Share

Bab 3

Penulis: Yena
“Layla!”

Haikal memanggilku dengan tergesa-gesa, tetapi aku tidak berhenti ataupun menoleh.

Aku ke rumah sakit menggunakan taksi. Hari ini, wajah Ibu tampak jauh lebih cerah.

Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku, lalu bertanya dengan penuh semangat,

“Layla, hasil foto untuk pendaftaran pernikahanmu bagus nggak? Coba cepat tunjukkan ke Ibu.”

Tenggorokanku tercekat, ujung hidungku terasa begitu perih.

Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Ibu, terlebih lagi aku juga tidak tega membiarkannya tahu kenyataan yang sebenarnya.

Saat aku hampir memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya, tiba-tiba Haikal membuka pintu.

Dia duduk di tepi ranjang. Selama sepuluh tahun terakhir, dia selalu telaten memijat Ibu seperti ini. Dengan suara lembut, dia terkekeh lalu berkata,

“Layla merasa foto untuk pendaftaran pernikahannya kurang bagus, jadi dia mengembalikannya ke studio foto untuk diperbaiki. Dua hari lagi kami akan mendaftarkan pernikahan lagi. Nanti, pasti kami tunjukkan ke Ibu.”

Haikal tiba-tiba mengubah panggilannya dari ‘Tante’ menjadi ‘Ibu’. Ibu sampai berkaca-kaca karena terharu, bahkan untuk sesaat tidak menyadari ada yang aneh di antara kami berdua.

Aku menarik Haikal keluar dengan wajah muram.

“Aku sudah mundur. Sebenarnya kamu masih mau apa lagi dariku?

Haikal menyelipkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga dengan lembut dan begitu terbiasa. Dia menatapku, lalu menghela napas.

“Layla, kita sudah bersama selama dua belas tahun. Sekarang kita harus berpisah. Apa kamu benar-benar rela?”

Kalaupun tidak rela, lalu apa yang bisa dilakukan?

Sekarang dia adalah suami orang lain.

Dengan mata memerah, aku menatap tajam Haikal, lalu tertawa sinis,

“Rela atau nggak, aku tetap harus merelakannya.”

Aku berbalik hendak pergi, tetapi Haikal menghadang jalanku dengan tubuhnya.

Dia mencengkeram bahuku, lalu tiba-tiba kehilangan kendali dan menarikku erat ke dalam pelukannya.

“Tapi aku nggak rela kehilanganmu.”

Pelukannya begitu erat. Aku berusaha mendorongnya sekuat tenaga, tetapi tetap tidak bisa melepaskan diri.

“Waktu menabung untuk membelikanmu cincin berlian saat kuliah dulu, aku mengenal Vivian di kedai kopi tempatku bekerja paruh waktu.”

“Dia gadis pemalu. Setiap kali bicara, wajahnya langsung memerah. Dia juga sering diganggu para berandalan, jadi aku sering membantunya. Lama-kelamaan, akhirnya kami jadi akrab.”

“Suatu kali, seorang pelanggan berniat jahat dan memberinya obat. Aku menerobos masuk ke hotel untuk menyelamatkannya. Siapa sangka, dia tiba-tiba menciumku. Aku nggak bisa menahan diri, jadi ....”

“Aku pernah berniat mengakhiri hubungan dengannya. Tapi, Vivian juga nggak bersalah. Hati nuraniku bilang, aku nggak seharusnya menyakitinya. Aku harus bertanggung jawab padanya.”

“Selama ini, dia menemaniku tanpa status apa pun. Dia nggak pernah menangis, nggak membuat keributan, nggak menuntut apa pun, atau memaksakan diri. Aku yang telah membuatnya menderita, jadi aku harus menebusnya dengan surat nikah.”

Ternyata, dua belas tahun dan delapan tahun bukan sekadar dua angka yang saling bertumpang tindih.

Saat aku memegang cincin berlian sambil tersenyum bodoh karena bahagia, Haikal sedang bercinta dengan gadis lain.

Saat aku memasak iga asam manis kesukaannya di rumah kontrakan sambil menunggunya pulang, dia justru sedang menyantap mi buatan gadis lain.

Ada begitu banyak momen ketika aku dipenuhi kebahagiaan, sementara di saat yang sama, aku sedang dikhianati.

“Cukup! Aku nggak mau dengar bagaimana kalian mulai berselingkuh. Pergi dari sini!”

Aku menggigit bahu Haikal sambil menangis.

