로그인Bab 6
Suasana di pusat perbelanjaan itu tampak sangat ramai. Cahaya lampu yang terang benderang memantul di lantai yang mengilap, sementara musik pengalun yang lembut bercampur dengan riuh rendah percakapan pengunjung memenuhi seluruh ruangan. Melati berjalan di depan dengan langkah ringan, matanya berbinar penuh kegembira saat menatap deretan etalase toko yang memamerkan berbagai barang menarik. Di belakangnya, Arthur berjalan mengikuti dengan jarak yang sangat dekat, seolah tidak ingin membiarkan tubuh kekasihnya itu beranjak sejengkal pun jauh dari jangkauannya. Tangannya tetap bertumpu kokoh di pinggang belakang Melati, menuntun sekaligus mengawal setiap langkah yang diambil perempuan itu. Tatapan matanya yang tajam dan waspada terus bergerak mengamati sekeliling, memastikan tidak ada sepasang mata asing yang berani menatap Melati terlalu lama, terlalu dekat, atau terlalu berlebihan. Baginya, perempuan di sisinya adalah harta paling berharga dan paling indah yang harus dijaga ketat dari pandangan siapa pun. “Tunggu sebentar ya, sayangku,” ucap Arthur pelan sambil menahan langkah mereka tepat di depan sebuah toko pakaian wanita yang tampak elegan. Ia menunjuk ke arah sebuah gaun yang tergantung cantik di manekin di etalase depan. Gaun itu berwarna merah marun yang pekat, dengan potongan yang pas di badan dan belahan dada yang cukup rendah, menjuntai anggun hingga menyapu lantai. “Lihatlah gaun itu… aku yakin sekali, jika kau mengenakannya, kau akan tampak jauh lebih mempesona daripada benda pajangan kaku itu. Warnanya sangat cocok dengan rona merah cantik di pipimu, dan bentuknya cukup untuk membuatku ingin menyembunyikanmu di dalam kamar selamanya agar tidak ada satu pun orang yang berhak melihat keindahan itu selain aku.” Melati tertawa kecil mendengar komentar kekasihnya yang selalu saja berlebihan itu, namun ia tak menolak saat Arthur menarik tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam toko. Di dalam sana, Arthur tidak memberi kesempatan Melati untuk memilih-milih terlalu lama. Ia bergerak sendiri dengan cepat, mengambil gaun merah marun tadi, lalu juga beberapa potong pakaian lain dengan warna-warna yang menurutnya menonjolkan kecantikan kekasihnya: hitam pekat, biru laut, dan ungu lembut. Semuanya memiliki satu kesamaan: potongan yang memperlihatkan lekuk tubuh namun tetap berkesan mahal. Sikapnya yang memerintah namun lembut membuat para pelayan toko hanya bisa tersenyum canggung namun paham, melihat betapa besarnya rasa cinta sekaligus rasa memiliki lelaki itu terhadap perempuan yang ada di sisinya. “Bawalah semuanya ke ruang ganti, sayangku,” perintah Arthur dengan nada rendah namun tegas, seraya menyerahkan tumpukan pakaian itu ke dalam pelukan Melati. Ia kemudian bersandar santai di dinding dekat pintu ruang ganti, menyilangkan kedua lengannya di dada, dan menatap lekat-lekat pintu kayu tertutup itu seolah ia bisa melihat ke baliknya. “Aku akan menunggu di sini. Dan ingatlah satu hal: apa pun yang kau kenakan, bagiku kau akan tetap menjadi wanita tercantik di dunia. Tapi lebih dari itu… ingat juga, aku hanya mengizinkanmu memakai pakaian yang aku pilihkan. Dan saat kau memakainya di luar sana, kau harus ingat bahwa setiap jengkal kulit yang terlihat adalah milikku untuk melihatnya, milikku untuk memujinya, dan milikku saja.” Tak berapa lama kemudian, pintu ruang ganti itu terbuka perlahan. Melati melangkah keluar mengenakan gaun merah marun yang tadi ditunjuk Arthur. Pakaian itu benar-benar menyatu sempurna dengan tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping dan indah dengan cara yang sangat memikat. Rambutnya yang hitam beralun jatuh lembut menutupi sebagian bahunya yang terbuka, sementara wajahnya tampak