LOGIN“Tuan Matteo membatalkan kesepakatannya.”
Mata Ronan terpejam. Kedua tangannya yang terjatuh di lengan kursi tampak mengepal kuat meskipun napasnya berhembus dengan perlahan. “Beliau memiliki anak yang seumuran dengan nona Eve. 23 tahun dan merasa mempermainkan perasaan gadis muda yang polos jelas tidak bisa ditolerir oleh …” “Mempermainkan?” Mata Ronan terbuka. Tatapan tajamnya seketika membuat Jack membeku. “S-saya hanya mengatakan apa yang asisten beliau katakan.” “Lanjutkan,” perintah Ronan nyaris tanpa menggerakkan bibirnya. Namun semakin ia mendengarkan, amarah di dalam dirinya semakin mendidih. Seumur hidup, belum pernah ia dipermainkan skandal receh yang sukses mencoreng reputasinya seperti ini. Tak hanya reputasinya, kerugian besar yang diakibatkan skandal tersebut cukup mengguncang perusahaannya yang hampir tak terkalahkan. Sepanjang puluhan tahun dirinya berkarir melanjutkan bisnis keluarga Voss. “Semua pertemuan hari ini dibatalkan?” Jack mengangguk dengan kaku. Ujung bibir Ronan tertarik. “Bagus. Kalau begitu kita punya waktu luang sore ini?” Sekali lagi Jack mengangguk. “Siapkan mobil.” Ronan bangkit dari kursinya. Mengancingkan jasnya sambil memutari meja. Sekarang ia tahu apa yang harus dilakukannya. Mempermainkan gadis polos? Kalau begitu mari kita tunjukkan bagaimana cara mempermainkan bocah ingusan itu. *** Perkiraan Edith memang tidak meleset. Sintia terpaksa harus membantunya membereskan masalahnya dengan Ronan Voss. Tetapi ia lupa sejahat dan selicik apa ibu tirinya itu. ‘Ya, maafkan saya sudah membuat keributan ini. Saya mewakili keluarga Virelle, meminta maaf yang sebesar-besarnya terhadap keluarga Voss. Karena putri kami sedang mabuk sehingga membuat kekacauan ini. Kami tidak pernah menyangka insiden ini akan menciptakan kekacauan sebesar ini.’ ‘Semua pemberitaan yang beredar sama sekali tidak benar. Putri tiri yang sudah saya anggap seperti putri kandung saya, Eve Virelle. Tidak ada bedanya dengan Zoe, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan tuan Ronan Voss. Atau hubungan semacam apa pun dengan keluarga Voss. Selain Zoe, kakak tirinya yang memang bertunangan dengan Andrew Voss, satu-satunya putra tuan Ronan Voss.’ ‘Surat wasiat mendiang suami saya sudah mempercayakan Eve dengan salah satu teman dekatnya. Tuan Murray. Ini perjodohan, tetapi meskipun terpaut usia yang cukup jauh, keduanya merasa saling nyaman dan …’ Eve menggeram, memegang kuat ponsel yang masih menampilkan wajah Sintia dan Zoe. Video yang baru saja dikirim oleh Rain. “Di mana dia?” tanya Eve pada pelayan yang keluar dari ruang tidur Sintia begitu sampai di lantai satu. Baru sepuluh menit yang lalu, Sintia memperingatkannya untuk tidak turun ke lantai satu karena sedang menyambut tamu penting. Tapi ia tak peduli. “N-nyonya?” “Siapa lagi?” sergah Eve setengah membentak. “D-di ruang tamu, Nona. Tamu beliau baru saja datang. T-tapi Anda tidak boleh …” Eve menyentakkan tangan si pelayan yang berusaha menahannya. Berjalan menuju ruang tamu dengan langkah terburu. *** “Suatu kehormatan kamu menyempatkan waktu untuk memenuhi undanganku, Ronan.” Sintia tak bisa menyembunyikan senyum semringah dan tatapan berbinar di matanya. Jika memungkinkan, tentu saja wanita itu akan berteriak kegirangan. Ini pertama kalinya Ronan Voss menginjakkan kaki di rumah ini, akhirnya memenuhi belasan undangan yang pernah ditawarkannya. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. “Eve, bukan?” “Apa?” Mata Sintia melebar. Mengikuti pandangan Ronan pada Zoe dan menggeleng. “Namanya Zoe, kalau kamu lupa. Dia calon istri Andrew.” “Ya, aku tak pernah melihat wajahnya. Yang kubicarakan Eve.” Senyum Sintia membeku. “Eve?” “Nama anak tirimu.” “Y-ya. Dia anak tiriku. Apakah ini tentang masalah yang dibuatnya untukmu? Tenang saja, aku sudah membereskan masalah itu dan memberinya pelajaran,” ucap Sintia meskipun dengan hati-hati, ada kebanggaan yang besar mengembang di dadanya. “Pelajaran apa yang kau maksud?” Satu kata Sintia belum sempat terucap dari mulutnya yang terbuka. “Apa yang kalian bicarakan dengan