Startseite / Romansa / My Obsessive Boss / 4. Mengantar Rania

Teilen

4. Mengantar Rania

last update Veröffentlichungsdatum: 02.08.2026 07:48:42

"Minum, minum...!!"

Abiyya mengernyit sembari melirik ke arah kerumunan beberapa orang di meja sebelah, yang berteriak-teriak heboh sambil menepuk-nepuk meja.

Saat ini dia dan seluruh staf resto The Journal sedang merayakan ulang tahun di sebuah di salah satu klub malam eksklusif.

Abiyya sengaja khusus menyewa private room, agar mereka lebih nyaman dan tidak ikut berbaur dengan orang asing di sana, juga demi untuk keamanan para staf wanitanya.

"Mereka sedang ngapain?" Tanya Abiyya sambil menjuk meja seberangnya kepada Arkan, yang kebetulan satu meja dengannya.

Di dalam private room ini, tersedia beberapa meja bulat dan kursi-kursi, juga sofa panjang yang terletak di depan televisi layar lebar untuk karaoke.

"Oh, biasalah Pak. Paling-paling juga lomba minum," sahut Arkan santai sembari menenggak birnya. Ia sedang bermain kartu dengan Abiyya dan beberapa staf yang lain.

Abiyya kembali melirik ke meja seberangnya, berusaha melihat siapa yang disuruh minum.

"Hei, Rania tidak pernah minum!" Hardik kesal seseorang yang sepertinya suara wanita.

"Jangan dipaksa!"

"Dia kan sudah kalah main kartu! Jadi sesuai peraturan, ya harus minum!" Balas seseorang yang berbeda dengan suara yang tak kalah kesalnya.

Abiyya pun serta-merta berdiri dari kursinya setelah mendengar keributan kecil itu.

Nalurinya sebagai pemimpin tak akan bisa diam, jika menemui masalah sekecil apa pun selama masih di bawah pengawasannya.

"Ada apa?" Tanya Abiyya, yang kini telah berada di meja seberang. "Kalian meributkan apa?"

"Pak Abiyya, tolong bilangin staf bapak yang modus ini dong! Masa iya Rania harus menghabiskan tiga sloki alkohol?" Sela seorang staf bagian waitress, dan Abiyya yakin namanya adalah Kirby.

"Siapa yang modus, sih? Kan tadi sebelum main, Rania juga sudah tahu peraturannya," dengus staf bagian gudang yang bernama Adrian, yang membuat Kirby semakin tampak berang.

"Tapi, kan..."

"Uhm, nggak apa-apa," ucap sebuah suara pelan, yang sontak membuat semua orang menatap ke arah sumber suara.

Yaitu seorang gadis berkulit sangat putih nyaris pucat, dengan rambut sebahu bergelombang dan wajah yang merona seperti sedang menahan malu.

Dia yang namanya Rania.

Bagian waitress yang sangat pendiam dan jarang berbicara, namun entah kenapa banyak pengunjung resto The Journal yang memfaforitkannya.

"Kirby, jangan ngomel ke Adrian lagi. Cuma tiga sloki kok, nggak apa-apa," ucap Rania sambil tersenyum ke arah temannya itu.

Lalu Rania memegang satu dari tiga gelas sloki yang sudah tersedia di hadapannya, dan langsung mengarahkan ke bibirnya.

Dalam beberapa tegukan berat, gadis itu tampak susah payah menghabiskannya.

Abiyya kembali mengernyit melihat bibir merah alami gadis itu yang tampak bergetar.

"Stop," ucap Abiyya kemudian, ketika melihat rona merah yang semakin tampak terang di pipi pucat Rania, saat gadis itu telah menghabiskan gelas yang kedua dan hendak meraih gelas ketiga.

Mata lebar gadis itu terlihat berkaca-kaca dan tidak fokus, Abiyya curiga jika Rania mulai mabuk karena kadar toleransi alkohol yang rendah.

"Biar aku saja yang meminum gelas ketiga untuk Rania," ucap Abiyya sambil menepuk pelan pundak Adrian, lalu tanpa berpikir ia pun langsung meraih gelas dari tangan Rania dan menenggak isinya.

Argh, sial.

Abiyya lupa bahwa tadi sebelumnya ia sudah minum alkohol lima sloki, batas akhir toleransi alkoholnya.

Kalau sudah begini, sudah pasti dia akan berakhir dengan mabuk berat.

***

Seperti ditimpa batu yang berat, itulah yang dirasakan Abiyya di kepalanya saat ini.

Gara-gara melewati kadar toleransi alkohol, sekarang dia menanggung akibatnya.

Langkah kakinya sedikit terseok ketika menyusuri bagian depan klub. Ia bermaksud untuk menaiki mobilnya dan mungkin tidur selama setengah jam untuk memulihkan hangover, sebelum berkendara pulang.

Namun tatapannya yang semula layu dan mengantuk, tiba-tiba membuka lebar ketika melihat Kirby yang sedang membopong Rania di bagian lobby.

"Kenapa dia?" Abiyya bertanya kepada Kirby, setelah pria itu berada di dekat mereka.

"Rania mabuk, Pak. Sejak tadi dia seperti orang tidak sadar, tapi masih bisa jalan walaupun harus dipegangi," sahut Kirby.

"Oh. Kamu mau mengantarnya pulang, kan?" Tanya Abiyya memastikan.

"Iya, Pak. Ini lagi menunggu pacarku yang datang untuk menjemput," sahut gadis itu lagi.

Abiyya pun terdiam dan bersyukur mendengarnya, meskipun sergapan rasa bersalah tak pelak ia rasakan melihat kondisi salah satu staf yang jadi teler berat begini.

"Apa rumah Rania jauh?" Abiyya bertanya lagi.

"Lumayan juga, Pak. Sekitar 25 kilo meter dari sini."

Pria itu pun mengangguk, lalu tiba-tiba saja meraih tangan Rania dan mengaitkannya di lehernya, lalu satu tangannya lagi mencengkram pinggang gadis itu agar tidak merosot jatuh.

"Ini sudah larut malam, jadi biar aku saja yang mengantarkannya pulang," lugas Abiyya sembari meraih ponselnya dari saku dengan satu tangannya yang bebas, lalu memberikan alat komunikasi itu kepada Kirby.

"Tolong masukkan alamat Rania ke GPS, ya?" Pinta Abiyya.

"Uuhh..."

Tiba-tiba saja, Rania bergerak-gerak gelisah di pelukan Abiyya, dan melenguh seperti menahan rasa sakit.

Kedua maniknya masih terpejam, namun keningnya tampak berkerut dalam.

Tanpa berpikir panjang, Abiyya pun mengangkat tubuh mungil Rania dan menggendongnya.

Tak ada hal lain dalam pikiran pria itu, selain hanya agar dia lebih praktis membawa tubuh gadis itu, dan agar Rania tidak kesulitan berjalan.

Karena kedua tangan Abiyya telah penuh menggendong tubuh Rania dan tak bisa lagi memegang ponsel yang diberikan Kirby, maka ia pun meminta gadis itu untuk mengantarnya ke mobil.

"Maaf sudah merepotkan. Dan terima kasih banyak, Pak Abiyya. Hati-hati di jalan." Kirby pun berucap, setelah Abiyya dan Rania berada di dalam mobil.

"Tidak masalah, Kirby. Kamu juga hati-hati." Ucap Abiyya sambil melambai dari jendela mobil yang terbuka, sebelum beberapa saat kemudian kaca itu pun tertutup dan mobil mewah itu mulai melaju keluar dari area parkir klub.

***

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • My Obsessive Boss   7. Tak Bisa Ditarik Kembali

    Rania merasa tubuhnya ringan seperti melayang. Karena kepalanya masih terasa pusing, gadis itu memilih tetap memejamkan mata. Ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada dalam gendongan Abiyya, karena aroma parfum yang segar bercampur dengan wangi maskulin khas pria itu memenuhi indra penciumannya. Entah kenapa, aroma itu perlahan meredakan rasa gugup yang sejak tadi mencengkeram dadanya. Tanpa sadar, Rania menghirupnya sedikit lebih dalam. Efek alkohol membuat seluruh pertahanannya melemah. Terlebih setelah sesi ciuman panas yang terjadi di dalam mobil beberapa menit lalu. "Kita... mau ke mana, Pak?" tanyanya lirih. Tubuhnya masih lemas. Ia bahkan tak berniat membuka mata, sepenuhnya membiarkan Abiyya membawanya. "Ini apartemenku, Rania," jawab Abiyya dengan suaranya yang berat. Rania mengangguk pelan. Sesaat kemudian, tanpa sadar ia menyandarkan pipinya lebih dalam pada dada bidang pria itu. "Aku... sangat suka dengan aroma parfum Bapak," gumannya lirih. Lan

  • My Obsessive Boss   6. Ciuman Pertama

    Tak pelak ia pun merasa agak takjub, karena aroma ini terasa unik dan terlalu kekanakkan untuk gadis seusia Rania, namun ternyata cukup menyenangkan juga untuk dihirup. Rania terkejut ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang membersihkan kemeja Abiyya. Gadis itu pun mendongak, lalu kembali terkesiap. Terlambat menyadari bahwa wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajah Abiyya, dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan. Bahkan Rania bisa merasakan desau napas pelan Abiyya yang lembut menerpa wajahnya, terasa hangat dan menenangkan. DEG! Tanpa bisa ia cegah, Rania pun merasakan kulit wajahnya yang mulai memanas karena merona. Tidak. Pasti warnanya berubah menjadi amat sangat merah dan memalukan! Semula Abiyya hanya bermaksud untuk menghentikan tangan halus dan berkulit pucat itu agar tak perlu lagi membersihkan kemejanya yang basah. Ia pun memegang pergelangan tangan Rania, dengan tujuan untuk menjauhkan dari tubuhnya, namun ma

