Share

MOH - DUA

Penulis: Pipit_vie
last update Tanggal publikasi: 2026-09-09 16:28:17

Suara tawa dan bising memenuhi gudang yang terletak di bagian belakang gedung olahraga di Skylar International School. Pembuat kebisingan itu tak lain adalah Rega dan teman-temannya. Tidak ada guru yang mengetahui bahwa gudang itu dijadikan markas membolos oleh mereka.

Awan berdehem kepada sekitar sepuluh anggotanya yang berada di sini. Semua langsung terdiam karena sang ketua menginterupsi. Awan Khawas adalah sahabat Rega, anak dari sahabat bundanya yaitu Kimi.

"Ini berkaitan dengan kemarin waktu kita tarung sama anak Justice Warior. Cewek yang tiba-tiba dateng terus teriak-teriak itu dari SMA Moresnet." Jelas Awan persis seperti yang diceritakan oleh Rega tadi, sedangkan anak yang lain mencoba mencerna maksud Awan.

"Orang gila yang kemarin itu anak-anak Moresnet yang lagi ekskul teater. Dan kalian pasti paham kan maksud gue, kayaknya Moresnet bakal jadi inceran Justice karena udah ganggu kesenangan mereka." Lanjut Awan.

"Jadi, cewek kemaren sama orgil itu semua anak Moresnet. Em ... bahaya nih!" Gumam mereka semua.

Rega hanya menyimak saja, karena dia masih sibuk menghabiskan permen coklat kesukaannya.

"Gue nggak tau ya, kenapa Raksi suka nyari perkara ke sekolah-sekolah lain, terlebih sama sekolah kita. Emang kita pernah ada salah apa sih sama anak Justice Warior?" Celetuk Udin membicarakan Raksi si ketua Justice Warior.

"Mungkin karena Raksi belum ada pawangnya. Harusnya emaknya kawinin si Raksi haha~" Ucap Faqih ngawur.

Semua tertawa karena ucapan ngawur Faqih lalu Awan segera mendiamkan mereka kembali.

"Hssttt!! Diam dulu woi! Ini masalah serius! Lo tau kan kalau anak Moresnet nggak pernah nyari gara-gara sama sekolah manapun. Kasihan kalau mereka jadi korban Raksi, karena secara nggak langsung mereka udah bantu kita kemarin." Mereka terdiam merenung. Ada benarnya juga ucapan Awan.

"Gampang aja, ntar pulsek kita ke Moresnet, nah temuin ketosnya! Terus kita kasih tahu buat hati-hati. Selesai!" Dean yang memang suka menggampangkan sesuatu angkat bicara, entah setan dari mana Awan mengangguk menyetujui.

"Oke, nanti pulang sekolah kita ke Moresnet"

- oOo -

Sanaya dan Revi pulang paling akhir karena tadinya mereka masih mengerjakan tugas yang belum selesai dan harus ke kantor dulu untuk menaruh buku tugas bersama buku tugas teman sekelasnya.

"Awas aja ya kalau nilainya sedikit, gue sampai beraniin minjem krayon anaknya guru BK buat warnain obelianya."

Sanaya terbahak, sahabatnya ini terlihat tidak modal sekali, "Ngapain lo minjem krayon sama anak guru BK, padahal Reza tadi bawa loh!"

"ANJIR! KENAPA LO GAK BILANG?" Pekik Revi sambil menabok lengan Sanaya keras, "Duh! Kalau tuh bocah cerita ke emaknya bisa malu gue!" Revi terus menepuk jidatnya, untung jidatnya tak ada jerawat.

Sanaya menggelengkan kepalanya, Revi itu ribet dan gampang panikan, "Doa aja, moga bocah itu nggak cerita."

"Woi, Sanaya! Revi!" Panggil seseorang saat Revi dan Sanaya melewati aula sekolah. Mereka menoleh dan mendapati Darian- Ketua Osis Moresnet memanggilnya yang tengah berdiri di depan gerbang.

Kebetulan tempat parkir itu di belakang aula dan aula dekat dengan pintu gerbang, sehingga untuk ke parkiran bisa lewat samping pintu gerbang atau lewat koridor kelas sepuluh.

Sanaya dan Revi berjalan mendekati Darian, "Kenapa durian? Lo mau minta sumbangan?" Tanya Sanaya yang sudah di samping Darian.

"Yeu~ Si bego! Kagak elah! Nih ada anak Skylar pada mau ketemu sama anak teater. Kebetulan lo lewat, yaudah gue panggil lo aja." jelas Darian.

Sanaya dan Revi sedikit menggeser badan mereka dan benar ada anak gerombolan anak Skylar yang tengah menatapnya.

"Kalau mau ketemu anak teater ya jangan di gerbang juga kali! Bicara di teras aula aja sekalian ngadem." Ujar Revi lalu menggandeng Sanaya menuju aula.

Kini mereka sudah berkumpul duduk lesehan di teras aula, "Gue kasih tahu anak-anak lain dulu buat kumpul." Ucap Sanaya dan mulai mengeluarkan ponselnya.

"Tunggu!" Sergah Rega.

Semua mata menatap Rega karena tumben sekali dia langsung tanggap dan bersuara.

"Lo cewek kemarin, kan?" Rega makin mendapat tatapan kagum dari teman-temannya sendiri.

"Ha? Maksudnya?" Sanaya tak paham. Melihat itu Awan berdehem, dia mengerti pasti Rega malas untuk menjelaskan. Jadi dia berinisiatif sendiri untuk menggantikan Rega.

" Lo cewek yang pakai masker terus teriak ada orgil ngamuk kan?"

Sanaya kaget, seketika tubuhnya menegang, tetapi Sanaya tetap mengangguk kaku.

"Kita berterimakasih sama lo dan temen-temen lo buat kemarin. Karena secara nggak langsung lo udah bantu kita. Di sini kita mau kasih tahu kalau lo sama anak sekolah ini harus hati-hati. Takutnya anak Justice Warior ganggu kalian." Awan melanjutkan kalimatnya karena mengerti Sanaya yang sedikit tegang.

"Justice Warior siapa?" Tanya Darian.

"Itu geng anak SMA Yugoslavia." Jawab Jerrick, biang gosip di antara anak Bros Musta.

"Ternyata masih zamannya geng-gengan ya, San, gue kira cuma di novel doang." Celetuk Revi yang diangguki Sanaya.

Mereka sama-sama diam, karena inti dari pembicaraan mereka sudah disampaikan dan mereka tidak tahu harus bicara apa lagi. Ini baru pertama kalinya anak Moresnet dan Skylar bertatap muka bahkan anak Skylar bermain ke area Moresnet.

"Ya ampun San! Plastisin gue ketinggalan di laci meja njir!" Pekik Revi kuat sambil menepuk paha Sanaya keras, "Ayo anter gue ke kelas lagi, San, keburu Pak Gono ngunci kelas!"

Sanaya langsung ditarik oleh Revi kuat yang membuat Sanaya mengaduh, "Aduh Repi! pelan-pelan napa?! Lagian plastisin doang, tinggal beli lagi aja apa susahnya sih? Lha wong cuma lima ratus rupiah kok harganya."

"Heh, San! Kita tuh harus hemat! Mau lima ratus tetep aja duit. Kalau nggak dicari, lima ratus nggak bakal ada didompet lo!" Balas Revi lalu kembali menarik Sanaya sampai mereka hilang dari pandangan Rega dan teman-temannya.

Darian yang merasa malu akibat ulah kedua cewek tadi yang merupakan teman sekelasnya pun tertawa garing, "Hehe~ Harap dimaklumi ya ... mereka emang suka gitu."

Awan dan yang lain hanya tersenyum, "Kita mau balik dulu. Sorry, ganggu waktu lo."

Darian langsung menggeleng, "Nggak kok, kalau mau main ke Moresnet silakan aja. Sekali-kali main basket bareng juga bisa dong, ya?" Darian mencoba mengakrabkan diri.

"Weh setuju! Futsal juga boleh!" seru Dean paling bersemangat. Sedangkan Rega, dia masih diam sambil mengemut permen coklat kesukaannya.

Setalah itu anak Bros Musta pamit dan keluar dari Moresnet yang sudah sangat sepi.

- oOo -

Malam ini Sanaya dan Revi tengah menonton televisi sambil memakan kripik. Mereka juga berbincang untuk merencanakan ingin hangout kemana untuk besok dan hari Minggu.

SMA Moresnet juga sama seperti sekolah lain yang sudah menerapkan full day school. Jadi tak heran bila Sanaya dan Revi sangat memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu untuk refreshing .

"Eh, lapangan deket Kampung Tabuan situ ada pasar malem loh! Malming kesitu yukk!" Ajak Revi dengan antusias, dia paling suka saat melihat adanya pasar malam dan banyak wahana mainan yang ingin ditumpanginya.

"Emang lo mau naik apaan?" Tanya Sanaya sembari membenarkan rambutnya yang terurai. Sanaya kalau di dalam kosan tidak memakai hijab, tetapi bila keluar dari kosan dia akan memakai hijab.

"Komedi putar sama mancing ikan, hehe~"

Sanaya tergelak, dia membayangkan Revi duduk di kursi plastik bersama bocah-bocah dan memancing ikan boongan. Keduanya tertawa karena membahas itu.

"Lo udah gede, ogeee! Masih aja mau mancing-mancing ikan. Mending mancing doi noh biar peka hahaha~" Revi tertawa mendengar ucapan Sanaya.

"Bucin lo kambuh tuh, mau gue bawain obat nggak?"

Revi sudah menepuk-nepuk pegangan sofa dengan kencang sangking hebohnya dia tertawa, beruntung bukan lengan Sanaya. Karena sering sekali lengan Sanaya yang berisi menjadi sasaran Revi saat dia tertawa.

"Boleh, ambilin dong, qaqa cuanteqq~" Jawab Sanaya sambil bersikap centil.

"Hahah~ Duh ... Udah-udah! Nggak kuat ketawa mulu!" Revi memegangi perutnya dan masih ada sisa-sisa tawa di mulutnya.

Sanaya menggelengkan kepala, "Yee~ Itu si lo yang lebay. Eh-eh ketawanya udahan dong, gue mau cerita nih tentang pacar online gue."

Revi pun menetralkan kembali dirinya sehabis tertawa kencang, dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Sanaya agar sesi curhat-curhatnya lebih nyaman.

"Jadi gimana?" Tanya Revi

"Si Erlangga udah berubah, Rev, dia yang tadinya fast respon sekarang slow respon, padahal wa-nya online loh! Anjay emang!" Sanaya menekuk bibirnya ke bawah sambil meng-scroll layar ponselnya.

Revi menghela nafas, "Kan udah gue bilang nggak usah main Rp lagi, udah tau lo baperan masih aja lo main gituan. Terus cp-an sampai nyata lagi!"

Revi sudah sering menasehati Sanaya agar tak mudah baper saat bermain game *Roleplayer* di sosmed. Apalagi Roleplayer ini sudah marak dimainkan oleh banyak remaja bahkan sampai anak SD.

"Ya, tapikan bisa kali dia bales wa gue dulu baru chat lainnya!" Sanaya cemberut.

Jujur saja bermain Roleplayer itu ada enaknya ada tidaknya. Sanaya bermain Roleplayer bukan ada maksud apa-apa tadinya, cuma ingin meramaikan wa-nya yang sepi.

Hingga dia mendapat *cp* dan cp-nya itu mengajaknya sampai nyata, dan karena Sanaya nyaman ya jelas dia terima. Itung-itung biar tak keliatan jomblo.

"Halah-halah ... Lo bukan prioritas dia. Udah putus aja putus. Emang lo beneran suka sama dia?" Tanya Revi yang mendapat gelengan dari Sanaya.

"Gue cuma nyaman aja sih chatan sama dia, ya meskipun nggak tau wajah aslinya kek begimana."

"Ya begini nih human goblok! Modal nyaman aja mau diajak sampai *rl*" dengus Revi dan Sanaya hanya cengir-cengir nggak jelas.

"Udah mending putus aja, lo cari cogan di sekolah juga banyak." Saran Revi yang segera ditoyor oleh Sanaya.

"Lo pikir gue jomblo kebelet pacaran apa?! Kagak elah! Gue orangnya santai, kalau ada yang mau sama gue ya monggo, kalau nggak ya kudu legowo." Jawab Sanaya sambil menepuk dadanya dan tak lupa senyum jumawa.

Revi hanya tertawa saja menanggapi Sanaya, biarlah sahabatnya itu bersenang-senang kalau Sanaya sampai melewati batas barulah nanti dia akan menegurnya. Sebagai sahabat sudah patutnya kan untuk saling menjaga?

--{o}--

Roleplayer (RP) yang dulu ramai banget sekitar 2017–2019 itu bukan game dalam arti game biasa, tapi bermain peran lewat media sosial, terutama T*****r, F******k, Line, I*******m, dan W******p.

Orang memakai identitas/karakter tertentu. Seringnya artis, idol, atau karakter fiksi, lalu berinteraksi dengan pemain lain seolah-olah mereka adalah karakter tersebut.

Lalu istilah *CP* artinya Couple.

Istilah *RL* artinya Real Life.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • My Other Happiness    MOH- SEMBILAN

    Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r

  • My Other Happiness    MOH - DELAPAN

    Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng

  • My Other Happiness    MOH - TUJUH

    Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s

  • My Other Happiness    MOH - ENAM

    Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah

  • My Other Happiness    MOH - LIMA

    Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se

  • My Other Happiness    MOH - EMPAT

    Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status