Beranda / Romansa / My Hottest Daddy / Part 5 Menyelamatkan Reputasi

Share

Part 5 Menyelamatkan Reputasi

Penulis: Luisana Zaffya
last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 14:13:18

“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”

Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’

‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’

Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. 

“Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”

Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. 

“Kurasa kita hanya perlu memberikan narasi yang lebih menarik.”

“Lebih menarik?” ulang Eve lirih tak mengerti.

“Cinta yang terhalang umur? Cinta beda usia? Ah, umur hanyalah angka. Itu akan menjadi tagline yang tepat untuk hubungan kita.”

Eve menelan ludahnya. Tahu ke mana arah pembicaraan ini di tengah kebingungannya yang masih berusaha memahami maksud kata-kata pria di depannya saat ini. Menggigit bibir bagian dalamnya dan kepanikan mulai muncul di dalam dirinya. Menikahi seorang Ronan Voss?

“Kau baru saja mengatakan akan melakukan apa pun?”

Eve menyumpahi dirinya sendiri. “S-saya menarik kata-kata saja.”

Ronan menatap tangan Eve yang bergetar. Satu di gagang pintu dan satu meremas tepian dokumen. “Kenapa? Aku kurang menarik dibandingkan anakku?”

Eve menolak untuk menjawab. Secara keseluruhan, penampilan Ronan Voss jauh lebih menarik dari Andrew meskipun ada kemiripan di antara keduanya. Yang juga baru benar-benar disadarinya dalam keadaan sadar.

Akan tetapi membayangkan dirinya menikah dengan pria yang berbeda … Eve mengernyit saat kepalanya menunduk. Membaca biografi Ronan Black Voss yang masih terbuka di pangkuannya. Dua bulan yang lalu pria itu tepat berumur 40 tahun. Yang meskipun secara penampilan Ronan memang terlihat lebih muda sepuluh tahun, tetap saja perbedaan umur mereka 17 tahun.

“Kurasa ini bukan narasi yang lebih menarik, tapi narasi yang gila.” Eve menggelengkan kepalanya dengan mantap, melemparkan dokumen di pangkuannya ke tempat kosong di antara mereka dan mendorong pintu mobil terbuka. 

“Baiklah.”

Kata singkat yang penuh arti tersebut membuat tubuh Eve yang sudah menginjak tanah berumput membeku. Ketenangan yang diperlihatkan Ronan, entah bagaimana terasa membahayakan. “Tidak bisakah kita mengatakan kebenarannya?”

“Membayar kebenaran tidak cukup untuk membayar semuanya.” Salah satu alis Ronan terangkat. Juga salah satu sudut bibirnya meskipun tidak bisa dikatakan tersenyum. “Lagipula, mereka tidak terlalu menyukai kebenaran.”

Eve merasakan anyir yang mulai memenuhi mulutnya. Saking kuatnya gigitan di bibirnya dan ia mengaduh. 

Ujung jari Ronan menunjuk dokumen di depannya. “Semua sudah disiapkan pengacaraku, satu nasihat untukmu, anak muda. Sewa pengacara terbaik. Kurasa yang ditinggalkan ayahmu cukup untuk melakukan yang satu itu meskipun tidak akan cukup untuk membayar …”

“Pernikahan?” Eve menyela dengan cepat. Terlalu takut untuk mendengarkan rencana selanjutnya. “Anda tahu siapa saya?”

“Lalu?”

“Saya tunangan anak Anda?”

“Mantan.”

“Ya, itu.”

“Tidak ada yang tahu kau pernah bertunangan dengan Andrew, kan?”

Eve menelan ludah. Andrew memang sengaja menyembunyikan hubungan mereka dan dirinya sangat memahami. Karena nama Voss selalu menjadi bahan yang menarik untuk menjadi konsumsi publik. Ditambah dirinya juga tak suka menjadi pusat perhatian.

“Jika saya menerima kesepakatan ini …”

“Pemulihan kerugian perusahaan akan mengikuti reputasiku yang sudah kau hancurkan,” lanjut Ronan. “Juga memperbaiki reputasimu sebagai gadis binal yang suka menggoda pria matang.”

“T-tapi ibu tiriku …” Suara Eve melirih. Baru teringat kalau Sintia menaruh perhatian yang berlebih pada Ronan dan bertekad menjadi istri seorang Ronan Voss.

“Kau tak butuh ijinnya untuk menikah, kan?”

“Bukan itu.” Eve menggeleng pelan. Mulutnya yang sudah terbuka kembali merapat.

“Lalu?”

Eve menatap manik Ronan sejenak dan menggeleng pelan. “Apakah hanya ini satu-satunya cara yang kita miliki?”

“Aku punya beberapa cara, tetapi biarkan yang muda memilih jalan yang diinginkannya.” Sudut bibir Ronan menyeringai. “Sangat disayangkan gadis muda yang polos dan yatim piatu harus menghabiskan peninggalan ayahnya dan masa mudanya di penjara.”

Eve menatap ngeri pada Ronan. Kata-katanya penuh dengan simpati meskipun diucapkan dengan penuh kepura-puraan. Tak mengurangi ancaman yang tersirat dalam tatapan tajam Ronan. “B-baiklah,” jawabnya kemudian dengan pelan.

Ronan mengambil dokumen di samping mereka dan meremasnya. Kemudian melemparnya ke lantai mobil. “Kau bisa mulai dengan berhenti bersikap kaku.”

Eve tak membalas. Menatap senyum penuh arti Ronan. Ingin merasa ragu, tetapi jelas dirinya tak mampu mengambil langkah yang lain.

“Juga berhenti memanggilku paman. Kau bisa memanggilku Ronan.”

*** 

“Apa yang Ronan katakan padamu?” Sintia menarik pundak Eve hingga gadis itu berputar menghadapnya. 

Eve menatap kosong wajah Sintia. Pikirannya masih dipenuhi dengan pembicaraannya dan Ronan di dalam mobil. Pernikahan? Baru beberapa hari yang lalu dirinya menjadi gadis polos, beberapa saat yang lalu menjadi gadis binal dan sekarang dirinya sedang terlibat kesepakatan bernama pernikahan?

Kekonyolan apalagi ini yang terjadi di hidupnya? Semuanya terjadi begitu cepat. Layaknya terjangan ombak yang mustahil untuk dihindari.

Insiden itu tidak benar-benar terjadi, kan?

Semua ini hanya mimpi, kan?

“Kenapa dia langsung pulang?” Sintia menggoyang pundak Eve lebih keras dan kasar. “Aku sudah menyiapkan makan malam …”

Eve mengerjap, menyentakkan pegangan Sintia. “Aku ingin tidur.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Eve.” Sintia menahan lengan Eve yang hendak menaiki anak tangga. “Apa yang …”

“Apa yang kami bicarakan bukan urusanmu, kan?”

Mata Sintia melotot sempurna. Wajahnya merah padam dengan penantangan yang mulai ditunjukkan oleh Eve. 

“Mama! Mama!” Zoe muncul dari ruang tengah, dengan ponsel di tangan dan wajah pucat. “Semua video-video itu tiba-tiba hilang.”

Pandangan Sintia langsung mengarah pada Eve. “Ini perbuatanmu?”

“Menurutmu aku punya kuasa untuk melakukannya?”

Tatapan menuduh Sintia perlahan memudar saat mempertimbangkan pertanyaan Eve. Meskipun keningnya masih berkerut, mengikuti punggung Eve yang menaiki anak tangga.

“Eve tak mungkin sanggup melakukan hal semacam ini, Ma.”

“Lalu kenapa pemberitaan ini tiba-tiba turun?”

Zoe menggeleng pelan.

“Sebaiknya kita menemui wartawan yang mewawancarai kita.” 

“Nomornya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.”

“Lalu tuan Murray?”

“Juga tidak.”

“Kalau begitu kita ke rumahnya Fifi sekarang juga.”

*** 

‘Nomornya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.’

Eve masih sempat mendengar suara panik Zoe dan percakapan setengah berbisik tersebut sebelum benar-benar menghilang dari pandangan ibu dan anak itu.

Menjodohkannya dengan tuan Murray? 

Eve mencoba mengingat salah satu ayah dari teman Zoe yang sudah menjadi duda sejak Fifi kecil. Pria paruh baya dengan perut besar dan berkumis. Kepalanya menggeleng cepat. Meskipun sama-sama terpaut usia yang cukup jauh, jelas saja Ronan Voss pilihan terbaik yang bisa dimilikinya jika pada akhirnya dirinya dipaksa menikah.

“Kau sendiri yang memaksaku memberi pilihan ini,” gumam Eve sebelum masuk ke dalam kamarnya. Bersandar pada pintu dan mengingat deretan angka yang tidak bisa hilang dari kepalanya. 

Helaan napas panjang lolos di antara kedua hidungnya. Sangat mustahil untuk menyelesaikan masalah ini dengan membayar semua biaya yang diajukan. Setelah putus dengan cara sialan dengan Andrew, sekarang ia harus kembali terlibat dengan hidup pria itu.

*** 

Pemberitaan yang dibuat-buat Sintia menghilang dalam sekejap, digantikan narasi ‘lebih menarik’ persis seperti yang Ronan katakan pada keesokan harinya.  Eve tak tahu apa persisnya kata-kata yang diucapkan oleh Ronan di wawancara eksklusifnya dengan salah satu wartawan dari media berita hiburan yang terkenal di negara ini. Tak hanya pernyataan Ronan Voss, tetapi beberapa teman dekat dan selebritas papan atas memberikan kesaksian yang mendukung Ronan Voss. Beberapa bahkan mengakui mengenalnya secara pribadi.

Sehingga semua pernyataan tersebut mengubah dari predator yang mempermainkan gadis muda, berubah menjadi pria yang berusaha menahan perasaannya demi masa depan gadis polos yang dicintainya.

Napas Eve tertahan cukup lama. Melihat pemberitaan tentang mereka yang menjadi trending topik dalam kolom gosip. Kisah tentang seorang pria berkuasa yang berkali-kali memilih mundur demi memberikan gadis musa kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih sesuai dengan usianya.

Bahkan ada salah satu artikel yang mengatakan, bahwa penolakan Ronan Voss dalam video yang beredar. Bukanlah sekedar skandal. Melainkan pengorbanan seorang Ronan Voss terhadap gadis yang dicintainya.

Jemarinya terus bergulir ke bawah.

‘Aku telah menjalani hubungan dengan beberapa wanita, tetapi tidak pernah ada seseorang yang mampu menyentuh hatiku sedalam dirinya. Sebelumnya aku selalu berpikir kebahagiaan selalu butuh pengorbanan, tetapi mencintai dia dan dicintai olehnya adalah kebahagiaan besar yang tidak pernah kubayangkan akan kudapatkan di usianya yang sudah mencapai hampir 40 tahun ini. Terutama dengan perbedaan usia di antara kami yangterpaut 17 tahun.’

Eve bergidik mendengar pernyataan yang dibuat-buat oleh Ronan dalam salah satu cuplikan video yang beredar. Tak hanya sempurna dalam penampilan, ekspresi dan kata-kata Ronan sangat sempurna. Tertata apik dan dirinya belum pernah mendengar kebohongan sesempurna ini.

‘Namun dia terlalu keras kepala untuk menyerah dan berhasil meluluhkan semua pertahananku.’ Tatapan Ronan tiba-tiba menjadi lebih tajam, ke arah kamera. Seolah menembus dirinya. Satu tangan pria itu kemudian merogoh ke balik saku jas. Mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dan membukanya. “Eve Raine Virelle, maukah kau menikah denganku?’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • My Hottest Daddy   Part 50 Menghindariku?

    “Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit

  • My Hottest Daddy   Part 49 Tolong Mamaku

    “Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan

  • My Hottest Daddy   Part 48 Kesetiaan

               Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir

  • My Hottest Daddy   Part 47 Berubah

    “Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m

  • My Hottest Daddy   Part 46 Berselingkuh Di Depan Mata

    ‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”

  • My Hottest Daddy   Part 45 Tujuan Kembali

    “Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status