LOGIN“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”
Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’ ‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’ Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.” Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan narasi yang lebih menarik.” “Lebih menarik?” ulang Eve lirih tak mengerti. “Cinta yang terhalang umur? Cinta beda usia? Ah, umur hanyalah angka. Itu akan menjadi tagline yang tepat untuk hubungan kita.” Eve menelan ludahnya. Tahu ke mana arah pembicaraan ini di tengah kebingungannya yang masih berusaha memahami maksud kata-kata pria di depannya saat ini. Menggigit bibir bagian dalamnya dan kepanikan mulai muncul di dalam dirinya. Menikahi seorang Ronan Voss? “Kau baru saja mengatakan akan melakukan apa pun?” Eve menyumpahi dirinya sendiri. “S-saya menarik kata-kata saja.” Ronan menatap tangan Eve yang bergetar. Satu di gagang pintu dan satu meremas tepian dokumen. “Kenapa? Aku kurang menarik dibandingkan anakku?” Eve menolak untuk menjawab. Secara keseluruhan, penampilan Ronan Voss jauh lebih menarik dari Andrew meskipun ada kemiripan di antara keduanya. Yang juga baru benar-benar disadarinya dalam keadaan sadar. Akan tetapi membayangkan dirinya menikah dengan pria yang berbeda … Eve mengernyit saat kepalanya menunduk. Membaca biografi Ronan Black Voss yang masih terbuka di pangkuannya. Dua bulan yang lalu pria itu tepat berumur 40 tahun. Yang meskipun secara penampilan Ronan memang terlihat lebih muda sepuluh tahun, tetap saja perbedaan umur mereka 17 tahun. “Kurasa ini bukan narasi yang lebih menarik, tapi narasi yang gila.” Eve menggelengkan kepalanya dengan mantap, melemparkan dokumen di pangkuannya ke tempat kosong di antara mereka dan mendorong pintu mobil terbuka. “Baiklah.” Kata singkat yang penuh arti tersebut membuat tubuh Eve yang sudah menginjak tanah berumput membeku. Ketenangan yang diperlihatkan Ronan, entah bagaimana terasa membahayakan. “Tidak bisakah kita mengatakan kebenarannya?” “Membayar kebenaran tidak cukup untuk membayar semuanya.” Salah satu alis Ronan terangkat. Juga salah satu sudut bibirnya meskipun tidak bisa dikatakan tersenyum. “Lagipula, mereka tidak terlalu menyukai kebenaran.” Eve merasakan anyir yang mulai memenuhi mulutnya. Saking kuatnya gigitan di bibirnya dan ia mengaduh. Ujung jari Ronan menunjuk dokumen di depannya. “Semua sudah disiapkan pengacaraku, satu nasihat untukmu, anak muda. Sewa pengacara terbaik. Kurasa yang ditinggalkan ayahmu cukup untuk melakukan yang satu itu meskipun tidak akan cukup untuk membayar …” “Pernikahan?” Eve menyela dengan cepat. Terlalu takut untuk mendengarkan rencana selanjutnya. “Anda tahu siapa saya?” “Lalu?” “Saya tunangan anak Anda?” “Mantan.” “Ya, itu.” “Tidak ada yang tahu kau pernah bertunangan dengan Andrew, kan?” Eve menelan ludah. Andrew memang sengaja menyembunyikan hubungan mereka dan dirinya sangat memahami. Karena nama Voss selalu menjadi bahan yang menarik untuk menjadi konsumsi publik. Ditambah dirinya juga tak suka menjadi pusat perhatian. “Jika saya menerima kesepakatan ini …” “Pemulihan kerugian perusahaan akan mengikuti reputasiku yang sudah kau hancurkan,” lanjut Ronan. “Juga memperbaiki reputasimu sebagai gadis binal yang suka menggoda pria matang.” “T-tapi ibu tiriku …” Suara Eve melirih. Baru teringat kalau Sintia menaruh perhatian yang berlebih pada Ronan dan bertekad menjadi istri seorang Ronan Voss. “Kau tak butuh ijinnya untuk menikah, kan?” “Bukan itu.” Eve menggeleng pelan. Mulutnya yang sudah terbuka kembali merapat. “Lalu?” Eve menatap manik Ronan sejenak dan menggeleng pelan. “Apakah hanya ini satu-satunya cara yang kita miliki?” “Aku punya beberapa cara, tetapi biarkan yang muda memilih jalan yang diinginkannya.” Sudut bibir Ronan menyeringai. “Sangat disayangkan gadis muda yang polos dan yatim piatu harus menghabiskan peninggalan ayahnya dan masa mudanya di penjara.” Eve menatap ngeri pada Ronan. Kata-katanya penuh dengan simpati