  • My Obsessive Boss   5. Malam Itu

    'Uh, pusing sekali.' Rania membuka perlahan kedua matanya yang semula terpejam rapat, untuk melihat dimanakah gerangan ia sekarang berada. Karena tubuhnya yang sangat sensitif dengan alkohol, baru menenggak dua sloki saja rasanya telah membuat seluruh tenaga dan kesadarannya telah menghilang entah kemana. Kepalanya berat, dan sekujur tubuhnya terasa sakit sekali. Ia pun berjanji dalam hati, tak kan pernah lagi-lagi berani menyentuh alkohol laknat itu untuk selamanya. Namun Rania pun sontak mengernyit, ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tunggu. Mobil siapa ini...?? "...Kamu sudah sadar?" Suara maskulin yang terdengar mengalun memasuki indra pendengarannya itu membuat Rania terkejut, dan sontak menoleh ke sumbernya. "P-Pak Abiyya??!" Tukas Rania, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Sosok pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya tersenyum kecil, sembari melirik sek

  • My Obsessive Boss   4. Mengantar Rania

    "Minum, minum...!!" Abiyya mengernyit sembari melirik ke arah kerumunan beberapa orang di meja sebelah, yang berteriak-teriak heboh sambil menepuk-nepuk meja. Saat ini dia dan seluruh staf resto The Journal sedang merayakan ulang tahun di sebuah di salah satu klub malam eksklusif. Abiyya sengaja khusus menyewa private room, agar mereka lebih nyaman dan tidak ikut berbaur dengan orang asing di sana, juga demi untuk keamanan para staf wanitanya. "Mereka sedang ngapain?" Tanya Abiyya sambil menjuk meja seberangnya kepada Arkan, yang kebetulan satu meja dengannya. Di dalam private room ini, tersedia beberapa meja bulat dan kursi-kursi, juga sofa panjang yang terletak di depan televisi layar lebar untuk karaoke. "Oh, biasalah Pak. Paling-paling juga lomba minum," sahut Arkan santai sembari menenggak birnya. Ia sedang bermain kartu dengan Abiyya dan beberapa staf yang lain. Abiyya kembali melirik ke meja seberangnya, berusaha melihat siapa yang disuruh minum. "Hei, Rania tid

  • My Obsessive Boss   3. Sehari Sebelumnya

    (Flashback) "Kemana semua orang??" Pria itu mengernyitkan keningnya heran ketika ia baru saja memasuki pintu ke dalam "The Journal", sebuah bisnis restoran miliknya. Saat ini waktu memang sudah menunjukkan jam 10.30 malam, dan The Journal biasanya menutup usahanya setiap jam 10 malam. Anehnya, tak ada seorang pun di sini sekarang, padahal biasanya masih banyak yang berlalu lalang membersihkan lantai dan membereskan kursi-kursi. Lampu-lampu pun semua masih menyala, dan kursi-kursi juga tampak belum dibereskan. Itu artinya mereka belum pulang kan? Ataukah malam ini mereka telah mangkir dari tanggung jawab? Pria itu, Abiyya, akhirnya memutuskan untuk tetap masuk ke dalam resto. Ia sengaja berjalan memutar lebih dulu ke arah gudang bahan baku, dapur, dan area restroom. Ia pun semakin heran ketika ternyata benar-benar tidak menemukan siapa pun di mana-mana. Seolah resto ini ditinggalkan begitu saja dalam keadaan belum beres, belum terkunci, dan dengan seluruh lampu yang

  • My Obsessive Boss   2. Rahasia Kita

    Lagi-lagi langkah Rania terhenti untuk yang kedua kali. Gadis itu mengerutkan alisnya yang melengkung indah, ketika melihat Abiyya melangkah ke arahnya dengan ayunan kaki tegas yang membuat Rania menelan ludah. Sial. Ingin sekali Rania mengutuk jantungnya yang berdebar dengan tidak tahu dirinya, hanya karena sosok Abiyya yang berjalan mendekatinya dengan sorot yang lekat menatap. Pesona pria ini terlalu mematikan, dan Rania pun hanya gadis biasa yang tak bisa abai begitu saja. Kini pria itu telah berdiri hanya berjarak selangkah dengan Rania. Tubuhnya yang sangat tinggi dan Rania yang jauh lebih pendek, membuat gadis itu terpaksa mendongakkan wajahnya. "Apa yang terjadi semalam, jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya selain aku dan kamu." Rania mengangguk setuju. "Aku juga tidak mau membongkar aib sendiri," balasnya. "Baguslah kalau begitu. Sekarang kamu bisa pergi," ucap Abiyya dingin, sembari membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke kamar mandi, meninggal

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status