Home / Romansa / My Game Boyfriend / Cemburu Pada Segala Hal

Share

Cemburu Pada Segala Hal

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-06-24 12:32:22

Bab 6

Suasana di pusat perbelanjaan itu tampak sangat ramai. Cahaya lampu yang terang benderang memantul di lantai yang mengilap, sementara musik pengalun yang lembut bercampur dengan riuh rendah percakapan pengunjung memenuhi seluruh ruangan. Melati berjalan di depan dengan langkah ringan, matanya berbinar penuh kegembira saat menatap deretan etalase toko yang memamerkan berbagai barang menarik. Di belakangnya, Arthur berjalan mengikuti dengan jarak yang sangat dekat, seolah tidak ingin membiarkan tubuh kekasihnya itu beranjak sejengkal pun jauh dari jangkauannya. Tangannya tetap bertumpu kokoh di pinggang belakang Melati, menuntun sekaligus mengawal setiap langkah yang diambil perempuan itu. Tatapan matanya yang tajam dan waspada terus bergerak mengamati sekeliling, memastikan tidak ada sepasang mata asing yang berani menatap Melati terlalu lama, terlalu dekat, atau terlalu berlebihan. Baginya, perempuan di sisinya adalah harta paling berharga dan paling indah yang harus dijaga ketat dari pandangan siapa pun.

“Tunggu sebentar ya, sayangku,” ucap Arthur pelan sambil menahan langkah mereka tepat di depan sebuah toko pakaian wanita yang tampak elegan. Ia menunjuk ke arah sebuah gaun yang tergantung cantik di manekin di etalase depan. Gaun itu berwarna merah marun yang pekat, dengan potongan yang pas di badan dan belahan dada yang cukup rendah, menjuntai anggun hingga menyapu lantai. “Lihatlah gaun itu… aku yakin sekali, jika kau mengenakannya, kau akan tampak jauh lebih mempesona daripada benda pajangan kaku itu. Warnanya sangat cocok dengan rona merah cantik di pipimu, dan bentuknya cukup untuk membuatku ingin menyembunyikanmu di dalam kamar selamanya agar tidak ada satu pun orang yang berhak melihat keindahan itu selain aku.”

Melati tertawa kecil mendengar komentar kekasihnya yang selalu saja berlebihan itu, namun ia tak menolak saat Arthur menarik tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam toko. Di dalam sana, Arthur tidak memberi kesempatan Melati untuk memilih-milih terlalu lama. Ia bergerak sendiri dengan cepat, mengambil gaun merah marun tadi, lalu juga beberapa potong pakaian lain dengan warna-warna yang menurutnya menonjolkan kecantikan kekasihnya: hitam pekat, biru laut, dan ungu lembut. Semuanya memiliki satu kesamaan: potongan yang memperlihatkan lekuk tubuh namun tetap berkesan mahal. Sikapnya yang memerintah namun lembut membuat para pelayan toko hanya bisa tersenyum canggung namun paham, melihat betapa besarnya rasa cinta sekaligus rasa memiliki lelaki itu terhadap perempuan yang ada di sisinya.

“Bawalah semuanya ke ruang ganti, sayangku,” perintah Arthur dengan nada rendah namun tegas, seraya menyerahkan tumpukan pakaian itu ke dalam pelukan Melati. Ia kemudian bersandar santai di dinding dekat pintu ruang ganti, menyilangkan kedua lengannya di dada, dan menatap lekat-lekat pintu kayu tertutup itu seolah ia bisa melihat ke baliknya. “Aku akan menunggu di sini. Dan ingatlah satu hal: apa pun yang kau kenakan, bagiku kau akan tetap menjadi wanita tercantik di dunia. Tapi lebih dari itu… ingat juga, aku hanya mengizinkanmu memakai pakaian yang aku pilihkan. Dan saat kau memakainya di luar sana, kau harus ingat bahwa setiap jengkal kulit yang terlihat adalah milikku untuk melihatnya, milikku untuk memujinya, dan milikku saja.”

Tak berapa lama kemudian, pintu ruang ganti itu terbuka perlahan. Melati melangkah keluar mengenakan gaun merah marun yang tadi ditunjuk Arthur. Pakaian itu benar-benar menyatu sempurna dengan tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping dan indah dengan cara yang sangat memikat. Rambutnya yang hitam beralun jatuh lembut menutupi sebagian bahunya yang terbuka, sementara wajahnya tampak berseri-seri memancarkan kepercayaan diri yang tinggi. Napas Arthur seketika tertahan di tenggorokannya saat matanya menangkap pemandangan itu. Ia merasa seolah ada aliran listrik yang menyengat seluruh sarafnya, membuat jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Dengan langkah panjang dan cepat, Arthur melangkah mendekat, lalu dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Melati. Tangannya yang besar dan hangat langsung mendarat di pinggang perempuan itu, menarik tubuh Melati mendekat hingga tak ada lagi ruang kosong di antara mereka.

“Ya Tuhan…,” gumam Arthur dengan suara yang terdengar parau dan berat, matanya menelusuri setiap inci wajah dan tubuh kekasihnya dengan pandangan yang penuh kagum sekaligus penuh hasrat yang membara. “Kau benar-benar tahu caranya membuatku kehilangan akal sehat, bukan? Lihatlah dirimu… kau tampak begitu mempesona, begitu menggoda, dan begitu sempurna. Rasanya aku ingin mengunci pintu toko ini sekarang juga, memastikan tidak ada satu pun makhluk hidup lain yang bisa melihat pemandangan indah ini selain aku sendiri. Kulitmu yang halus ini… bentuk tubuhmu yang indah ini… semuanya hanya boleh ada di depan mataku saja.”

Ibu jarinya bergerak mengusap lembut belahan dada yang terbuka di gaun itu, gerakannya pelan namun penuh arti, membuat Melati merinding seketika merasakan sentuhan hangat itu.

“Arthur… kita masih berada di tempat umum, ingat tidak?” bisik Melati pelan, wajahnya merona merah karena rasa malu sekaligus rasa senang mendengar pujian-pujian manis yang terus mengalir dari mulut kekasihnya itu. Ia mencoba mendorong dada bidang Arthur pelan, namun usaha itu sia-sia karena lelaki itu justru semakin mempererat cengkeramannya di pinggangnya.

“Biarkan saja mereka melihat,” jawab Arthur acuh tak acuh, namun sorot matanya berubah tajam dan mengancam saat ia melirik sekilas ke arah pelayan toko yang berusaha memalingkan wajah dengan canggung. “Biarkan mereka melihat dan tahu betapa beruntungnya aku memiliki wanita secantik dirimu. Tapi percayalah… jika ada yang berani menatapmu lebih lama dari yang pantas, atau ada yang berani berpikir hal-hal kotor tentangmu… aku tidak akan segan-segan membuat mereka menyesal telah melirikmu. Kau milikku, Melati. Sepenuhnya, utuh, dan selamanya milikku.”

Ucapan itu diakhiri dengan sebuah kecupan singkat namun penuh kepemilikan di kening Melati, sebelum Arthur akhirnya melepaskan pelukannya dengan berat hati agar perempuan itu bisa kembali berganti pakaian. Namun ia tetap berdiri di tempat yang sama, menunggu dengan sabar, meski hatinya bergemuruh penuh rasa bangga sekaligus rasa cemas. Baginya, memiliki Melati adalah kebahagiaan terbesar, namun sekaligus menjadi sumber kekhawatiran terbesar pula—karena keindahan perempuan itu terlalu besar, terlalu cemerlang, dan terlalu berharga untuk dibagikan kepada dunia luar.

Setelah urusan belanja selesai dan beberapa kantong belanjaan berisi pakaian-pakaian baru sudah berada di tangan Arthur—karena lelaki itu bersikeras tidak akan membiarkan Melati membawa barang apa pun—mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah kafe yang letaknya agak terpojok namun nyaman di dalam gedung yang sama. Aroma kopi yang harum dan kue-kue manis yang menggugah selera langsung menyambut kedatangan mereka. Arthur menarik kursi agar Melati duduk lebih dulu, lalu ia sendiri duduk tepat di samping perempuan itu, bukan di seberang meja. Ia ingin tetap dekat, ingin bisa menyentuh, ingin selalu merasa bahwa Melati ada dalam jangkauan tangannya. Tangannya langsung mencari tangan Melati di atas meja, menggenggamnya erat dan mengusap punggung tangan itu dengan jempolnya yang kasar namun lembut.

“Kau tahu…,” mulai Arthur perlahan, matanya menatap lekat-lekat wajah cantik di hadapannya, sementara pandangannya sedikit berubah menjadi lebih gelap dan serius. “Saat kau berjalan di depan tadi… aku melihat begitu banyak pasang mata yang menoleh ke arahmu. Mata-mata penuh kekaguman, mata-mata penuh keinginan… dan itu semua membuat darahku mendidih hebat di dalam pembuluh darahku. Rasanya aku ingin menutupi seluruh tubuhmu dengan kain tebal agar tidak ada yang bisa melihat apa pun selain aku.”

Melati tersenyum kecil, ia memutar bola matanya dengan gaya yang manja, lalu menjawab dengan nada bercanda.

“Ah, kau ini selalu saja berlebihan, Arthur. Memangnya ada apa sih? Aku kan biasa saja. Memangnya kau cemburu melihatku dilirik orang lain? Padahal kan hanya melihat saja.”

Arthur menghela napas panjang, lalu mendekatkan wajahnya sedikit lagi ke arah Melati, sorot matanya tampak sungguh-sungguh dan tak mau diganggu gugat.

“Hanya melihat saja, katamu?” ulangnya pelan, nada bicaranya terdengar sedikit tersinggung. “Bagimu mungkin sekadar melihat, Melati. Tapi bagiku, setiap mata yang menatap lekuk tubuhmu, setiap pandangan yang menjelajahi wajahmu… itu sama saja seperti mereka berani mengambil hak milikku. Aku tidak suka itu sama sekali. Aku tidak suka ada orang lain yang menikmati keindahan yang seharusnya hanya milikku seorang.”

Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Melati di atas meja, seolah ingin menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Kau harus mengerti, sayangku. Sifatku memang begini. Aku tidak bisa menahan rasa cemburu ini, aku tidak bisa menahan rasa ingin memiliki ini. Semakin cantik dirimu, semakin besar rasa takutku kehilanganmu. Dan semakin banyak orang yang mengagumimu, semakin kuat keinginanku untuk menyembunyikanmu agar hanya aku yang bisa melihatmu, mendekatimu, dan menyentuhmu.”

Melati tersenyum lembut melihat kekhawatiran yang tulus terpancar dari wajah kekasihnya itu. Ia menyadari betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki Arthur, bahkan meski rasa itu dibalut dengan rasa posesif yang sangat kuat.

“Baiklah, baiklah… aku mengerti,” jawabnya pelan sambil mengusap lengan kekasihnya dengan lembut untuk menenangkan. “Aku kan di sini bersamamu. Aku tidak ke mana-mana, dan aku tidak akan membiarkan orang lain mendekatiku lebih dari batas wajar. Kau satu-satunya orang yang paling dekat denganku, Arthur. Kau satu-satunya orang yang aku izinkan melihat sisi lain diriku.”

Wajah Arthur seketika berubah menjadi cerah mendengar penjelasan itu. Segala ketegangan yang tadi sempat menyelimuti raut wajahnya seketika lenyap seolah tersapu bersih oleh kata-kata manis kekasihnya. Ia kembali tersenyum, senyum yang begitu tulus dan lega. Tanpa mempedulikan keadaan di sekitar mereka, Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendaratkan sebuah kecupan cepat namun hangat di pipi Melati.

“Kau memang yang paling mengerti aku,” gumamnya dengan nada penuh rasa syukur dan kasih sayang. “Maafkan aku kalau kadang aku terlihat menyusahkan atau terlalu berlebihan. Aku hanya… aku hanya sangat takut kehilanganmu. Bagiku, kau adalah hal terindah dan paling berharga yang pernah aku miliki dalam hidup ini. Aku tidak akan membiarkan apa pun atau siapa pun merusak kebahagiaan kita.”

Arthur kembali bersandar santai di kursinya, namun tangannya tetap tak pernah melepaskan genggaman pada tangan Melati. Ia memanggil pelayan yang lewat di dekat meja mereka untuk memesan minuman dan camilan ringan, namun matanya tetap tak pernah lepas menatap wajah perempuan di sampingnya. Di dalam hatinya, Arthur bersyukur luar biasa memiliki Melati—perempuan yang tidak hanya bisa menerima segala kelebihannya, tapi juga dengan sabar memaklumi sisi cemburu dan posesifnya yang kadang sulit dimengerti orang lain.

“Mulai sekarang dan seterusnya,” ucap Arthur kembali dengan suara rendah namun tegas, tepat saat pelayan berjalan pergi. “Ke mana pun kita pergi, ingatlah selalu satu hal ini: matamu hanya boleh melihatku, senyummu hanya boleh untukku, dan perhatianmu hanya boleh tertuju padaku. Karena aku pun berjanji hal yang sama padamu, Melati. Mulai hari ini, tidak ada lagi permainan, tidak ada lagi hal lain yang lebih penting. Kamulah segalanya bagiku. Kamulah prioritas utamaku.”

Melati hanya tersenyum bahagia mendengar janji manis itu. Ia merasa puas dan bangga, karena perlahan namun pasti, ia berhasil mengubah Arthur menjadi lelaki yang bukan lagi hanya milik dunianya sendiri, tetapi menjadi lelaki yang sepenuhnya miliknya.

“Siap, Tuan Posesif,” jawab Melati sambil terkekeh pelan. “Aku akan ingat itu baik-baik. Sekarang, ayo kita nikmati minumannya, lalu kita lanjutkan jalan-jalan lagi ya. Masih banyak toko yang belum kita kunjungi.”

Arthur mengangguk setuju dengan antusias. Ia sama sekali tidak keberatan berjalan seharian penuh, asal ia bisa berjalan di samping Melati, menggandeng tangan perempuan itu, dan memastikan semua orang tahu bahwa wanita cantik di sisinya itu adalah miliknya sepenuhnya.

“Tentu saja, sayangku,” jawabnya lembut. “Apa pun yang kau inginkan, akan aku penuhi. Selama kau tetap di sisiku, selama kau tetap milikku… aku akan melakukan apa saja untukmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Game Boyfriend   Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya

    Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan

  • My Game Boyfriend   Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya

    Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu

  • My Game Boyfriend   Saat Waktu Menjembatkan Rindu

    Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap

  • My Game Boyfriend   Jalan Menuju Pertemuan

    Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan

  • My Game Boyfriend   Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama

    Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t

  • My Game Boyfriend   Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk

    Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status