Rasa amis darah memenuhi mulutku. Dia sampai gemetar menahan sakit, tetapi tidak melawan.

Sambil menahan rasa sakit, Haikal mengusap lembut rambutku.

“Meskipun aku sudah memberikan surat nikah kepada Vivian, selain itu, apa pun yang dia dapat dariku, kamu akan mendapat lebih banyak, bukan lebih sedikit.”

“Cinta, uang, kebersamaan kita, bahkan baktiku kepada Ibu, semua itu tetap nggak akan berkurang hanya karena aku menikah dengan Vivian.”

“Oh iya, belakangan ini ada obat baru dari luar negeri yang cukup ampuh untuk mengobati kanker lambung stadium akhir. Layla, kapan kita akan menemani Ibu mencobanya?”

Aku memejamkan mata dengan pasrah dan berhenti menggigitnya.

Selama bertahun-tahun ini, Haikal memang selalu memperlakukanku dengan sangat baik.

Kalau bukan karena Vivian, mungkin aku akan menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia.

Apa pun yang kuinginkan, Haikal selalu membelikannya tanpa pernah mempermasalahkan harga.

Dia selalu menemaniku ke mana pun aku ingin pergi. Bahkan jika harus menolak urusan bisnis, dia tidak pernah keberatan.

Saat Ibu sakit, dia merawatnya sendiri dan berdiskusi dengan dokter hingga larut malam untuk menentukan rencana pengobatan.

Selama ini, Haikal juga selalu menanggung biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Aku tidak bisa meninggalkan Haikal.

Setidaknya, sampai Ibu sembuh, aku tidak bisa meninggalkannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 10

    Polisi memperlihatkan berbagai bukti beserta surat perintah penangkapan kepada Haikal.Haikal menatap Vivian yang kini tampak berantakan dengan penuh amarah. Tubuhnya bahkan gemetar karena begitu terkejut.Dia telah ditipu.Bukan Layla yang berbohong, melainkan Vivian.Ibu Layla benar-benar telah meninggal. Vivian dan Rara yang bekerja sama hingga membuatnya meninggal.Mereka bahkan mencuri jasad ibu Layla, lalu berpura-pura menjadi korban dan menuduh Layla sebagai pelakunya.Selama ini, Layla pasti sudah begitu putus asa karena terus disalahpahami!Haikal benar-benar merasa dirinya bajingan. Dia sudah menyakiti Layla!Vivian dan Rara akhirnya dibawa pergi oleh polisi.Saat melewatiku, Rara, yang paling menjaga penampilannya, menangis hingga riasannya pun luntur.“Layla, maaf.”“Kamu benar-benar menganggapku sebagai teman, tapi karena gengsiku, aku malah terus bersaing denganmu diam-diam. Aku malah membantu orang lain menyakitimu dan menyebabkan Tante Sadipta yang selalu menyayangiku m

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 9

    Itu adalah rekaman saat Vivian sedang mengobrol dan berkumpul bersama beberapa teman perempuannya.Dia duduk meringkuk di sofa sambil menenggak bir dan berkali-kali memutar matanya dengan kesal.“Si bodoh Rara itu sampai minta hadiah ulang tahun dariku. Memang dia pikir dia itu siapa?”“Aku berteman sama dia cuma buat cari tahu rahasia Layla. Lagipula, mukanya jelek, badannya pun jelek. Dia ada di sampingku malah buat aku kelihatan makin cantik. Dia kira dirinya pantas jadi temanku?”“Teman dekat Haikal itu miskin dan kampungan. Memang sudah ditakdirkan jadi pengikut orang lain seumur hidup.”“Kakaknya Haikal itu benar-benar nggak tahu malu. Umurnya sudah hampir tiga puluh lima, tapi masih belum menikah. Tinggal di rumah orang tua dan cuma mengandalkan adiknya. Benar-benar seperti lintah yang cuma bisa mengisap darah! Uang Haikal itu uangku juga. Memangnya dia berhak menghambur-hamburkannya? Begitu kami menikah, aku akan langsung mengusirnya!”....Tak ada satu pun yang luput dari gunj