berseri-seri memancarkan kepercayaan diri yang tinggi. Napas Arthur seketika tertahan di tenggorokannya saat matanya menangkap pemandangan itu. Ia merasa seolah ada aliran listrik yang menyengat seluruh sarafnya, membuat jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Dengan langkah panjang dan cepat, Arthur melangkah mendekat, lalu dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Melati. Tangannya yang besar dan hangat langsung mendarat di pinggang perempuan itu, menarik tubuh Melati mendekat hingga tak ada lagi ruang kosong di antara mereka. “Ya Tuhan…,” gumam Arthur dengan suara yang terdengar parau dan berat, matanya menelusuri setiap inci wajah dan tubuh kekasihnya dengan pandangan yang penuh kagum sekaligus penuh hasrat yang membara. “Kau benar-benar tahu caranya membuatku kehilangan akal sehat, bukan? Lihatlah dirimu… kau tampak begitu mempesona, begitu menggoda, dan begitu sempurna. Rasanya aku ingin mengunci pintu toko ini sekarang juga, memastikan tidak ada satu pun makhluk hidup lain yang bisa melihat pemandangan indah ini selain aku sendiri. Kulitmu yang halus ini… bentuk tubuhmu yang indah ini… semuanya hanya boleh ada di depan mataku saja.” Ibu jarinya bergerak mengusap lembut belahan dada yang terbuka di gaun itu, gerakannya pelan namun penuh arti, membuat Melati merinding seketika merasakan sentuhan hangat itu. “Arthur… kita masih berada di tempat umum, ingat tidak?” bisik Melati pelan, wajahnya merona merah karena rasa malu sekaligus rasa senang mendengar pujian-pujian manis yang terus mengalir dari mulut kekasihnya itu. Ia mencoba mendorong dada bidang Arthur pelan, namun usaha itu sia-sia karena lelaki itu justru semakin mempererat cengkeramannya di pinggangnya. “Biarkan saja mereka melihat,” jawab Arthur acuh tak acuh, namun sorot matanya berubah tajam dan mengancam saat ia melirik sekilas ke arah pelayan toko yang berusaha memalingkan wajah dengan canggung. “Biarkan mereka melihat dan tahu betapa beruntungnya aku memiliki wanita secantik dirimu. Tapi percayalah… jika ada yang berani menatapmu lebih lama dari yang pantas, atau ada yang berani berpikir hal-hal kotor tentangmu… aku tidak akan segan-segan membuat mereka menyesal telah melirikmu. Kau milikku, Melati. Sepenuhnya, utuh, dan selamanya milikku.” Ucapan itu diakhiri dengan sebuah kecupan singkat namun penuh kepemilikan di kening Melati, sebelum Arthur akhirnya melepaskan pelukannya dengan berat hati agar perempuan itu bisa kembali berganti pakaian. Namun ia tetap berdiri di tempat yang sama, menunggu dengan sabar, meski hatinya bergemuruh penuh rasa bangga sekaligus rasa cemas. Baginya, memiliki Melati adalah kebahagiaan terbesar, namun sekaligus menjadi sumber kekhawatiran terbesar pula—karena keindahan perempuan itu terlalu besar, terlalu cemerlang, dan terlalu berharga untuk dibagikan kepada dunia luar. Setelah urusan belanja selesai dan beberapa kantong belanjaan berisi pakaian-pakaian baru sudah berada di tangan Arthur—karena lelaki itu bersikeras tidak akan membiarkan Melati membawa barang apa pun—mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah kafe yang letaknya agak terpojok namun nyaman di dalam gedung yang sama. Aroma kopi yang harum dan kue-kue manis yang menggugah selera langsung menyambut kedatangan mereka. Arthur menarik kursi agar Melati duduk lebih dulu, lalu ia sendiri duduk tepat di samping perempuan itu, bukan di seberang meja. Ia ingin tetap dekat, ingin bisa menyentuh, ingin selalu merasa bahwa Melati ada dalam jangkauan tangannya. Tangannya langsung mencari tangan Melati di atas meja, menggenggamnya erat dan mengusap punggung tangan itu dengan jempolnya yang kasar namun lembut. “Kau tahu…,” mulai Arthur perlahan, matanya