini pertama kalinya Ibu bertemu Vivian, tapi Ibu benar-benar langsung menyukainya. Aduh, gadis secantik dan selembut ini, tapi suaminya malah selingkuh di luar. Dasar brengsek.”

“Vivian, dengarkan Tante. Perempuan yang jadi orang ketiga pasti akan mendapat karmanya.”

Vivian perlahan bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiriku.

Dia melirikku dengan senyum palsu, lalu menoleh kepada Ibu. Senyumnya lembut, tetapi juga kejam.

“Tante, kata-katamu benar. Orang ketiga pasti akan mendapat karmanya.”

“Jadi, kapan putri Tante akan mendapat karmanya? Oh, benar. Dia sudah menerimanya. Hanya saja, karmanya malah menimpa Tante. Karma berupa kanker lambung stadium akhir ... kurasa itu sudah cukup memuaskan.”

Wajah ibuku seketika pucat pasi. Dengan susah payah menopang tubuhnya yang lemah, dia menatap tajam ke arah Vivian.

“Omong kosong apa yang kamu bicarakan!”

Sahabatku dengan geram mengeluarkan dua akta nikah, lalu melemparkannya ke arah wajah Ibu.

“Vivian nggak bohong. Layla memang benar-benar jadi orang ketiga!”

“Lihat, Vivian dan Haikal sudah resmi menikah. Mereka suami istri yang sah. Layla jelas-jelas tahu Haikal sudah punya istri, tapi masih saja nggak tahu malu tinggal di rumahnya dan memakai uangnya untuk membayar biaya pengobatanmu. Uang yang dipakainya itu semua adalah harta bersama mereka sebagai suami istri! Vivian berhak menuntutnya kembali!”

Tanggal 19 Juni, Festival Dayung Nusantara, hari ulang tahun Lala.

Ibuku menatap tajam tanpa berkedip tanggal yang tertera di surat nikah itu, lalu tiba-tiba memuntahkan seteguk darah.

“Ibu!”

Aku hendak menekan tombol panggilan darurat sambil menangis, tetapi sahabatku dan Vivian bersama-sama menghalangiku.

Vivian mencibir dingin.

“Ibumu sendiri yang bilang, perempuan hina yang jadi orang ketiga pantas mendapat karma. Kalau hari ini dia nggak mendapat karmanya, kamu nggak akan kapok dan nanti masih akan menggoda suamiku!”

“Kalau dia mati, justru lebih bagus. Uang Haikal bukan jatuh dari langit. Kenapa dia harus menanggung biaya hidup kalian berdua, ibu dan anak yang sama-sama hina ini?!”

Aku memohon sahabatku dengan putus asa agar menyelamatkan ibuku, tetapi yang kudengar hanya cibiran dingin penuh penghinaan.

“Sahabat? Aku nggak mau bersahabat dengan perempuan hina yang jadi orang ketiga. Vivian-lah sahabat terbaikku.”

“Sejak kecil sampai sekarang, kamu selalu lebih unggul dariku dalam segala hal. Kamu lebih cantik dariku, nilaimu lebih bagus, bahkan pacarmu juga lebih baik. Tingkahmu yang selalu berpura-pura itu benar-benar menjijikkan. Siapa juga yang butuh belas kasihanmu? Semua yang terjadi hari ini adalah karma untukmu!”

Aku terhuyung mundur selangkah. Telingaku berdengung.

Ternyata, semua perhatian yang selama ini kuberikan padanya, di matanya hanyalah belas kasihan.

Ternyata, selama ini aku mengira kami adalah sahabat, padahal di matanya, kami adalah musuh.

Aku bahkan belum sempat menjelaskan apa pun ketika mereka berdua menjatuhkanku dan menahanku di lantai. Aku hanya bisa menyaksikan Ibu kejang hebat di atas ranjang.

Di monitor detak jantung, grafik jantungnya sempat berpacu hebat, sebelum akhirnya perlahan berubah menjadi garis hijau yang lurus.

Ibu telah pergi.