meskipun diucapkan dengan penuh kepura-puraan. Tak mengurangi ancaman yang tersirat dalam tatapan tajam Ronan. “B-baiklah,” jawabnya kemudian dengan pelan. Ronan mengambil dokumen di samping mereka dan meremasnya. Kemudian melemparnya ke lantai mobil. “Kau bisa mulai dengan berhenti bersikap kaku.” Eve tak membalas. Menatap senyum penuh arti Ronan. Ingin merasa ragu, tetapi jelas dirinya tak mampu mengambil langkah yang lain. “Juga berhenti memanggilku paman. Kau bisa memanggilku Ronan.” *** “Apa yang Ronan katakan padamu?” Sintia menarik pundak Eve hingga gadis itu berputar menghadapnya. Eve menatap kosong wajah Sintia. Pikirannya masih dipenuhi dengan pembicaraannya dan Ronan di dalam mobil. Pernikahan? Baru beberapa hari yang lalu dirinya menjadi gadis polos, beberapa saat yang lalu menjadi gadis binal dan sekarang dirinya sedang terlibat kesepakatan bernama pernikahan? Kekonyolan apalagi ini yang terjadi di hidupnya? Semuanya terjadi begitu cepat. Layaknya terjangan ombak yang mustahil untuk dihindari. Insiden itu tidak benar-benar terjadi, kan? Semua ini hanya mimpi, kan? “Kenapa dia langsung pulang?” Sintia menggoyang pundak Eve lebih keras dan kasar. “Aku sudah menyiapkan makan malam …” Eve mengerjap, menyentakkan pegangan Sintia. “Aku ingin tidur.” “Kau belum menjawab pertanyaanku, Eve.” Sintia menahan lengan Eve yang hendak menaiki anak tangga. “Apa yang …” “Apa yang kami bicarakan bukan urusanmu, kan?” Mata Sintia melotot sempurna. Wajahnya merah padam dengan penantangan yang mulai ditunjukkan oleh Eve. “Mama! Mama!” Zoe muncul dari ruang tengah, dengan ponsel di tangan dan wajah pucat. “Semua video-video itu tiba-tiba hilang.” Pandangan Sintia langsung mengarah pada Eve. “Ini perbuatanmu?” “Menurutmu aku punya kuasa untuk melakukannya?” Tatapan menuduh Sintia perlahan memudar saat mempertimbangkan pertanyaan Eve. Meskipun keningnya masih berkerut, mengikuti punggung Eve yang menaiki anak tangga. “Eve tak mungkin sanggup melakukan hal semacam ini, Ma.” “Lalu kenapa pemberitaan ini tiba-tiba turun?” Zoe menggeleng pelan. “Sebaiknya kita menemui wartawan yang mewawancarai kita.” “Nomornya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.” “Lalu tuan Murray?” “Juga tidak.” “Kalau begitu kita ke rumahnya Fifi sekarang juga.” *** ‘Nomornya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.’ Eve masih sempat mendengar suara panik Zoe dan percakapan setengah berbisik tersebut sebelum benar-benar menghilang dari pandangan ibu dan anak itu. Menjodohkannya dengan tuan Murray? Eve mencoba mengingat salah satu ayah dari teman Zoe yang sudah menjadi duda sejak Fifi kecil. Pria paruh baya dengan perut besar dan berkumis. Kepalanya menggeleng cepat. Meskipun sama-sama terpaut usia yang cukup jauh, jelas saja Ronan Voss pilihan terbaik yang bisa dimilikinya jika pada akhirnya dirinya dipaksa menikah. “Kau sendiri yang memaksaku memberi pilihan ini,” gumam Eve sebelum masuk ke dalam kamarnya. Bersandar pada pintu dan mengingat deretan angka yang tidak bisa hilang dari kepalanya. Helaan napas panjang lolos di antara kedua hidungnya. Sangat mustahil untuk menyelesaikan masalah ini dengan membayar semua biaya yang diajukan. Setelah putus dengan cara sialan dengan Andrew, sekarang ia harus kembali terlibat dengan hidup pria itu. *** Pemberitaan yang dibuat-buat Sintia menghilang dalam sekejap, digantikan narasi ‘lebih menarik’ persis seperti yang Ronan katakan pada keesokan harinya. Eve tak tahu apa persisnya kata-kata yang diucapkan oleh Ronan di wawancara eksklusifnya dengan salah satu wartawan dari media berita hiburan yang terkenal di negara ini. Tak hanya pernyataan Ronan Voss, tetapi beberapa teman dekat dan selebritas papan atas memberikan kesaksian yang mendukung Ronan Voss. Beberapa bahkan mengakui mengenalnya secara pribadi. Sehingga semua pernyataan tersebut mengubah dari predator yang mempermainkan gadis muda, berubah menjadi pria yang berusaha menahan perasaannya demi masa depan gadis polos yang