FAZER LOGINHendra dan Fikri kini telah kembali berada di ruangan sebelumnya, duduk santai di atas sofa bersama dua wanita penghibur yang menemani mereka sambil menuangkan minuman. Hendra mengangkat gelasnya dan bersulang. “Untuk keberhasilan kita.” Fikri terkekeh. “Untuk kehancuran The Journal.” Gelas mereka pun berdenting pelan saat beradu, lalu keduanya meneguk minuman masing-masing. Setelahnya, Hendra bersandar dengan wajah puas. “Besok kalau rekaman itu sampai ke tangan para investor, posisi Abiyya pasti selesai.” “Bukan cuma posisinya,” sahut Fikri. “Kalau dia menolak untuk tanda tangan dokumen itu, video itu akan beredar. Kalaupun dia menandatangani, maka transaksi itu otomatis menjadi tanggung jawabnya.” Hendra tertawa kecil. “Lalu setelah itu?” Fikri menatapnya dengan sorot licik. “Keuangan The Journal sudah kita rusak dari dalam. Tinggal tunggu waktunya saja sampai mereka mulai kehabisan napas.” Hendra mengangguk, menikmati kemenangan yang sudah terasa begitu dekat. Ke
Beberapa hari kemudian, semuanya kembali seperti biasa. Setelah liburan ke Pulau Seribu berakhir, para staf The Journal kembali berkutat dengan rutinitas masing-masing. Namun bagi Rania, semuanya tidak benar-benar terasa seperti biasa... terutama sejak mengetahui bahwa Hendra dan Fikri ternyata sedang berusaha menjebak Abiyya. Malam ini semakin larut, dan The Journal hampir tutup. Sebagian besar pelanggan sudah meninggalkan restoran, sementara beberapa staf shift malam masih sibuk membereskan ruangan. Rania dan Kirby sedang mengepel lantai, ketika Abiyya terlihat sedang berjalan untuk memeriksa area bartender. Sesekali pria itu berhenti untuk memperhatikan meja, peralatan, hingga persediaan minuman. Rania sedang berusaha fokus pada pekerjaannya, namun ketika melihat seseorang yang berjalan mendekati Abiyya, gerakannya pun otomatis melambat. Rania menatap Pak Fikri dari kejauhan. Pria itu berdiri di samping Abiyya dan mulai berbicara. Kirby yang menyadari arah tatapan
Rania masih menatap ke arah jalan yang mereka lewati beberapa saat lalu. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang baru saja mereka dengar. “Kita harus kasih tahu Pak Abiyya," gumannya pelan. Tian yang sedang mengendarai motor langsung menggeleng. “Jangan sekarang.” Rania menatapnya. “Kenapa?” “Karena kita belum punya bukti," sergahnya penuh sesal. Seharusnya tadi mereka merekam percakapan itu dengan ponsel. Tapi sepertinya baik Tian maupun Rania sama-sama terlalu shock, hingga tidak berpikir ke sana. “Tapi... kita kan sudah mendengarnya sendiri," tukas Rania. “Kita memang mendengar percakapan mereka,” jawab Tian. “Tapi kalau besok mereka bilang kalau pembicaraan tadi bukan tentang Pak Abiyya atau transaksi yang kita pikirkan, lalu bagaimana kita mau menjelaskannya?” Kalimat Tian itu serta-merta membuat Rania terdiam, lalu pria itu pun kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Apalagi mereka itu adalah Pak Hendra dan Pak Fikri. Mereka punya jabata
Malam hari pun tiba. Setelah matahari tenggelam dan udara di sekitar resort mulai terasa lebih sejuk, Rania akhirnya bersiap untuk keluar. Kondisi kakinya sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan ia merasa tidak perlu lagi mengenakan kruk. Namun untuk sesaat, Rania sempat ragu ketika mengingat kejadian siang tadi. Apa ia tetap akan keluar untuk cruise di malam hari dengan Tian? Tapi... yang ikut kali ini bukan hanya Tian, melainkan juga Kirby dan beberapa staf lainnya. Jadi sepertinya Rania merasa tidak ada alasan untuk menolak. Lagipula, ia hanya ingin menikmati malam terakhir mereka di resort tanpa terus memikirkan sikap Abiyya yang semakin lama semakin aneh. Beberapa menit kemudian, Rania bersama Kirby, Tian, dan beberapa staf lainnya sudah berada di area parkir dekat pantai. Sebuah motor listrik milik resort telah disiapkan. “Sudah lengkap semuanya?” tanya Tian sambil memastikan semua orang sudah berada di tempat. Kirby mengangkat tangan. “Siap! Pasukan sudah len
Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan
Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat. Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata. "Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas. Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa. "Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan." Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya. "Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan. "Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu







