LOGIN"Minum, minum...!!"
Abiyya mengernyit sembari melirik ke arah kerumunan beberapa orang di meja sebelah, yang berteriak-teriak heboh sambil menepuk-nepuk meja. Saat ini dia dan seluruh staf resto The Journal sedang merayakan ulang tahun di salah satu klub malam eksklusif. Abiyya sengaja khusus menyewa private room, agar mereka lebih nyaman dan tidak ikut berbaur dengan orang asing di sana, juga demi untuk keamanan para staf wanitanya. "Mereka sedang ngapain?" Tanya Abiyya sambil menunjuk meja seberangnya kepada Arkan, yang kebetulan satu meja dengannya. Di dalam private room ini, tersedia beberapa meja bulat dan kursi-kursi, juga sofa panjang yang terletak di depan televisi layar lebar untuk karaoke. "Oh, biasalah Pak. Paling-paling juga lomba minum," sahut Arkan santai sembari menenggak birnya. Ia sedang bermain kartu dengan Abiyya dan beberapa staf yang lain. Abiyya kembali melirik ke meja seberangnya, berusaha melihat siapa yang disuruh minum. "Hei, Rania tidak pernah minum!" Hardik kesal seseorang yang sepertinya suara wanita. "Jangan dipaksa!" "Dia kan sudah kalah main kartu! Jadi sesuai peraturan, ya harus minum!" Balas seseorang yang berbeda dengan suara yang tak kalah kesalnya. Abiyya pun serta-merta berdiri dari kursinya setelah mendengar keributan kecil itu. Nalurinya sebagai pemimpin tak akan bisa diam, jika menemui masalah sekecil apa pun selama masih di bawah pengawasannya. "Ada apa?" Tanya Abiyya, yang kini telah berada di meja seberang. "Kalian meributkan apa?" "Pak Abiyya, tolong bilangin staf bapak yang modus ini dong! Masa iya Rania harus menghabiskan tiga sloki alkohol?" Sela seorang staf bagian waitress, dan Abiyya yakin namanya adalah Kirby. "Siapa yang modus, sih? Kan tadi sebelum main, Rania juga sudah tahu peraturannya," dengus staf bagian gudang yang bernama Adrian, yang membuat Kirby semakin tampak berang. "Tapi, kan..." "Uhm, nggak apa-apa," ucap sebuah suara pelan, yang sontak membuat semua orang menatap ke arah sumber suara. Yaitu seorang gadis berkulit sangat putih nyaris pucat, dengan rambut sebahu bergelombang dan wajah yang merona seperti sedang menahan malu. Dia yang namanya Rania. Bagian waitress yang sangat pendiam dan jarang berbicara, namun entah kenapa banyak pengunjung resto The Journal yang memfaforitkannya. "Kirby, jangan ngomel ke Adrian lagi. Cuma tiga sloki kok, nggak apa-apa," ucap Rania sambil tersenyum ke arah temannya itu. Lalu Rania memegang satu dari tiga gelas sloki yang sudah tersedia di hadapannya, dan langsung mengarahkan ke bibirnya. Dalam beberapa tegukan berat, gadis itu tampak susah payah menghabiskannya. Abiyya kembali mengernyit melihat bibir merah alami gadis itu yang tampak bergetar. "Stop," ucap Abiyya kemudian, ketika melihat rona merah yang semakin tampak terang di pipi pucat Rania, saat gadis itu telah menghabiskan gelas yang kedua dan hendak meraih gelas ketiga. Mata lebar gadis itu terlihat berkaca-kaca dan tidak fokus, Abiyya curiga jika Rania mulai mabuk karena kadar toleransi alkohol yang rendah. "Biar aku saja yang meminum gelas ketiga untuk Rania," ucap Abiyya sambil menepuk pelan pundak Adrian, lalu tanpa berpikir ia pun langsung meraih gelas dari tangan Rania dan menenggak isinya. Argh, sial. Abiyya lupa bahwa tadi sebelumnya ia sudah minum alkohol lima sloki, batas akhir toleransi alkoholnya. Kalau sudah begini, sudah pasti dia akan berakhir dengan mabuk berat. *** Seperti ditimpa batu yang berat, itulah yang dirasakan Abiyya di kepalanya saat ini. Gara-gara melewati kadar toleransi alkohol, sekarang dia menanggung akibatnya. Langkah kakinya sedikit terseok ketika menyusuri bagian depan klub. Ia bermaksud untuk menaiki mobilnya dan mungkin tidur selama setengah jam untuk memulihkan hangover, sebelum berkendara pulang. Namun tatapannya yang semula layu dan mengantuk, tiba-tiba membuka lebar ketika melihat Kirby yang sedang membopong Rania di bagian lobby. "Kenapa dia?" Abiyya bertanya kepada Kirby, setelah pria itu berada di dekat mereka. "Rania mabuk, Pak. Sejak tadi dia seperti orang tidak sadar, tapi masih bisa jalan walaupun harus dipegangi," sahut Kirby. "Oh. Kamu mau mengantarnya pulang, kan?" Tanya Abiyya memastikan. "Iya, Pak. Ini lagi menunggu pacarku yang datang untuk menjemput," sahut gadis itu lagi. Abiyya pun terdiam dan bersyukur mendengarnya, meskipun sergapan rasa bersalah tak pelak ia rasakan melihat kondisi salah satu staf yang jadi teler berat begini. "Apa rumah Rania jauh?" Abiyya bertanya lagi. "Lumayan juga, Pak. Sekitar 25 kilo meter dari sini." Pria itu pun mengangguk, lalu tiba-tiba saja meraih tangan Rania dan mengaitkannya di lehernya, lalu satu tangannya lagi mencengkram pinggang gadis itu agar tidak merosot jatuh. "Ini sudah larut malam, jadi biar aku saja yang mengantarkannya pulang," lugas Abiyya sembari meraih ponselnya dari saku dengan satu tangannya yang bebas, lalu memberikan alat komunikasi itu kepada Kirby. "Tolong masukkan alamat Rania ke GPS, ya?" Pinta Abiyya. "Uuhh..." Tiba-tiba saja, Rania bergerak-gerak gelisah di pelukan Abiyya, dan melenguh seperti menahan rasa sakit. Kedua maniknya masih terpejam, namun keningnya tampak berkerut dalam. Tanpa berpikir panjang, Abiyya pun mengangkat tubuh mungil Rania dan menggendongnya. Tak ada hal lain dalam pikiran pria itu, selain hanya agar dia lebih praktis membawa tubuh gadis itu, dan agar Rania tidak kesulitan berjalan. Karena kedua tangan Abiyya telah penuh menggendong tubuh Rania dan tak bisa lagi memegang ponsel yang diberikan Kirby, maka ia pun meminta gadis itu untuk mengantarnya ke mobil. "Maaf sudah merepotkan. Dan terima kasih banyak, Pak Abiyya. Hati-hati di jalan." Kirby pun berucap, setelah Abiyya dan Rania berada di dalam mobil. "Tidak masalah, Kirby. Kamu juga hati-hati." Ucap Abiyya sambil melambai dari jendela mobil yang terbuka, sebelum beberapa saat kemudian kaca itu pun tertutup dan mobil mewah itu mulai melaju keluar dari area parkir klub. ***Rania masih menatap ke arah jalan yang mereka lewati beberapa saat lalu. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang baru saja mereka dengar. “Kita harus kasih tahu Pak Abiyya," gumannya pelan. Tian yang sedang mengendarai motor langsung menggeleng. “Jangan sekarang.” Rania menatapnya. “Kenapa?” “Karena kita belum punya bukti," sergahnya penuh sesal. Seharusnya tadi mereka merekam percakapan itu dengan ponsel. Tapi sepertinya baik Tian maupun Rania sama-sama terlalu shock, hingga tidak berpikir ke sana. “Tapi... kita kan sudah mendengarnya sendiri," tukas Rania. “Kita memang mendengar percakapan mereka,” jawab Tian. “Tapi kalau besok mereka bilang kalau pembicaraan tadi bukan tentang Pak Abiyya atau transaksi yang kita pikirkan, lalu bagaimana kita mau menjelaskannya?” Kalimat Tian itu serta-merta membuat Rania terdiam, lalu pria itu pun kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Apalagi mereka itu adalah Pak Hendra dan Pak Fikri. Mereka punya jabata
