Beranda / Romansa / My Hottest Daddy / Part 6 Kemurkaan Sintia

Share

Part 6 Kemurkaan Sintia

Penulis: Luisana Zaffya
last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 14:14:08

“Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”

Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”

“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”

“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”

Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.

“Kaupun tak peduli semua orang membicarakanku seperti predator pemburu daun muda.”

“Aku tak tahu kalau bocah yang terlihat di video itu adalah Eve.”

“Dan dia memanggilku Voss sialan. Kurasa itu bukan ditujukan padaku.”

Muluh Andrew merapat. 

“Dan berselingkuh dengan saudari tirinya?” dengkus Ronan. Kedua tangannya bersilang di dada. “Aku tidak tahu darimana sifat pengecut itu menurun padamu, Andrew. Ibu dan ayahmu jelas bukan orang yang akan melakukan hal serendah itu.”

Andrew semakin dibuat membeku. Tak hanya oleh kata-kata Ronan, tetapi juga tatapan menelisik pria itu yang membuatnya memalingkan wajah. 

“Sebaiknya hubunganmu dengan Eve tetap tersembunyi dengan baik, Nak. Kau tahu siapa yang paling dirugikan jika kecuranganmu tersebar. Aku selalu bisa membereskan masalahku dengan rapi.” Ronan berdiri dari duduknya dan berhenti di samping Andrew. “Selain otak yang cerdas, kau juga perlu menjaga reputasimu. Kau lihat sendiri apa yang terjadi dalam beberapa hari ini pada perusahaan karena insiden receh itu, kan?”

“Kau benar-benar akan menikahinya?”

“Keputusan sudah dibuat sebelum sandiwara ini dimulai.”

“Kenapa Eve tidak mengatakan padaku?”

Ujung bibir Ronan tertarik ke atas, “Kenapa dia harus membicarakan masalah ini denganmu?”

Mulut Andrew berhasil dibuat membeku dengan pertanyaan tersebut. Kata-kata terakhir Eve kembali bergema di telinganya. ‘Ke depannya, kita tidak perlu saling bertatap muka meskipun sekedar basa-basi.’

 “Jadi kapan rencana pernikahanmu? Setelah semua keributan ini, aku perlu mengatur waktuku karena banyak hal yang harus dibereskan.”

Andrew tak langsung menjawab, “Nanti malam, ibunya Zoe mengundang kita untuk makan malam.”

Ronan mengangguk singkat. “Seperti yang kukatakan, kau bebas menentukan apa yang kau lakukan dengan rencana pernikahanmu,” ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya dan memberikan salah satu kartu berwarna hitamnya pada sang putra. 

Andrew masih bergeming di depan meja kerja Ronan saat sang ayah menghilang dari balik pintu. Kedua tangannya tanpa sadar mengepal di antara kedua sisi tubuhnya. Dadanya bergemuruh dan wajahnya mengeras. 

“Bagaimana mungkin kau melakukan hal selicik ini padaku, Eve?”

*** 

Pekik kesakitan Eve terdengar memenuhi seluruh ruangan saat Sintia menjambak bagian belakang kepala gadis itu hingga terdongak ke atas. Begitu kuat dan Eve tak sanggup melawan, terutama dengan bantuan Zoe yang memiting kedua tangannya ke belakang.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan hingga Ronan membuat pernyataan tak masuk akal itu di media, hah?”

“Lepaskan!” desis Eve, menolak untuk mengaduh meskipun rasa sakit di kepalanya tak tertahankan. Seperti kulit kepalanya dikelupas. 

“Inikah yang kau bicarakan dengan Ronan beberapa hari yang lalu? Apa yang kau katakan tentangku? Kau pasti mengadukan semua hal buruk tentang aku, kan?”

“Kami bahkan tidak membahas tentangmu, kecuali berita tolol yang kau buat.”

Cengkeraman Sintia dikepala Eve semakin menguat, mendorong gadis itu ke depan. Tubuh Eve terpelanting ke lantai dan kepalanya berputar, keningnya tepat mengenai sudut meja riasnya.

Eve mengerang, kepalanya pusing dan pandangannya mulai berkunang. Saat tangannya terangkat menyentuh basah yang  mengalir di pusat rasa sakitnya. Tangannya turun dengan perlahan dan tak heran melihat warna merah yang kini menghiasi telapaknya.

“Benar-benar gadis binal yang tak tahu diri.” Sintia kembali menghambur ke arah Eve. Meraih lengan Eve dan kembali memaksa gadis itu berdiri. “Kau selalu saja membuat rencanaku berantakan. Tidak berhasil mendapatkan anaknya, sekarang kau berusaha mendapatkan ayahnya?”

Eve menyentakkan pegangan Sintia hingga terhuyung ke belakang. Nyaris terjungkal kalau Zoe terlambat menahan pinggangnya. “Beraninya kau …”

Zoe maju ke depan dan menampar pipi Eve sebelum sang ibu menyelesaikan makiannya.

Eve yang masih dilanda rasa pusing tak sempat menghindar. Pandangan di sekelilingnya berputar dan kembali terjatuh ke lantai. 

“Beraninya kau bersikap kasar dan kurang ajar pada ibuku.” Wajah Zoe sama merah padamnya dan tegangnya dengan Sintia. “Inilah wajahmu yang sebenarnya, kan? Kau memberikan Andrew untuk menukarnya dengan ayahnya? Betapa licik dan manipulatifnya kau, Eve.”

Eve mendengkus, mengusap bibirnya sambil berdiri. Zoe pun tak sempat menghindari tamparan balasannya. “Tidak lebih licik dan manipulatif dari kalian berdua.”

“Cara ini tidak akan berguna, Zoe.” Sintia menarik lengan Zoe untuk mundur. Salah satu sudut bibirnya membentuk seringai dan matanya berkilat jahat. “Ben! Josh!” panggilnya kemudian.

Kepala Eve berputar ke arah pintu dan dua petugas keamanan kepercayaan ayahnya melangkah masuk. Bersama tiga pelayan wanita. “Bawa dia ke mobil, dengan paksa.”

Eve mendelik. Berusaha memberontak saat Ben dan Josh mencoba menahan kedua lengannya. “Apa yang akan kau lakukan, hah?”

Sintia hanya menjawab dengan seringai, lalu menoleh pada tiga pelayan. “Kemasi barang-barangnya dan Zoe, cari paspornya.”

“Kau ingin mengirimku ke luar negeri lagi?!” jerit Eve. “Lepaskan, kalian berdua,” teriaknya pada Ben dan Josh, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sintia dan keraguan mereka kembali berubah menjadi kepatuhan.

Zoe langsung berjalan menuju lemari kecil yang ada di samping meja rias Eve. Membuka setiap lacinya dan langsung menemukan semua dokumen yang dibutuhkannya. Sintia mengambil ponsel Eve yan tergeletak di lantai. Berdering dari kontak bertuliskan ‘Voss Senior’.

Sintia mendecakkan lidahnya dan menekan tombol merah. Kemudian membanting ponsel tersebut ke lantai hingga pecah. “Kau tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan di seluruh negeri. Karena ketakutan dan gugup, kau diam-diam melarikan diri dari rumah dan kabur, Keluar negeri atau ke mana pun. Itu yang akan kami semua ketahui.”

“Dasar licik, wanita culas!”

“Ya, seperti itulah diriku.” Sintia tersenyum puas. “Kau yang memaksaku bertindak sejauh ini. Kupikir ini akan menjadi pilihan terakhir jika Andrew berubah pikiran dan mengetahui kehamilan palsu Zoe. Aku sudah cukup berbaik hati untuk merawat anak wanita sialan itu.”

“Aku bersumpah kau akan membayar semua ini, wanita licik. Kalian berdua!”

“Bawa dia keluar.”

Eve menjerit-jerit sambil berusaha membebaskan lengannya dari cekalan Ben dan Josh.

“Hubungi orang di bandara untuk mempersiapkan penerbangan tercepat yang bisa didapatkan.”

Zoe mengangguk dan menyerahkan paspor dan dompet Eve. “Semuanya ada di sini.”

“Dam aku harus menghubungi dokter Nita untuk membuat Eve tak sadarkan diri selama penerbangan.” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • My Hottest Daddy   Part 10 Persiapan Pernikahan

    Pagi Eve belum pernah terasa begitu melegakan sejak dirinya memergoki Andrew di hotel bersama Zoe. Pun kelegaan itu hanya beberapa saat saja, ketika suara dering ponsel di nakas mengalihkan pandangannya dari dinding kaca. “Di bawah?” Eve melompat turun dari ranjang, nyaris terjungkal ke depan karena terserimpet selimut. ‘Kau baik-baik saja?’ “Y-ya.” Eve akhirnya berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menuju lift. “T-tapi kenapa kau ada di bawah?” ‘Kenapa? Aku sudah mengatakan akan menjemputmu besok pagi, kan?’ Mata Eve terpejam dan telapak tangannya menempel di atas kepala. “Y-ya, aku lupa. Aku turun sebentar lagi, beri aku lima menit.” ‘Oke.’ Tepat setelah Ronan menyelesaikan jawaban singkat pria itu, Eve mendengar denting lift dan pintu lift di depannya bergeser terbuka. Tubuh Eve membeku. “Hanya lima menit?” Ronan menurunkan ponselnya. “Bukan lima menit sepuluh detik? Atau dua puluh detik lagi? Aku tak keberatan …” Eve tersadar, mundur ke belakang dan kedua lenganny

  • My Hottest Daddy   Part 9 Mantan Calon Mertua

    “Kau tahu dia ayahku?” “Sekarang aku tahu.” Tangan Eve mendorong dada Andrew menjauh. “Dan balas dendam? Kau sudah tak cukup berarti untuk mendapatkan perhatianku sebesar ini, Andrew.” “Tak cukup berarti kau bilang? Hanya sebatas ini lima tahun hubungan kita bagimu?” Eve tertawa mengejek. “Hanya sebatas ini bagimu hingga kau mencampakkanku dengan cara pengecut seperti ini! Kau tak punya hak untuk mendikteku harus dengan cara apa aku memandang hubungan kita, pengecut.” Andrew sempat terpaku dengan semburan kata-kata Eve yang mengena tepat di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya masih mengeras. “Dia ayahku.” “Lalu?” “Lalu kau bilang?” Eve membuang mukanya. Ia tahu kesepakatan rencananya dan Ronan akan membuatnya terus berada di sekitar Andrew. “Kau bilang tak akan muncul di hidupku lagi.” Eve mendengkus keras. “Aku bilang, kita tak perlu repot bertatap muka dan berbasa-basi. Seperti sekarang.” Andrew menggeram. “Kita tidak bisa saling mengabaikan kalau kau ben

  • My Hottest Daddy   Part 8 Balas Dendam?

    Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”“Di mana ini?”“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.

  • My Hottest Daddy   Part 7 Terselamatkan

    “Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”“Nona …”Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju

  • My Hottest Daddy   Part 6 Kemurkaan Sintia

    “Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.“Kaupun tak peduli semua orang membicar

  • My Hottest Daddy   Part 5 Menyelamatkan Reputasi

    “Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status