menatap lekat-lekat wajah cantik di hadapannya, sementara pandangannya sedikit berubah menjadi lebih gelap dan serius. “Saat kau berjalan di depan tadi… aku melihat begitu banyak pasang mata yang menoleh ke arahmu. Mata-mata penuh kekaguman, mata-mata penuh keinginan… dan itu semua membuat darahku mendidih hebat di dalam pembuluh darahku. Rasanya aku ingin menutupi seluruh tubuhmu dengan kain tebal agar tidak ada yang bisa melihat apa pun selain aku.” Melati tersenyum kecil, ia memutar bola matanya dengan gaya yang manja, lalu menjawab dengan nada bercanda. “Ah, kau ini selalu saja berlebihan, Arthur. Memangnya ada apa sih? Aku kan biasa saja. Memangnya kau cemburu melihatku dilirik orang lain? Padahal kan hanya melihat saja.” Arthur menghela napas panjang, lalu mendekatkan wajahnya sedikit lagi ke arah Melati, sorot matanya tampak sungguh-sungguh dan tak mau diganggu gugat. “Hanya melihat saja, katamu?” ulangnya pelan, nada bicaranya terdengar sedikit tersinggung. “Bagimu mungkin sekadar melihat, Melati. Tapi bagiku, setiap mata yang menatap lekuk tubuhmu, setiap pandangan yang menjelajahi wajahmu… itu sama saja seperti mereka berani mengambil hak milikku. Aku tidak suka itu sama sekali. Aku tidak suka ada orang lain yang menikmati keindahan yang seharusnya hanya milikku seorang.” Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Melati di atas meja, seolah ingin menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Kau harus mengerti, sayangku. Sifatku memang begini. Aku tidak bisa menahan rasa cemburu ini, aku tidak bisa menahan rasa ingin memiliki ini. Semakin cantik dirimu, semakin besar rasa takutku kehilanganmu. Dan semakin banyak orang yang mengagumimu, semakin kuat keinginanku untuk menyembunyikanmu agar hanya aku yang bisa melihatmu, mendekatimu, dan menyentuhmu.” Melati tersenyum lembut melihat kekhawatiran yang tulus terpancar dari wajah kekasihnya itu. Ia menyadari betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki Arthur, bahkan meski rasa itu dibalut dengan rasa posesif yang sangat kuat. “Baiklah, baiklah… aku mengerti,” jawabnya pelan sambil mengusap lengan kekasihnya dengan lembut untuk menenangkan. “Aku kan di sini bersamamu. Aku tidak ke mana-mana, dan aku tidak akan membiarkan orang lain mendekatiku lebih dari batas wajar. Kau satu-satunya orang yang paling dekat denganku, Arthur. Kau satu-satunya orang yang aku izinkan melihat sisi lain diriku.” Wajah Arthur seketika berubah menjadi cerah mendengar penjelasan itu. Segala ketegangan yang tadi sempat menyelimuti raut wajahnya seketika lenyap seolah tersapu bersih oleh kata-kata manis kekasihnya. Ia kembali tersenyum, senyum yang begitu tulus dan lega. Tanpa mempedulikan keadaan di sekitar mereka, Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendaratkan sebuah kecupan cepat namun hangat di pipi Melati. “Kau memang yang paling mengerti aku,” gumamnya dengan nada penuh rasa syukur dan kasih sayang. “Maafkan aku kalau kadang aku terlihat menyusahkan atau terlalu berlebihan. Aku hanya… aku hanya sangat takut kehilanganmu. Bagiku, kau adalah hal terindah dan paling berharga yang pernah aku miliki dalam hidup ini. Aku tidak akan membiarkan apa pun atau siapa pun merusak kebahagiaan kita.” Arthur kembali bersandar santai di kursinya, namun tangannya tetap tak pernah melepaskan genggaman pada tangan Melati. Ia memanggil pelayan yang lewat di dekat meja mereka untuk memesan minuman dan camilan ringan, namun matanya tetap tak pernah lepas menatap wajah perempuan di sampingnya. Di dalam hatinya, Arthur bersyukur luar biasa memiliki Melati—perempuan yang tidak hanya bisa menerima segala kelebihannya, tapi juga dengan sabar memaklumi sisi cemburu dan posesifnya yang kadang sulit dimengerti orang lain. “Mulai sekarang dan seterusnya,” ucap Arthur kembali dengan suara rendah namun tegas, tepat saat pelayan berjalan pergi. “Ke mana pun kita pergi, ingatlah selalu satu hal ini: matamu hanya boleh melihatku, senyummu hanya boleh untukku, dan perhatianmu hanya boleh tertuju padaku. Karena aku pun berjanji hal yang sama padamu, Melati. Mulai hari ini, tidak ada lagi permainan, tidak ada lagi hal lain yang lebih penting. Kamulah segalanya bagiku. Kamulah prioritas utamaku.” Melati hanya tersenyum bahagia mendengar janji manis itu. Ia merasa puas dan bangga, karena perlahan namun pasti, ia berhasil mengubah Arthur menjadi lelaki yang bukan lagi hanya milik dunianya sendiri, tetapi menjadi lelaki yang sepenuhnya miliknya. “Siap, Tuan Posesif,” jawab Melati sambil terkekeh pelan. “Aku akan ingat itu baik-baik. Sekarang, ayo kita nikmati minumannya, lalu kita lanjutkan jalan-jalan lagi ya. Masih banyak toko yang belum kita kunjungi.” Arthur mengangguk setuju dengan antusias. Ia sama sekali tidak keberatan berjalan seharian penuh, asal ia bisa berjalan di samping Melati, menggandeng tangan perempuan itu, dan memastikan semua orang tahu bahwa wanita cantik di sisinya itu adalah miliknya sepenuhnya. “Tentu saja, sayangku,” jawabnya lembut. “Apa pun yang kau inginkan, akan aku penuhi. Selama kau tetap di sisiku, selama kau tetap milikku… aku akan melakukan apa saja untukmu.”Bab 9Hening yang sempat menyelimuti ruangan menjadi terasa sangat dalam saat Arthur masih berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya terasa sedikit kaku, napasnya bahkan seolah tertahan di dada karena terkejut dan terpesona melihat penampilan orang yang ada di hadapannya. Seragam pelayan yang dikenakan oleh orang itu terlihat sangat pas, menyesuaikan dengan lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat setiap garis dan bentuk tubuhnya terlihat lebih indah dan memikat. Mata Arthur tidak bisa berkedip sedikit pun, seolah takut jika sekejap saja dia menutup mata, semua keindahan yang baru saja terbuka di depannya akan hilang seketika.“Kamu… benar-benar merencanakan ini sejak tadi?” tanya Arthur akhirnya dengan suara yang terdengar sangat serak dan lemah, hampir tidak terdengar. Tatapannya perlahan turun dari wajah orang itu, berkeliling perlahan menyusuri setiap detail seragam yang dikenakan, hingga akhirnya kembali menatap mata orang itu dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan.
Bab 8Mata Arthur berbinar penuh kegembiraan mendengar kata-kata orang di hadapannya. Senyum lebar langsung menyebar di seluruh wajahnya saat dia mengambil tas yang diulurkan, lalu menggantungkannya dengan santai di bahunya.“Bagus sekali!” serunya penuh kemenangan. “Akhirnya aku bisa memiliki kamu sepenuhnya untuk diriku sendiri.”Dia segera melingkarkan lengannya di pinggang orang itu dan menarik tubuh orang itu mendekat saat mereka berdua berjalan keluar dari mal. Bibirnya menekan pelan di bagian pelipis orang itu dengan penuh kasih sayang.“Aku akan membuat malam ini menjadi sangat berkesan dan tak terlupakan,” berjanjinya dengan suara yang terdengar serak. “Tunggu saja dan lihatlah nanti.”Tangannya meremas lembut bagian pinggul orang itu saat dia membawanya menuju tempat parkir. Rasa penasaran dan keinginan semakin tumbuh di dalam dirinya dengan setiap langkah yang mereka ambil.“Ya, aku akan menyerahkan diri padamu tanpa protes sedikit pun kali ini,” kata orang itu dengan nada