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 8

    Setelah hari itu, Haikal tidak pernah sekalipun datang menjengukku lagi.Bahkan biaya pengobatan yang ditransfernya untukku pun ditahan oleh Vivian.Karena kehabisan uang, aku harus pindah dari kamar VIP ke kamar biasa, lalu dari sana akhirnya ke kamar biasa yang digunakan bersama orang lain.Kondisinya jauh lebih buruk, sementara obat-obatan yang kudapatkan pun hanya obat-obatan dasar. Tubuhku pun pulih dengan sangat lambat.Sebulan kemudian, uang terakhirku akhirnya habis. Aku terpaksa keluar dari rumah sakit.Sambil menyentuh bekas luka merah gelap yang berkelok dan mengerikan di dadaku, rasa benci yang begitu besar hampir menelanku.Hal pertama yang kulakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.“Saya ingin melapor. Seseorang telah mencuri jasad ibu saya.”Polisi bergerak cepat. Kurang dari sehari kemudian, mereka sudah berhasil melacak ke mana jasad Ibu dibawa melalui rekaman CCTV rumah sakit.Kebenaran yang sebenarnya bisa terungkap

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 7

    Setelah meminta maaf kepada kepala rumah sakit, Haikal mengakhiri panggilan itu dengan wajah muram.Dia langsung memeluk Vivian yang masih terisak dalam pelukannya, lalu menatapku dengan kekecewaan yang begitu dalam.“Layla, aku benar-benar nggak menyangka kamu bisa berubah jadi orang seperti ini.”“Bagaimana kamu bisa berubah jadi sekejam ini? Kamu bahkan sampai menyuruh ibumu berpura-pura mati demi menjebak Vivian. Bisa-bisanya kamu sampai kepikiran cara selicik itu!”“Kamu nggak takut kena karma karena sandiwara pura-pura mati seperti ini? Kalau sampai ibumu benar-benar mati gara-gara semua ini, bagaimana?!”Vivian melirikku dari sudut matanya. Senyum kemenangan perlahan terukir di sudut bibirnya.Sahabatku, Rara, juga menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan wajah penuh kemenangan.Saat itu, menang atau kalah dari Vivian sudah tidak penting lagi bagiku. Begitu juga dengan membuat Haikal percaya kepadaku.Aku hanya ingin tahu satu hal. Sebenarnya, di bawa ke mana jasad Ibu?Do

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 6

    Terdengar ketukan di pintu. Haikal bangkit dan membukanya. Di hadapannya, tiba-tiba muncul wajah Vivian yang tampak begitu sedih. Mata Vivian memerah, dipenuhi air mata yang berkilauan, seperti kelinci kecil yang terluka.Hati Haikal seketika melunak, dan tanpa sadar, nada suaranya pun menjadi lebih lembut.“Vivian, kenapa kamu datang?”Vivian langsung memeluk Haikal.“Kalau aku nggak datang, entah apa lagi yang akan Kak Layla tuduhkan kepadaku!”“Apa Kak Layla sudah menuduhku membunuh Tante Sadipta? Huhuhu, aku nggak melakukannya!”“Aku dengar kondisi kesehatan Tante Sadipta nggak baik, jadi aku minta Rara mengantarku untuk menjenguknya.”“Begitu sampai di depan ruang perawatan, aku nggak sengaja dengar percakapan Kak Layla dengan Tante Sadipta. Mereka berencana membuat Tante Sadipta berpura-pura mati, lalu menuduhku sebagai pelakunya. Dengan begitu, kamu akan benar-benar membenciku, dan ibu dan anak itu, bisa terus menguasai uangmu ....”“Haikal, kamu sudah begitu baik kepada mereka

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 5

    Saat sadar, dadaku terasa sangat sakit, seakan sedikit saja bergerak, luka itu akan kembali robek.Aku berusaha menahan rasa sakit untuk bangkit. Haikal, yang berjaga di sisi ranjang, segera menopangku.“Layla, kalau kamu mau melakukan sesuatu, suruh aku saja. Lukamu belum kering. Kalau bergerak sembarangan, nanti akan sakit.”Dia dengan penuh perhatian mengatur posisi ranjang rumah sakit agar lebih nyaman. Sambil membantuku berbaring dengan nyaman, dia menelepon pihak perusahaan.“Layla terluka. Aku tetap nggak tenang kalau hanya menyerahkan perawatannya kepada perawat, jadi aku harus menjaganya sendiri.”“Gilang, beberapa hari ini aku tidak akan ke kantor. Tolong kamu dan beberapa manajer lainnya yang urus perusahaan untuk sementara.”Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Haikal.Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Ibu sebenarnya.Apakah Ibu berhasil diselamatkan?Sambil menahan rasa sakit yang hebat di dadaku, aku berusaha bangkit lagi. Saat itu, Dokter Andi, d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status