로그인Di hari putriku didiagnosis menderita penyakit jantung bertepatan dengan kepulangan cinta sejati Josef Pangestu ke tanah air. Dengan tidak berdaya aku memeluk putriku yang berusia lima tahun sambil menunggu hasil di rumah sakit. Josef mengemudi ke bandara hanya demi membuat anak Vivian Kusuma merasakan yang namanya dijemput oleh seorang 'ayah'. Aku duduk di samping ranjang putriku di rumah sakit, dan menandatangani formulir persetujuan operasi sendirian. Josef mengajak cinta sejatiya ke mal, memilih hadiah ulang tahun untuk anak angkat yang baru saja diakuinya. Di hari putriku akan menjalani operasi jantung, dan sebelum dibawa ke ruang operasi, dia menggenggam erat lengan baju Josef, menolak untuk melepaskannya. "Ayah, aku takut. Bisakah Ayah dan Ibu menemaniku?" Josef mengiakannya. Namun detik berikutnya, telepon dari Vivian masuk: "Josef, Ken sibuk 'mencari 'Ayah Josef' di pesta ulang tahunnya. Bisakah kamu datang sebentar?" Josef tanpa ragu membuka paksa jari-jari tangan putrinya yang mengenggamnya erat. "Ini hanya operasi kecil saja. Elin nggak perlu takut." "Tante Vivian ada urusan mendesak. Setelah selesai nanti, Ayah akan kembali menemanimu." Josef berbalik dan pergi. Putriku tidak menangis. Hal pertama yang dia lakukan setelah keluar dari ruang operasi adalah belajar mengubah panggilannya. "Ibu, aku nggak mau Om Josef jadi ayahku lagi."
더 보기"Kamu yang lebih dulu nggak menginginkan kami."Suasana di restoran itu sangat hening.Saking heningnya, aku sampai bisa mendengar napas Josef yang terengah-engah.Dia tampak terpaku di tempat mendengar kata-kata itu.Bergeming untuk waktu lama.Elin menambahkan."Dulu aku sangat menginginkan ayah.""Aku ingin kamu mengikuti kegiatan orang tua-anak di TK.""Aku ingin kamu membacakan dongeng sebelum tidur.""Aku ingin kamu memelukku di saat aku sakit.""Tapi kamu selalu sibuk.""Saat mau dioperasi, aku sangat takut.""Kukira kamu akan menemaniku.""Tapi kamu pergi begitu saja."Dia berbicara sangat lambat.Setiap kata diucapkan dengan sangat pelan.Namun, terdengar jauh lebih keras dari teguran biasa."Jadi, aku nggak butuh lagi.""Aku dan Ibu hidup dengan baik sekarang.""Jangan datang mengganggu kami lagi."Air mata Josef akhirnya jatuh.Dia berjongkok dan mengulurkan tangan untuk menyentuh putrinya.Elin bersembunyi di belakangku sejenak.Tangan Josef membeku di udara."Elin, Ayah su
Fredo juga kebetulan sedang libur, jadi dia mengikuti kami.Elin sangat menyukainya.Karena Fredo tidak pernah memperlakukannya seperti pasien dan selalu berusaha menghiburnya.Pria itu akan mendengarkannya dengan serius.Dan juga akan memberitahunya."Kamu bukanlah boneka kaca.""Kamu hanya perlu lebih berhati-hati saja sekarang.""Setelah pulih sepenuhnya, kamu juga bisa berlari dan melompat."Mata Elin berbinar saat mendengar itu."Kalau begitu, bolehkah aku belajar menari kelak?"Fredo mengangguk."Tentu saja.""Tapi kamu harus tanya pada ibumu dulu, lalu tanyakan pada dokter juga."Elin langsung menatapku."Ibu, aku ingin belajar menari."Aku tersenyum sambil mengangguk."Setelah kamu sembuh nanti, Ibu akan membawamu mendaftar."Saking gembiranya, dia nyaris melompat kegirangan, tetapi Fredo dengan lembut menekan bahunya."Hati-hati."Elin menjulurkan lidahnya."Aku mengerti, Om Fredo."Saat itu, aku tiba-tiba merasa bahwa ini adalah hal yang baik.Tidak ada sesuatu yang heboh.Ti
Aku hanya berdiri di tepi danau dan mengamati angsa-angsa itu untuk waktu yang lama.Elin mengenakan topi kecil dan duduk di bangku sambil menggambar.Dia pulih dengan sangat baik.Rona merah alami kembali menghiasi wajahnya.Ketika Fredo datang untuk pemeriksaan, dia berjongkok untuk melihat gambarnya."Ini ibumu?"Elin mengangguk."Ini Ibu. Yang ini Kakek dan Nenek."Fredo berkata sambil tersenyum, "Terus, anjing kecil di samping ini?""Ini anjing kecil yang ingin kupelihara kelak," jawab Elin dengan serius.Fredo terkekeh."Terus, aku di mana?"Elin berpikir sejenak, lalu menambahkan figur kecil berjas putih di sudut gambarnya."Aku menambahkan Om Fredo di gambarku juga."Mata Fredo menyimpan senyum yang dalam.Aku berdiri di samping. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya hatiku melunak.Setelah meninggalkan Josef, aku baru menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang penantian ataupun kekecewaan.Ada sinar matahari di pagi hari.Ada teh hangat di sore hari.Elin akan tidur nyenya
"Kamu bisa.""Bukankah kamu sudah melewati satu minggu yang menyenangkan?""Kamu menemani Vivian makan, merayakan ulang tahun Ken, jalan-jalan ke mal, dan memilih hadiah.""Tanpa diriku dan Elin, kamu juga masih sangat sibuk."Tenggorokan Josef seolah-olah tersumbat.Aku melanjutkan."Sekalipun kamu nggak mau menandatanganinya, Keluarga Sumargo pasti punya cara lain.""Josef, jangan paksa aku memperburuk masalah.""Selain itu, jangan datang menggangguku dan putriku lagi."Usai berbicara, aku berbalik dan masuk ke dalam.Sesaat sebelum pintu tertutup, aku mendengar dia bergumam, "Grace."Suaranya sangat pelan.Mengandung kerendahan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya.Namun, aku tidak menoleh.Karena kasih sayang yang datang terlambat sudah kehilangan makna.Josef tidak langsung pergi.Dia berdiri di luar vila itu untuk waktu yang lama.Angin di Alowis sangat dingin.Hembusan angin menerpa wajahnya hingga memucat.Namun, aku tidak membuka pintu lagi.Elin mengintip dari kamarnya d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.