Aku melepaskan diri dari cengkeraman mereka berdua seperti orang gila, meraih pisau yang biasa digunakan Ibu untuk mengupaskan apel untukku, lalu menerjang mereka.

Aku ingin mereka membayar nyawa Ibu dengan nyawa mereka!

“Layla, kamu sudah gila!”

Haikal mendorong pintu dan masuk, tepat saat menyaksikan kejadian itu tanpa mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.

Dia berteriak lalu menerjang ke arahku. Tanpa memedulikan hidup dan matinya sendiri, dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng dan berdiri di depan Vivian untuk melindunginya.

Sesaat sebelum ujung pisau itu menusuk dada Haikal, aku mendadak membalikkan arah pisau di tanganku.

Pisau itu langsung menancap di dadaku. Darahku langsung menyembur hingga memenuhi wajah Haikal.

Haikal memelukku erat dalam kepedihan, lalu berteriak sekeras-kerasnya dengan suara yang memilukan.

“Layla!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 10

    Polisi memperlihatkan berbagai bukti beserta surat perintah penangkapan kepada Haikal.Haikal menatap Vivian yang kini tampak berantakan dengan penuh amarah. Tubuhnya bahkan gemetar karena begitu terkejut.Dia telah ditipu.Bukan Layla yang berbohong, melainkan Vivian.Ibu Layla benar-benar telah meninggal. Vivian dan Rara yang bekerja sama hingga membuatnya meninggal.Mereka bahkan mencuri jasad ibu Layla, lalu berpura-pura menjadi korban dan menuduh Layla sebagai pelakunya.Selama ini, Layla pasti sudah begitu putus asa karena terus disalahpahami!Haikal benar-benar merasa dirinya bajingan. Dia sudah menyakiti Layla!Vivian dan Rara akhirnya dibawa pergi oleh polisi.Saat melewatiku, Rara, yang paling menjaga penampilannya, menangis hingga riasannya pun luntur.“Layla, maaf.”“Kamu benar-benar menganggapku sebagai teman, tapi karena gengsiku, aku malah terus bersaing denganmu diam-diam. Aku malah membantu orang lain menyakitimu dan menyebabkan Tante Sadipta yang selalu menyayangiku m

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 9

    Itu adalah rekaman saat Vivian sedang mengobrol dan berkumpul bersama beberapa teman perempuannya.Dia duduk meringkuk di sofa sambil menenggak bir dan berkali-kali memutar matanya dengan kesal.“Si bodoh Rara itu sampai minta hadiah ulang tahun dariku. Memang dia pikir dia itu siapa?”“Aku berteman sama dia cuma buat cari tahu rahasia Layla. Lagipula, mukanya jelek, badannya pun jelek. Dia ada di sampingku malah buat aku kelihatan makin cantik. Dia kira dirinya pantas jadi temanku?”“Teman dekat Haikal itu miskin dan kampungan. Memang sudah ditakdirkan jadi pengikut orang lain seumur hidup.”“Kakaknya Haikal itu benar-benar nggak tahu malu. Umurnya sudah hampir tiga puluh lima, tapi masih belum menikah. Tinggal di rumah orang tua dan cuma mengandalkan adiknya. Benar-benar seperti lintah yang cuma bisa mengisap darah! Uang Haikal itu uangku juga. Memangnya dia berhak menghambur-hamburkannya? Begitu kami menikah, aku akan langsung mengusirnya!”....Tak ada satu pun yang luput dari gunj

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 8

    Setelah hari itu, Haikal tidak pernah sekalipun datang menjengukku lagi.Bahkan biaya pengobatan yang ditransfernya untukku pun ditahan oleh Vivian.Karena kehabisan uang, aku harus pindah dari kamar VIP ke kamar biasa, lalu dari sana akhirnya ke kamar biasa yang digunakan bersama orang lain.Kondisinya jauh lebih buruk, sementara obat-obatan yang kudapatkan pun hanya obat-obatan dasar. Tubuhku pun pulih dengan sangat lambat.Sebulan kemudian, uang terakhirku akhirnya habis. Aku terpaksa keluar dari rumah sakit.Sambil menyentuh bekas luka merah gelap yang berkelok dan mengerikan di dadaku, rasa benci yang begitu besar hampir menelanku.Hal pertama yang kulakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.“Saya ingin melapor. Seseorang telah mencuri jasad ibu saya.”Polisi bergerak cepat. Kurang dari sehari kemudian, mereka sudah berhasil melacak ke mana jasad Ibu dibawa melalui rekaman CCTV rumah sakit.Kebenaran yang sebenarnya bisa terungkap