dicintainya. Napas Eve tertahan cukup lama. Melihat pemberitaan tentang mereka yang menjadi trending topik dalam kolom gosip. Kisah tentang seorang pria berkuasa yang berkali-kali memilih mundur demi memberikan gadis musa kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih sesuai dengan usianya. Bahkan ada salah satu artikel yang mengatakan, bahwa penolakan Ronan Voss dalam video yang beredar. Bukanlah sekedar skandal. Melainkan pengorbanan seorang Ronan Voss terhadap gadis yang dicintainya. Jemarinya terus bergulir ke bawah. ‘Aku telah menjalani hubungan dengan beberapa wanita, tetapi tidak pernah ada seseorang yang mampu menyentuh hatiku sedalam dirinya. Sebelumnya aku selalu berpikir kebahagiaan selalu butuh pengorbanan, tetapi mencintai dia dan dicintai olehnya adalah kebahagiaan besar yang tidak pernah kubayangkan akan kudapatkan di usianya yang sudah mencapai hampir 40 tahun ini. Terutama dengan perbedaan usia di antara kami yangterpaut 17 tahun.’ Eve bergidik mendengar pernyataan yang dibuat-buat oleh Ronan dalam salah satu cuplikan video yang beredar. Tak hanya sempurna dalam penampilan, ekspresi dan kata-kata Ronan sangat sempurna. Tertata apik dan dirinya belum pernah mendengar kebohongan sesempurna ini. ‘Namun dia terlalu keras kepala untuk menyerah dan berhasil meluluhkan semua pertahananku.’ Tatapan Ronan tiba-tiba menjadi lebih tajam, ke arah kamera. Seolah menembus dirinya. Satu tangan pria itu kemudian merogoh ke balik saku jas. Mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dan membukanya. “Eve Raine Virelle, maukah kau menikah denganku?’Pagi Eve belum pernah terasa begitu melegakan sejak dirinya memergoki Andrew di hotel bersama Zoe. Pun kelegaan itu hanya beberapa saat saja, ketika suara dering ponsel di nakas mengalihkan pandangannya dari dinding kaca. “Di bawah?” Eve melompat turun dari ranjang, nyaris terjungkal ke depan karena terserimpet selimut. ‘Kau baik-baik saja?’ “Y-ya.” Eve akhirnya berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menuju lift. “T-tapi kenapa kau ada di bawah?” ‘Kenapa? Aku sudah mengatakan akan menjemputmu besok pagi, kan?’ Mata Eve terpejam dan telapak tangannya menempel di atas kepala. “Y-ya, aku lupa. Aku turun sebentar lagi, beri aku lima menit.” ‘Oke.’ Tepat setelah Ronan menyelesaikan jawaban singkat pria itu, Eve mendengar denting lift dan pintu lift di depannya bergeser terbuka. Tubuh Eve membeku. “Hanya lima menit?” Ronan menurunkan ponselnya. “Bukan lima menit sepuluh detik? Atau dua puluh detik lagi? Aku tak keberatan …” Eve tersadar, mundur ke belakang dan kedua lenganny
“Kau tahu dia ayahku?” “Sekarang aku tahu.” Tangan Eve mendorong dada Andrew menjauh. “Dan balas dendam? Kau sudah tak cukup berarti untuk mendapatkan perhatianku sebesar ini, Andrew.” “Tak cukup berarti kau bilang? Hanya sebatas ini lima tahun hubungan kita bagimu?” Eve tertawa mengejek. “Hanya sebatas ini bagimu hingga kau mencampakkanku dengan cara pengecut seperti ini! Kau tak punya hak untuk mendikteku harus dengan cara apa aku memandang hubungan kita, pengecut.” Andrew sempat terpaku dengan semburan kata-kata Eve yang mengena tepat di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya masih mengeras. “Dia ayahku.” “Lalu?” “Lalu kau bilang?” Eve membuang mukanya. Ia tahu kesepakatan rencananya dan Ronan akan membuatnya terus berada di sekitar Andrew. “Kau bilang tak akan muncul di hidupku lagi.” Eve mendengkus keras. “Aku bilang, kita tak perlu repot bertatap muka dan berbasa-basi. Seperti sekarang.” Andrew menggeram. “Kita tidak bisa saling mengabaikan kalau kau ben
Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”“Di mana ini?”“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.
“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”“Nona …”Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju
“Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.“Kaupun tak peduli semua orang membicar
“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan







