LOGINAnastasia just wanted to finish highschool so she could breathe. Everyone bullied her and she was used to it but then there was one person that took it upon himself to remind her each day she was an ugly freak. Vincent made it his life mission to taunt and bully her each day. She hated it but couldn't say anything about it because she didn't want to get into more trouble. It gets more intense when Vincent's rival Caleb picks interest on Anastasia and Vincent wasn't going to sit and watch someone trample over him. Anastasia was caught up in the middle of the rival she wanted nothing to do with. Extract from the story **" "You are mine to play with and I won't stand and watch someone take you from me."Vincent hissed at me before shoving me and walking away.
View More[Ciee, suamimu romantis banget ya, Sil? Kayak pengantin baru aja.] Kubaca pesan dari Nana, temanku.
[Sil, kamu bajak hp Reno, ya?] Pesan masuk lagi dari Indira sepupu jauh Reno, suamiku.
Berikutnya beberapa pesan yang berkomentar tentang suamiku pun menyusul masuk. Aku jadi bingung. Ada apa dengan Mas Reno?
Aku memilih membalas pesan dari Indira. [Emang hp Mas Reno kenapa, In?]
Sejurus kemudian balasan dari Indira kuterima. Dikirimnya foto status WA Mas Reno.
Kedua alisku saling bertaut melihat foto itu. Terlihat di status WA Mas Reno, sepasang tangan berbeda jenis dilihat dari bentuk dan ukurannya saling menggenggam, dengan caption, "Terima kasih untuk hadiah terindah ini. Percayalah, akan kujaga sepenuh jiwa. Bertahanlah bersamaku!"
Segera kucari status itu di WAku. Aneh, aku tak menemukannya. Selama ini memang Mas Reno tidak pernah kulihat membuat status. Apalagi selebay itu. Lalu kenapa orang lain bisa melihatnya? Ada apa sebenarnya?
Perasaanku jadi tidak enak. Laptop yang sedang memutar drama korea pun akhirnya kumatikan. Aku jadi tidak fokus menonton drama yang sedang on going itu.
Apa mungkin Mas Reno selingkuh?
Namun, selama ini semuanya terlihat biasa saja. Tak ada yang aneh. Dia tetap bersikap manis di pernikahan kami yang sudah memasuki tahun ke delapan. Meskipun kami belum dipercaya memiliki momongan pun, ia tak pernah menuntut. Semua baik-baik saja. Lalau apa mungkin dia curang di belakangku?
Jarum jam rasanya begitu lambat berputar. Aku tak sabar menunggu Mas Reno pulang. Meskipun aku belum tahu harus bagaimana menanyakan perihal ini kepadanya, tetapi setidaknya aku ingin dia segera pulang.
Kualihkan perhatianku dengan membereskan rumah yang sebenarnya masih rapi. Aku menyapu, mengepel, mencuci baju tanpa mesin cuci. Agar ragaku lelah dan tak punya tenaga lagi untuk berpikir buruk pada Mas Reno.
Aku merasa tidak siap jika sampai Mas Reno mengkhianatiku. Aku harus bertindak seperti apa? Haruskah bercerai? Haruskah? Sedang aku sangat mencintainya. Selama ini pusat hidupku adalah dia. Bagaimana bisa semudah itu aku melepasnya?
Namun, jika benar Mas Reno berselingkuh, bisakah aku memaafkannya? Menerima dia yang sudah berdusta? Masihkah aku bisa percaya kepadanya? Lalu pernikahan seperti apa yang akan kami jalani kedepannya?
"Mas Reno, aku harus bagaimana?"
Tubuhku luruh, ikut berendam bersama selimut yang sedang kucuci. Aku tergugu sendiri di kamar mandi. Rasanya hatiku pedih sekali.
Setelah puas menangis, kulanjutkan aktifitas mencuci. Kemudian mandi. Saat aku mengambil baju ganti di lemari, aku terkejut melihat Mas Reno memasuki kamar.
"Loh, Mas sudah pulang?" tanyaku.
"Sudah, Dek. Tadi aku ketuk-ketuk pintu Adek enggak dengar, ya? Untung aku bawa kunci," jelasnya sambil berjalan mendekatiku. Diciumnya puncak kepalaku. Mas Reno semanis itu, bagaimana mungkin dia curang di belakangku?
"Tumben jam segini Adek baru mandi?" komentarnya.
"Iya, Mas. Tadi aku bersih-bersih rumah dulu. Terus nyuci selimut juga," jelasku.