Bab 7 Mata Arthur berbinar penuh kegembiraan saat perempuan itu membawanya ke arah mesin cakar; semangat kompetitifnya kembali menyala. Ia memperhatikan perempuan itu mengamati berbagai hadiah yang ada di dalamnya dengan ekspresi serius. “Jangkar, ya?” ulangnya sambil menyeringai. “Kau yakin bisa memenangkan salah satu boneka lucu itu?” Ia melangkah mendekat ke samping perempuan itu, mengamati isi mesin dengan saksama. Tangan Arthur bertumpu di bahu perempuan itu dengan sikap posesif seraya ia menganalisis susunan letak hadiah. “Aku punya firasat bagus soal ini,” ujarnya dengan penuh percaya diri. “Lihat dan pelajari caranya orang ahli mengoperasikan mesin ini.” Arthur memasukkan sejumlah koin ke dalam lubang mesin tanpa ragu, sementara jari-jarinya sudah bergerak mengatur posisi cakar. “Kalau kau bisa mengambil yang berukuran besar, aku akan memberimu ciuman,” ujar perempuan itu tiba-tiba. Mata Arthur membelalak mendengar tantangan itu, dan seringai lebar tersungging di
Bab 6 Suasana di pusat perbelanjaan itu tampak sangat ramai. Cahaya lampu yang terang benderang memantul di lantai yang mengilap, sementara musik pengalun yang lembut bercampur dengan riuh rendah percakapan pengunjung memenuhi seluruh ruangan. Melati berjalan di depan dengan langkah ringan, matanya berbinar penuh kegembira saat menatap deretan etalase toko yang memamerkan berbagai barang menarik. Di belakangnya, Arthur berjalan mengikuti dengan jarak yang sangat dekat, seolah tidak ingin membiarkan tubuh kekasihnya itu beranjak sejengkal pun jauh dari jangkauannya. Tangannya tetap bertumpu kokoh di pinggang belakang Melati, menuntun sekaligus mengawal setiap langkah yang diambil perempuan itu. Tatapan matanya yang tajam dan waspada terus bergerak mengamati sekeliling, memastikan tidak ada sepasang mata asing yang berani menatap Melati terlalu lama, terlalu dekat, atau terlalu berlebihan. Baginya, perempuan di sisinya adalah harta paling berharga dan paling indah yang harus dijaga ket
Bab 5 Lanjutan… “Lebih cepat…,” desis Melati pelan seraya melingkarkan kedua lengannya erat di leher Arthur, memohon dengan napas yang memburu. Mata Arthur berbinar penuh gairah mendengar permohonan itu, seulas senyum nakal terukir di bibirnya. Ia mencengkeram pinggang Melati dengan kuat, menarik tubuh perempuan itu semakin rapat ke arahnya seraya mendorong masuk lebih dalam dan tajam. “Lebih cepat?” ulangnya dengan suara parau dan penuh tantangan. “Kamu mau aku menidurimu lebih keras lagi?” Gerakannya menjadi semakin kuat dan bertenaga, mendesak maju dengan semangat baru yang membuat Melati terus terengah-engah. Bibir Arthur langsung menekan bibir kekasihnya dalam sebuah ciuman yang penuh gairah dan kepemilikan, menelan setiap desahan dan napas pendek yang keluar dari mulut perempuan itu. “Benar begitu,” geramnya rendah di sela-sela ciuman. “Ambil apa saja yang kamu butuhkan dariku.” Suara sentuhan kulit yang saling bersentuhan bergema di seluruh ruangan kamar mandi, bercampur
Bab 4 Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah tirai jendela, membuat Melati perlahan membuka matanya. Ia menoleh dan melihat Arthur masih terlelap tenang di sampingnya. Jari-jemarinya bergerak menyusuri wajah damai kekasihnya itu, lalu tiba-tiba ia menusuk-nusuk pipi Arthur dengan ujung jarinya secara nakal. Arthur sedikit bergerak merasakan sentuhan yang menggelitik di pipinya, sementara erangan halus terdengar keluar dari bibirnya. Kelopak matanya berkedip pelan dan terbuka dengan malas, menampakkan sepasang mata yang masih berat karena kantuk, lalu menatap ke arah Melati. “Mmph…,” gumamnya, suaranya terdengar berat dan serak karena baru bangun tidur. “Ada apa ini? Kenapa membangunkan orang dengan cara yang kasar begitu?” Meski mengeluh, Arthur sama sekali tidak bisa menahan senyum saat menatap wajah kekasihnya—rambut Melati tampak berantakan, pipinya merona kemerahan, dan ada kilatan jenaka yang berbinar di manik matanya. Ia mengulurkan tangan, lalu menggenggam pergelangan