Malam hari pun tiba.Setelah matahari tenggelam dan udara di sekitar resort mulai terasa lebih sejuk, Rania akhirnya bersiap untuk keluar.Kondisi kakinya sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan ia merasa tidak perlu lagi mengenakan kruk.Namun untuk sesaat, Rania sempat ragu ketika mengingat kejadian siang tadi.Apa ia tetap akan keluar untuk cruise di malam hari dengan Tian?Tapi... yang ikut kali ini bukan hanya Tian, melainkan juga Kirby dan beberapa staf lainnya. Jadi sepertinya Rania merasa tidak ada alasan untuk menolak.Lagipula, ia hanya ingin menikmati malam terakhir mereka di resort tanpa terus memikirkan sikap Abiyya yang semakin lama semakin aneh. Beberapa menit kemudian, Rania bersama Kirby, Tian, dan beberapa staf lainnya sudah berada di area parkir dekat pantai.Sebuah motor listrik milik resort telah disiapkan.“Sudah lengkap semuanya?” tanya Tian sambil memastikan semua orang sudah berada di tempat.Kirby mengangkat tangan. “Siap! Pasukan sudah lengkap!” serunya deng
Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan bersama pa
Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat.Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata."Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas.Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa."Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan."Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya."Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan."Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu ragu."Ia mendek
Tiga kata itu terasa berbeda, seolah memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Seolah selama ada sesuatu yang menyangkut dirinya... maka Abiyya tidak akan membiarkannya begitu saja. Rania belum sempat mengatakan apa-apa ketika pria itu tiba-tiba saja ikut duduk di sampingnya, lalu bergerak mendekatkan wajahnya. Secara refleks, Rania pun mundur hingga punggungnya hampir menyentuh batang pohon di belakangnya. “Pak...??” Gerakan Abiyya pun berhenti, saat wajahnya kini telah berada tepat di hadapan Rania, begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan tubuh Abiyya setelah pertandingan. Aroma keringat samar bercampur dengan wangi segar parfum Abiyya terasa memenuhi udara di antara mereka. Namun anehnya... Rania tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang berdetak semakin cepat. Abiyya mengangkat satu tangannya, kemudian menahannya di samping kepala Rania. Membuat gadis itu menelan ludah, karena terkurung di antara tubuh Abiyya dan batang pohon. Lalu tatapan p
Setelah pertandingan berakhir, seluruh peserta kemudian diarahkan menuju taman di sisi resort untuk menikmati brunch yang telah disiapkan oleh pihak resort. Ada beberapa meja panjang yang tertata dengan estetik di bawah beberapa payung besar, dipenuhi oleh aneka makanan lezat dan minuman menyegarkan. Suasana pun kembali ramai oleh percakapan dan tawa para peserta. Meskipun bagi Rania, suasana itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Baru saja beberapa langkah ia memasuki area brunch, Rania sudah bisa merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Ada yang sekadar melirik, ada pula yang terang-terangan menatap dengan sorot sinis. Beberapa staf wanita bahkan langsung berbisik ketika Rania lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Rania tidak perlu mendengarnya untuk mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Pasti dirinya jadi pergunjingan karena Pak Abiyya yang selalu membelanya. Seketika perutnya pun terasa tidak nyaman, dan selera makanny