"Oh," sahutnya.
Lelaki itu berdiri di sisiku. Membuka dasi dan kemeja kerjanya. Aku menatapnya di pantulan cermin lemari.
Ingin kutanyakan mengenai status WAnya, tetapi bagaimana aku menanyakannya? Kalimat seperti apa yang paling tepat? Dan yang paling penting bisa membuatnya mengatakan yang sebenarnya.
"Mas!" panggilku.
"Iya, Dek. Kenapa?" Dia menatapku sambil tersenyum manis melalui pantulan cermin di depan kami.
Tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Akhirnya aku hanya menunduk tak jadi bertanya.
Nanti saja, Sil! Sekarang Mas Reno baru sampai rumah. Dia masih cape. Nanti dia bisa emosi dan kalian bertengkar. Tak ada kebaikan yang akan kamu dapat. Sabar, Sil!
"Kamu mandi dulu, gih!" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
"Siap, Nyonya!" sahutnya masih sambil tersenyum manis. Sebelum berlalu menuju kamar mandi, sekali lagi dia mengecup puncak kepalaku.
Mencium puncakku sudah menjadi kebiasaan yang sangat suka ia lakukan. Apapun yang sedang aku lakukan. Bahkan kadang di tempat umum pun ia tidak segan. Dengan sikap semanis itu, mungkinkah sebenarnya ia curang?
Aku menatap punggung Mas Reno dengan mata berkaca-kaca.
Benarkah kamu mengkhianatiku, Mas? Tegakah kamu melakukan itu kepadaku?
Aku menghela nafas panjang. Berusaha meredam sesak yang membuat dadaku nyeri. Kuambil daster dan memakainya. Melihat kemeja dan celana Mas Reno yang teronggok di lantai, membuatku ingin melihat ponselnya.
Kupandangi pintu kamar mandi sekejap, lalu berjongkok, mencari ponsel itu di saku celananya. Tanganku gemetar memegang ponsel itu. Aku takut. Sangat takut. Aku takut menemukan apa yang tidak ingin aku lihat.
Kupejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Aku harus melihatnya.
Kuusap layar ponsel Mas Reno. Tak ada sandi atau apapun. Mungkinkah Mas Reno selingkuh?
Hal pertama yang kulihat adalah status WAnya. Kosong. Tak ada status apa-apa. Lalu pengaturan privasi statusnya. Nihil. Aku tak menemukan apapun. Pasti Mas Reno sudah menghapusnya sebelum pulang.
Berikutnya, aku melihat orang-orang yang berkirim pesan dengan Mas Reno. Tak ada pesan aneh. Hanya menyangkut pekerjaan, bercanda dengan teman, dan pesan dari keluarga serta saudaranya.
Tak puas disitu, aku melihat daftar kontaknya. Adakah nama yang aneh, atau nama wanita yang tidak aku kenal di kontaknya? Sedang lingkaran pertemanan kami selama ini kebanyakan sama. Karena kami pacaran sejak SMA, meski dulu putus nyambung. Bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama. Rekan kerja Mas Reno pun aku hampir kenal semuanya, berikut istri ataupun suaminya. Namun, lagi-lagi aku tak menemukan nama yang asing.
"Lagi liat-liat apa, sih, Sayang?"
Aku terkejut saat mendengar suara Mas Reno tepat di sampingku. Saking fokusnya, sampai aku tidak menyadari kalau dia sudah selesai mandi.
"Oh, eh, ini, Mas. Aku-aku lagi cari nomor Vita," dustaku.
Mas Reno pasti tahu kalau aku berbohong. Biarlah.
"Oh," sahutnya. Kemudian berdiri dari posisi jongkoknya.
Aku sendiri masih terpekur memandangi ponsel Mas Reno. Aku merasa tidak enak hati sudah kepergok membuka ponselnya. Meskipun selama ini aku terbiasa membuka-buka ponselnya, tetapi itu kulakukan di depan Mas Reno.
"Dek, baju Mas mana?" tanyanya.
Astaga! Aku sampai lupa tak menyiapkan pakaian gantinya.
"Oh, iya, sebentar, Mas."
Bergegas aku membuka lemari mengambil baju santai untuk Mas Reno. Aku jadi salah tingkah.
"Terima kasih, Dek," ucapnya sambil mengambil kaos yang kupilihkan dari tanganku.