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 7

    Setelah meminta maaf kepada kepala rumah sakit, Haikal mengakhiri panggilan itu dengan wajah muram.Dia langsung memeluk Vivian yang masih terisak dalam pelukannya, lalu menatapku dengan kekecewaan yang begitu dalam.“Layla, aku benar-benar nggak menyangka kamu bisa berubah jadi orang seperti ini.”“Bagaimana kamu bisa berubah jadi sekejam ini? Kamu bahkan sampai menyuruh ibumu berpura-pura mati demi menjebak Vivian. Bisa-bisanya kamu sampai kepikiran cara selicik itu!”“Kamu nggak takut kena karma karena sandiwara pura-pura mati seperti ini? Kalau sampai ibumu benar-benar mati gara-gara semua ini, bagaimana?!”Vivian melirikku dari sudut matanya. Senyum kemenangan perlahan terukir di sudut bibirnya.Sahabatku, Rara, juga menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan wajah penuh kemenangan.Saat itu, menang atau kalah dari Vivian sudah tidak penting lagi bagiku. Begitu juga dengan membuat Haikal percaya kepadaku.Aku hanya ingin tahu satu hal. Sebenarnya, di bawa ke mana jasad Ibu?Do

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 6

    Terdengar ketukan di pintu. Haikal bangkit dan membukanya. Di hadapannya, tiba-tiba muncul wajah Vivian yang tampak begitu sedih. Mata Vivian memerah, dipenuhi air mata yang berkilauan, seperti kelinci kecil yang terluka.Hati Haikal seketika melunak, dan tanpa sadar, nada suaranya pun menjadi lebih lembut.“Vivian, kenapa kamu datang?”Vivian langsung memeluk Haikal.“Kalau aku nggak datang, entah apa lagi yang akan Kak Layla tuduhkan kepadaku!”“Apa Kak Layla sudah menuduhku membunuh Tante Sadipta? Huhuhu, aku nggak melakukannya!”“Aku dengar kondisi kesehatan Tante Sadipta nggak baik, jadi aku minta Rara mengantarku untuk menjenguknya.”“Begitu sampai di depan ruang perawatan, aku nggak sengaja dengar percakapan Kak Layla dengan Tante Sadipta. Mereka berencana membuat Tante Sadipta berpura-pura mati, lalu menuduhku sebagai pelakunya. Dengan begitu, kamu akan benar-benar membenciku, dan ibu dan anak itu, bisa terus menguasai uangmu ....”“Haikal, kamu sudah begitu baik kepada mereka

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 5

    Saat sadar, dadaku terasa sangat sakit, seakan sedikit saja bergerak, luka itu akan kembali robek.Aku berusaha menahan rasa sakit untuk bangkit. Haikal, yang berjaga di sisi ranjang, segera menopangku.“Layla, kalau kamu mau melakukan sesuatu, suruh aku saja. Lukamu belum kering. Kalau bergerak sembarangan, nanti akan sakit.”Dia dengan penuh perhatian mengatur posisi ranjang rumah sakit agar lebih nyaman. Sambil membantuku berbaring dengan nyaman, dia menelepon pihak perusahaan.“Layla terluka. Aku tetap nggak tenang kalau hanya menyerahkan perawatannya kepada perawat, jadi aku harus menjaganya sendiri.”“Gilang, beberapa hari ini aku tidak akan ke kantor. Tolong kamu dan beberapa manajer lainnya yang urus perusahaan untuk sementara.”Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Haikal.Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Ibu sebenarnya.Apakah Ibu berhasil diselamatkan?Sambil menahan rasa sakit yang hebat di dadaku, aku berusaha bangkit lagi. Saat itu, Dokter Andi, d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status