pemberitaan di luar sana, hah?” Eve muncul dari arah ruang tengah. Melempar ponsel di tangannya ke arah Sintia. Jatuh tepat di pangkuan wanita itu. “Eve.” Zoe berdiri, menghampiri Eve yang kini berhenti di samping sofa tempat Sintia duduk. “Naik dan kembali ke kamarmu. Jangan membuat masalah lagi,” ujarnya sambil menahan tangan Eve. “Maaf, Ronan. Seperti yang kamu tahu, dia memang tidak punya sopan santun.” Eve seketika membeku dengan panggilan yang baru saja disebutkan oleh Sintia. Ronan? Ronan Voss? Kemarahan di wajahnya segera digantikan kepucatan saat menyadari tamu yang sedang disambut meriah dan spesial oleh Sintia kali ini adalah Ronan. Ronan Voss. Kepala gadis itu berputar dengan perlahan. Bersirobok dengan manik hijau pekat yang mirip dengan Andrew. “P-pam …” Suaranya tercekik di tenggorokan. Paman atau tuan, ia tak tahu bagaimana cara memanggil seorang Ronan Cross. Yang nyaris menjadi mertuanya. *** Eve menelan ludahnya yang terasa lebih pekat. Ujung matanya melirik ke lengan kemeja Ronan yang digulung hingga ke siku. Memperlihatkan bekas gigitannya yang masih tampak jelas di sana, bahkan setelah tiga hari insiden itu terjadi. Kesunyian di dalam mobil tersebut membuat detak jantungnya terdengar lebih keras di telinganya. Sementara dirinya mulai tak sanggup menahan napas lebih lama lagi. “M-maafkan saya, Paman.” “Paman?” “T-tuan Voss.” Ronan mendengkus, melemparkan tatapan mencemoohnya yang membuat Eve semakin beringsut menjauh. Hingga punggung gadis itu menyentuh pintu mobil. “Bukan Voss sialan?” Eve memegang gagang pintu, tetapi meskipun dirinya berhasil melompat keluar dari mobil ini, tetap saja anak buah Ronan menunggu tepat di samping pintunya. Melihat badannya yang tinggi dan lengannya yang panjang, tentu saja hanya perlu satu gerakan ringan untuk mendesakkan tubuhnya di dalam mobil ini. “Eve Raine Virelle, 23 tahun. Perempuan.” Pegangan Eve pada gagang pintu mobil semakin kuat melihat dokumen yang baru saja dibuka oleh Ronan. “Aku bicara dengan orang tepat.” Ronan meletakkan dokumen tersebut di pangkuan Eve. “Buka dan pahami. Sepuluh menit cukup?” Mata Eve mengerjap cepat, menatap sejenak wajah angkuh Ronan dan dokumen di pangkuannya. Mengabaikan keraguannya, gadis itu menuruti perintah tersebut. Keningnya berkerut perlahan, membaca baris demi baris. Semua daftar kerugian yang disebabkan skandal di antara mereka. ‘Aku akan membayar semua kerugiannya.’ Kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya. Namun lidahnya membeku melihat deretan angka yang tertera dalam tuntutan. Pencemaran nama baik, fitnah, tuntutan kerugian immateriil. Percobaan pembunuhan? Mata Eve membelalak. Semua tuntutan itu tepat seperti yang dikatakan oleh Rain. Ludah Eve terasa lebih pekat. “P-percobaan pembunuhan?” “Hasil visumnya juga ada di situ.” Eve tak perlu membuka lembaran selanjutnya. Wajahnya pasti sepucat mayat. Semua harta yang ditinggalkan ayahnya tak mungkin cukup untuk membayar semua total yang dijumlahkan. Mulai dari kontrak yang ditunda, investasi yang dibatalkan dan kerugian nilai saham serta reputasi perusahaan. Voss Tech jelas berada jauh di level yang berbeda dengan perusahaan ayahnya. Bagaimana mungkin insiden sereceh ini bisa berakibat sefatal ini? “M-maafkan saya, Paman. Saya akan menjelaskan kesalah pahaman ini …” Ronan tertawa mengejek. Kedua lengannya disilangkan di depan dada saat tubuhnya sedikit miring ke arah Eve. “Apakah kata maafmu cukup untuk membayar semua ini?” “L-lalu apa yang harus saya lakukan untuk membatalkan semua ini? Saya akan melakukan apa pun …” “Apa pun?” ulang Ronan, kepalanya sedikit miring dan matanya menyipit. Seringai tersamar di ujung bibirnya dengan kepala Eve yang kemudian mengangguk dengan mantap.“Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit
“Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan
Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir
“Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m
‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”
“Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men