Setelah mengenakan kaos dan celana pendek, Mas Reno menyisir rambutnya dan memakai minyak wangi. Mas Reno memang selalu rapi dan wangi. Walaupun cuma berada di rumah.
"Makan, yuk, Dek! Mas Lapar!" ajaknya. Kemudian merangkul bahuku.
Usai makan, kami memilih menonton televisi di kamar. Meskipun seringnya televisi yang menonton kami. Karena kami selalu asyik berbincang membahas apapun. Mulai dari pekerjaan Mas Reno sampai gosip yang kudapat dari ibu-ibu.
Kali ini suasananya lain. Aku masih canggung setelah kepergok membuka ponselnya sembunyi-sembunyi. Apalagi pikiranku masih kusut oleh pesan yang Indira kirim.
Disela-sela Mas Reno bercerita tentang Tedi yang baru saja punya anak, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu ingin punya anak juga, Mas?" tanyaku.
Biasanya ia akan menjawab, "punya kamu aja aku sudah sangat bersyukur, Dek." Namun, kali ini ia diam sambil menatapku dalam. Aku jadi merasa gelisah.
"Dek?" panggilnya.
"Hem?" sahutku.
"Kamu mau janji?" tanyanya.
"Apa?" Perasaanku semakin tidak enak.
"Kamu janji ya, apapun yang terjadi kamu tetap di sisiku! Jadi istriku!" pintanya.
"Kenapa aku harus janji?" Aku tak mau terjebak.
"Karena aku ingin selamanya bersama kamu. Bagaimanapun ujian yang menerpa rumah tangga kita."
Aku hanya diam tak tahu harus menimpali apa. Kerena aku perasaanku masih tidak enak. Pikiranku masih tentang status WAnya.
"Kok, diam sih, Dek?" protesnya. "Janji, ya!"
Aku hanya mengangguk. Mas Reno meraih jemariku. Menggenggamnya erat kemudian dicium dengan mesra.
"Dek, beberapa bulan lalu aku ketemu Bulan," akunya. Bulan merupakan mantan pacar Mas Reno saat kami kuliah. Waktu itu kami sempat putus. Aku pacaran dengan orang lain begitupun Mas Reno. Ia pacaran dengan Bulan. Kemudian kami nyambung lagi setelah Bulan pindah ke luar kota dan aku putus dengan Andika.
Mendengar itu dadaku berdenyut nyeri. Mataku mendadak panas dan berembun.
Bulankah yang dimaksud Mas Reno dalam statusnya?
"Lalu?" tanyaku.
"Dia kasian sekali, Dek."
"Kenapa?"
"Suaminya selingkuh dan suka main tangan. Anaknya sampai meninggal saat mereka bertengkar di jalan dan mobil mereka kecelakaan," kisah Mas Reno.
Mas Reno tahu sedetail itu, itu artinya mereka selama ini berhubungan cukup dekat. Aku jadi kembali teringat status WA Mas Reno. "Terima kasih untuk hadiah terindah ini. Percayalah, akan kujaga sepenuh jiwa. Bertahanlah bersamaku!"
Apa Bulan memberinya hadiah? Hadiah apa? Lalu mungkinkah Mas Reno akan melindungi Bulan dari suami jahatnya? Itukah maksud status Mas Reno? Atau lebih dari itu?
"Lalu?" Aku tak kuasa berkomentar panjang.
"Setelah peristiwa kecelakaan itu, suaminya pergi tanpa kabar. Akhirnya Bulan menggugat cerai."
"Oh, jadi Bulan sudah janda," sahutku. Aku cemburu. Tak suka Mas Reno membahasnya seperti ini.
Mas Reno diam beberapa saat. Mengeratkan genggaman tangannya. "Suaminya enggak terima Bulan menggugat cerai, Dek. Meskipun hakim sudah memutuskan. Karena suaminya sudah pergi lebih dari tiga tahun tanpa kabar apalagi nafkah."
"Kok gitu?"
"Iya, akhirnya bulan dan keluarganya melarikan diri ke kota ini. Karena suaminya selalu mengancam dan menyakiti dia."
"Kenapa enggak lapor polisi aja?" usulku. Lebih baik polisi yang melindungi Bulan daripada suamiku. Aku tak mau cinta lama mereka bersemi kembali.
"Orang tua mantan suaminya pejabat yang punya pengaruh, Dek. Dulu Bulan pernah lapor untuk kasus KDRT yang dialaminya, tetapi enggak ditindak," jelas Mas Reno.
"Kok kamu tahu detail sekali, Mas?" tanyaku tak suka.
"Maaf, Dek," ucapnya. Mas Reno terdengar menghela nafas panjang. "Kami sudah menikah dan Bulan sedang hamil."
10 years later Anna's POV I took a deep breath in as I smiled to my father beside me. Finally the day had come. After the arrangements, crying and shouting, I can say that I am happy now. "Are you ready dear?" Dad asked and I exhaled as I put on a big smile. "Yes dad I am ready." I said as we walked down the aisle. This was the happiest day of my life and seeing my friends, family , relatives all gathered together here was like the best feeling ever. Vincent looked dashing in his tux and his undercut gave him a different look entirely today. I don't know why he decided to cut his hair but it made him look more manly. I got to the altar and I was finally wed to him. ***few months later*** Daniel and Jack came over to pay us a visit. More like Daniel came to complain about how his girlfriend left him after he spent so much money and time on her. I got tired of him complaining. "Stop talking so much Daniel,she left you so just get over it, Jack did tell you that she was jus
Anna's pov I waited till Vincent finished his exams,since I got no threats from anyone he passed and Daniel told me so as well. He hasn't made any comment regarding my breakup with Vincent either he doesn't know or he doesn't care but either way part of me was happy that at least someone was only on my side. The only time that I gained the courage to talk to Vincent was when my brother said he got admitted into college and was preparing to leave. "You should talk to Vincent now before it's too late." Daniel stated "Why do you even care?" I asked. "Because I don't like the state I saw him last,he was trying to hold himself together, I'm just saying that he looks like a shadow, unlike the Vibrant Vincent I know." He said. "I don't care Daniel, this doesn't concern me." "Don't regret your decision Anna." He said as he left. When I finally decided to talk to Vincent the problem began. School had closed and he wasn't receiving my calls.I asked mom if he still came by the Orphana
Anna's pov I didn't see Mira again as Vincent promised and I didn't hear from him again as well, he was taking his final year exam so he was concentrating on that. But part of me thought he would at least put up a small fight but he did not and stayed away from me. Sarah came over to my house two weeks after our break up,we sat on my bed talking when she suddenly asked me why she hadn't been seeing Vincent around me and I told her what transpired. "Why would you do something like that to him Anna, when you know he's going to write his final exams, don't you think that that will at distract him?" Sarah asked and that got me annoyed. "Honestly I didn't care that much to think that far." I retorted. I was angry that she was thinking about how Vincent felt and not me. " If he fails because of you didn't you even think about what would happen?" Sarah asked. "I've already made up my mind that if that happens I would change school nothing more nothing less." I told her. "And are you
Anna's POV. Even though Vincent looked terrifying I needed to stand my ground or I would let this go and I know I can't continue dating him. I was done with that. "You thought I would actually accept your feelings after everything you did to me?" I asked sarcastically. He sighed then his face softened a bit. "Anna please don't do this ,don't hurt me this way , do you me to beg you I will do anything you want so please just listen to me." He pleaded. When threatening me doesn't work he goes back to begging. Vincent is unpredictable at times. "Don't act this way Vincent if isn't befitting of you and please don't embarrass yourself by doing anything silly it won't change my mind,I don't want to stay around you anymore." I told him as I tried to leave. "Anna, wait." He grabbed a hold of my hand and dragged me back. "Don't make me hurt you Anna ,take your words back you can't just tell me it's over without giving me a good reason." He said. "You love me too much to even think ab
Anna's POVI guess Vincent is a responsible person. If not , mom would not have accepted him easily. I think she had known him for a long time." This is a date right?" I asked him."Oops I forgot, would you go out on a date with me Anna?" He asked and I rolled my eyes at him."Isn't it a little too lat
Anna's pov Good thing that my father wasn't around. It was my mum. She was cool to a level. I walked closer to the door. " I thought you said you would tell me where we would meet later." I said to Vincent. "Anna, stop being unfriendly to guests." Mum shushed me as she told Vincent to come in. I mo
Anna's pov;I was so angry right now but I was helpless as well.I thought Vincent had talked to Tom or maybe they had some agreement to stay out of each other's business?Isn't that why Tom walked away from me the other day?"I think it was just a show,I wonder what she used and blackmailed Vincent to
Anna's POV I gulped as I should frozen to the spot as she made no move to put the gun away. It was as if she didn't even care that she was holding a gun in the middle of a sidewalk. How can she be this calm and unaffected? It felt as if this was something she was used to and that's crazy. Threaten
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore